18 April 2019

MENYEMAI BENIH LITERASI DI CICALENGKA

*Sebuah catatan reflektif atas buku Kang Deni Rachman, "Pohon Buku di Bandung" ,dari kacamata pegiat taman baca dan komunitas baca Cicalengka
**disampaikan di acara #BABUK (Bahas Buku) FLP Kabupaten Bandung, 14 April 2019 di Taman Baca Pohaci

Agar terdengar puitis dan tampak seperti aktivis pecinta lingkungan (layaknya Rara Sekar, idola saya :D), saya pakai istilah perkebunan juga "menyemai benih"; sebuah proses saat benih tanaman disebar di media tanam menuju pembibitan. Tentu ini pun berkaitan dengan judul buku Kang Deni yang mengandung unsur alam yakni pohon. Apa maknanya? Saya akan bahas sedikit demi sedikit. Kalem. :)

Toko buku alternatif, komunitas baca, perpustakaan, dan pelaku perbukuan adalah benang-benang yang sejatinya sudah saling berkelindan dalam gerakan literasi  di Kota Bandung. Dalam bukunya, Kang Deni pun menyinggung hal tersebut dengan sangat rapi. Kegiatan literasi di kota kembang, tentunya, tak bisa terjalin sempurna jika salah satunya tak ada. Semuanya saling memengaruhi. Pengaruh yang timbul rupanya tidak hanya terjadi di kawasan yang menjadi pusat yakni Kota Bandung. Pengaruh tersebut kemudian meluas sampai kawasan luar yang saya sebut kawasan satelit. 

Dalam tulisan ini, saya mencoba membuat peta sederhana mengenai gerakan literasi di kawasan suburban seperti Cicalengka. Relasi gerakan literasi kota-desa serta manusia-manusia diaspora akan sedikit saya singgung dalam tulisan ini. Selamat menikmati!

Kegelisahan Kolektif 
Secara garis besar, kehadiran toko buku alternatif pada era 2000-2009 didorong oleh kegelisahan kolektif tentang beragam pembatasan aspirasi. Selepas reformasi berakhir tahun 1998, publik mulai bisa bersuara dalam berbagai media yang tersedia. Di saat seperti itulah, toko buku-toko buku alternatif tumbuh dan memberikan suasana yang berbeda. Wadah-wadah literasi ini memberikan kesempatan kepada publik khususnya anak muda untuk mendapatkan sebanyak mungkin informasi dari buku-buku yang dahulu banyak dilarang. Toko buku-toko buku ini pun menyelenggarakan beragam diskusi yang membangun daya pikir kritis atas lingkungan sekitarnya. Toko buku alternatif hadir sebagai wadah untuk menyuarakan gagasan-gagasan dengan lebih demokratis. 

Di luar kawasan Kota Bandung, Cicalengka menjadi kawasan satelit yang tampak patut diperhitungkan geliat gerakan literasinya. Terutama, gerakan taman baca dan komunitas baca. Cicalengka kemudian menjadi versi "mini" gerakan literasi Kota Bandung karena memiliki kegelisahan kolektif seperti yang saya uraikan di atas.  Saya tidak berani menyebut waktu pertama munculnya perpustakaan atau taman baca di Cicalengka dengan pasti sebab saya sendiri belum melakukan riset atas itu (mungkin segera setelah diskusi ini. Amin). Namun demikian, saya melihat geliat literasi itu muncul berbarengan di Cicalengka dengan cukup berkesinambungan seiring sejalan dengan gerakan yang dirintis di Kota Bandung.  

Bandung adalah lahan pembibitan
Serupa dengan kegelisahan para pegiat literasi kota kembang pascareformasi,  taman baca yang digagas oleh pemuda kawasan satelit lahir dari rahim yang sama yakni kegelisahan kolektif. Barangkali, bedanya, kegelisahan di kawasan satelit bukan mengenai beragam pembatasan saat reformasi melainkan justru mengenai masyarakat yang sulit mengakses buku. 

Lantas dari mana kegelisahan para pemuda kawasan satelit seperti Cicalengka terhadap akses buku itu lahir? Tentu kegelisahan itu tidak lahir dari ruang hampa. Ia lahir dari sebuah pemikiran dan perenungan yang panjang. Dalam pengamatan saya, para pemuda yang menggerakkan roda literasi adalah mereka yang pernah bersentuhan dengan buku,  orang-orang yang bergiat dengan buku atau dengan kota buku yakni Bandung. Posisi Bandung sebagai pusat gerakan kemudian memberi dampak yang sangat besar. Ia ibarat lahan yang tepat untuk menumbuhkan benih menjadi bibit yang siap ditanam di lahan lain.

