17 November 2019

Di Suatu November

Dan aku hanya bisa menawarkan pelukan bagi dalamnya dukamu. Sementara tangis telah lebih dulu menganak sungai dari sudut matamu. Lukamu, segala kenangan yang mengakar hingga pangkal jantung dan cinta yang tak akan tergantikan sesiapa, sempurna membiru pagi itu.
Di titik sepilu itu, aku bersedia ada saat kau begini jatuh, saat semua pergi ini tak pernah kembali, saat semua harap dibatasi mati, saat semua kesempatan menutup dirinya sendiri.

Waktu perlahan berganti seperti seharusnya. Barangkali juga semua duka yang sama-sama kita punya.

(Dipati Ukur, 2019)  


Read More

03 November 2019

MENURUNKAN EGO

"Neng, standar nilainya turunin. Minimal skor jadi 40."

Begitu kira-kira pesan dosen senior saya di WhatsApp kala saya membantu beliau memeriksa UTS kampusnya.

Saya mengalihkan pandang pada satu amplop yang tebal di meja. Amplop itu memuat sekitar lima kelas. Masing-masing kelas, kurang lebih, berisi 40 lembar jawaban mahasiswa. Ya, tinggal dikali saja jumlah total lembar jawaban yang harus saya periksa waktu itu. Banyak!
Kunci jawaban dan panduan penilaian sebenarnya sudah sempurna ada dalam genggaman. Sebagai asdos yang baik dan benar, saya jadi begitu teliti dan tegas dengan jawaban yang saya baca. Meleset sedikit dari kunci jawaban, poin rendah! No excuses pokok na mah. Titik. Saya yakin dosen senior saya tidak keberatan karena beliau juga tipikal orang yang idealis. Hehe.

Ternyata sesuatu terjadi siang itu. Beliau berkabar bahwa tadi baru saja dipanggil koordinator mata kuliah dan diingatkan tentang deadline. Entah apa lagi yang sebenarnya Pak Dos dan Pak Koor bincangkan, tapi selepas itu Pak Dos menghubungi saya dan meminta agar menurunkan standar penilaian. Barangkali ada peringatan juga dari Pak Koor tentang standar nilai. Ya, sebagai asdos yang baik hati dan tidak sombong, jagoan lagipula pintar (Gen Z, kamu gak akan hapal lirik lagu "Catatan Si Boy" ini, saya yakin -_-) saya pun manut.

Akhirnya berkas UTS kampus "Sultan Ciumbuleuit" selesai saya periksa dan kirimkan ke Pak Dos. Setelahnya, saya jadi berpikir. Apa sebenarnya yang kami lakukan? Apakah memang kami yang memasang ekspektasi terlalu tinggi tanpa melihat yang sebenarnya terjadi? Apa kami mematok standar ideal nan sempurna setinggi Kahyangan tanpa terlebih dahulu menganalisis banyak aspek dari mahasiswa? Saya tepatnya, berpikir bahwa yang saya hadapi adalah manusia dewasa yang sudah bisa berpikiran matang atas segala sesuatu, termasuk belajar. Hal itu membuat perlakuan saya pun berbeda dengan yang saya lakukan terhadap anak usia sekolah. Lantas, saya meminta mereka ada dalam standar belajar saya namun ternyata hal itu tidak sepenuhnya tepat. Begitu barangkali ketimpangan ini terjadi. Akibatnya, banyak ditemukan skor indah bernada doremifasol setiap kali ujian.

Apakah sebagai pengajar, ego kami (saya lagi tepatnya) begitu luhur hingga harapan antara pengajar dan kenyataan di kelas tak bertemu?

Saya jadi lanjut merenung dalam, apakah cara mengajar saya pun salah?

Mungkin dari sini saya harus sedikit menurunkan ego dan meningkatkan kualitas mengajar (?).

#catatanAsdos

Read More

17 Oktober 2019

TENGGELAM

Berbulan-bulan ini, kamu akhirnya memilih memenuhi jadwal keseharianmu dengan ragam kegiatan yang padat atau, tepatnya, sengaja kau buat padat. Lalu, kamu sendiri yang menikmati peluh itu. Kamu senang saat harus pergi pagi buta dan pulang larut malam, berdesakkan dalam kendaraan umum, dan berlari satu tempat ke tempat lain. Kamu membiarkan kata-kata bertebaran dan semua yang minta diselesaikan mengambil tempat di meja kerjamu, di kamarmu, dan di tiap sudut rumahmu sebab artinya hal-hal itu yang kini kau perbolehkan mengambil alih pikiranmu.

Kamu menikmati lelah yang hinggap di mata, tangan, kaki, dan semua sendimu sebab artinya tak ada lagi celah bagi air mata apalagi ingatan masa silam. Semua kau lakukan agar bisa menikmati akhir pekan dengan dirimu sendiri: tidur seharian seperti mayat hidup atau sekadar menikmati semua film Ghibli lagi.

