19 Maret 2019

TENTANG PERBINCANGAN KITA (2): KARINA

"Sil, aku benar-benar menyerah denganmu!"
Kamu mengakhiri perbincangan panjang kita sore itu padahal aku masih ingin menumpahkan semua beban di benakku. Aku merasa tak sanggup menanggungnya sendirian. Kupikir, kamu akan cukup menerima semua ceritaku sore itu.

"Kamu sungguh rumit. Aku bingung harus menghadapi kamu seperti apa, Sil. Aku sama sekali gak paham. Aku gak bisa beri kamu solusi" Lanjutmu. 
Buku di sekelilingmu masih kau biarkan berantakan. Biasanya, kau selalu merasa terganggu dengan hal itu. Di semua sudut perpustakaan ini, rasanya kau adalah satu-satunya pengunjung paling bingung mencari buku referensi atas masalah di pikiranmu. Sialnya, masalahmu itu kini adalah aku.
"Aku hanya ingin cerita ke kamu, Rin. Kamu cukup ada buatku aja" terangku.
"Gak bisa, Sil" kamu menggelengkan kepala lalu perlahan membereskan meja. Kali ini mungkin kamu merasa makin terganggu dengan kekacauan yang sedang kau hadapi: buku-buku di sekitarmu juga aku dengan raut wajah dan pikiran yang semrawut. "Sederhananya kan begini, kamu datang dengan masalahmu kepadaku lalu kita sama-sama cari inti permasalahannya. Kemudian, kita pecahkan bersama-sama. Lalu, masalahmu selesai" 
Ah, Karina, aku tahu itu. Tapi kenyataannya sungguh tak semudah itu. Aku pun bukan tak mencoba memahami hal ini sebelumnya. 
"Aku pun kadang gak tahu kenapa bisa begitu, Rin" ujarku.
"Nah! Aku gak bisa kalau kamu seperti itu, Sil. Kamu harus tahu muasalnya lalu kita cari bersama-sama jalan keluarnya" terangmu.
Aku menyenderkan punggungku ke kursi sambil menarik napas panjang. Aku terdiam lama. Aku sungguh ingin sekali kamu jadi teman yang bisa aku temui saat aku terluka dan begini hilang arah. Di kota yang garang ini, agak sulit untuk hidup waras dan wajar seorang diri. Aku butuh kawan yang bersedia ditemui untuk berbagi cerita. Namun sayang, kamu menolak hal itu. 
Aku sungguh paham kini. Tak semua orang bersedia mendengar ceritamu. Tak semua orang mau tahu bagaimana rumitnya menjalani hari-hari yang berat seorang diri. Aku tak bisa mengubah cara orang seperti itu melihatku dan hal-hal yang kurasa berat itu. Aku sungguh tak bisa memaksa orang seperti itu memahami aku. Sebagian orang hanya akan memilih berkawan dengan yang memberi banyak kebaikan dan keuntungan baginya. Tidak dengan orang yang berlimpah keruwetan sepertiku. Tidak pula dengan orang yang selalu ingin punya kawan bercerita sepertiku. Aku sungguh harus mulai mampu menerima itu walaupun semuanya terasa begitu berat. Agaknya, memang lebih baik jika kita hanya berkawan saja. Seseorang yang ku kenal baik untuk berdiskusi panjang lebar tentang ribuan judul buku. 

"Rasanya, aku tak bisa lagi berbicara banyak denganmu apalagi tentang kesedihanku padamu, Rin. Sepertinya kita hanya akan cocok berbincang di forum diskusi" ujarku lirih.
"Ya sudah. Ide bagus sepertinya. Maaf jika ternyata aku tak bisa kau percaya lagi. Aku sungguh merasa lebih baik saat kau tidak lagi mencariku dan menceritakan kesedihanmu jika sebenarnya kau tak betul-betul paham harus bagaimana." jawabmu lugas.
Aku membereskan buku-bukuku dan bersiap beranjak dari tempatku. Berat sekali rasanya. Agaknya, air mata yang di awal aku tetaskan di hadapan Karin kini mulai berjatuhan lagi. Aku sapu pelan-pelan tangisku dan kusembunyikan dengan sapu tanganku. Sebelum aku benar-benar meninggalkan Karin, aku menoleh dan berkata padanya. 

