17 Juli 2019

Selambat Kura-Kura

Bukit Candi, Cicalengka

Lantas, dalam hidupmu, saat yang lain melaju lebih cepat darimu kau kira hal itu baik buatmu? Katamu, mereka adalah sekawanan kelinci dan kau kura-kura di sebuah lajur yang panjang. Katamu, kamu merasa berjalan begitu lambat dari sekitar. Katamu lagi, kamu merasa begitu tertinggal dan tak mampu mengejar. Di titik tertentu, kamu lalu merasa tak berarti sebab tak bisa ada di lintasan yang sama. Sebentar, apa kau pernah merasa bahwa langkahmu itu sudah pas buatmu? Apa kau pernah sedikit saja berbincang dengan langkahmu sendiri tentang telah begitu jauh kau melaju meski perlahan? Tarik napas dulu...

Di hidupmu kini, saat kau berjalan pelan, bukankah kamu justru bisa menikmati segala hal yang hadir di dirimu? Ah, semoga kamu tidak lupa bahwa langkahmu yang pelan itu membuatmu mampu menghargai kemampuanmu sendiri, mencintai kekurangan dan ketidaksempurnaanmu, juga mampu memberi waktu untuk memahami dirimu sendiri. Semoga kamu tidak pula lupa bahwa jalan hidupmu yang lambat itu menawarkanmu waktu agar kamu berlaku lebih tenang dan sabar. Waktu agar kamu bisa tulus ikhlas menerima beragam kenyataan yang datang silih berganti, menerima orang-orang yang hadir lalu pergi, juga menerima suka duka dengan hati terbuka.

Pertengahan tahun ini, semoga kamu tidak lupa bahwa kamu telah tumbuh menjadi diri yang lebih baik dari waktu ke waktu. Semoga kamu percaya bahwa Tuhan Mahabaik dengan segala skenario hidup buatmu. Semoga pelan-pelan kamu paham bahwa kamu akan terus berbuat baik meski tak semua niat baik akan diterima dengan baik oleh orang sekitarmu. Perlahan kamu mengerti bahwa kebaikan akan terus menyertaimu dengan atau tanpa kau sadari. 

Pelan-pelan, semoga kamu pun mengerti bahwa tak apa jika kau sembuh begitu lama setelah terluka. Tak apa jika kau merasa berdiri begitu lambat setelah rubuh. Tak apa jika kau berjalan begitu pelan setelah cidera.

Di perjalananmu kini, kuharap kamu perlahan menerima diri jadi si kura-kura lambat yang berjalan pelan menempuh hidup. Kuharap kamu akan tetap berjalan dan memutuskan untuk tidak berhenti dahulu. Semoga kamu perlahan paham bahwa kamu punya garis start dan finish dari Tuhan yang tentu berbeda dari yang lain. Ah, sungguh kamu begitu hebat dengan lajumu sendiri -yang perlahan-lahan itu.

Terakhir. Aku harap, perlahan kamu akan meyakini bahwa tahun-tahun duka itu akan berlalu dan kamu sungguh pantas bahagia setelahnya. Sangat pantas.

Ah iya! Tak apa kamu selambat kura-kura, tapi ingat bahwa kamu bukan kura-kura biasa. Kamu adalah kura-kura ninja! :D


Teenage Mutant Ninja Turtles alias Kura-Kura Ninja


Read More

05 Juli 2019

Cerita dari Kebun


*Sebuah catatan di Kamis pertama bulan Juli (yang diposting hari Jumat dini hari). Yeay~


Sesekali, ternyata, melihat ke belakang membuat kita sadar telah demikian jauh langkah yang telah kita tempuh. Meski perlahan dan dengan langkah yang kecil itu, ternyata banyak hal yang telah kita capai. Lalu, di titik ini, kita bisa merasa cukup dan bersyukur. 

