17 Oktober 2019

TENGGELAM

Berbulan-bulan ini, kamu akhirnya memilih memenuhi jadwal keseharianmu dengan ragam kegiatan yang padat atau, tepatnya, sengaja kau buat padat. Lalu, kamu sendiri yang menikmati peluh itu. Kamu senang saat harus pergi pagi buta dan pulang larut malam, berdesakkan dalam kendaraan umum, dan berlari satu tempat ke tempat lain. Kamu membiarkan kata-kata bertebaran dan semua yang minta diselesaikan mengambil tempat di meja kerjamu, di kamarmu, dan di tiap sudut rumahmu sebab artinya hal-hal itu yang kini kau perbolehkan mengambil alih pikiranmu.

Kamu menikmati lelah yang hinggap di mata, tangan, kaki, dan semua sendimu sebab artinya tak ada lagi celah bagi air mata apalagi ingatan masa silam. Semua kau lakukan agar bisa menikmati akhir pekan dengan dirimu sendiri: tidur seharian seperti mayat hidup atau sekadar menikmati semua film Ghibli lagi.

Biasanya, kau menolak paham pada kenyataan bahwa terdapat manusia yang justru menikmati hidup dalam kesibukan, rutinitas yang menurutmu menjemukan, atau tumpukan pekerjaan yang sungguh gila. Kamu memicingkan mata pada orang-orang yang memilih jalan tak waras menjadi penggila kerja atau workaholic itu. Namun di titik ini akhirnya kamu percaya bahwa kesibukan yang sengaja diciptakan itu pun adalah pelarian dari jeratan duka. Atau, sebuah usaha keras menutup semua kemungkinan kembali terluka di kemudian hari. Atau, suatu upaya menenggelamkan diri biar perasaan pahit dalam dada turut karam dan tak lagi dikenali.
Atau, semuanya.

Upaya menghindar dari kesedihan? Ah, barangkali juga benar. Namun, kamu sadar bahwa hal itu kamu lakukan semata agar kau paham kekuatanmu sendiri. Agar kau lebih fokus berjalan pada kelebihanmu saja, pada hal-hal yang membuatmu bahagia meskipun harus membuat ragamu seperti lepas dari tulang-tulangnya. Sungguh, kamu hanya sedang memasang benteng agar semua keburukan tak semena-mena menghampirimu lagi.

Kamu sudah melakukannya dengan luar biasa!
Jangan lupa makan tepat, minum cukup, istirahat, juga olahraga. Tetap bertahan dalam hidup yang begini rawan pun perlu banyak tenaga.

Terima kasih sudah berjuang.

#ceritakansaja #staystrong

Read More

03 Oktober 2019

MERIANG

Stasiun Rancaekek 

Musim di bulan Oktober sedang tak bersahabat. Katamu, angin sepanjang perjalanan menuju Cimahi sedang buas dan senang membuatmu meriang. Ah, apa kubilang. Tubuhmu kini berontak. Barangkali gambaran bahwa hati dan pikiranmulah yang sebenernya bergejolak. 

Kamu lupa kalau semakin hari tenagamu makin terbagi. Sialnya, di tengah kenyataan itu kamu masih saja keras kepala. Tak bisa berpikir panjang dan mudah sekali tersulut api. 
Kamu kecil tapi ingin melakukan hal terlampau besar dan mustahil dilakukan seorang diri. Kamu ingin  berlari amat cepat padahal kamu masih butuh berjalan pelan. Kamu ingin mengambil banyak peran dalam sekali jangkauan padahal tanganmu terbatas hanya dua. Kamu sungguh menginginkan banyak hal yang sebenarnya tumbuh dari kegelisahan tak bisa seperti harapan orang sekitar. Begitu, bukan? 


Ah. Kamu sedang lelah bahkan dengan dirimu sendiri, Diri. Istirahatlah dulu. Tenangkan sejenak diri dan pikiranmu. Redakan demam di tubuhmu. Meriang di tubuhmu ibarat pelukan semesta biar kamu ingat bahwa kamu butuh rehat. 
Berdamailah sebentar dengan keletihanmu. Kamu tak bisa melulu melaju tanpa rehat terlebih dahulu. Jeda mutlak kau perlukan agar kau bisa lebih memahami dirimu sendiri. Biarkan yang lain bergegas bahkan terburu-buru. Kamu cuma perlu waktu untuk menguatkan langkah. Dan hal itu jelas tak pernah salah. Setelah kau usai dengan jedamu, kau bisa melangkah lebih tenteram dan bahagia. Begitu seharusnya. 


Hari akan semakin gelap. Menjelang akhir pekan, kau masih harus berjuang dengan dirimu sendiri. Jika luang, mampirlah ke warung membeli coklat favoritmu. Upayamu berjuang dengan diri sendiri, sesederhana apapun pun, perlu dapat penghargaan.


Istirahatlah raga, istirahatlah jiwa. Esok kamu mesti bahagia. 