"Belajarlah melembutkan hatimu, Karin. Sesekali, cobalah untuk sedikit berempati atas kedalaman hati orang lain. Hidupmu tak melulu perkara teori sebab-akibat"


My dearest friend... I don't want you to totally fix my broken heart. I just want you to hold my hand warmly while I fix my heart by myself.





 *) Terima kasih untuk Adikku Sara Fiza ats obrolan yang mendasari cerita ini. Stay strong!
Read More

TENTANG PERBINCANGAN KITA (3): NANDEA

"Panggil Sisil aja." Jelasku saat berjumpa denganmu di kantin dekat kantor siang itu. Aku bertemu denganmu saat sama-sama mengikuti pelatihan bagi pengajar baru di sebuah tempat kursus bahasa di Bandung. Kamu satu-satunya yang senasib denganku, kurasa. Sama-sama baru bergabung dan sama-sama berusia nyaris 30 --di antara rekan kerja lain yang sudah senior. Poin kedua sungguhlah penting. 
"Aku Dea. Semoga betah, ya, di tempat kerja baru ini. Aku juga baru kok" Jawabmu.
Tentu aku akan merasa punya kawan bercerita di tempat baru ini. Terlebih, kita satu angkatan. Terlebih lagi, tampaknya kamu punya minat yang sama denganku.  

"Kamu suka nonton film di festival film indie gitu, gak, Dea?" tanyaku
"Enggak, sih. Aku suka nonton film yang sudah tayang di bioskop aja."
"Wah, apa film yang baru ditonton?"
"A Star is Born! Bagus itu. Lagunya juga enak. Eh, eh, kamu suka jenis lagu apa, Sil?"
"Variatif, sih. Kebanyakan yang kalem-kalem. Aku juga suka lagu jadul. Ya, beragam lah. Asal bukan dengerin mars Perindo aja" kelakarku. Aku mencoba memecah suasana yang mulai kaku kala itu. 
Kamu ternyata membalasnya dengan tersenyum simpul sambil rada ngahuleng.
Oh, baiklah. Sepertinya candaanku tak cocok buatmu. 

Perbincangan kita pun mengalir begitu saja sepanjang jam makan siang. Tepatnya, sampai makanan kita sama-sama habis. Kita membicarakan hal-hal yang ternyata begitu umum. Tentang almamater masing-masing, pengalaman-pengalaman pekerjaan sebelumnya, dan cuaca yang mulai panas di luar sana. Aku menangkap bahwa kamu tampak sangat berhati-hati berbincang denganku. Entahlah, mungkin karena kita benar-benar baru saling kenal. Sebenarnya, kamu tampak menganalisis aku. 

"Kamu pulang naik apa, Sil?" tanyamu di akhir perbincangan kita. Sepertinya kamu sudah ingin bergegas dengan urusan lainmu. Padahal aku masih ingin berbincang denganmu tentang Lady Gaga dan Bradley Cooper di film yang kamu tonton. Tapi baiklah, nanti saja. 
"Kayaknya... Aku naik elang. Hehe" jawabku usil. 
"Oh damri Elang-Jatinangor? Emang lewat, ya?" jawabmu datar.
Detik itu aku sungguh ingin tertawa tapi takut dosa. Elang yang kumaksud adalah benar-benar elang. Elang yang secara denotatif merupakan makhluk hidup yang bisa terbang. Sebenarnya, maksud lebih jauh lagi adalah elang di serial Tutur Tinular. Aku sedang bercanda, wahai, Dea. Sepertinya kamu tidak paham.
Ya sudahlah. Kututup saja dengan  "Eh, pakai ojek onlinedeh."
Cukup sekian dan terima gaji. 

Maafkan jika ternyata aku banyak bicara dan bercanda. Atau, aku sebenarnya terlalu pendiam dan canggung? Aku sungguh tak bermaksud buruk. Aku hanya sedang sangat berupaya menjaga perbincangan kita agar tetap baik dan aku jadi orang yang cukup ramah buatmu. Kamu mungkin tak menyangka bahwa usaha untuk terlihat begitu ramah dan ceria di depan orang lain yang baru kutemui adalah sebuah hal yang tak pernah mudah. Aku selalu punya banyak hal berjejalan di kepala. Tentang apapun. Overthinking katanya. Oleh sebab itu, selepas pertemuan demi pertemuan dengan rekan baru, aku seperti menjadi seorang pemikir ulung yang begitu keras  memikirkan segala detail tentang pertemuan yang telah terjadi. Termasuk pertemuan kita.  

