15 Februari 2019

Hanya Bersenang-Senang

"Judul macam apa ini?".
"Apa maksud tulisan ini?"
"Apa ideologi di balik judul ini?"
Haha. Tenang pemirsa bumi datar dan bumi bulat yang budiman. Saya tidak sedang mengampampanyekan hedonisme. Cinta dunia tanpa takut akhirat. Bukan, bukan. Ini adalah tulisan yang idenya saya dapatkan saat saya bersama rekan-rekan guru di SMP Djuantika menjadi peserta lomba Olimpiade Guru Nasional tingkat kabupaten pada tanggal 9 Februari 2019 lalu. Sebuah kegiatan yang baru pertama kali saya ikuti sejak menjadi pengajar sekolah menengah. 

Sekira akhir Januari pengumuman tentang akan diselenggarakannya olimpiade guru sudah disampaikan Pak Kepala Sekolah Agus akmaludin. Guru-guru di sekolah kami pun didata. Harapannya, sekolah kami bisa ikut berpartisipasi dalam kegiatan itu. Alhamdulillah didapatlah lima nama guru mewakili mata pelajaran yang menjadi bidang olimpiade. Lima guru tersebut yaitu saya untuk pelajaran Bahasa Indonesia, Pak Fikri untuk pelajaran Bahasa Inggris, Pak Fauzi untuk pelajaran Matematika, Pak somantri untuk pelajaran IPA, dan Pak Agus untuk pelajaran IPS. Kami belum tahu tanggal pasti diadakannya olimpiade tersebut. Ternyata, tepat tanggal 6 Februari, diumumkan bahwa olimpiade diadakan tanggal 9 Februari. Tepatnya, tiga hari lagi! Dari situ, kami tidak berharap apa-apa selain melakukan yang terbaik sebisa kami. 

Spanduk penyambutan peserta OGN

Saya sendiri, akhirnya, menganggap ajang itu sebagai ajang silaturahmi karena saya akan bertemu guru senior saat SMP. Hal lain adalah karena saya menganggapnya sebagai ajang untuk bersenang-sennag. Maksudnya, saya tidak membebani diri saya dengan target apapun. So nothing to lose! Saya anggap saya sedang ikut Kuis Siapa Berani, Kuis Rangking Satu, atau Kuis Who Wants To Be a Millionaire. 

Perlu ditekankan bahwa saya tidak sedang menyepelekan ajang ini. Saya tidak mengabaikan langkah bernama usaha. Ya, saya paham bahwa usaha tak pernah mengkhianati hasil. Oleh sebab itu saya pun berupaya . Saya membaca materi dan mencoba mengerjakan contoh soal di internet. Namun demikian, saya sekali lagi tidak menganggapnya sebagai beban. Semua dilakukan atas dasar senang. Saya menempatkan diri saya sebagai seseorang yang sedang bersenang-senang. Saya sedang bersenang-senang dengan mempelajari materi Bahasa Indonesia lagi, saya sedang bersenang-senang dengan mengerjakan soal olimpiade, saya sedang bersenang-senang di arena kompetisi. Karena memang untuk bersenang-senang, saya juga tak memasang target berarti. Yang penting, saya mengerjakannnya dengan hati yang riang. 

Ternyata, saya rasa, sikap tersebut membuat saya menjadi sangat jauh lebih lega dan lepas. Tak ada tekanan berarti saat menjalankannya. 

Saya jadi berpikir panjang setelahnya. Apakah selama ini saya menempatkan ambisi atas sebuah hasil di atas segala-galanya? Lebih jauh daripada menikmati proses yang sesungguhnya lebih menantang itu? Atau, saya selalu terjebak dengan ranjau kehidupan bernama persaingan? 

Saya pun paham akhirnya bahwa menaruh harapan yang terlampau besar kepada hal-hal di luar diri kita tak selalu membuat kita tenteram. Misalnya, harapan besar untuk selalu menang dalam hal apapun di dunia. Hal itu, saya kira, justru membuat saya berlari begitu jauh ke depan namun begitu jauh pula  meninggalkan diri saya sendiri. Hal tersebut tidaklah menenangkan pada akhirnya.Oleh sebab itu, kini saya sedang mencoba melakukan dan menekuni banyak hal yang memang saya gemari tanpa menaruh harapan yang terlampau besar atasnya. Saya sedang benar-benar berusaha menikmati apapun yang sedang saya jalankan. 