Biasanya, kau menolak paham pada kenyataan bahwa terdapat manusia yang justru menikmati hidup dalam kesibukan, rutinitas yang menurutmu menjemukan, atau tumpukan pekerjaan yang sungguh gila. Kamu memicingkan mata pada orang-orang yang memilih jalan tak waras menjadi penggila kerja atau workaholic itu. Namun di titik ini akhirnya kamu percaya bahwa kesibukan yang sengaja diciptakan itu pun adalah pelarian dari jeratan duka. Atau, sebuah usaha keras menutup semua kemungkinan kembali terluka di kemudian hari. Atau, suatu upaya menenggelamkan diri biar perasaan pahit dalam dada turut karam dan tak lagi dikenali.
Atau, semuanya.

Upaya menghindar dari kesedihan? Ah, barangkali juga benar. Namun, kamu sadar bahwa hal itu kamu lakukan semata agar kau paham kekuatanmu sendiri. Agar kau lebih fokus berjalan pada kelebihanmu saja, pada hal-hal yang membuatmu bahagia meskipun harus membuat ragamu seperti lepas dari tulang-tulangnya. Sungguh, kamu hanya sedang memasang benteng agar semua keburukan tak semena-mena menghampirimu lagi.

Kamu sudah melakukannya dengan luar biasa!
Jangan lupa makan tepat, minum cukup, istirahat, juga olahraga. Tetap bertahan dalam hidup yang begini rawan pun perlu banyak tenaga.

Terima kasih sudah berjuang.

#ceritakansaja #staystrong

Read More

03 Oktober 2019

MERIANG

Stasiun Rancaekek 

Musim di bulan Oktober sedang tak bersahabat. Katamu, angin sepanjang perjalanan menuju Cimahi sedang buas dan senang membuatmu meriang. Ah, apa kubilang. Tubuhmu kini berontak. Barangkali gambaran bahwa hati dan pikiranmulah yang sebenernya bergejolak. 

Kamu lupa kalau semakin hari tenagamu makin terbagi. Sialnya, di tengah kenyataan itu kamu masih saja keras kepala. Tak bisa berpikir panjang dan mudah sekali tersulut api. 
Kamu kecil tapi ingin melakukan hal terlampau besar dan mustahil dilakukan seorang diri. Kamu ingin  berlari amat cepat padahal kamu masih butuh berjalan pelan. Kamu ingin mengambil banyak peran dalam sekali jangkauan padahal tanganmu terbatas hanya dua. Kamu sungguh menginginkan banyak hal yang sebenarnya tumbuh dari kegelisahan tak bisa seperti harapan orang sekitar. Begitu, bukan? 


Ah. Kamu sedang lelah bahkan dengan dirimu sendiri, Diri. Istirahatlah dulu. Tenangkan sejenak diri dan pikiranmu. Redakan demam di tubuhmu. Meriang di tubuhmu ibarat pelukan semesta biar kamu ingat bahwa kamu butuh rehat. 
Berdamailah sebentar dengan keletihanmu. Kamu tak bisa melulu melaju tanpa rehat terlebih dahulu. Jeda mutlak kau perlukan agar kau bisa lebih memahami dirimu sendiri. Biarkan yang lain bergegas bahkan terburu-buru. Kamu cuma perlu waktu untuk menguatkan langkah. Dan hal itu jelas tak pernah salah. Setelah kau usai dengan jedamu, kau bisa melangkah lebih tenteram dan bahagia. Begitu seharusnya. 


Hari akan semakin gelap. Menjelang akhir pekan, kau masih harus berjuang dengan dirimu sendiri. Jika luang, mampirlah ke warung membeli coklat favoritmu. Upayamu berjuang dengan diri sendiri, sesederhana apapun pun, perlu dapat penghargaan.


Istirahatlah raga, istirahatlah jiwa. Esok kamu mesti bahagia. 

#staystrong 
Read More

20 September 2019

HABIBIE DAN BOCAH ESKIMO

Anak ini akhirnya kembali masuk sekolah setelah berhari-hari jatuh sakit. Menjelang  ujian kenaikan kelas bocah perempuan ini sering sakit satu minggu. Jika sedikit saja dihinggapi lelah, anak ini juga pasti akan jadi langganan dokter anak. Itulah mengapa anak ini tak pernah lepas dari jaket tebal dan kaus kaki panjang. Kawan-kawan sekelasnya tahu persis keadaannya maka mereka cukup menerima kondisi si bocah. Bahkan, jika ia sakit, kawan-kawannya satu kelas ramai-ramai menjenguk. Namun tak semua anak menerimanya. Hari itu, ia tak ikut pelajaran olahraga dan hanya diam di pojok halaman sekolah. Seorang anak laki-laki mengejeknya yang berjaket tebal serta berkaus kaki panjang itu dengan sebutan "pesepak bola Eskimo". Ia membalas kata-kata itu tapi tetap dibalas ejekan lain. Kesal, ia ambil kerikil dan melempari anak menyebalkan itu sambil menangis. 