Sedikitnya terdapat beberapa alasan para pemuda Cicalengka ini bisa bersentuhan dengan gerakan literasi Kota Bandung yakni karena studi, pekerjaan, atau pindah tempat tinggal. 
Pertemuan mereka dengan gerakan literasi di Kota Bandung mengasah dan mempertajam kesadaran tentang literasi itu sendiri. 

Pak Agus Sopandi pertama kali menjejak Bandung sekira tahun 1987. Bertahun-tahun kemudian beliau ikut aktif dalam kegiatan seni sastra di Bandung bersama berbagai komunitas. Di kota kembang, beliau bertemu dengan komunitas sastra IAIN, kelompok teater ASTI, GSTTF Unpad, Ultimus, dan Tobucil. Pada tahun 2006 beliau pun harus kembali ke Cicalengka. 

Beberapa tahun setelahnya, geliat lain pun muncul. Saya sendiri mengenal gerakan literasi Kota Bandung terhitung tahun 2009. Saat itu, saya menjadi bagian dari diskusi pekanan  FLP Bandung di selasar timur masjid Salman ITB. Acara yang diberi nama Kamisan itu berhasil mempertemukan saya dengan komunitas lain seperti Asia Africa Reading Club dan Majelis Sastra Bandung. Kurang lebih enam tahun guliran itu saya ikuti hingga akhirnya saya harus kembali ke Cicalengka karena rangkaian perjalanan studi  saya selesai. 

Irfani Wira Bhakti dan Ryan Anggara dari Senjakala Pustaka merupakan generasi kiwari yang juga mendapat pengaruh literasi dari Kota Bandung. Tergabung dalam komunitas perpustakaan jalanan membuat duo pemuda ini terpantik menggagas hal serupa di tanah kelahiran. 

Kawan-kawan lain seperi Yoga Adi Pratama (TBM Pohaci), Agus Akmaludin (Saung Baca Renaissance) dan Cucu Siti Solihat (TBM sudut Kampung) pun punya cerita serupa mengenai persentuhannya dengan gerakan literasi Kota Bandung sebelum akhirnya harus kembali ke Cicalengka.

Kembali ke Cicalengka
Setelah masa pembibitan di Kota Bandung itu selesai, saya dan para pemuda kawasan satelit ini akhirnya kembali ke Cicalengka. Tentu kami tidak kembali dengan tangan kosong.  Kami membawa bibit siap tanam berupa semangat membuat gerakan literasi serupa dengan Kota Bandung namun bercita rasa lokal dan dengan beragam penyesuaian. Hal tersebut tampak ditandai oleh kelahiran rumah Baca Kali Atas. Tahun 2013, Pak Agus mendirikan Rumah Baca Kali Atas pada tahun 2013 setelah sebelumnya menggagas komunitas kesenian dan sastra. Rumah baca ini memiliki titik fokus pada pengembangan literasi anak-anak. Selain itu, juga menggagas beragam diskusi sastra untuk kalangan remaja dan dewasa. 

Tahun-tahun berikutnya, sekira tahun 2016, taman baca yang digagas anak muda lainnya tumbuh bersamaan. Awal januari 2016, Saung Baca Renaissance digagas Agus Akmaludin dengan basis pesantren. Kemudian, pada Agustus 2016, sebuah taman baca di sudut wilayah Cicalengka berdiri, yakni Taman Baca Sudut Kampung. Lokasi yang dekat dengan kawasan konservasi Gunung Masigit Kareumbi ini membuat Taman Baca Sudut Kampung fokus pada isu lingkungan. Masih di tahun yang sama, Taman Baca Pohaci di Desa Nagrog lahir. Digagas oleh para pemuda yang gemar berkesenian, taman baca ini memiliki ciri khas seni, budaya, dan pendidikan. Pada awal tahun 2017, Senjakala Pustaka lahir dengan semangat menjemput bola yakni aktif menggelar lapak baca di tempat-tempat strategis di Cicalengka. 

Tahun 2018, tidak hanya taman baca yang lahir tapi juga  komunitas baca. Taman baca yang lahir di tahun itu adalah Taman Baca Uthara asuhan Lia Yulia dan Teh Dyah Wulandari. Taman baca ini  juga fokus pada pendidikan anak. Komunitas baca yang lahir di tahun 2018 di Cicalengka adalah Konde Sartika Cicalengka dan FLP Kabupaten Bandung. Komunitas Konde Sartika Cicalengka lahir setelah Duta Perpustakaan Jawa Barat tahun itu, Inggri Dwi Rahesi, berhasil menggagas sebuah forum baca khusus perempuan di berbagai wilayah.  Kemudian pada Mei 2018, FLP Kabupaten Bandung lahir. Forum yang merupakan bagian dari jejaring nasional Forum Lingkar Pena ini mengedepankan kegiatan baca seperti diskusi sastra dan bedah buku. Kemudian, tentu saja tukar ilmu kepenulisan. Hal-hal tersebut adalah hal-hal yang saya dan Laila dapatkan dari forum serupa di FLP Bandung dan di forum literasi lainnya di Kota Bandung (dan Yogyakarta). 

