Tampilkan postingan dengan label Ulasan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ulasan. Tampilkan semua postingan

06 April 2019

HADIR DI PERINGATAN HARI PUISI SEDUNIA!

Sudah terlewat bulan Maret. Cerita ini baru ditulis bulan April. Haha. Belajar untuk kembali konsisten menulis memang bukan perkara mudah memang. Tapi baiklah, mari kita mulai ceritanya :)
***

Setelah menyaksikan film "Petualangan Menangkap Petir" yang diputar terbatas di Indie Cinema Club Bandung, saya, Dyah, dan Teh Anis melanjutkan wisata seni ke Museum Kota Bandung. Sungguh sarat makna memang malam itu kami habiskan. Haha. Ada apa di Museum Kota Bandung? Tentu bukan sekadar menikmati display museum malam hari. Kamis malam itu (21/3/2019) sedang digelar pergelaran puisi untuk memperingati Hari Puisi Sedunia. Acara bernama yang digagas Jazz Poet Society itu sejatinya digelar pukul 19.00 WIB. Sayangnya, saat itu kami tiba di lokasi sekira pukul 19.30. Saya rasa sesaat sebelumnya kami terlalu asyik makan malam di foodcourt dekat BIP sambil diskusi tentang perbandingan kualitas pendidikan Indonesia dengan negara Eropa hingga lupa waktu. :D


Museum Kota Bandung  sudah tampak ramai dari luar. Pemuda-pemudi masuk menuju ruang utama museum.  Di teras, terdapat beberapa stan yang digunakan untuk menjual beragam buku. Saya bertemu dengan Kang Deni dari Lawang Buku di sana. Kami sempat berdiskusi singkat tentang rencana acara bedah buku di Cicalengka bulan April. Pengunjung semakin ramai, saya dan teman-teman kemudian diminta panitia lekas masuk dan menyaksikan acara.

Apakah ada penampilan musik jazz di dalam sana? Sebetulnya tidak juga. Acara ini sesungguhnya adalah acara pembacaan puisi dan musikalisasi puisi. Sepemahaman saya, jazz poetry adalah wadah bagi dua hal yang saling memengaruhi: musik jazz dan puisi. Puisi jazz menjadikan musik jazz sebagai inspirasi. Begitu pun sebaliknya. Jazz Poet Society Bandung sendiri adalah komunitas di bawah naungan Klab Jazz Bandung,  sebuah komunitas pecinta musik Jazz. Jazz Poet Society bisa dikatakan sebagai jalan lain untuk memahami dan menikmati musik jazz. Sepertinya kebingungan saya akan sedikit terjawab seandainya tadi saya hadir lebih awal dan menyimak penampilan Kang Syarif Maulana yang berjudul "Jazz adalah bukan ini bukan itu". 
(Jika kawan-kawan punya info tambahan mengenai ini, mohon tambahkan ya. Silakan bagikan informasinya di sini atau jadikan tema obrolan jika kita berjumpa. #Asyik :D )

Malam itu, kami pun bertemu Irfan Ilmy yang ternyata didaulat oleh panitia untuk turut membacakan puisinya. Tentu, penampilannya akan kami nantikan.  Saya sempat ditawari Irfan untuk ikut membaca puisi saat sesi jamming nanti. Oh, tentu saya menolak. Saya merasa bukan seorang pembaca puisi panggung yang baik. Haha.

Sepanjang acara, kami disuguhi penampilan-penampilan dari berbagai perwakilan komunitas. Sekiranya, ada dua puluh penampil malam itu. Puisi yang ditampilkan malam itu pun berasal dari beberapa bahasa seperti Sunda, Indonesia, Inggris, dan Jepang. Sayangnya, saya tidak mengikuti acara tersebut hingga akhir sehingga saya tidak menikmati semua penampilan. Sedikitnya, saya mengabadikan beberapa penampilan yang sempat saya simak.

Salah satu penampilan yang memukau saya adalah penampilan Kang Zulfa Nasrulloh. Ia membawakan puisi serupa mantra yang dapat menyihir penonton di ruangan itu. Pantas saja, ia membawakan puisi yang magis dari penyair Sutardji Calzoum Bachri sebanyak tiga judul. Ketiga puisi tersebut dibawakan bersamaan dengan improvisasi yang menarik.

Foto dari instagram Jazz Poet Society. Saya tak sempat ambil foto karena memori ponsel yang menipis. Duh. 

Seperti halnya pembacaan puisi Kang Zulfa, pembacaan puisi dari komunitas Celah-Celah Langit pun menarik untuk disimak. Empat orang lelaki membacakan pusi berjudul "Jante Arkidam" karya penyair Ajip Rosidi. Di awal penampilan, mereka bersama-sama membacakan bait demi bait puisi. Selanjutnya, mereka bergantian membacakan puisi tersebut dengan ragam ekspresi dan gerakan. Uniknya, mata mereka tajam menatap penonton  seakan berbicara dan berinteraksi dengan semua orang yang hadir di ruangan. Sayang sekali kualitas video di ponsel saya kurang bagus sehingga tidak bisa unggah video penampilan mereka di sini.
Foto yang berhasil saya ambil sendiri

Penampilan dari Jazz Poet society sendiri pun memukau penonton dengan pembacaan puisi berjudul "We Real cool" dan "For My People". Puisi bahasa Inggris tersebut dibacakan bergantian dengan harmonis. Selain Jazz Poet Society, terdapat pula penampilan puisi berbahasa sunda dari Bu Chye Retti Isnendes. Kemudian, puisi bahasa Jepang dari Puspa Sari. Sayangnya saya tak menyaksikan penampilan puisi berjudul "Iroha" itu.