Saya menulis di blog ini, misalnya. Saya bersyukur kamu membacanya lalu ikut bercerita pada saya. Namun demikian, jika hal itu tidak terjadi, saya akan tetap baik-baik saja. :)


Tim OGN ceria dan bahagia.
Ka-ki: Pak fikri, saya, Pak Fauzi, Pak Agus. Minus Pak Somantri.

Read More

12 Februari 2019

Menghardik Manusia (bagian 2)

Siswa itu dengan berang menyerang gurunya. Ia busungkan dadanya menantang sang guru. Beberapa kali ia membentak lelaki paruh baya itu karena telah menegurnya saat merokok di dalam kelas. Ia merasa tak terkalahkan dan sungguh berkuasa. Tak segan, ia pun mencekik sang guru. Sang guru geming, tak ada perlawanan berarti tampak darinya.  

Bagaimana perasaanmu melihat kejadian seperti yang saya ilustrasikan di atas? Itu adalah peristiwa nyata yang viral di media sosial belakangan ini. Bukan sekali! Kejadian serupa itu telah berulang terjadi bahkan hingga nyawa sang guru terenggut di tangan muridnya sendiri. Masih terbayang pula dalam ingatan saya, kasus seorang guru yang dilaporkan ke polisi oleh orang tua murid karena menegur anaknya, muridnya sendiri. 
Mengapa harus sampai terjadi begini memilukan?

Alasan sang guru tidak berani memberi tindakan atas perlakukan kurang ajar muridnya adalah karena takut berurusan dengan hukum yang selalu menjerat kaumnya. Sungguh, seharusnya hal ini tidak perlu terjadi demikian. Pendidik memiliki hak untuk menegakkan moral siswanya. Caranya tentu beragam. Dan saya yakin, setiap bentuk teguran telah guru perhitungkan dengan matang. Dalam blognya (tulisannya bisa di baca di sini), kawan saya Indah Mustika Santhi lebih banyak menjelaskan bagaimana seharusnya kejadian seperti ini disikapi, bagaimana posisi murid dalam undang-undang dan bagaimana sebenarnya posisi guru dalam hukum yang melindunginya. Yang hilang barangkali adalah pengetahuan serta kesadaran banyak pihak terhadap peraturan itu. Oleh sebab itu, saya kira, guru tak perlu gentar memberi tindakan selama tindakan itu bermaksud baik bagi murid. Berani karena benar!

Sungguh, mendidik adalah sebuah tugas mulia yang semestinya mendapat dukungan dari semua pihak. Bukan hanya guru melainkan juga masyarakat luas, orang tua, bahkan murid itu sendiri. Murid?Ya, tentu saja. Terkait hal ini, saya sepakat dengan  ujaran Agus Akmaludin bahwa keberkahan, manfaat, serta kebaikan ilmu akan hilang jika rasa hormat seorang murid terhadap gurunya pun hilang. Ini yang lebih saya takutkan terjadi di masa depan. Apa yang akan terjadi jika kelak manusia-manusia ini muncul sebagai bibit kezaliman di muka bumi atau hidup tersesat tanpa arah sebab sedari muda tak pernah menaruh sedikit pun hormat kepada gurunya sendiri.

Intinya, menurut saya, kekerasan manusia terhadap manusia (siapapun dan berapapun usianya) tak lantas membuat manusia itu menjadi lebih terhormat di antara sesamanya. Sebaliknya, hal itu justru menegaskan bahwa ia adalah makhluk yang demikian rendah dibandingkan dengan semua makhluk Tuhan lainnya. Pada poin ini, saya sungguh ingin kembali menghardik sesama saya, manusia. 


Semoga kita selalu Tuhan jauhkan dari niat melakukan tindak kekerasan. Semoga Tuhan menguatkan diri kita untuk tegak berdiri atau lantang bersuara dan menjadi pelindung bagi yang sepatutnya dilindungi dari tindak kekerasan. 

Teakhir, cobalah baca tulisan saya terdahulu mengenai kekerasan yang dilakukan manusia terhadap binatang (baca di sini). Lalu, sandingkan dengan tulisan saya tentang kekerasan manusia terhadap sesama manusia ini. 

Bagaimana  perasaanmu? 