Kekesalannya berbuntut panjang. Ia geram pada anak menjengkelkan itu juga geram pada dirinya sendiri. Ia kesal karena tak bisa tumbuh seperti anak-anak lainnya; sehat dan kuat. Oh iya dia juga sedih karena ia tak setinggi anak lainnya. Ia sedih karena ia lemah hingga bisa ditertawakan anak lain. Ia bawa kesedihannya ke rumah lalu ia ceritakan kepada ibu dan kakeknya. 
"Tak apa tidak tinggi, pakai jaket, dan pakai kaus kaki panjang terus. Yang penting pintar seperti Habibie,"  Jawab ibunya yang baru pulang dari pabrik kala itu. 
"Iya, Habibie berperawakan kecil tapi 'otak semua'," Kakeknya melanjutkan. 
Di benak kecilnya ia paham, bahwa sosok yang sedang dibicarakan ibu dan kakeknya itu terbilang cerdas dan kecerdasannya mengalihkan perkara lain yang sebenarnya remeh. Sosok itu bersinar dengan kekuatannya dan membuat orang lain tidak begitu memandang kekurangannya.  Sejak perbincangan itu, ia jadi ingin memandang hal-hal yang ia mampu dan menerabas semua kelemahan dirinya. Ia lemah tapi tak ingin membiarkan kelemahannya itu berlarut-larut melemahkannya. Ia ingin fokus pada hal yang membahagiakannya saja; buku, majalah, sahabat bermainnya, dan hal-hal menarik lainnya.

Karena sakit, tak banyak yang bisa anak rapuh ini lakukan di rumah selain menonton kartun yang diputar maraton di TV lalu melahap buku dan majalah pemberian ibu dan kakeknya. Sayup-sayup ia mendengar lagu seorang penyanyi cilik diputar di TV sore itu. 

"Cita-citaku ingin jadi profesor. Bikin pesawat terbang, seperti Pak Habibie…"

Ia kembali ingat petuah ibu dan kakeknya agar tumbuh cerdas seperti sosok Habibie. 
Ah, ia tidak benar-benar ingin jadi profesor dan membuat pesawat terbang, memang, tapi ia telah menemukan impiannya yaitu ingin menuliskan cerita tentang anak yang naik pesawat dan pergi ke luar angkasa. Ia ingin menulis cerita petualangan setelah membaca buku R. A Montgomery dan mulai tertarik tentang segala hal berbau antariksa. Ya, ia ingin menjadi penulis cerita anak, katanya. 

Sejak saat itu, ia tak pernah lepas dari buku dan alat tulis juga alat gambar. Ia punya buku khusus untuk menulis ceritanya sendiri disertai gambar aneka warna. Ia juga punya lingkaran pertemanannya sendiri yang sama-sama suka menulis cerita.

Di akhir masa sekolah dasar, ia pun tumbuh jadi anak yang lebih sehat. Anak ini pun pelan-pelan semakin kuat dan tak lagi jadi langganan dokter anak melainkan langganan rangking di kelas. Ia tumbuh begitu kuat hingga bisa tegap berdiri di panggung sebuah lomba sambil memeluk piala kemenangan pertamanya. Ia menjadi juara lomba menulis  tingkat sekolah dasar untuk pertama kali dalam hidupnya. 

Ah, sosok itu teramat menginspirasi. Ia bukan sekadar nama melainkan cita-cita bagi anak-anak yang lahir dan tumbuh pada eranya. Anak-anak yang mencintai ilmu pengetahuan, gemar membaca dan menulis, senang mencari tahu, dan tentu saja peduli sesama. Anak-anak di masanya itu, saat dewasanya kini, tumbuh menjadi anak-anak yang punya cita-cita yang tinggi, mimpi yang luas, dan harapan yang tak terbatas. Begitu pula dengan si anak yang berpenampilan seperti suku Eskimo itu. Setidaknya, sang anak mulai paham bahwa semua mimpi mesti diupayakan agar suatu saat bisa mengangkasa. 

Saat kabar mengenai kepergian Pak Habibie itu tiba, sang anak yang dulu berdiri di panggung itu kini merasa kehilangan tokoh inspirasinya semasa kecil. Ia kehilangan tokoh yang kuat berdiri sebagai pemimpin besar dan juga pembelajar. Ia tengah berduka namun begitu berusaha menyelesaikan tulisan ini dalam tantangan #writingthon. Anak itu kini sedang turut  meramaikan langit dengan doa. Ia berharap bisa seperti sosok inspirasinya itu; pergi dengan ribuan doa dan meninggalkan banyak kebaikan.

"Selamat jalan, Pak. Terbanglah lebih tinggi. Kau kekal dalam ingatan kami!"


Tertanda,
Pemain bola dari Kutub Utara yang memeluk haru piala pertamanya kala itu. 



Read More

Mengenai Saya

Foto saya
Perkenalkan! Saya Nurul Maria Sisilia. Seorang pengajar, penulis, dan pekerja sosial. Saya senang menulis hal menarik yang terjadi di kehidupan sehari-hari. Mari berbincang!

Terjemahkan (Translate)

Rekan

Diberdayakan oleh Blogger.