Selepas obrolan kita di jam makan siang itu, aku terus berpikir:
"Apakah caraku menyapamu aneh?"
"Apakah caraku mempersilakanmu duduk terlihat buruk?"
"Apakah tali sepatuku cocok?"
"Apakah caraku membetulkan kacamata terlihat mengganggu?"
"Apakah candaanku berlebihan atau bahkan terlalu garing?"
"Adakah hal yang salah kuucapkan?"
"Apakah tadi seharusnya aku membicarakan masa poskolonial dan pengaruhnya terhadap perkembangan sebuah masyarakat kota? Atau membicarakan evaluasi perkembangan indeks harga saham gabungan?" Haha.
"Apakah caraku mengakhiri obrolan terlalu kaku?"
Dan...Begitu seterusnya.

Anehnya, aku selalu merasa  bahwa aku senang bertemu kawan baru. Mungkin hal ini serupa hate-love relationship. Aku malah berulang mengikuti sebuah kegiatan baru yang sebelumnya tak aku ikuti dengan harapan bertemu orang-orang yang tak pernah kutemui dan mereka pun tak mengenaliku. Aku selalu ingin tahu sejauh mana aku mampu beradaptasi dengan lingkungan baru kendati hal itu begitu menguras tenaga dan pikiran. 

Ah, apapun yang telah terjadi atau bagaimana pun jadinya pertemuan kita itu, kuharap kita bisa terus berkawan. Selamanya.
Semoga perbincangan kita bisa berlangsung baik seterusnya. Semoga tidak kapok bertemu aku.
Jika kau luang, sepertinya kita bisa ngobrol dan ngopi lagi.
yuk?

Oh, iya! Aku tidak akan menyinggung mars Perindo dan elang Tutur Tinular lagi. 




xxx
Read More

01 Maret 2019

Peringkat Dua Empat

Akhirnya pengumuman Olimpiade Guru Nasional tiba. Sebelum hari itu datang, rekan sesama guru sempat berujar, "Yakin kita bakal maju ke tingkat provinsi lah kalau dilihat dari lawan yang ikut bertanding mah. Rata-rata mereka sudah sepuh, 'kan?". Memang, sih. Banyak peserta senior yang ikut serta dalam olimpiade tersebut. Namun,  saya pikir pengalaman mereka pun tidak bisa diabaikan. Ini gelaran ke sekian dan saya rasa mereka telah menempuh jalan ninja untuk mengikuti gelaran olimpiade ini secara rutin. Maka setidaknya mereka telah terlatih berada di "medan perang". Selanjutnya, rekan yang lain bilang, "Minimal kita ada di sepuluh besar lah!". Amin, amin. Memang harus optimistis dalam memandang segala hal ya. Hehe.

Tim Olimpiade Guru Nasional formasi lengkap.Pose belum kompak.


Saat pengumuman tiba, kami terkesima, takjub, dan tak percaya. Yang bisa menembus lima besar tingkat kabupaten adalah Pak Somantri dari bidang studi IPA. Ini langkah yang menakjubkan sebab di tahun berikutnya Pak Somatri bisa diproyeksikan untuk menembus peringkat satu dan menjadi perwakilan kabupaten di tingkat provinsi. Lalu, sisanya? Alhamdulillah lah, ya…~ bersyukur masih tercatat di daftar peserta olimpiade. Haha. Setidaknya kami sudah berani memulai dan kami pun telah memulainya dengan sempurna. 
Pak Somantri masuk lima besar bidang studi IPA!


Ya, memulai dengan baik! Saya jadi tiba-tiba ingat motto ITENAS untuk penerimaan mahasiswa baru tahun ini "It's a good start". Yes, true! Semuanya adalah awal yang baik. Semua adalah langkah yang baik. Tidak ada awalan yang buruk sejauh ini. Dengan segala keterbatasan yang kami miliki, kami ternyata mampu menyelesaikan misi ke barat mencari kitab suci ini dengan bahagia dan suka cita. :D


Lalu, peringkat saya?