Benih yang terus tumbuh di lahan sederhana
Akhirnya, membaca buku Pohon Buku di Bandung karya Kang Deni, seperti kembali membaca muasal gerakan literasi di Cicalengka. Lebih jauh, seperti mengingatkan bahwa gerakan literasi ini tak berjalan sendirian. Saling kait antara individu, komunitas, hingga regional memungkinkan gerakan semacam ini terus tumbuh dan meluas. Kang Atep pernah berkata, kemungkinan semacam itu dapat terjadi sebab terdapat manusia "ulang-alik" di dalamnya. Manusia yang dimaksud adalah manusia-manusia yang secara dinamis melakukan pergerakan urban, sebuah tindakan berpindah dari desa ke kota. Mereka berdiaspora dengan lingkungan tempatnya yang baru. Mereka bersentuhan dan menyerap intisari gerakan literasi itu. Namun demikian, mereka tak serta merta melupakan asal. Mereka pulang ke tanah kelahiran dan menebar benih kesadaran itu di tempat asalnya. Tentu akan sulit membuat kesamaan yang menyeluruh antara gerakan di kota dan di desa tapi, setidaknya, gerakan ini akan sama-sama berlangsung dan terus tumbuh. 
Meski di lahan yang sederhana. 

Semoga benih literasi tersebut terus tumbuh menjadi pohon yang kuat seperti pohon-pohon buku di Kota Bandung.:)

Tabik! 

Read More

16 April 2019

GIRL TALK (7) : PASCAL

Setelah sekian lama tidak berkunjung ke perpustakaan di bilangan Jatinangor, siang itu aku putuskan untuk ke sana. Kupikir, sudah waktunya otakku mendapat nutrisi dari buku-buku bagus di sana. Awalnya, aku sangat ingin mengajak Dira ikut ke sana. Ia sudah lama penasaran dengan perpustakaan dekat mal di Jatinangor itu. Tapi sepertinya ia memilih untuk pulang. Malam tadi ia menginap di rumahku untuk menenangkan hati. Semalaman ia menceritakan kegelisahannya tentang Rintan dan lagi-lagi tentang Pascal.

Memasuki gerbang perpustakaan, hiruk-pikuk pengunjung mulai terlihat. Kursi-kursi yang terletak di teras sudah dipenuhi pengunjung yang sedang diskusi. Memasuki ruangan, beberapa orang tampak duduk lesehan dan membuat lingkaran kecil. Di sudut ruangan terdapat pojok berisi kliping-kliping di dekatnya terdapat level kecil dari kayu untuk duduk lesehan. Di sana, ada sesuatu yang mengejutkanku.

"Pascal?" sapaku pada lelaki di sudut itu. Aku sempat ragu bahwa sosok itu adalah laki-laki yang sudah lama jadi "buronan" Dira. Lelaki itu kemudian menoleh dan tersenyum canggung. Tepat! Itu Pascal.  Aku lantas menghampirinya.
 "Hai, Pascal! Dari mana aja ih?" tanyaku ramah untuk membuka percakapan.
Aku menangkap raut kaget di wajahnya. Tapi ia segera mengatasinya. Ia merapikan dulu kliping yang sedang ia baca itu. Aku bersyukur Dira tak jadi ikut ke perpustakaan ini. Aku tak bisa bayangkan bagaimana perasaannya bertemu Pascal secepat ini.
"Semedi, Sil!" jawabnya singkat sambil tersenyum kecil. "Skripsi saya kan belum beres. Ah, tahu lah. Banyak ngulang. Sempat cuti juga. Kuncen kampus nih," lanjutnya. 
"Semedi di gunung Hua Kong? Sakti dong nanti," candaku. Dia membalas tertawa.
"Sakti banget, Sil. Sampai gak ada yang tahu kan saya di mana," ujarnya. Pernyataannya itu sesungguhnya membuatku mulai ingin bicara banyak.
"Iya, Cal. Kamu kayak ninja. Menghilang gak ada yang tahu," timpalku. 
"Kamu juga menghilang dari Dira, Cal," lanjutku dengan wajah serius. Pascal tampak diam dan bingung mencari jawaban. Sesaat kemudian ia mulai bersuara.
"Kayaknya saya berpkir ulang buat terus bareng Dira, Sil. Dira butuh orang yang lebih baik dari saya,” jelasnya. Sungguh, dalam hati aku mengumpat "Euh, ieu jelema!".