Memang, apa yang sedang saya tengok ke belakang? Tak lain, kebun saya. Hehe. Sore itu, seperti biasa, saya menyiram tanaman-tanaman di kebun baik tanaman di rak semai, tanaman yang digantung, atau yang saya tanam di tanah. Setelah selesai, biasanya, saya amati sekeliling sambil memikirkan tanaman lain yang memungkinkan ditanam lagi, merencanakan pindah tanam tanaman yang sudah ada, atau mendesain kebun. Tapi sore ini berbeda. Saya termenung dan melihat halaman rumah saya sudah cukup dipenuhi tanaman. Sangat berbeda dengan tahun-tahun lalu sejak pertama saya pindah ke rumah ini. Ah, ternyata sudah sejauh ini langkah yang saya pijak. :')


Saya ingat betul, November 2018 saya mulai belajar menanam setelah tanaman melon tiba-tiba berhasil tumbuh di halaman. Saya punya kebiasaan memisahkan sampah organik dengan sampah lainnya, memang. Sampah organik yang berasal dari dapur itu saya tempatkan di halaman belakang dekat pintu dapur. Karena hanya dikubur begitu saja, tak jarang terdapat tanaman yang tumbuh bahkan hingga berbuah seperti sang melon tadi. Saat itu, saya terkejut bahagia saat menemukannya tiba-tiba berbuah begitu. Ibarat mendapatkan hadiah tak terduga dari alam semesta! Hehe. Dari sana, saya jadi tertarik untuk mulai mengolah tanah dan bercocok tanam. Saya mulai bersihkan halaman depan dan belakang, memindahkan genting dan kayu sisa renovasi rumah, memotong rumput liar, dan mulai mencangkul tanah. Karena dilakukan sendirian, sehabis kegiatan itu saya merasa perkasa seperti Xena The Warrior Princess. XD



Di yang bersamaan, ternyata Dyah, Laila, dan Teh Anis juga sedang giat berkebun. Terbersit ide untuk mengganti kepanjangan FLP dari Forum Lingkar Pena menjadi Forum Lingkar Pekebun cabang Turangga-Dago-Cicalengka. Haha. Bersama mereka, saya sering bertukar informasi seputar tanaman bahkan sering diajak ikut seminar urban farming (padahal saya kan rural farmer :p).

Tanaman yang pertama kali saya coba tanam saat itu adalah tanaman pangan seperti bayam hijau, bayam merah, seledri, dan bawang merah. Bayam hijau dan merah tumbuh dengan baik. Untuk pemula seperti saya, menanam bayam adalah pilihan tepat karena mudah tumbuh dan tak sulit perawatannya. Kamu juga bisa coba. Bagaimana dengan seledri dan bawang merah? Gagal tumbuh. Haha. Mungkin karena kondisi tanah atau apa ya? Saya juga kurang paham. Ya, tak apa namanya juga belajar. Akan ada gagalnya. Terpenting, jangan berhenti belajar, bukan? 

Ragam tanaman lain yang kemudian saya coba tanam seperti cabe rawit, leunca, jeruk, dan tomat. Ketahuilah bahwa bibit-bibit tanaman ini bukan saya beli di toko bibit seperti yang saya lakukan pada bayam, seledri, dan bawang melainkan saya peroleh dari tetangga saya. Setelah mengetahui saya gemar bercocok tanam, tetangga dekat rumah dengan sukarela memberikan bibit yang mereka punya di halamannya untuk saya tanam. Sebagai ucapan terima kasih, saya pun memberikan bibit tanaman yang saya punya untuk mereka. Wow barter! ini adalah hal membahagiakan yang saya dapat saat pertama kali bercocok tanam. Ada aspek sosial yang kemudian dibangun. Eh, atau ini karena wajah saya ini wajah béréeun. Maksudnya, wajah yang mengundang rasa watir dan jadi ingin sodakoh. Beda tipis ya. Wkwk. 

Hal membahagiakan lain terjadi saat saya menanam tanaman rempah dan obat seperti kemangi, lidah buaya, binahong, rosela, kumis kucing, mint, dan kunyit. Kemangi dan lidah buaya tumbuh subur di halaman saya. Sering tetangga saya datang ke rumah untuk meminta kemangi atau lidah buaya untuk beragam keperluan. Senang sekali jika bisa bermanfaat begitu. Saya jadi ingat cerita Dyah tentang Ustaz Fuad Affandi yang membangun sebuah pesantren berbasis agribisnis di daerah Ciburial. Jelas, saya belum bisa membangun usaha sosial semacam itu. Terpikir jauh ke arah ekonomi saja belum walaupun barangkali bisa saja jika diniatkan untuk usaha. Namun demikian, saat ini saya mencoba menawarkan halaman yang penuh kemangi dan lidah buaya untuk bisa dimanfaatkan siapa saja. Semoga esensinya sama, menebar kebaikan. 