Saya berada di peringkat 24 dari total 200 peserta (kurang lebih). Haha. Rasanya, tak dapat dipercaya! Maksud saya, saya tidak pernah mengangankan akan ada di peringkat setinggi itu tapi juga tak membayangkan akan ada di peringkat paling bawah. Jadi, ketika mengetahui peringkat saya, saya merasa cukup puas. Rasanya seperti menebar benih buah-buahan secara sembarang tapi ternyata berhasil tumbuh. Seperti itu kurang lebih. Hehe

Iya, intinya, saya tak banyak menaruh harapan kala itu. Semua saya lakukan benar-benar karena suka. Saya ceritakan awal ikut olimpiade di sini. Hasilnya, saya tidak merasa kecewa saat peringkat saya bahkan tidak bertengger di posisi sepuluh besar. Tahun depan, menurut saya, kesempatan untuk ikut serta lagi masih terbuka lebar. Kalau gagal lagi? Masih bisa berusaha dan coba lagi tahun selanjutnya. Begitu saterusnya. Bukankah proses yang menantang itu jauh lebih menyenangkan untuk dihayati tenimbang semata menikmati hasil?
Peringkat saya di gelaran OGN 2019. Tidak begitu buruk! :D

Lewat gelaran olimpiade ini saya jadi merenung. Saya berpikir, jika di masa mendatang saya  kecewa karena gagal dalam suatu hal maka sepertinya ada yang salah dengan cara saya berharap. Saya akhirnya sadar bahwa hal yang paling bisa kita takar, kendalikan, dan analisis adalah usaha kita sendiri. Sebaliknya, kenyataan alias realitas adalah hal yang tidak bisa kita kuasai. Jadi, rasanya tepat jika kita lebih memperkuat usaha dan justru memperkecil harapan atas kenyataan di masa depan. Ah, semoga di bulan depan, di tahun depan, atau di masa mendatang saya masih bisa dengan lebih bijak memaknai ucapan saya sendiri ini. XD
Lantas, saya pun tak lekas kecewa dengan segala hal yang terjadi karena terlalu banyak berharap kepada hal di luar diri saya. Amin.

Sekian dulu.
Si peringkat dua empat yang berbahagia ini mau menyiapkan cerita lainnya :)

Read More

15 Februari 2019

Hanya Bersenang-Senang

"Judul macam apa ini?".
"Apa maksud tulisan ini?"
"Apa ideologi di balik judul ini?"
Haha. Tenang pemirsa bumi datar dan bumi bulat yang budiman. Saya tidak sedang mengampampanyekan hedonisme. Cinta dunia tanpa takut akhirat. Bukan, bukan. Ini adalah tulisan yang idenya saya dapatkan saat saya bersama rekan-rekan guru di SMP Djuantika menjadi peserta lomba Olimpiade Guru Nasional tingkat kabupaten pada tanggal 9 Februari 2019 lalu. Sebuah kegiatan yang baru pertama kali saya ikuti sejak menjadi pengajar sekolah menengah. 

Sekira akhir Januari pengumuman tentang akan diselenggarakannya olimpiade guru sudah disampaikan Pak Kepala Sekolah Agus akmaludin. Guru-guru di sekolah kami pun didata. Harapannya, sekolah kami bisa ikut berpartisipasi dalam kegiatan itu. Alhamdulillah didapatlah lima nama guru mewakili mata pelajaran yang menjadi bidang olimpiade. Lima guru tersebut yaitu saya untuk pelajaran Bahasa Indonesia, Pak Fikri untuk pelajaran Bahasa Inggris, Pak Fauzi untuk pelajaran Matematika, Pak somantri untuk pelajaran IPA, dan Pak Agus untuk pelajaran IPS. Kami belum tahu tanggal pasti diadakannya olimpiade tersebut. Ternyata, tepat tanggal 6 Februari, diumumkan bahwa olimpiade diadakan tanggal 9 Februari. Tepatnya, tiga hari lagi! Dari situ, kami tidak berharap apa-apa selain melakukan yang terbaik sebisa kami. 

Spanduk penyambutan peserta OGN

Saya sendiri, akhirnya, menganggap ajang itu sebagai ajang silaturahmi karena saya akan bertemu guru senior saat SMP. Hal lain adalah karena saya menganggapnya sebagai ajang untuk bersenang-sennag. Maksudnya, saya tidak membebani diri saya dengan target apapun. So nothing to lose! Saya anggap saya sedang ikut Kuis Siapa Berani, Kuis Rangking Satu, atau Kuis Who Wants To Be a Millionaire. 