"Tolong jawab jujur ya, Cal. Kamu mundur karena Dira hampir selesai studi magister kan? Terus, dia juga sekarang sering bantu proyek dosennya gitu. Itu semua 'mengancam' kamu kan?" tanyaku membludak seperti menginterogasi tahanan.
"Enggak sih," jawabnya singkat.
"Enggak salah maksudnya?" aku bersikeras.
"Senang kok dia berprestasi. Dia memang cerdas. Pantas kok dapet kesempatan kayak gitu," Pascal sangat diplomatis memberi jawaban tapi aku tak mau terpengaruh.
"Tapi?" desakku pelan.
"Ya, sejujurnya saya takut, Sil. Saya takut kalau di masa depan dia malu partner-nya kayak saya." 
Duh, lagi-lagi batinku teriak "Makan tuh gengsi. Sanguan!". 
"Aku kok kasian sama kamu, Cal. Apa kamu gak tersiksa dengan semua pemikiran itu? Dira nerima kamu lho. Mulai dari kekurangan sampai kelebihan kamu. Tapi kok kamu enggak?" jelasku dengan sangat hati-hati. Aku ingin sedikitnya Pascal paham perasaan Dira.
"Dia sama sekali gak masalah dengan status studimu. lho, Cal. Dia malah mau bantu kamu kan? Dia gak pernah mempermasalahkan hal-hal yang justru orang lain nyinyirin ke kamu," lanjutku.
"Semakin dia berlaku begitu saya semakin merasa harus menjauh, Sil," timpalnya singkat.
Aku mulai kehilangan kata-kata. Rasanya memang tak bisa memaksa Pascal untuk tetap bertahan dengan kondisinya yang serba bimbang begini.
"Setidaknya saya mau selesaikan dulu urusan saya, Sil. Kuliah dan pekerjaan saya. Biar saya lebih mapan dan kuat," tambahnya
Akhirnya, aku sungguh tak bisa berkata banyak. Segera saja aku menyudahi percakapan dan melanjutkan tujuan awalku ke perpustakaan yaitu membaca. Setelah pamit dari Pascal, aku segera menuju sudut ruangan lain. 

Ah, sebenarnya aku sunguh paham bahwa orang-orang di sekitarnya melulu membebani Pascal. Tapi, kenapa lagi-lagi harus mengesampingkan diri sendiri demi memuaskan standar orang lain? Bukankah kita memang  tak pernah bisa memenuhi keinginan semua orang di muka  bumi ini? Kita adalah manusia yang lemah dan terbatas. Setelah percakapan tadi, aku benar-benar sedih mengetahui Pascal memilih menyerah atas dirinya sendiri dan mengorbankan Dira. 

Sekarang aku pun diserang kebingungan yang amat sangat. Aku tak tahu  bagaimana menyampaikan ini semua ke Dira. Bingung memberitahu bahwa mungkin lebih baik dia meninggalkan Pascal. 



Read More

09 April 2019

GIRL TALK (6): DITA

"Dita, stok alat tulis kantor ini kamu yang sediakan ya? Padahal ‘kan rencananya kita baru belanja akhir pekan ini," tanyaku memastikan. Ruangan kantor kami saat itu memang sangat rapi dan bersih. Beberapa alat tulis kantor sudah penuh terisi.
"Aku yang belanja kemarin soalnya gemes banget serba habis," Dita sang peri bersih-bersihku ini juga punya jiwa pengadaan barang rupanya. 
"Gak mungkin kamu sendiran yang belanja kan? Banyak banget soalnya," tanyaku
"Dibantuin Petra kok. Sendirian mah aku tak sanggup. Haha," jawab Dita ringan.
"Wait! Petra?" aku mengerlingakan mata ke arah Dita mencoba menggodanya. Aku tahu persis bahwa mereka berdua sedang dekat akhir-akhir ini. Dita dan Petra sudah lama saling kenal tapi Petra sempat dipindahtugaskan ke tempat kursus pusat di Jakarta. Baru tahun ini Petra kembali ke rumah belajar kami di Bandung. Rupanya, pertemuan kedua mereka ini berhasil menumbuhkan benih asmara di hati Dita. 