Read More

Menghardik Manusia (bagian 1)

Setiap melihat postingan Garda Satwa Indonesia tentang kekerasan terhadap binatang, saya merasa terluka. Cepat-cepat saya mencari kucing-kucing saya dan memeluk mereka. Saya gumamkan doa pada mereka, semoga mereka selalu Tuhan lindungi dari segala macam kejahatan. Semoga Tuhan pun masih memberikan saya kesehatan sehingga bisa terus melindungi mereka. Postingan di akun instagram Garda Satwa Indonesia itu selalu membuka kesadaran saya bahwa masih banyak jenis manusia yang berhati batu di muka bumi ini. GSI, demikian akun itu biasa disingkat, mengajarkan pengikutnya untuk mengasah setajam mungkin  kepedulian terhadap makhluk Tuhan itu dan melakukan hal baik bagi mereka sesederhana apapun. 

Baru-baru ini, hati saya kembali terkoyak dengan beberapa berita di media sosial yang dibahas pula di akun GSI. Kasus tersebut adalah kasus yang dilakukan dua orang pria terhadap seekor kucing. Mereka dengan sengaja mengikat kucing tersebut pada sepeda motor lalu menyeretnya di sepanjang jalan hingga tewas. Hal ini mengingatkan saya pada postingan serupa beberapa waktu lalu. Sekelompok pemuda yang sedang menyalakan api tiba-tiba menyeret seekor anjing lalu dengan sengaja membakar bagian tubuh anjing itu di api yang berkobar. Tak jelas memang suara di video itu, tapi saya yakin anjing itu sangat kesakitan dan kepanasan. Sementara, para pemuda itu tertawa sangat girang seolah menyaksikan sebuah lelucon. 


Sinting!


Kekerasan bukanlah suatu hal lucu yang bisa ditertawakan dengan begitu ringan! Tindakan penganiayaan macam apapun terhadap semua makhluk Tuhan tak membuatmu patut dihargai alam semesta. Kamu sedang menantang Tuhan. Dan Tuhan Mahakuasa atas seluas-luasnya jagat raya beserta isinya.


Menghardik manusia

Ya, saya manusia dan sedang menghardik jenis saya sendiri. Hal itu saya lakukan sebab merasa marah pada sesama saya. Di titik tertentu, saya merasa malu menjadi manusia yang bisa begitu mudah merasa sombong, merasa melebihi Tuhan, dan begitu biadab. Lalu di tempat saya berada, saya merasa tak bisa melakukan hal besar yang mengubah banyak ketimpangan itu. Namun saya masih punya kepercayaan bahwa kesadaran itu muncul dari celah-celah sekecil apapun. Mungkin kamu yang membaca tulisan saya ini merasa sedikit tergerak dan tercerahkan tentang menjadi manusia yang menghargai ciptaan Tuhan. Mungkin satu-dua orang dari sekian miliar manusia di muka bumi ini ada yang tergerak sehingga kita bisa bersama-sama bertindak dan memberi dampak. 

Sudah, sudah. Saya ingin keluar sebentar mencari kucing-kucing saya dan sekali lagi membisikkan bahwa mereka aman bersama saya. :')


Read More

05 September 2017

Nostalgia dan Sebuah Pasar

[Jurnal #4 , catatan dari seorang penyuka budaya populer]

Pada postingan sebelumnya, saya dengan (agak) ilmiah menjabarkan mengenai nostalgia dan beragam alasan generasi milenial gemar bernostalgia. Pada akhirnya, saya masih dihinggapi kegelisahan. Saya merasa bahwa nostalgia para generasi milenial adalah lahan subur yang menjanjikan. Mengapa bisa demikian? Maksud saya, mengapa nostalgia sangat ampuh menggaet hati para milenial di dunia pemasaran?
Oh iya, saya tidak sedang menulis sebagai seorang pemerhati bisnis atau ekonomi. Saya menulis sebagai seorang pengamat budaya populer saja :).

Iklan LINE dengan tokoh Rangga dan Cinta. Gambar dari sini

Simaklah beberapa amatan saya. Pada tahun 2014, iklan fitur teranyar Line yakni Find Alumni mendadak tenar di kalangan warganet. Kehadiran tokoh Rangga dan Cinta dari film Ada Apa Dengan Cinta dalam iklan itu menyedot perhatian penonton. Penonton dibuat mengenang kembali kisah kasih Rangga dan Cinta dalam film yang tayang tahun 2002 atau sekira dua belas tahun lalu.  Beberapa saat setelahnya, sekuel Ada Apa Dengan Cinta 2 pun tayang dengan jumlah penonton yang terhitung banyak.