Perlu ditekankan bahwa saya tidak sedang menyepelekan ajang ini. Saya tidak mengabaikan langkah bernama usaha. Ya, saya paham bahwa usaha tak pernah mengkhianati hasil. Oleh sebab itu saya pun berupaya . Saya membaca materi dan mencoba mengerjakan contoh soal di internet. Namun demikian, saya sekali lagi tidak menganggapnya sebagai beban. Semua dilakukan atas dasar senang. Saya menempatkan diri saya sebagai seseorang yang sedang bersenang-senang. Saya sedang bersenang-senang dengan mempelajari materi Bahasa Indonesia lagi, saya sedang bersenang-senang dengan mengerjakan soal olimpiade, saya sedang bersenang-senang di arena kompetisi. Karena memang untuk bersenang-senang, saya juga tak memasang target berarti. Yang penting, saya mengerjakannnya dengan hati yang riang. 

Ternyata, saya rasa, sikap tersebut membuat saya menjadi sangat jauh lebih lega dan lepas. Tak ada tekanan berarti saat menjalankannya. 

Saya jadi berpikir panjang setelahnya. Apakah selama ini saya menempatkan ambisi atas sebuah hasil di atas segala-galanya? Lebih jauh daripada menikmati proses yang sesungguhnya lebih menantang itu? Atau, saya selalu terjebak dengan ranjau kehidupan bernama persaingan? 

Saya pun paham akhirnya bahwa menaruh harapan yang terlampau besar kepada hal-hal di luar diri kita tak selalu membuat kita tenteram. Misalnya, harapan besar untuk selalu menang dalam hal apapun di dunia. Hal itu, saya kira, justru membuat saya berlari begitu jauh ke depan namun begitu jauh pula  meninggalkan diri saya sendiri. Hal tersebut tidaklah menenangkan pada akhirnya.Oleh sebab itu, kini saya sedang mencoba melakukan dan menekuni banyak hal yang memang saya gemari tanpa menaruh harapan yang terlampau besar atasnya. Saya sedang benar-benar berusaha menikmati apapun yang sedang saya jalankan. 

Saya menulis di blog ini, misalnya. Saya bersyukur kamu membacanya lalu ikut bercerita pada saya. Namun demikian, jika hal itu tidak terjadi, saya akan tetap baik-baik saja. :)


Tim OGN ceria dan bahagia.
Ka-ki: Pak fikri, saya, Pak Fauzi, Pak Agus. Minus Pak Somantri.

Read More

12 Februari 2019

Menghardik Manusia (bagian 2)

Siswa itu dengan berang menyerang gurunya. Ia busungkan dadanya menantang sang guru. Beberapa kali ia membentak lelaki paruh baya itu karena telah menegurnya saat merokok di dalam kelas. Ia merasa tak terkalahkan dan sungguh berkuasa. Tak segan, ia pun mencekik sang guru. Sang guru geming, tak ada perlawanan berarti tampak darinya.  

Bagaimana perasaanmu melihat kejadian seperti yang saya ilustrasikan di atas? Itu adalah peristiwa nyata yang viral di media sosial belakangan ini. Bukan sekali! Kejadian serupa itu telah berulang terjadi bahkan hingga nyawa sang guru terenggut di tangan muridnya sendiri. Masih terbayang pula dalam ingatan saya, kasus seorang guru yang dilaporkan ke polisi oleh orang tua murid karena menegur anaknya, muridnya sendiri. 
Mengapa harus sampai terjadi begini memilukan?

Alasan sang guru tidak berani memberi tindakan atas perlakukan kurang ajar muridnya adalah karena takut berurusan dengan hukum yang selalu menjerat kaumnya. Sungguh, seharusnya hal ini tidak perlu terjadi demikian. Pendidik memiliki hak untuk menegakkan moral siswanya. Caranya tentu beragam. Dan saya yakin, setiap bentuk teguran telah guru perhitungkan dengan matang. Dalam blognya (tulisannya bisa di baca di sini), kawan saya Indah Mustika Santhi lebih banyak menjelaskan bagaimana seharusnya kejadian seperti ini disikapi, bagaimana posisi murid dalam undang-undang dan bagaimana sebenarnya posisi guru dalam hukum yang melindunginya. Yang hilang barangkali adalah pengetahuan serta kesadaran banyak pihak terhadap peraturan itu. Oleh sebab itu, saya kira, guru tak perlu gentar memberi tindakan selama tindakan itu bermaksud baik bagi murid. Berani karena benar!