Selain tanaman pangan, saya pun menanam tanaman hias. Aster, mawar, pacar air, kenikir, dan tanaman (entah apa itu namanya) yang saya simpan di pot gantung. Yang ini alasannya tak lain karena saya mager. Hehe. Tanaman hias ternyata lebih mudah perawatannya daripada tanaman pangan. Selain itu, tanaman jenis ini cukup efektif membuat halaman rumah saya lebih asri. 

Di luar kebun 
Belajar berkebun ternyata bukan sekadar belajar menanam bibit tanaman hingga berbuah atau berbunga melainkan juga belajar memahami tanah, air, cahaya, dan daur hidup. Setelah belajar menanam, ada kebutuhan khusus untuk lanjut mengenal kompos dan eco enzyme. Selain itu, juga belajar membuat vertical garden dan memanfaatkan sampah plastik sebagai wadah tanam.  Semuanya berkelindan dengan diri saya dan jadi bagian-bagian yang tak terpisahkan. Jika ingin membuat kompos atau eco enzyme dengan baik maka saya harus punya stok sampah organik yang cukup. Artinya, saya harus juga rajin mengkonsumsi sayur dan buah setiap hari. Jika ingin membuat vertical garden dari botol air mineral bekas maka saya harus mau mendaur ulang sampah plastik itu. Artinya juga, harus bijak menggunakan produk berbahan plastik. Jika ingin mengerjakan semuanya dengan baik, maka secara fisik, saya harus bugar dan prima. Artinya, harus rajin angkut semen dan batu bata. Maksudnya, olahraga. Haha. Semuanya berkaitan dengan pola hidup saya, pada akhirnya. Saya sebut ini lingkaran kebaikan. 

Setahun berkebun 
November nanti jadi penanda sudah 1 tahun saya belajar berkebun! Sukseskah perjalanannya sejauh ini? Dalam ukuran saya, ini cukup sukses. Saya paham dan sadar betul keterbatasan diri saya mengolah kebun; tangan saya hanya dua, tenaga saya jelas terbatas, dan kemalasan masih belum bisa ditaklukkan. Duh. Namun banyak hal yang telah dilakukan. Hal tersebut tampak dari perbedaan rupa halaman rumah saya saat ini dan dahulu kala. Selain itu, walau saya mengakui saya pekebun yang moody, nyatanya saya tak berhenti menekuni kegiatan ini sampai sekarang. Oleh sebab itu, tentu, untuk ukuran saya, masa bercocok tanam selama hampir setahun ini cukuplah memuaskan. 


Tentu masih banyak kekurangan tapi tak apa, terus belajar dengan sabar. Memang akan pelan perjalanannya tapi, sekali lagi, saat ini saya belum ingin berhenti. Saya masih ingin melihat halaman saya jadi kebun yang rimbun dan hijau. Saya membayangkan lama-kelamaan, saking rimbunnya, halaman rumah saya jadi "leuweung" dengan banyak tanaman yang bermanfaat. Wah! Bukankah itu hal menarik sebab berarti saya menyukseskan program pemerintah yaitu swasembada pangan? Hehe. Semoga di masa depan saya masih diberi kesehatan dan kesempatan untuk terus bercocok tanam dan membuat "hutan". Atau, saya bisa ngebon di Selandia Baru seperti Rara Sekar dan Ben Laksana (tetep ya!). Terpenting, pencapaian saya sampai saat ini pun adalah hal yang sangat pantas untuk disyukuri untuk kemudian dibenahi di kemudian hari.

Ya, kalem lah. Pelan-pelan saja. :) 

"Sedikit demi sedikit lama-lama jadi hutan rimba" (Sisilia, 2019) 





Read More

02 Juli 2019

Sebuah Catatan Tentang Catatan Kamis


"Dimulai cerita yang berputar dengan cepatnya. Permukaan tanah berubah merah. Seluruh bumi menjadi surga yang kosong…" (Digimon 2) 


*Kenapa pembukaannya harus begitu ya? :D

Tulisan ini tidak akan menceritakan kisah Digimon tentu saja. Lagu itu tiba-tiba muncul karena awal lirik yang cukup representatif. Hehe. Saya ingin sedikit bercerita tentang blog ini. Usianya sudah hampir 10 tahun ternyata, tepatnya Oktober nanti! Wiih…