Kemudian, tahun 2016, permainan berbasis android yakni Pokemonn Go mendapat sorotan luar biasa.  Tentu saja, sebelumnya, para pengguna seakan diingatkan kepada tayangan dan permainan Pokemon yang sempat tenar di era 90-an. Pokemon Go kemudian menjadi salah satu permainan yang digandrungi oleh semua kalangan sepanjang tahun. Di seluruh dunia.

Dua contoh yang saya ambil di lingkup lokal dan global tadi sebenarnya berangkat dari hal yang sama: nostalgia. Penonton Ada Apa Dengan Cinta atau pemain permainan Pokemon dibuat mengenang kepopuleran film dan game tersebut pada saat mereka kanak-kanak atau remaja. Secara psikologis, nostalgia merupakan mekanisme pertahanan diri yang positif atas hal-hal buruk yang menimpa kehidupan seseorang seperti kesedihan atau kesepian.

Nostalgia membuat seseorang mengingat kembali hal-hal indah yang telah dilewati di masa silam. Tentu saja, mengenang sejumlah kejadian manis di masa lalu akan membuat seseorang tersenyum, menepis kebosanan dan menghilangkan kecemasan-kecemasan. Perasaan-perasaan positif seperti inilah yang diinginkan oleh dunia pemasaran sebab mampu menarik perhatian banyak orang terutama generasi milenial di era modern yang serba gegas dan hiruk-pikuk.

Simaklah bahasan Lauren Friedman di laman Forbes.com Menurutnya, menghidupkan kembali memori-memori positif dari masa lalu beserta hal-hal menariknya adalah sesuatu yang membahagiakan di tengah aneka rutinitas yang padat, ragam tanggung jawab yang berat, dan kerumitan hidup lainnya. Saat seseorang senang atau tertarik pada sesuatu, tentu saja ia akan lebih senang bertindak lebih untuk mencapai sesuatu itu. Di titik ini, artinya, brand akan berhasil menyentuh pemirsanya di tingkat yang lebih emosional (dan sentimental) saat meliibatkan nostalgia. Nostalgia akhirnya dapat mendorong seseorang dan orang lain untuk menikmati sebuah produk karena merasa terhubung dengan kenangan masa lampau yang mengesankan itu.

Para pemain Pokemon Go, misal, terdorong untuk bermain karena mereka bisa mengenang kembali saat-saat bahagia di tahun 90-an, saat permainan tersebut hadir di masa kanak-kanak mereka. Pun dengan film AADC 2 atau fitur Find alumni dari Line. Mereka dapat menonton film atau menggunakan fitur teranyar Line tersebut sambil mengenang sosok Rangga dan Cinta yang hadir di masa remaja mereka.

Pokemon Go (2016). Dokumentasi dari sini

Lantas, apakah dengan menghadirkan sesuatu dari masa silam di masa kini dapat sepenuhnya menggaet para milenial pada sebuah produk? Saya rasa tidak semudah itu. Apalah artinya kehadiran masa silam tanpa memberi kesan yang lebih berarti di masa kini. Artinya, mesti ada keterkaitan, relevansi, atau konteks yang tepat antara masa lampau dan masa kini. Jika tidak, semua perasaan nostalgia tersebut hanya menyuguhkan kekosongan. Dalam hal ini, masih kata Lauren Friedman, produk yang menggunakan nostalgia sebagai sebuah strategi mestilah mempertimbangkan kebaruan atau sesuatu yang tengah berkembang di masa kini. Intinya, membuat sebuah kaitan yang emosional menggunakan nostalgia sambil tetap menawarkan hal baru. Lihatlah para pemain Pokemon Go. Mereka tentulah bernostalgia dengan permainan era 90-an ini namun mereka pun terdorong atas sebuah kebaruan yakni permainan dengan augmented reality. Perpaduan keduanya membuat permainan ini laris manis di pasaran.

Hal serupa tampaknya dapat kita temukan pula dari kemunculan Rangga dan Cinta. Selain bernostalgia, pengguna aplikasi Line terdorong oleh inovasi fitur Find Alumni. Saat menonton film AADC 2, barangkali, mereka pun terdorong oleh kebaruan yakni asyiknya bepergian dengan travelling, menikmati tempat-tempat seni, atau menyimak puisi-puisi Aan Mansyur.