 "Petra akhir-akhir ini sering antar kamu kalau ada perlu, Dit. Perasaanmu disambut nih?" tanyaku usil. 
"Apa sih. Biasa aja," jawab Dita sambil meraih kursi di dekatnya lalu duduk dan perlahan meminum kopinya.
"Bagus atuh. Aku siap jadi kurir antar undangan, lho!" aku kembali menggoda Dita.
"Gak tau, Sil. Aku kok rasanya ingin menghindari Petra," suara Dita tiba-tiba melemah. Sepertinya berat sekali sesuatu yang sedang gemuruh di hatinya.

"Kok malah mundur, Dit? Bukannya dari awal kamu memang  suka sama Petra? Sekarang dia mulai nunjukin perasaannya juga ke kamu, lho," ujarku lirih.
Dita tak menjawabku. Ia sibuk mengaduk lagi kopinya sambil membuang pandang. Aku mencoba mendekatkan kursiku ke arahnya dan bertanya pelan-pelan.
"Petra udah ke rumah kamu?"
"Belum, Sil. Padahal dia menawarkan. Tapi rumahku kan lagi renovasi," jawabnya ringkas.
Aku tahu, renovasi rumahnya sebenarnya sudah hampir selesai. Jadi, rasanya tak masalah kalau Petra bertandang. Aku ingat bahwa ia juga pernah menolak tawaran Danis yang hendak ke rumahnya. Alasannya, halaman rumahnya sedang dirombak. Ah, entahlah, Dita selalu punya alasan fantastis untuk menolak lelaki yang akan datang ke rumahnya. 

"Maaf, Dit. Apa kamu takut mempertemukan Petra dengan keluargamu?" aku menerka. Erat aku menggenggam tangan Dita. Dia melirikku dan menarik napas panjang yang berat. Seketika ruangan ini dingin dan hening.  

"Aku kesal dengan diriku sendiri, Sil!" pekiknya tiba-tiba.
"Usiaku sudah kepala tiga. Tapi kok rasanya aku tak bisa beranjak dari hal lain selain masalah di rumahku, ya, Sil? Bapak dan Ibuku bertengkar terus. Abangku tak bisa kuandalkan tapi orang tuaku masih saja membelanya." Masih segar dalam ingatanku, Dita bertengkar hebat dengan kakaknya itu karena salah paham tapi orang tuanya justru mati-matian membela sang kakak lelaki. Hal itu membuat Dita sangat terpukul dan tak pernah betah ada di rumah. 

"Saat semua orang sudah bersikeras mengupayakan pernikahan, aku malah belum. Aku masih tercekal di rumahku sendiri. Gimana aku bisa melangkah memikirkan hal sakral itu jika aku belum selesai dengan diriku sendiri, dengan rumah dan orang-orang di dalamnya, Sil? Gimana?" tangis Dita seketika pecah. Aku mendekati Dita dan menawarkan pelukan. Aku paham, kondisi itulah yang membuatnya ragu menjalin hubungan dengan Petra. 
Ah, Dita, itu sungguh bukan salahmu. 

"Di saat seperti ini aku sempat ingin kehilangan Bapak dan Abangku saja, Sil. Rasanya lebih baik kalau aku tak pernah punya mereka," ujar Dita tiba-tiba.
"Dita! Jangan gitu! Kehilangan tak selamanya baik untukmu. Apalagi kehilangan figur orang tua atau salah satunya. Kamu mungkin justru makin merasa pincang dan tak sempurna. Tetap saja jiwa kamu akan berlubang besar!" aku naik pitam. 
"Aku menyinggungmu, ya, Sil?" tanyanya. Aku kira dia memang terluka sampai dia lupa bahwa aku, anak dari seorang ibu tunggal, juga terluka. 
"Sil, aku minta maaf. Aku gak bermaksud begitu," Dita balik memelukku.
Pertahananku kini rapuh juga. Aku ikut menangis bersama Dita. Sekian waktu kami sama-sama menyelami kesedihan hingga akhirnya aku berani angkat bicara. 
"Ada kenyataan yang memang bisa kita ubah dengan mengupayakannya dan ada pula yang benar-benar hanya bisa kita terima dengan penuh ikhlas dan lapang dada walaupun menyakitkan. Di poin kedua itu contohnya adalah orang tuamu, keluargamu; sesuatu yang membentuk ingatan masa kecilmu. Kamu boleh kecewa dengan itu. Kamu juga boleh sedih. Tapi kamu tak boleh merasa sendiri berjalan di memori yang kelam itu, Dit. Ada aku."
Dita masih memelukku saat aku kembali berujar.
“Kalau Petra adalah pilihan terbaik Tuhan buatmu, dia akan sepenuhnya menerima kamu. Tapi kalau tidak, aku yakin Tuhan sedang menyiapkan hal yang lebih indah buatmu. Sampai hal itu terjawab, baiknya kamu melapangkan dirimu dulu. Kamu berhak menerima kebaikan dari semesta selama kamu mau membuka hatimu atas beragam kemungkinan, Dit.”