Alkisah... 
Saya mulai mengenal dunia kepenulisan secara berjamaah di tahun 2009. Berjamaah? Ya, sebelumnya saya memang sudah senang menulis sejak SD (bagian ini ingin saya ceritakan nanti). Saat menginjak bangku kuliah, tepatnya Oktober 2009, saya menemukan FLP Bandung dan mulai belajar menulis bersama kawan-kawan yang lain di sana. NAH! Tepat di tahun itu pulalah saya mulai menulis di blog. Awalnya, blog ini memang ditujukan untuk mencatat semua materi yang saya dapat dari agenda diskusi mingguan FLP Bandung di selasar Masjid Salman ITB bernama Kamisan. Diskusi itu sangat penting sebab isinya sangat bergizi bagi saya yang awam dan bagaikan bubuk Kinderjoy itu. Sayang bila tidak dituliskan, pikir saya. Jadilah blog ini saya beri nama "Catatan Kamis" yang artinya kurang lebih catatan yang dibuat sebagai tulisan reflektif sehabis Kamisan FLP Bandung. 

Perjalanan blog ini
Lama-kelamaan ternyata kisahnya tidak lagi berlangsung sama. Si manusia fana ini menyerah juga diserang kemalasan. Alhasil, blog tidak pernah lagi diperbaharui sehabis Kamisan. Isinya pun tidak menentu. Semangat menulis pun timbul-tenggelam (lebih banyak tenggelam). Haha.

Blog ini kebanyakan memuat puisi-puisi saya, memang. Terlebih di rentang tahun 2012. Periode sangat galau? Ah, bukan. Periode sangat produktif, sih :D. Setelah beberapa puisi saya dimuat di Pikiran Rakyat, saya jadi punya semangat lebih untuk menulis puisi lagi. Demikian (sebuah pembenaran). Selanjutnya, tahun 2014-2015, tulisan di blog mulai diisi dengan cerita mengajar saya di pelosok Cicalengka serta pertemuan dengan teman-teman di Unpad. Tahun 2017 saya tertarik membuat jurnal karena terdorong membaca blog Bung Irfan Ilmy. Tahun 2018 (dan tahun 2016) saya sama sekali tidak menulis! Haha. Baru di awal 2019, rekan saya Dyah juga kawan-kawan lain menulis lagi. Di tahun 2019 ini saya menemukan beberapa kawan yang memulai kembali menulis di blog bahkan ada beberapa yang juga membuat Podcast. Saya memang tak bisa sejauh itu, tapi intinya, saya tidak sendiri saat ingin kembali memulai! Bahagianya~

Dari rentang waktu ini diketahui bahwa saya sudah berjalan cukup jauh dengan berbagai hal di kepala walaupun dengan langkah yang kadang tersendat. Merenungkan sebuah perjalanan ternyata sedemikian mengharukan, ya? :')

Catatan kecil untuk Catatan Kamis di 2019
Catatan Kamis harus terus ada sebab blog ini ibarat penanda bahwa saya berkembang; pemikiran maupun jiwa. Tulisan-tulisan terdahulu tidak akan saya hapus biar kawan-kawan tahu bahwa saya saat ini adalah buah perjalanan saya dari masa silam juga. Saya terus bertumbuh dari waktu ke waktu. Tulisan saya di zaman dulu itu adalah saksinya. Agar tahu bahwa saya pernah demikian 4lay dan sangat g4lau di tahun-tahun tertentu. Hihi. Agar tahu pula bahwa semakin hari saya pun semakin berupaya berdamai dengan banyak hal dalam hidup. :)

Pertengahan tahun ini, saya sedang mencoba menikmati masa "jeda" di gua (saya ceritakan di sini). Di masa itu, rasanya saya bisa memanfaatkan waktu dengan mengelola kembali blog ini. Saya ingin bercerita lebih jujur dan apa adanya. Lebih tulus, ikhlas , dan waras. Artinya, benar-benar menulis untuk kedamaian pikiran dan batin sendiri. Saya tidak akan memaksa diri saya untuk selalu menulis jika memang tidak ada yang bisa saya tuliskan hari itu tapi saya tidak akan berhenti menulis. Begitu kira-kira. Saya ingin semuanya menjadi lebih sederhana namun punya makna setidaknya bagi saya.  