Tren budaya populer seperti busana, tayangan, permainan, dan musik seakan berulang atau sengaja dibuat berulang  sekira setiap sepuluh atau dua puluh tahun. Nyatanya, nostalgia semacam itu dinilai sangat ampuh memikat pasar, yakni generasi milenial. Selain alasan bahwa nostalgia mampu menepis aneka perasaan depresif di era modern, perlu digarisbawahi bahwa generasi milenial adalah pengguna media digital yang aktif dan pengguna teknologi yang adaptif. Generasi ini, seperti dituturkan Tanya Dua dalam laman Digiday.com, generasi perdana yang hidup terhubung dengan dunia daring secara instan dan juga konstan. Generasi yang dilimpahi informasi dari berbagai penjuru. Kesederhanaan yang generasi ini idamkan dari masa lalu mereka dapatkan dari sebuah inovasi bernama teknologi. Selanjutnya, mari kita simak sekitar. Bagaimana sensasi kembalinya Warkop DKI dalam Warkop DKI Reborn atau Power Rangers The Movie membangkitkan nostalgia generasi milenial?

Sebentar. Nostalgia yang lebih gegas kini terdapat dalam fitur on this day di Facebook atau aplikasi Timehop. Apakah menurutmu, mereka lahir dari kenyataan bahwa generasi milenial kini semakin senang mengenang?

Gambar dari sini
Read More

02 September 2017

Generasi Milenial; Generasi yang Gemar Bernostalgia

[Jurnal #3 yang aduhai]

Dua postingan saya terdahulu membicarakan hal-hal yang terjadi di kehidupan masa kecil saya. Tepatnya nostalgia saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Namun, mengapa saya senang bernostalgia? Hal-hal nostalgia seringkali menyeruak dalam ingatan sebab, salah satunya, merasa bahwa situasi di sekitar saya saat ini sungguh tidak lebih bersahabat dibanding di masa silam.

Saya lantas mengenang dan menghayati kembali perasaan-perasaan yang muncul di masa-masa tersebut. Mungkin tampaknya bukan saya saja yang merasa demikian. Banyak orang yang merasakan nostalgia pada masa-masa itu. Tak heran jika mereka yang bernostalgia berpadu menjadi satu, sama-sama mengenang kebahagiaan di masa lampau, dan merasa bangga sebab lahir dan hidup di masa itu. Mereka saat ini berpadu dalam sebuah komunitas di media sosoial dan sama-sama membagikan kenangan masa silam.

Tentu saja, tak ada yang salah dengan sebuah nostalgia. Saya pun mendapatkan kebahagiaan saat mengenang hal-hal manis yang terjadi di tahun-tahun 90-an. Hal yang kemudian menjadi menarik adalah kerinduan atas sebuah zaman tersebut seakan muncul berbarengan. Hal yang kemudian saya pertanyakan pada diri saya adalah mengapa kita bernostalgia? Mengapa generasi milenial senang mengenang masa gemilangnya yakni era 90-an?


Gambar dari sini
***
Dalam penjelasannya mengenai nostalgia di laman TED-Ed,  Clay Routledge menerangkan bahwa nostalgia berasal dari bahasa Yunani "Nostos" yang berarti "pulang kembali ke rumah" dan "algos" yang berarti "sakit". Hal ini berkaitan dengan muasal ditemukannya istilah nostalgia oleh seseorang  bernama Johannes Hofer pada tahun 1688. Saat itu, ia yang merupakan tenaga medis, merawat para tentara Swiss yang cidera di Perancis.  Ia menemukan bahwa para tentara tersebut sering mengalami keinginan kuat untuk kembali ke tanah kelahiran sebab telah terpisah dari negaranya dalam waktu yang sangat lama.

Pada awal kemunculannya gejala ini dianggap fatal sebab dalam beberapa kasus telah menyebabkan kematian. Seiring waktu, terungkaplah bahwa nostalgia bukan sebuah penyakit. Pengertiannya berkembang dari sebuah kerinduan terhadap tanah kelahiran ke kerinduan atas masa silam. Dengan demikian, nostalgia diketahui sebagai perasaan sentimental saat seseorang merindukan afeksi atau perasaan tertentu saat mengingat satu periode pada masa lalu.

Seorang Psikolog, Dr. Wildschut, dilansir dari laman The Debrief, menyatakan bahwa seseorang merasakan nostalgia karena beberapa alasan. Beberapa di antaranya yakni untuk mengatasi kesulitan-kesulitan psikologis seperti perasaan sepi dan perasaan tak memiliki arti hidup. Artinya, nostalgia  menjadi respons kekebalan psikologis saat seseorang mengalami sedikit benturan dalam perjalanan hidup. Saat ini, nostalgia seakan hadir secara serentak dan dialami oleh banyak orang terutama oleh generasi milenial.