Sungguh, mendidik adalah sebuah tugas mulia yang semestinya mendapat dukungan dari semua pihak. Bukan hanya guru melainkan juga masyarakat luas, orang tua, bahkan murid itu sendiri. Murid?Ya, tentu saja. Terkait hal ini, saya sepakat dengan  ujaran Agus Akmaludin bahwa keberkahan, manfaat, serta kebaikan ilmu akan hilang jika rasa hormat seorang murid terhadap gurunya pun hilang. Ini yang lebih saya takutkan terjadi di masa depan. Apa yang akan terjadi jika kelak manusia-manusia ini muncul sebagai bibit kezaliman di muka bumi atau hidup tersesat tanpa arah sebab sedari muda tak pernah menaruh sedikit pun hormat kepada gurunya sendiri.

Intinya, menurut saya, kekerasan manusia terhadap manusia (siapapun dan berapapun usianya) tak lantas membuat manusia itu menjadi lebih terhormat di antara sesamanya. Sebaliknya, hal itu justru menegaskan bahwa ia adalah makhluk yang demikian rendah dibandingkan dengan semua makhluk Tuhan lainnya. Pada poin ini, saya sungguh ingin kembali menghardik sesama saya, manusia. 


Semoga kita selalu Tuhan jauhkan dari niat melakukan tindak kekerasan. Semoga Tuhan menguatkan diri kita untuk tegak berdiri atau lantang bersuara dan menjadi pelindung bagi yang sepatutnya dilindungi dari tindak kekerasan. 

Teakhir, cobalah baca tulisan saya terdahulu mengenai kekerasan yang dilakukan manusia terhadap binatang (baca di sini). Lalu, sandingkan dengan tulisan saya tentang kekerasan manusia terhadap sesama manusia ini. 

Bagaimana  perasaanmu? 


Read More

Menghardik Manusia (bagian 1)

Setiap melihat postingan Garda Satwa Indonesia tentang kekerasan terhadap binatang, saya merasa terluka. Cepat-cepat saya mencari kucing-kucing saya dan memeluk mereka. Saya gumamkan doa pada mereka, semoga mereka selalu Tuhan lindungi dari segala macam kejahatan. Semoga Tuhan pun masih memberikan saya kesehatan sehingga bisa terus melindungi mereka. Postingan di akun instagram Garda Satwa Indonesia itu selalu membuka kesadaran saya bahwa masih banyak jenis manusia yang berhati batu di muka bumi ini. GSI, demikian akun itu biasa disingkat, mengajarkan pengikutnya untuk mengasah setajam mungkin  kepedulian terhadap makhluk Tuhan itu dan melakukan hal baik bagi mereka sesederhana apapun. 

Baru-baru ini, hati saya kembali terkoyak dengan beberapa berita di media sosial yang dibahas pula di akun GSI. Kasus tersebut adalah kasus yang dilakukan dua orang pria terhadap seekor kucing. Mereka dengan sengaja mengikat kucing tersebut pada sepeda motor lalu menyeretnya di sepanjang jalan hingga tewas. Hal ini mengingatkan saya pada postingan serupa beberapa waktu lalu. Sekelompok pemuda yang sedang menyalakan api tiba-tiba menyeret seekor anjing lalu dengan sengaja membakar bagian tubuh anjing itu di api yang berkobar. Tak jelas memang suara di video itu, tapi saya yakin anjing itu sangat kesakitan dan kepanasan. Sementara, para pemuda itu tertawa sangat girang seolah menyaksikan sebuah lelucon. 


Sinting!


Kekerasan bukanlah suatu hal lucu yang bisa ditertawakan dengan begitu ringan! Tindakan penganiayaan macam apapun terhadap semua makhluk Tuhan tak membuatmu patut dihargai alam semesta. Kamu sedang menantang Tuhan. Dan Tuhan Mahakuasa atas seluas-luasnya jagat raya beserta isinya.