"Kamu harus bahagia ya, Sil. Kamu pantas untuk itu," ujarnya.
"Kamu juga, Dit." Aku menambahkan.

Siang kami kali ini sungguh sendu. 


*Rada mewek sih ini nulisnya :'(
Terima kasih buat kawanku Miss N dan R. We are very strong, girls! Sini, peluk dulu! :)

Read More

06 April 2019

HADIR DI PERINGATAN HARI PUISI SEDUNIA!

Sudah terlewat bulan Maret. Cerita ini baru ditulis bulan April. Haha. Belajar untuk kembali konsisten menulis memang bukan perkara mudah memang. Tapi baiklah, mari kita mulai ceritanya :)
***

Setelah menyaksikan film "Petualangan Menangkap Petir" yang diputar terbatas di Indie Cinema Club Bandung, saya, Dyah, dan Teh Anis melanjutkan wisata seni ke Museum Kota Bandung. Sungguh sarat makna memang malam itu kami habiskan. Haha. Ada apa di Museum Kota Bandung? Tentu bukan sekadar menikmati display museum malam hari. Kamis malam itu (21/3/2019) sedang digelar pergelaran puisi untuk memperingati Hari Puisi Sedunia. Acara bernama yang digagas Jazz Poet Society itu sejatinya digelar pukul 19.00 WIB. Sayangnya, saat itu kami tiba di lokasi sekira pukul 19.30. Saya rasa sesaat sebelumnya kami terlalu asyik makan malam di foodcourt dekat BIP sambil diskusi tentang perbandingan kualitas pendidikan Indonesia dengan negara Eropa hingga lupa waktu. :D


Museum Kota Bandung  sudah tampak ramai dari luar. Pemuda-pemudi masuk menuju ruang utama museum.  Di teras, terdapat beberapa stan yang digunakan untuk menjual beragam buku. Saya bertemu dengan Kang Deni dari Lawang Buku di sana. Kami sempat berdiskusi singkat tentang rencana acara bedah buku di Cicalengka bulan April. Pengunjung semakin ramai, saya dan teman-teman kemudian diminta panitia lekas masuk dan menyaksikan acara.

Apakah ada penampilan musik jazz di dalam sana? Sebetulnya tidak juga. Acara ini sesungguhnya adalah acara pembacaan puisi dan musikalisasi puisi. Sepemahaman saya, jazz poetry adalah wadah bagi dua hal yang saling memengaruhi: musik jazz dan puisi. Puisi jazz menjadikan musik jazz sebagai inspirasi. Begitu pun sebaliknya. Jazz Poet Society Bandung sendiri adalah komunitas di bawah naungan Klab Jazz Bandung,  sebuah komunitas pecinta musik Jazz. Jazz Poet Society bisa dikatakan sebagai jalan lain untuk memahami dan menikmati musik jazz. Sepertinya kebingungan saya akan sedikit terjawab seandainya tadi saya hadir lebih awal dan menyimak penampilan Kang Syarif Maulana yang berjudul "Jazz adalah bukan ini bukan itu". 
(Jika kawan-kawan punya info tambahan mengenai ini, mohon tambahkan ya. Silakan bagikan informasinya di sini atau jadikan tema obrolan jika kita berjumpa. #Asyik :D )

Malam itu, kami pun bertemu Irfan Ilmy yang ternyata didaulat oleh panitia untuk turut membacakan puisinya. Tentu, penampilannya akan kami nantikan.  Saya sempat ditawari Irfan untuk ikut membaca puisi saat sesi jamming nanti. Oh, tentu saya menolak. Saya merasa bukan seorang pembaca puisi panggung yang baik. Haha.

Sepanjang acara, kami disuguhi penampilan-penampilan dari berbagai perwakilan komunitas. Sekiranya, ada dua puluh penampil malam itu. Puisi yang ditampilkan malam itu pun berasal dari beberapa bahasa seperti Sunda, Indonesia, Inggris, dan Jepang. Sayangnya, saya tidak mengikuti acara tersebut hingga akhir sehingga saya tidak menikmati semua penampilan. Sedikitnya, saya mengabadikan beberapa penampilan yang sempat saya simak.