Terdapat beberapa rencana yang saya buat untuk blog ini. Salah satunya, saya ingin mengembalikan jiwa sang blog dengan menulis teratur dan memostingnya di hari Kamis biar sesuai namanya. Bagus jika ternyata di hari selain Kamis pun saya punya tenaga untuk menulis dan memublikasikannya. Hehe. Oleh sebab itu, ada beberapa rubrik yang ingin saya kelola dengan perlakuan berbeda. 

  • Coffee Talk. Dulu saya beri nama Girl Talk karena rata-rata isinya tentang percakapan antarperempuan. Tetapi kemudian, tokoh berkembang dan bertambah. Tidak hanya tokoh perempuan  tetapi juga laki-laki. Maka, saya ganti mejadi coffee talk biar jadi ibarat obrolan melepas penat di sebuah meja di kedai kopi, santai tapi bermakna. Isinya seperti potongan cerita tokoh-tokoh pada seseorang bernama Sisil. Ya, katakanlah itu saya dan orang-orang yang curhat pada saya #eaa. Rata-rata kisahnya tentang problematika millenials di usia 30. (Hei, saya tertarik meneliti milenial. Menarik dibahas dari sudut pandang kajian budaya. Mau diskusi? #OOT)
  • Senandika. Sebenarnya ini adalah kelanjutan dari kegiatan #30haribercerita di awal 2019. Saya merasa #30haribercerita tahun 2019 ini adalah momen yang berbeda sebab saya sepenuhnya menulis dengan jujur. Tak semata menulis karena ingn diapresiasi para peserta apalagi mengharapkan akan di-posting ulang oleh admin. Haha. Mindfully writing, barangkali. Ternyata, hal itu menenteramkan! Saya ingin menulis dengan gaya serupa di sini.
  • Ulasan. Ya, isinya ulasan film, tempat, buku, kegiatan literasi. Hal-hal yang saya lihat, dengar, pikirkan dengan serius . #haissh
  • Puisi . Oh tentu saja ini harus ada. FLP seakan membentuk saya untuk tetap di jalur ini. Saya pun menerimanya sebagai satu identitas. Semoga tak hilang identitas itu sebab ternyata makin hari kata-kata saya makin tumpul akibat jarang diasah. Duh.

Ini jadwalnya kapan saja? Di hari Kamis pekan berapa? Oh maaf sekali pemirsa yang budiman. Saya akan posting sesuka saya. Kapan pun saya dapat ilham tentang empat rubrik ini, akan lekas saya posting. Menyebalkan bukan? :D *siap digetok segepok uang monopoli.
Tapi intinya, saya akan mengupayakan satu dari empat rubrik ini selalu ada di hari Kamis walaupun tidak menutup kemungkinan tulisan lain pun muncul di hari lain. 

Ya, pelan-pelan saja. Doakan semoga semua berjalan dengan baik meski perlahan. Itu dia! Berjalan dengan baik. Jika dijalankan dengan penuh kebaikan maka beragam kebaikan akan datang. Semoga.

Demikianlah.
Saya, si pejalan lambat yang baik, ingin menutup catatan dengan lanjutan soundtrack Digimon tadi supaya kawan-kawan pembaca riang gembira. Mari bernyanyi bersama!


"Ayo bangkitlah pahlawan yang ada dalam diriku. Jangan sampai kau menyerah untuk mencapai impian. Ayo tetap bersemangat walau debar bakar dada. Kembalikan pada kami, hari esok yang terlupakan.." 


Sampai jumpa hari Kamis! :)

Read More

28 Juni 2019

Meredam keresahan dan ingatan




Sepertinya sudah saatnya saya sedikit melipir dari media sosial. Akhir-akhir ini saya merasa diserang banyak kecemasan, kenangan, dan hal-hal lain yang musingkeun. Haha. Ya, begitu banyak hal terjadi dan membuat saya lebih emosional dari biasanya, tepatnya, lebih melankolis dari semestinya. Terlalu banyak ingatan berserakan minta dirapikan. Terlalu banyak keresahan menyeruak minta diredam. Terlalu banyak kisah mendesak minta dituliskan. Saya rasa, saya perlu waktu untuk rehat dan mengambil sedikit jeda bagi batin saya sendiri, bagi hati dan perasaan saya sendiri. Saya perlu diam sejenak dan memaknai kejadian yang berseliweran itu pelan-pelan tanpa terganggu hal-hal dari media sosial. 