Menghardik manusia

Ya, saya manusia dan sedang menghardik jenis saya sendiri. Hal itu saya lakukan sebab merasa marah pada sesama saya. Di titik tertentu, saya merasa malu menjadi manusia yang bisa begitu mudah merasa sombong, merasa melebihi Tuhan, dan begitu biadab. Lalu di tempat saya berada, saya merasa tak bisa melakukan hal besar yang mengubah banyak ketimpangan itu. Namun saya masih punya kepercayaan bahwa kesadaran itu muncul dari celah-celah sekecil apapun. Mungkin kamu yang membaca tulisan saya ini merasa sedikit tergerak dan tercerahkan tentang menjadi manusia yang menghargai ciptaan Tuhan. Mungkin satu-dua orang dari sekian miliar manusia di muka bumi ini ada yang tergerak sehingga kita bisa bersama-sama bertindak dan memberi dampak. 

Sudah, sudah. Saya ingin keluar sebentar mencari kucing-kucing saya dan sekali lagi membisikkan bahwa mereka aman bersama saya. :')


Read More

05 September 2017

Nostalgia dan Sebuah Pasar

[Jurnal #4 , catatan dari seorang penyuka budaya populer]

Pada postingan sebelumnya, saya dengan (agak) ilmiah menjabarkan mengenai nostalgia dan beragam alasan generasi milenial gemar bernostalgia. Pada akhirnya, saya masih dihinggapi kegelisahan. Saya merasa bahwa nostalgia para generasi milenial adalah lahan subur yang menjanjikan. Mengapa bisa demikian? Maksud saya, mengapa nostalgia sangat ampuh menggaet hati para milenial di dunia pemasaran?
Oh iya, saya tidak sedang menulis sebagai seorang pemerhati bisnis atau ekonomi. Saya menulis sebagai seorang pengamat budaya populer saja :).

Iklan LINE dengan tokoh Rangga dan Cinta. Gambar dari sini

Simaklah beberapa amatan saya. Pada tahun 2014, iklan fitur teranyar Line yakni Find Alumni mendadak tenar di kalangan warganet. Kehadiran tokoh Rangga dan Cinta dari film Ada Apa Dengan Cinta dalam iklan itu menyedot perhatian penonton. Penonton dibuat mengenang kembali kisah kasih Rangga dan Cinta dalam film yang tayang tahun 2002 atau sekira dua belas tahun lalu.  Beberapa saat setelahnya, sekuel Ada Apa Dengan Cinta 2 pun tayang dengan jumlah penonton yang terhitung banyak.

Kemudian, tahun 2016, permainan berbasis android yakni Pokemonn Go mendapat sorotan luar biasa.  Tentu saja, sebelumnya, para pengguna seakan diingatkan kepada tayangan dan permainan Pokemon yang sempat tenar di era 90-an. Pokemon Go kemudian menjadi salah satu permainan yang digandrungi oleh semua kalangan sepanjang tahun. Di seluruh dunia.

Dua contoh yang saya ambil di lingkup lokal dan global tadi sebenarnya berangkat dari hal yang sama: nostalgia. Penonton Ada Apa Dengan Cinta atau pemain permainan Pokemon dibuat mengenang kepopuleran film dan game tersebut pada saat mereka kanak-kanak atau remaja. Secara psikologis, nostalgia merupakan mekanisme pertahanan diri yang positif atas hal-hal buruk yang menimpa kehidupan seseorang seperti kesedihan atau kesepian.

Nostalgia membuat seseorang mengingat kembali hal-hal indah yang telah dilewati di masa silam. Tentu saja, mengenang sejumlah kejadian manis di masa lalu akan membuat seseorang tersenyum, menepis kebosanan dan menghilangkan kecemasan-kecemasan. Perasaan-perasaan positif seperti inilah yang diinginkan oleh dunia pemasaran sebab mampu menarik perhatian banyak orang terutama generasi milenial di era modern yang serba gegas dan hiruk-pikuk.