Gambar dari sini
Generasi Nostalgia

Generasi milenial lahir dari rentang tahun 1980-2000. Generasi ini sering pula disebut sebagai generasi Y, meneruskan penamaan atas generasi sebelumnya yakni generasi X. Generasi milenial mencapai masa terbaiknya di tahun 90-an. Berdasarkan pendapat Dr. Jean Twenge, seorang profesor psikologi dari  San Diego State University di laman Nationalpost.com diketahui bahwa generasi yang hidup di tahun 90-an adalah mereka yang hidup di dekade terakhir yang baik -masa terakhir ekonomi berkembang dengan cukup baik dan masa terakhir tiadanya ketakutan terhadap ancaman-ancaman seperti terorisme. Secara umum dapat dikatakan bahwa generasi milenial tumbuh di saat keadaan dunia tengah berada dalam kondisi cukup baik dan kondusif di tahun-tahun awal 90-an.

Saat generasi milenial beranjak dewasa, ia mendapati bahwa dunia di sekitarnya saat ini tidak lagi menyuguhkan kenyamanan seperti saat ia kanak-kanak atua remaja. Dunia telah berubah terlalu cepat tanpa bisa ia kendalikan. Bahkan, saat memasuki awal tahun 2000-an, generasi ini dihadapkan pada krisis ekonomi global yang kemudian mengubah kehidupan dunia dengan cukup signifikan. Perkembangan teknologi yang terlalu cepat pun mengakibatkan generasi ini mesti banyak berpacu dengan waktu. Generasi ini kemudian tumbuh dalam roda hidup yang berputar serba cepat dan menginginkan sesuatu yang kelewat instan. Di tengah kondisi depresif tersebut, nostalgia seakan menjadi penawar yang ampuh untuk sejenak menengok masa silam yang hangat, nyaman, dan tenteram.


Hal serupa barangkali dialami pula oleh setiap generasi. Generasi Baby Boomers dengan era 60-an, generasi X dengan era 80-an.  Namun, tentu saja terdapat beberapa perbedaan mengenai nostalgia-nostalgia tersebut. Teknologi, barangkali, menjadi salah satu pembeda nostalgia generasi ini. Meskipun di satu sisi teknologi merupakan penyebab generasi milenial bernostalgia, teknologi pun menyuguhkan penawar berupa nostalgia.

Saat generasi ini merasakan kesenjangan yang tampak dalam kehidupannya, ia dapat dengan mudah mengakses hal-hal yang berhubungan dengan keindahan masa silam lewat teknologi bernama internet. Ia pun bahkan dapat membagikan kegelisahannya itu di instagram, facebook, dan media sosial lainnya sehingga perlahan terbentuklah kesadaran berjamaah dalam wadah komunitas-komunitas media sosial. Keberadaan teknologi ini agaknya yang menjadikan generasi milenial dinilai sebagai generasi yang paling bernostalgia dibandingkan generasi sebelumnya.

Hal tersebut, bagi saya, tidaklah begitu buruk. Nostalgia, seperti disarikan oleh Tom Stafford di laman BBC, tidaklah mengubur seseorang dalam kenangan masa lalu, melainkan membangkitkan semangatnya. Nostalgia membantu seseorang untuk menakar ulang konteks diri, merancang tujuan dan hari esok dengan pandangan yang sarat akan harapan. Nostalgia pun, di lain pihak, memicu kreativitas generasi milenial ini. Komunitas yang terbentuk karena kesamaan ingatan atas masa silam kemudian berkembang menjadi komunitas kreatif. Generasi milenial yang kini tengah berada di tahap dewasa mampu memandang masa depannya dengan lebih optimis dan percaya diri.

Di sisi paling lain, hal-hal terkait 90-an kembali dimunculkan dengan perwajahan yang baru, dengan kreativitas yang lebih segar. Pada titik ini, saya menemukan bahwa nostalgia kini bukan sekadar menjadi penawar atas "guncangan" zaman yang sedang dihadapi bersama-sama oleh generasi milenial melainkan sebuah target pasar yang menjanjikan.