Alasan di atas sangat melankolis? Ya, memang. Saya dengan jujur harus mengakui bahwa saya tipikal manusia melankolis yang akan mudah menangis di keadaan tertentu. Keputusan untuk agak menepi dari media sosial pun didasari, salah satunya, oleh alasan yang personal dan melankolis. Namun demikian, kegundahan semacam itu selanjutnya harus saya tindak lanjuti, bukan? Saya ingin mengajak kegundahan itu bersama saya dan menjadikan dia justru jadi bagian kekuatan saya. Saya paham, saya tak bisa dengan mudah melenyapkannya begitu saja. 

Ya, perlahan-lahan saja. Biar tidak tersedak apalagi sampai muntah. 

Oleh sebab itu, terhitung hari ini, saya mencoba berumah di sini saja sampai waktu yang belum saya ketahui. Sepulihnya saja (eh, memang saya sakit?). Maksud saya, sampai saya sudah merasa siap dengan diri saya sendiri dan siap berdamai dengan banyak hal. Selain itu, saya harap momen ini jadi waktu yang tepat agar saya fokus latihan menulis lagi. Untuk poin ini, saya lebih serius! Haha. Bosan juga melulu dicibir "Mana buku teh? Teu jadi-jadi (launching) wae!" oleh kawan-kawan di FLP (-___-"). Saya jadi berpikir, jangan-jangan tulisan saya belum dibukukan sampai saat ini, salah satunya, karena saya kurang merenung dan mudah terganggu dengan media sosial? Bisa jadi. Selain kurang fokus, saya jadi mudah menyerah dengan tujuan saya sendiri saat melihat kesuksesan orang lain yang tampil di media sosial. Padahal, barangkali, jalan kami memang tak sama. Laju hidup (dan pencapaian) kami jelas berbeda. Akibatnya saya malah jadi kehilangan pijakan. Saya lupa dengan langkah awal saya sendiri. Oleh sebab itu, saya kira, pilihan untuk masuk gua, sedikit menjauh dari hal-hal yang membawa keresahan, dan mulai menulis adalah hal yang tepat bagi saya saat ini. Memang, tak sepenuhnya menghilang dari media sosial. Saya hanya berusaha sebisa mungkin memberi batas dan jarak dengan dunia maya kemudian mengalihkannya pada hal di luar itu. Itu pun, bagi saya, cukup memberi dampak. 

Oh iya, saya juga sempat terpikir untuk mulai melukis menggunakan akrilik di atas kanvas sebagai pengalihan. Lalu, menambah tanaman di halaman. Lalu, belajar bahasa Belanda. Eits, sudah, sudah! Baiknya memang dilakukan satu per satu, sih, ya. Tong rusuh atuh, Sil. Haha. Saya juga harus belajar menikmati segala macam proses. Doakan semoga proses saya ini berjalan baik dan, di akhir, ada karya yang bisa lahir.
Bismillah!



NB: Semoga gak mager. Hihi
*lalu dijitak Ultraman :D

Read More

20 Juni 2019

Kemarau

Kemarau berulang membakar kemungkinan, sekali lagi memanggang harapan yang menyeruak di dada kita.
Mesti berulang kita tumbuhkan asa sambil sesekali menengok lebam dan nganga yang menyebar ke seluruh badan.
Jiwa kita pun adalah lubang-lubang yang kerontang memanjang di tanah gersang. Di celah-celahnya, duka berembus jadi jerit rasa sakit yang selalu coba kita benamkan. Melengking tajam.
Kita pun jadi dua orang petani yang memandang ladang kekeringan.
Penghujan masih jauh, dan kita telah jadi dua orang rapuh dengan luka-luka yang melepuh. Belukar dalam jiwa telah hangus diberangus usia
dan harapan jadi kelangkaan yang menerus ditimbulkan cuaca.
Dari sudut sunyiku itu kualirkanlah air mata ke jantungmu, kau alirkan ke jantungku. Supaya padam semua bara, supaya redam semua tanya "sampai kapankah ia?".
Kaki kita telah sama-sama patah dan pasrah. Namun hidup terus melaju dan enggan menunggu.
Namun jalan mesti kita tempuh walau
darah mengucur dari urat keraguan itu.
Sampai di titik itu, adakah  lagi yang mesti teguh kita genggam selain percaya
bahwa musim kan berganti rupa?
Sebelum topan kembali tiba, kau dan aku baiknya coba berani pulihkan diri.
Duka-duka itu pun ibarat bekal yang mesti kita bagi bersama.
Musim kelak kan beranjak, ladang akan kembali menghijau.
Selama itu, pastikan kau dan aku tak akan pernah
saling meninggalkan atau
membiarkan berjalan sendirian.
(2019)
Read More

