04 Mei 2013

Mentoring Puisi di (beranda) Museum Geologi (27/4)

Share it Please
"Perlakukanlah puisi seperti anakmu sendiri: ia mesti punya masa depan" (Adew Habtsa)


Mentoring kali ini (dan selanjutnya) bertema jalan-jalan. Ya, itu tentu lebih mengasyikan tenimbang diam di satu tempat saja. Tema jalan-jalan kami adalah "keliling museum di Bandung". Museum pertama yang kami kunjungi adalah Museum Geologi.


Ternyata, setiap hari Sabtu-Minggu, museum tutup lebih awal (pukul 14.00). Kami yang saat itu lengkap terkumpul pukul 13.45 tentu tidak bisa masuk ke museum karena museum akan segera tutup. Jadilah kami menggelar mentoring di halaman museum.
"Tak apa, minggu ini di berandanya dulu. Pertemuan selanjutnya baru masuk museum," begitu kata Kang Adew, ngupahan kitu :D

Mentoring dimulai


Museum tampak sepi. Sepertinya memang dijadikan tempat penyimpanan benda masa lalu saja. "Itulah, kita yang mesti menghidupkannya. Dengan puisi, tentunya." Begitu kata kang Adew.
Jadilah, kami membuat puisi bertema museum geologi saat itu. Latihan pertama, kami mesti mengamati sebuah tiang bendera yang tegak di depan museum lalu berpuisi tentangnya. Selanjutnya, kami berpuisi tentang anak-anak sekitar museum.

Latihan menulis 


Dahulu, Museum Geologi merupakan laboratorium geologi pada masa kolonial Belanda. Lalu sempat dijadikan tempat pelatihan tentara PETA dan Heiho di masa penjajahan Jepang. Wow, info yang diujar kang Adew rasanya cukup jadi bahan bakar puisi kami.

foto dulu


"Berpuisi itu kerja seni."
Ya, ya.. berbeda dengan kerja-kerja kognitif lainnya, berpuisi perlu diseriusi dengan cara yang khas. Perlu jadi lebih peka, lebih banyak mengindera, dan...lebih banyak jalan-jalan :D


Apapun itu, menyeriusi puisi ibarat menyeriusi anak sendiri. Tak bisa jadi sekadar gumaman/curhatan masa lalu atau masa kini, tetapi juga mesti jadi pandangan bagi masa depan. 



Next "A Dew Line" trip >> (masih) Museum Geologi :)

Tidak ada komentar:

Unordered List