#staystrong 
Read More

20 September 2019

HABIBIE DAN BOCAH ESKIMO

Anak ini akhirnya kembali masuk sekolah setelah berhari-hari jatuh sakit. Menjelang  ujian kenaikan kelas bocah perempuan ini sering sakit satu minggu. Jika sedikit saja dihinggapi lelah, anak ini juga pasti akan jadi langganan dokter anak. Itulah mengapa anak ini tak pernah lepas dari jaket tebal dan kaus kaki panjang. Kawan-kawan sekelasnya tahu persis keadaannya maka mereka cukup menerima kondisi si bocah. Bahkan, jika ia sakit, kawan-kawannya satu kelas ramai-ramai menjenguk. Namun tak semua anak menerimanya. Hari itu, ia tak ikut pelajaran olahraga dan hanya diam di pojok halaman sekolah. Seorang anak laki-laki mengejeknya yang berjaket tebal serta berkaus kaki panjang itu dengan sebutan "pesepak bola Eskimo". Ia membalas kata-kata itu tapi tetap dibalas ejekan lain. Kesal, ia ambil kerikil dan melempari anak menyebalkan itu sambil menangis. 

Kekesalannya berbuntut panjang. Ia geram pada anak menjengkelkan itu juga geram pada dirinya sendiri. Ia kesal karena tak bisa tumbuh seperti anak-anak lainnya; sehat dan kuat. Oh iya dia juga sedih karena ia tak setinggi anak lainnya. Ia sedih karena ia lemah hingga bisa ditertawakan anak lain. Ia bawa kesedihannya ke rumah lalu ia ceritakan kepada ibu dan kakeknya. 
"Tak apa tidak tinggi, pakai jaket, dan pakai kaus kaki panjang terus. Yang penting pintar seperti Habibie,"  Jawab ibunya yang baru pulang dari pabrik kala itu. 
"Iya, Habibie berperawakan kecil tapi 'otak semua'," Kakeknya melanjutkan. 
Di benak kecilnya ia paham, bahwa sosok yang sedang dibicarakan ibu dan kakeknya itu terbilang cerdas dan kecerdasannya mengalihkan perkara lain yang sebenarnya remeh. Sosok itu bersinar dengan kekuatannya dan membuat orang lain tidak begitu memandang kekurangannya.  Sejak perbincangan itu, ia jadi ingin memandang hal-hal yang ia mampu dan menerabas semua kelemahan dirinya. Ia lemah tapi tak ingin membiarkan kelemahannya itu berlarut-larut melemahkannya. Ia ingin fokus pada hal yang membahagiakannya saja; buku, majalah, sahabat bermainnya, dan hal-hal menarik lainnya.

Karena sakit, tak banyak yang bisa anak rapuh ini lakukan di rumah selain menonton kartun yang diputar maraton di TV lalu melahap buku dan majalah pemberian ibu dan kakeknya. Sayup-sayup ia mendengar lagu seorang penyanyi cilik diputar di TV sore itu. 

"Cita-citaku ingin jadi profesor. Bikin pesawat terbang, seperti Pak Habibie…"

Ia kembali ingat petuah ibu dan kakeknya agar tumbuh cerdas seperti sosok Habibie. 
Ah, ia tidak benar-benar ingin jadi profesor dan membuat pesawat terbang, memang, tapi ia telah menemukan impiannya yaitu ingin menuliskan cerita tentang anak yang naik pesawat dan pergi ke luar angkasa. Ia ingin menulis cerita petualangan setelah membaca buku R. A Montgomery dan mulai tertarik tentang segala hal berbau antariksa. Ya, ia ingin menjadi penulis cerita anak, katanya. 

Sejak saat itu, ia tak pernah lepas dari buku dan alat tulis juga alat gambar. Ia punya buku khusus untuk menulis ceritanya sendiri disertai gambar aneka warna. Ia juga punya lingkaran pertemanannya sendiri yang sama-sama suka menulis cerita.

Di akhir masa sekolah dasar, ia pun tumbuh jadi anak yang lebih sehat. Anak ini pun pelan-pelan semakin kuat dan tak lagi jadi langganan dokter anak melainkan langganan rangking di kelas. Ia tumbuh begitu kuat hingga bisa tegap berdiri di panggung sebuah lomba sambil memeluk piala kemenangan pertamanya. Ia menjadi juara lomba menulis  tingkat sekolah dasar untuk pertama kali dalam hidupnya. 

Ah, sosok itu teramat menginspirasi. Ia bukan sekadar nama melainkan cita-cita bagi anak-anak yang lahir dan tumbuh pada eranya. Anak-anak yang mencintai ilmu pengetahuan, gemar membaca dan menulis, senang mencari tahu, dan tentu saja peduli sesama. Anak-anak di masanya itu, saat dewasanya kini, tumbuh menjadi anak-anak yang punya cita-cita yang tinggi, mimpi yang luas, dan harapan yang tak terbatas. Begitu pula dengan si anak yang berpenampilan seperti suku Eskimo itu. Setidaknya, sang anak mulai paham bahwa semua mimpi mesti diupayakan agar suatu saat bisa mengangkasa. 