***

Saat saya mengetik kalimat terakhir, saya kemudian menemukan kegelisahan lain. Bagaimana sebuah perasaan sentimental seperti nostalgia kemudian tampak menggiurkan bagi pasar? Hal-hal penuh nostalgia yang sedang dirasakan generasi milenial saat ini (termasuk saya) barangkali sengaja disajikan? Demi menjawab keg
elisahan itu, ada baiknya saya menulis postingan khusus mengenai nostalgia dan pasar.

Sampai jumpa di pasar, eh maksud saya, di postingan selanjutnya!

Read More

30 Agustus 2017

Ranger Biru dan Sebuah Nostalgia Masa Kecil

[Jurnal ke #2 ]

"Pemeran ranger biru dalam serial Power Rangers terbaru adalah orang Indonesia!"
Begitulah kira-kira reaksi takjub saya saat tahu salah satu pemeran  Ninja Steel itu berasal dari Indonesia. Namanya Peter Sudarso. Saudaranya pun, Yoshi Sudarso, berperan sebagai ranger biru dalam serial power rangers yang lain, Power Rangers Dino Charge. Duo Sudarso mulai viral di media sosial terutama saat menjadi salah satu tamu dalam temu komunitas Diaspora Indonesia, sebuah komunitas warga Indonesia yang tinggal dan besar di negara lain. Kemunculan Peter dan Yoshi, ranger biru, dan power rangers kembali mengingatkan saya pada kenangan masa kecil saya bertahun-tahun silam. Sesuatu yang menggelitik memori saya seperti ingin kembali masuk dan menikmati masa-masa itu.
*** 
Seorang kawan membuatkan saya gambar ini! :D
Sebutlah ia, Blake Anthony Foster. Ia adalah pemeran ranger biru dalam serial pahlawan super, Power Rangers Turbo. Film kegemaran anak-anak yang berbahagia hidup dan berkembang di tahun 90-an ini sebenarnya telah diputar tahun 1997 di negara asalnya, Amerika. Namun, baru bisa disaksikan penontonnya di Indonesia tiga tahun kemudian. Saya adalah salah satu anak kecil yang turut berbahagia dengan adanya tayangan itu di Indonesia. 

Blake foster memerankan tokoh ranger biru bernama Justin Stewart. Meneruskan perjuangan Tommy dan kawan-kawan di series terdahulu yakni Power Rangers Zeo dan Mighty Morphin Power Rangers, Justin dan kawan-kawan tergabung dalam Power Rangers Turbo. Justin  adalah ranger paling muda di antara empat rekan satu timnya. Usianya baru dua belas tahun namun ia mampu melengkapi kekuatan pasukan turbo menghadapi lawan dengan sebuah senjata bernama Turbo Hand Blaster. 

Sebagai seorang siswa sekolah, Justin digambarkan tak gentar menghadapi perlakuan beberapa rekannya yang kerap melakukan perundungan (bullying). Isu perundungan terutama pada anak-anak menjadi isu yang cukup penting di negara Super Power itu. Tak heran jika isu itu pun dimunculkan dalam serial anak seperti Power Rangers Turbo lewat tokoh Justin. Keberanian tokoh Justin menghadapi hal-hal sulit dan tak menyenangkan itulah yang membuat saya menjadi salah satu penggemar beratnya kala itu. Barangkali hal ini sama dengan hal yang kini dialami anak-anak generasi Z. Mereka mengidolakan personil boy band, pemeran drama dari negeri ginseng, atau pemain sinetron tentang kebut-kebutan wal cinta-cintaan. Bedanya, saya mengidolakan tokoh fiksi yang bisa berubah menjadi manusia berkekuatan super.


Menjadi penggemar (fans) Blake Foster alias Justin Stewart ketika itu saya rasa sangatlah menyenangkan tapi juga memalukan. Banyak hal yang saya rasa sangatlah konyol jika diingat kembali. Tapi tak sedikit pula pelajaran positif dari hal tersebut. Menonton Power Rangers Turbo selepas magrib, misalnya, adalah sebuah keharusan. Ritual yang tak boleh diganggu gugat oleh sesiapa bahkan oleh kakek saya yang sangat galak. Satu hal saja yang paling dicari: Justin! Berpakaian serba biru pun menjadi sebuah ciri sebab saya berusaha meniru sang idola. Sedemikian jatuh cintanya saya pada tokoh Justin hingga saya punya satu buku khusus dan rahasia tentang perasaan saya tiap kali "bertemu" Justin di layar kaca. Saya simpan rapat-rapat buku itu di pojok paling bawah lemari pakaian sebab merasa malu jika ada orang lain yang membaca. Namun malang tak dapat dihadang. Ibu yang terlampau rajin membereskan lemari saya akhirnya menemukan (dan membaca semua isi) buku "tabungan perasaan" saya itu. Saya membayangkan ibu saya terpingkal saat membaca buku itu. Buku bekas berisi curahan perasaan bocah sekolah dasar yang dipenuhi gambar dan catatan tentang Justin.


