26 Oktober 2014

Terkenang Engkau

Share it Please
  • untuk JS 
Aku masih mengenang pagi itu. Sebuah berita singgah di mejaku, menghambarkan secangkir kopi yang kuseduh kala itu. Berita semisal yang terjadi padamu adalah kejahatan yang sulit kumaafkan sekalipun aku hanya mendengar atau menyimak di banyak media (lihat berita). Berkali-kali aku memaki, mengutuk, dan mencaci entah siapa. Mungkin deretan aksara yang mengurai berita itu, atau kampus yang sama-sama sedang kita huni, atau negeri yang sama-sama sedang kita pijaki. Namun, sekeras apapun aku melangitkan marah, berkali pula aku harus mengurut dada. Semua marah itu mesti berbuah sesak dan nyeri. Ngilu sekali.
Aku tak pernah sanggup membayangkan ketakutanmu yang dalam saat diseret berkilo meter jauhnya sambil menerka hidup yang mungkin tersisa. Atau waktu yang kau harap berhenti lalu meniadakan semua yang terjadi. Sementara tiga --entah empat-- lelaki itu berjingkrak-jingkrak kesetanan di atas tubuhmu, lalu dengan sintingnya membuangmu di Cikole. Mereka masih melenggang dengan tenang selepas memutar arah mobil menuju entah ke mana. Mereka menyudahi dan menutupi semua yang terjadi sementara dukamu cukup terekam CCTV. Aku sungguh tak sanggup lagi berujar panjang kecuali mengurai tangis pilu sendiri.

Tenteramlah engkau, kawan. Sudah tak kuingat kabar lain perihal perseteruan yang selalu berlangsung antara negara kita. Tentang perebutan batas wilayah, tenaga kerja, atau klaim kekayaan. Yang kupahami saat ini adalah kau tengah terluka. Lukamu menerabas segala rupa batas negara, perseteruan, dan pertikaian.
 Kau tengah menjadi pelajar di sini, lalu kejadian itu seakan mengikis semua geloramu menimba ilmu. Tentu ada benci, trauma, atau bahkan dendam yang tumbuh perlahan dalam dadamu buat kejadian itu, malam di kampus itu, atau negeriku. Atau aku sebagai bagian kecil dari instansi-instansi itu. Ah, tak bisa kusalahkan itu. Maka kukirimkan maafku untuk semua itu. Maafkan jika hal-hal tersebut lantas membuatmu kian berduka. Maafkan kealpaan demi kealpaan yang lantas membuatmu membenci ranah serumpun ini. Lalu, izinkan aku melakukan hal yang saat ini mampu kuperbuat untukmu: tak henti mengirimkanmu doa.

Tenteramlah engkau, kawan. Pulanglah ke negeri jiran dan lautkan semua kepedihan. Biarkan dukamu jadi sebagian kecil episode dari hidupmu yang lebih lapang. Terbanglah ke mana saja engkau bisa dan sambut masa depan yang lebih benderang. Kau masih muda dan sangat bersemangat. Cita-citamu mesti dilanjutkan di belahan dunia yang lebih sentosa.
Aku sudahi surat ini, kusudahi pula kepiluan yang menggedor kesadaranku pagi itu.
Doaku buatmu.



Nurul Maria Sisilia
Mahasiswa Unpad
Indonesia

Perempuan.

==============================================================
 *Akhirnya saya posting juga surat ini terlepas dari kabar terbaru tentang JS (lihat berita terbaru). Saya selalu bersedih mendengar pemberitaan mengenai korban radupaksa. Marah pun rasanya sesak sekali. Itulah yang saya garis bawahi. Semoga Tuhan selalu menjaga kita dari segala rupa kejahatan makhluk-Nya. 

Tidak ada komentar:

Unordered List