Lain Cerita #1: Melankolia Juni

"Cuaca hari ini cerah, ya?" 
Pertanyaan pamungkas saat kehabisan bahan pembicaraan itu kini menemukan tempatnya bagiku. Sudah sekian lama tidak menulis lalu tiba-tiba saja Juni menyapa kembali di sudut jendela bersama cuaca yang sedang ganas-ganasnya. Angin musim ini terasa sama seperti musim gersang yang lalu. Kau merasakannya? Ia kini juga mengeringkan lukaku; harapan dan cita-cita yang sempat mekar perlahan layu kembali. Ah, tiba-tiba bercerita begitu. 

Pagi itu, iseng kutelaah perjalananku sendiri lewat jurnal dan pengingat-pengingat penting pribadi. Sialnya, setelahnya, memori demi memori dengan beringas berkelebat di kepala. Tajam jarum jam ikut mendesak kesadaranku pada Juni yang silam, di dua-tiga-empat tahun yang lewat.

Lantas, aku menyadari ternyata roda seakan berputar masih pada pusat yang sama. Jalan cerita yang disajikan semesta pun nyaris serupa. Tentang kembali menulis di sini dan dengan tergagap-gagap mencoba bercerita. Tentang kembali menyentuh kuas dan cat aneka warna namun melulu gagal membentuk rupa. Tentang kembali jatuh hati tapi perlahan patah lagi. Kembali berjalan dan berpindah namun akhirnya tetap diam di tempat. Kembali bertemu setelah sekian lama namun kemudian berpisah. Tentang semua yang diupayakan  berkecambah namun kembali urung jadi tunas.

Aku pun  menelisik saat-saat yang baru dilalui, kini dengan penuh perasaan cemas. Barangkali, semua duka akan kembali nganga dan kemungkinan akan kembali sembuh dalam waktu yang lama. Di titik itu, pertanyaan mendesak dada. Mengapa semua datang berulang? Lagi-lagi datang dengan pola yang demikian wujudnya. 

Kamu pernah merasa demikian?

Lagi-lagi jatuh, lagi-lagi rubuh. Berulang harus berdiri untuk tak lama ambruk lagi. Pertanyaan membenturkan dirinya di dinding nalarku. Apa yang sedang semesta upayakan untukku? 

Jika kau merasa serupa, kukatakan "Kau tak sendirian". 
Berbaik sangka saja, mungkin Tuhan tahu langkah kita belum sekuat yang Dia harap,  maka berkali-kali Dia berikan jalan yang terjal berliku biar kau dan aku mau sedikit lagi berupaya. Ia memberi pupuk dan air supaya kelak kau dan aku tumbuh bersama akar yang kuat menancap. Semoga. 


Juni masih merambat ke relung jantung bersama cuaca yang garang  kerontang. Mungkin ia merambah pula ke kesedihan yang mampat di ujung mata. Tak apa. Rebah dan menangis saja selagi bisa. Mungkin air mata itu jadi hujan bagi kemarau di jiwa kita. Setelahnya, mari bersama menimbang dan memutuskan langkah yang hendak dipijak. Semoga kau dan aku mau terus berjuang dan bertahan bersama. 

Mari terus berjalan! :')  


"Yang hancur lebur akan terobati
Yang sia-sia akan jadi makna
Yang terus berulang suatu saat henti
Yang pernah jatuh ‘kan berdiri lagi
Yang patah tumbuh, yang hilang berganti... "
(Banda Neira) 


Read More

Mengenai Saya

Foto saya
Perkenalkan! Saya Nurul Maria Sisilia. Seorang pengajar, penulis, dan pekerja sosial. Saya senang menulis hal menarik yang terjadi di kehidupan sehari-hari. Mari berbincang!

Terjemahkan (Translate)

Rekan

Diberdayakan oleh Blogger.