Gambar diambil dari sini

Jauh sebelum ibu akhirnya menemukan buku bertuah saya di dasar lemari, saya menuliskan angan yang besar untuk mengunjungi negeri Paman Sam. Di sebuah adegan Power Rangers, kamera menyorot jelas sebuah bendera di depan gedung sekolah Justin. Rasa penasaran saya muncul. Saya lantas membuka buku IPS dan menemukan bahwa bendera itu adalah bendera Amerika.  Di baris selanjutnya mengenai Amerika tertulis bahwa bahasa kebangsaan negara itu adalah bahasa Inggris. Dari sinilah saya mulai bertekad untuk belajar bahasa Inggris dengan tekun. Alasan terbesarnya tentu saja demi bertemu dan berkomunikasi dengan sang pujaan. Saya pun mulai mencoba menulis beberapa catatan perasaan saya beserta contoh percakapan yang barangkali bisa saya sampaikan jika bertemu ranger biru dalam bahasa Inggris. Namun jangan membayangkan bahasa Inggris yang saya pakai adalah bahasa Inggis yang baik. Sungguh awut-awutan tak karuan. Tetapi demi cinta, saya pantang menyerah untuk belajar.


Pada masa itu, sebenarnya, bahasa Inggris baru dipelajari di SD kelas 6. Sementara itu, saya sudah lebih dahulu menyukai bahasa asing itu bahkan sebelum resmi dipelajari di sekolah. Kamus yang saya temukan di rak buku di rumah adalah sarana belajar pertama saya. Akibatnya, saya termasuk siswa yang terhitung cepat menguasai pelajaran "baru" itu di sekolah. Saya kemudian menjadi siswa yang menggemari pelajaran itu hingga bertahun-tahun selanjutnya. Inilah nilai positif yang saya dapat. Saya kemudian merasa bersyukur sebab pernah mengidolakan sang ranger biru dengan sangat keras kepala. 

Di akhir masa sekolah dasar itu pulalah saya merasakan patah hati yang tak tergambarkan. Tepatnya saat serial kesayangan saya itu mencapai episode terakhirnya. Sebenarnya, serial tersebut masih berlanjut di Power Rangers in Space. Namun yang menjadi persoalan adalah tidak hadirnya sosok Justin di serial lanjutan tersebut. Sosok Justin memang sempat muncul namun di satu episode saja. Maka berakhirlah sudah kisah saya dengan sang tokoh fiktif, Justin Stewart.

***

Kisah-kisah menggelikan ini tampaknya tak akan saya alami jika saya terlahir menjadi anak yang lahir selepas era 90-an. Tak bisa dimungkiri bahwa tayangan ramah anak seperti Power Rangers di era 90-an sangatlah melimpah. Saya merasakan betul  bahwa kehidupan saya yang berbahagia saat ini banyak dipengaruhi  oleh hal-hal yang saya dapat di masa kecil saya itu. Saya kemudian rindu masa itu. Masa saat hari Minggu dapat diisi dengan menonton acara-acara anak sepanjang hari, tayangan anak yang beragam di hari lain selain hari Minggu, kegembiraan menyanyikan lagu anak, dan kebahagiaan berlangganan majalah anak dengan mudah. 

Sebentar. Mengapa tulisan ini berakhir menjadi sangat melankolis dan penuh nostalgia? Perihal nostalgia ini agaknya harus saya tulis khusus di postingan saya selanjutnya. 

Sampai jumpa di postingan selanjutnya mengenai nostalgia.
Mountain blaster, turbo power!



Read More

Mengenai Saya

Foto saya
Perkenalkan! Saya Nurul Maria Sisilia, seorang pengajar, penulis, dan pekerja sosial. Saya senang menulis hal menarik yang terjadi di kehidupan sehari-hari. Mari berdiskusi!

Terjemahkan (Translate)

Rekan

Diberdayakan oleh Blogger.