Salah satu penampilan yang memukau saya adalah penampilan Kang Zulfa Nasrulloh. Ia membawakan puisi serupa mantra yang dapat menyihir penonton di ruangan itu. Pantas saja, ia membawakan puisi yang magis dari penyair Sutardji Calzoum Bachri sebanyak tiga judul. Ketiga puisi tersebut dibawakan bersamaan dengan improvisasi yang menarik.

Foto dari instagram Jazz Poet Society. Saya tak sempat ambil foto karena memori ponsel yang menipis. Duh. 

Seperti halnya pembacaan puisi Kang Zulfa, pembacaan puisi dari komunitas Celah-Celah Langit pun menarik untuk disimak. Empat orang lelaki membacakan pusi berjudul "Jante Arkidam" karya penyair Ajip Rosidi. Di awal penampilan, mereka bersama-sama membacakan bait demi bait puisi. Selanjutnya, mereka bergantian membacakan puisi tersebut dengan ragam ekspresi dan gerakan. Uniknya, mata mereka tajam menatap penonton  seakan berbicara dan berinteraksi dengan semua orang yang hadir di ruangan. Sayang sekali kualitas video di ponsel saya kurang bagus sehingga tidak bisa unggah video penampilan mereka di sini.
Foto yang berhasil saya ambil sendiri

Penampilan dari Jazz Poet society sendiri pun memukau penonton dengan pembacaan puisi berjudul "We Real cool" dan "For My People". Puisi bahasa Inggris tersebut dibacakan bergantian dengan harmonis. Selain Jazz Poet Society, terdapat pula penampilan puisi berbahasa sunda dari Bu Chye Retti Isnendes. Kemudian, puisi bahasa Jepang dari Puspa Sari. Sayangnya saya tak menyaksikan penampilan puisi berjudul "Iroha" itu.

Foto (masih) dari instagram Jazz Poet Society

Penampilan yang kami tunggu akhirnya tiba! Kawan kami Irfan Ilmy tampil membawakan puisi yang ia tulis khusus untuk idolanya, Mustofa Bisri atau Gusmus. Puisi berjudul "Dawuh yang Teduh" dan "Masa Depan Ingatan" dibawakan Irfan dengan tenang di hadapan penonton. Ini tentu bukan kali pertamanya membacakan puisi. Keberaniannya patut diacungi empat jempol.

Foto dari instagram Irfan Ilmy
Setelah penampilan Irfan selesai, kami memutuskan menonton satu penampilan lagi yaitu musikalisasi puisi dari Manjing Manjang. Setelah itu, kami pulang sebab waktu telah beranjak malam. Keluar dari ruangan, saya dan Dyah lekas memesan Grab untuk pulang. Angkot menuju Gumuruh sudah jarang jika begitu malam.

Sepulang dari acara tersebut, saya kepikiran kata-kata Irfan di buku puisinya, "Teh, ayo nulis puisi lagi!". Haha. Duh, rasanya memang sudah sekian purnama hiatus menulis. Terlebih puisi. Saya kira, acara malam  itu jadi salah satu pemantik untuk menulis lagi. 

Semoga.

Read More

02 April 2019

GIRL TALK (5): DIRA

"Teleponan sama siapa sih, Ra? Seru banget."
Tanyaku penasaran sesaat setelah Dira menutup obrolannya. Hampir satu jam Dira berbincang dengan kawannya di seberang telepon itu. Suara tawanya yang keras memecah kesunyian di kantor. Situasi kantor saat itu memang sedang cukup sepi. Tak tampak ada aktivitas yang ramai di setiap kelas. Biasanya, semua ruangan kursus ini terisi penuh. 