Saat kabar mengenai kepergian Pak Habibie itu tiba, sang anak yang dulu berdiri di panggung itu kini merasa kehilangan tokoh inspirasinya semasa kecil. Ia kehilangan tokoh yang kuat berdiri sebagai pemimpin besar dan juga pembelajar. Ia tengah berduka namun begitu berusaha menyelesaikan tulisan ini dalam tantangan #writingthon. Anak itu kini sedang turut  meramaikan langit dengan doa. Ia berharap bisa seperti sosok inspirasinya itu; pergi dengan ribuan doa dan meninggalkan banyak kebaikan.

"Selamat jalan, Pak. Terbanglah lebih tinggi. Kau kekal dalam ingatan kami!"


Tertanda,
Pemain bola dari Kutub Utara yang memeluk haru piala pertamanya kala itu. 



Read More

12 September 2019

ESOK

Nyatanya, esok jadi ketakutan yang terus menghantui sepanjang tidur. Ia menawarkan beragam kemungkinan yang masih kelam dan tak terjamah. Ia adalah ketidakpastian atas semua janji yang mungkin tak bisa ditepati. Ia adalah kebimbangan bagi semua jumpa yang mungkin tak bisa dipenuhi. Di lain sisi, esok adalah mimpi yang bersinaran sebab ia terletak begitu jauh dari masa silam. Ia menawarkan harapan yang sepenuhnya baru untuk digenggam. Ia menyuguhkan aneka kejutan di setiap jalan. 

Lantas, harusnya seperti apa "esok" itu kita pandang, wahai, Diri? Apakah esok akan benar-benar berpihak pada kita? Apakah tarik-menarik antara harapan dan berjuta kemungkinan itu akan bisa kita lalui? 

Jika sudah begini, baiknya kita memang sedikit menepi, duhai Diri. Kita mesti menyepi untuk sejenak meresapi yang benar-benar terjadi saat ini, kini, dan di sini lalu melakukan segala hal sebaik dan semampu kita. Bukan terlalu menyeret diri pada bayangan masa depan terlebih masa lampau.  Begitu, bukan? 

Sejauh ini, kau dan aku ternyata terlalu lelah dengan segala hal yang berkelebat di kepala. Kita merasa terganggu dengan kehadiran waktu itu sendiri. Kita merasa resah pada sekitar; sosok-sosok yang datang dan keadaan-keadaan yang gamang.

Duduklah sejenak dan pejamkan mata.  Akui jika kita memang benar-benar sedang lelah dan lemah. Esok akan tetap datang namun kita tak mesti berlari ke arahnya, bukan? 
Ah, sudahlah.
 
Rehatlah lagi.

x
Read More

05 September 2019

MEMPERPANJANG WAKTU MENUJU PERPISAHAN

Pertemuan pun adalah sebuah awal menuju perpisahan, bukan? Kisah-kisah yang berjalan semenjak pertemuan itu pada hakikatnya hanyalah upaya untuk memperpanjang waktu menuju perpisahan. Seindah apapun kisah itu, ia akan dibatasi akhir. Ia akan dipenggal pisah. Begitu pula sebaliknya. Semua akan selesai di satu titik, di waktu yang sengaja Tuhan sembunyikan.

Setiap hal yang merupakan awal akan bertemu dengan akhir. Setiap hal yang dimulai akan bergulir dan selesai. Begitu.

Perjumpaanmu dengan kawan-kawan dekat, tetangga, kekasih, rekan-rekan kerja, keluarga, murid, atau kucingmu akan berakhir suatu ketika. Tidak ada yang bisa mempertahankan mereka dalam hidupmu, bukan? Kamu hanya bisa menunggu sebuah akhir yang Tuhan siapkan di sudut waktu -yang tak kamu ketahui. Kamu hanya bisa menerka waktu perpisahan dengan mereka. Kamu sungguh tak bisa menerus menggenggam tangan mereka. Tak akan bisa.

Satu-satunya hal yang bisa kamu lakukan hanya berusaha membuat alur cerita menuju perpisahan itu bergulir dengan baik. Terus berlaku baik sekuatmu. Terus menyajikan kebaikan semampumu sebelum akhirnya semua yang kau temui itu selamanya pergi dan meninggalkanmu. Kamu cukup berusaha membuat akhir yang baik. Sebisamu.

Read More

Mengenai Saya

Foto saya
Perkenalkan! Saya Nurul Maria Sisilia. Seorang pengajar, penulis, dan pekerja sosial. Saya senang menulis hal menarik yang terjadi di kehidupan sehari-hari. Mari berbincang!

Terjemahkan (Translate)

Rekan

Diberdayakan oleh Blogger.