Simaklah bahasan Lauren Friedman di laman Forbes.com Menurutnya, menghidupkan kembali memori-memori positif dari masa lalu beserta hal-hal menariknya adalah sesuatu yang membahagiakan di tengah aneka rutinitas yang padat, ragam tanggung jawab yang berat, dan kerumitan hidup lainnya. Saat seseorang senang atau tertarik pada sesuatu, tentu saja ia akan lebih senang bertindak lebih untuk mencapai sesuatu itu. Di titik ini, artinya, brand akan berhasil menyentuh pemirsanya di tingkat yang lebih emosional (dan sentimental) saat meliibatkan nostalgia. Nostalgia akhirnya dapat mendorong seseorang dan orang lain untuk menikmati sebuah produk karena merasa terhubung dengan kenangan masa lampau yang mengesankan itu.

Para pemain Pokemon Go, misal, terdorong untuk bermain karena mereka bisa mengenang kembali saat-saat bahagia di tahun 90-an, saat permainan tersebut hadir di masa kanak-kanak mereka. Pun dengan film AADC 2 atau fitur Find alumni dari Line. Mereka dapat menonton film atau menggunakan fitur teranyar Line tersebut sambil mengenang sosok Rangga dan Cinta yang hadir di masa remaja mereka.

Pokemon Go (2016). Dokumentasi dari sini

Lantas, apakah dengan menghadirkan sesuatu dari masa silam di masa kini dapat sepenuhnya menggaet para milenial pada sebuah produk? Saya rasa tidak semudah itu. Apalah artinya kehadiran masa silam tanpa memberi kesan yang lebih berarti di masa kini. Artinya, mesti ada keterkaitan, relevansi, atau konteks yang tepat antara masa lampau dan masa kini. Jika tidak, semua perasaan nostalgia tersebut hanya menyuguhkan kekosongan. Dalam hal ini, masih kata Lauren Friedman, produk yang menggunakan nostalgia sebagai sebuah strategi mestilah mempertimbangkan kebaruan atau sesuatu yang tengah berkembang di masa kini. Intinya, membuat sebuah kaitan yang emosional menggunakan nostalgia sambil tetap menawarkan hal baru. Lihatlah para pemain Pokemon Go. Mereka tentulah bernostalgia dengan permainan era 90-an ini namun mereka pun terdorong atas sebuah kebaruan yakni permainan dengan augmented reality. Perpaduan keduanya membuat permainan ini laris manis di pasaran.

Hal serupa tampaknya dapat kita temukan pula dari kemunculan Rangga dan Cinta. Selain bernostalgia, pengguna aplikasi Line terdorong oleh inovasi fitur Find Alumni. Saat menonton film AADC 2, barangkali, mereka pun terdorong oleh kebaruan yakni asyiknya bepergian dengan travelling, menikmati tempat-tempat seni, atau menyimak puisi-puisi Aan Mansyur.

Tren budaya populer seperti busana, tayangan, permainan, dan musik seakan berulang atau sengaja dibuat berulang  sekira setiap sepuluh atau dua puluh tahun. Nyatanya, nostalgia semacam itu dinilai sangat ampuh memikat pasar, yakni generasi milenial. Selain alasan bahwa nostalgia mampu menepis aneka perasaan depresif di era modern, perlu digarisbawahi bahwa generasi milenial adalah pengguna media digital yang aktif dan pengguna teknologi yang adaptif. Generasi ini, seperti dituturkan Tanya Dua dalam laman Digiday.com, generasi perdana yang hidup terhubung dengan dunia daring secara instan dan juga konstan. Generasi yang dilimpahi informasi dari berbagai penjuru. Kesederhanaan yang generasi ini idamkan dari masa lalu mereka dapatkan dari sebuah inovasi bernama teknologi. Selanjutnya, mari kita simak sekitar. Bagaimana sensasi kembalinya Warkop DKI dalam Warkop DKI Reborn atau Power Rangers The Movie membangkitkan nostalgia generasi milenial?

Sebentar. Nostalgia yang lebih gegas kini terdapat dalam fitur on this day di Facebook atau aplikasi Timehop. Apakah menurutmu, mereka lahir dari kenyataan bahwa generasi milenial kini semakin senang mengenang?

Gambar dari sini
Read More

Mengenai Saya

Foto saya
Perkenalkan! Saya Nurul Maria Sisilia, seorang pengajar, penulis, dan pekerja sosial. Saya senang menulis hal menarik yang terjadi di kehidupan sehari-hari. Mari berdiskusi!

Terjemahkan (Translate)

Rekan

Diberdayakan oleh Blogger.