"Itu, lho, Sil. Rintan" jawabnya. 
"Rintan? Kok tumben Rintan telepon kamu. Perasaan udah lama banget dia menghilang dari muka bumi. Hehe" komentarku usil. 
Aku tahu, Rintan sudah jarang sekali menghubungi Dira. Dahulu memang Rintan tak pernah bisa jauh darinya. Bahkan katanya, Rintan selalu menghubungi Dira setiap malam karena butuh teman curhat tentang kekasihnya Dion.  Tapi, rasanya sekarang hal itu mulai berubah. 
"Sibuk di tempat kerjanya yang baru katanya. Tadi dia bilang kangen banget pengin ketemu, terus ngajak ketemuan deh Sabtu ini." balas Dira tampak membela Rintan.
Aku tiba-tiba ingat bahwa dulu Rintan juga selalu meminta bertemu dengan Dira, tepatnya saat hubungannya dengan Dion sudah berada di ujung tanduk. Lalu, setelah hubungan mereka benar-benar berakhir, Rintan yang rapuh makin lekat pada Dira. 
"Kabar dia dan suaminya gimana?" tanyaku. Entahlah aku ingin sekali mengetahui kabar terbaru Rintan dengan suaminya saat ini.
"Dia gak cerita banyak sih. Tapi kayaknya sedang ada masalah gitu, Sil" jelas Dira.
Aku ingat betul. Beberapa lama setelah putus dari Dion, Rintan sudah dapat kekasih baru, Andra. Dia tampak sangat bahagia dengan dunianya yang baru itu. Terlebih saat ia pindah dari tempat kerja kami ke tempat kerja Andra tanpa ada pamitan yang berarti dengan Dira. Sejak itu, ia tampak jarang menghubungi Dira lagi, jarang mengajak Dira bertemu atau makan siang bersama di luar. Begitu seterusnya hingga Rintan dan kekasihnya itu menikah.
"Lalu, sekarang dia datang lagi padamu karena ada masalah dengan suaminya ya, Ra?" terkaku.
Dira tampak terdiam. Mungkin ia sedang benar-benar merenungkan perlakuan Rintan padanya. 
"Ra, aku mau tanya deh." aku memecah lamunan Dira.
"Dia tahu masalah kamu dengan Pascal?" lanjutku dengan nada bicara yang berat mencoba menekankan bahwa ia pun saat ini sedang punya masalah. 
Pascal menghilang setelah cuti kuliahnya habis. Awalnya Dira pikir Pascal ingin fokus menyelesaikan studi yang sudah molor bertahun-tahun. Tapi, Dira malah jadi tak bisa menghubunginya sama sekali.
Pertanyaanku tadi sesungguhnya hanya memastikan bahwa Rintan juga tahu apa yang sedang Dira  hadapi dan tidak  melulu Rintan yang harus didengar. 

"Sejujurnya enggak, Sil. Aku gak cerita banyak tentang Pascal ke Rintan. Setiap kali mau cerita, Rintan sibuk." jelasnya. 
Mungkin memang kesibukan Rintan di tempat kerja baru itu sangatlah padat. Tapi, aku belum paham sepadat apa kesibukannya hingga tak bisa sebentar saja bertukar peran, Rintan yang kini jadi pendengar buat Dira. Lebih jauh, aku bertanya dalam hati, kenapa seseorang harus datang kepada kawannya hanya saat merasa butuh. Sang kawan bukanlah stasiun tempatnya sejenak singgah sebelum pergi begitu jauh. Jika semata berteman karena ingin mencari keuntungan sesungguhnya itu sangatlah rugi. Kita tidak pernah tahu dari mana datangnya pertolongan saat kita benar-benar membutuhkannya kelak. 
"Tetap berlaku baik aja, ya, Ra. Tapi maaf jangan memaksakan dirimu menganggap Rintan sebagai  kawan dekatmu lagi." ujarku lirih. 
"Pertemuanmu dengan Rintan nanti benar-benar buat temu kangen aja. Aku khawatir dia kembali meninggalkanmu saat ia merasa masalahnya dengan Andra sudah reda. Lalu, semua kembali seperti semula, kamu jadi teman yang dilupakan. Sesekali, cobalah juga untuk menolak Rintan." jelasku.  
"Iya, Sil. Ternyata, aku memang gak bisa mengharapkan semua orang akan tetap jadi temanku. Termasuk Rintan." jawabnya.

Ruangan menjadi hening. Kami sama-sama menerka perasaan masing-masing. Dari luar, tiba-tiba  seorang lelaki berhelm dan berseragam hijau mengucap salam. 
"Kamu pesan ojek online, Sil? Mau ke mana?" Dira penasaran.
"Ah iya. Aku antar titipan makanan dulu nih ke Tamansari." jawabku sambil menunjukkan goodie bag berisi paket lengkap makan siang, buah-buahan, dan yogurt. 
"Eh,boleh nitip beliin bakso Solo gak di sana?" Curhatan kami tadi sepertinya berhasil membuat Dira lapar.
"Hmm… Karena kamu sedang ada masalah dengan Rintan, kayaknya saat ini kamu gak cocok makan bakso, deh" jelasku dengan lagak serius.
"Lho? Makan apa dong?" Dira menimpali dengan penasaran.
"Makan ati!" selorohku puas.
"Ih, awas, ya, Sil! Aku kutuk kamu jadi bakso aci!" Dira mengancam. 

Bakso aci? Haha. 

Read More

Mengenai Saya

Foto saya
Perkenalkan! Saya Nurul Maria Sisilia. Seorang pengajar, penulis, dan pekerja sosial. Saya senang menulis hal menarik yang terjadi di kehidupan sehari-hari. Mari berbincang!

Terjemahkan (Translate)

Rekan

Diberdayakan oleh Blogger.