Foto (masih) dari instagram Jazz Poet Society

Penampilan yang kami tunggu akhirnya tiba! Kawan kami Irfan Ilmy tampil membawakan puisi yang ia tulis khusus untuk idolanya, Mustofa Bisri atau Gusmus. Puisi berjudul "Dawuh yang Teduh" dan "Masa Depan Ingatan" dibawakan Irfan dengan tenang di hadapan penonton. Ini tentu bukan kali pertamanya membacakan puisi. Keberaniannya patut diacungi empat jempol.

Foto dari instagram Irfan Ilmy
Setelah penampilan Irfan selesai, kami memutuskan menonton satu penampilan lagi yaitu musikalisasi puisi dari Manjing Manjang. Setelah itu, kami pulang sebab waktu telah beranjak malam. Keluar dari ruangan, saya dan Dyah lekas memesan Grab untuk pulang. Angkot menuju Gumuruh sudah jarang jika begitu malam.

Sepulang dari acara tersebut, saya kepikiran kata-kata Irfan di buku puisinya, "Teh, ayo nulis puisi lagi!". Haha. Duh, rasanya memang sudah sekian purnama hiatus menulis. Terlebih puisi. Saya kira, acara malam  itu jadi salah satu pemantik untuk menulis lagi.

Semoga.

Read More

01 April 2019

7 Hal Menarik di Perpustakaan Batu Api

*Tulisan lama yang baru saya selesaikan hari ini :D. 
Hari ini, 1 April 2019, bertepatan dengan hari jadi ke-20 Perpustakaan Batu Api! Dirgahayu! Selamat Bang Anton, Teh Arum, dan semua yang menjadi bagian dari perpustakaan ini. Tulisan ini saya dedikasikan untuk perpustakaan yang telah menjadi oase pengetahuan di Jatinangor :)


Terletak di kawasan pendidikan Jatinangor, perpustakaan ini tak pernah sepi pengunjung. Letaknya yang strategis karena berada di pinggir jalan raya dan berada di dekat pusat perbelanjaan Jatinangor Town Square (Jatos) membuat tempat ini mudah dikenali. Saat singgah ke sana, saya disambut pemandangan beberapa mahasiswa asyik membaca di beranda. Hal serupa tampak pula di dalam ruangan perpustakaan berbentuk "L" ini. Beberapa orang bahkan sedang serius berdiskusi dengan sang pustakawan, Bang Anton. Inilah dia, perpustakaan hits di Jatinangor, Perpustakaan Batu Api!

Tahun 2012 saya diperkenalkan seorang kawan kepada perpustakaan yang menyediakan banyak referensi sastra. Kala itu, saya tengah menyelesaikan skripsi. Sampai saat ini, saya masih rutin singgah ke sana terlebih saat saya jadi mahasiswa Unpad. Saya akan mengusahakan mampir ke Batu Api setiap pekan. Hampir tujuh tahun lamanya saya menjadi anggota perpustakaan ini. Saya menemukan hal-hal menarik di sana. Berikut ini adalah hal menarik tersebut. 

Alamat 
"Di mana lokasi perpustakaan Batu Api?"
"Jl. Jatinangor no 142!"
Ya, memang lazimnya seperti ini percakapan mengenai alamat perpustakaan Batu Api terjadi. Namun, rupanya ada yang berbeda dengan alamat yang diakui pemerintahan Jatinangor, Sumedang, dengan pemilik perpustakaan. Sang pustakawan dengan penuh percaya diri mengubah alamatnya menjadi Jl. Pramoedya Ananta Toer no 142. Hal ini dapat kawan-kawan lihat dengan jelas kartu peserta. Jika kawan-kawan penghuni baru kawasan Jatinangor, saya yakin kawan-kawan akan merasa bingung mengenai letak jalan ini. Tapi, kemudian, kebingungna ini akan terjawab saat mengetahui banyaknya koleksi buku Pramoedya Ananta Toer yang dimiliki perpustakaan ini. 




Koleksi buku
Ya, perpustakaan ini memiliki koleksi karya Pram yang terhitung lengkap. Buku-buku tersebut bahkan tersimpan di dalam rak khusus di samping pintu masuk. Hal tersebut menyiratkan kegemaran pemilik perpustakaan terhadap tokoh yang dikenal dengan karyanyaTetralogi Buru itu. Selain buku-buku sastra, perpustakaan ini memiliki ragam koleksi buku humaniora lain seperti sejarah, filsafat, hingga agama. Menurut Bang Anton, koleksinya mencapai jumlah 10 ribu belum termasuk majalah dan koran.
Pernah suatu kali, perpustakaan ini meyediakan koleksi komik Jepang. namun, hal itu lekas ditiadakan sebab merasa keteteran mengurus pembaharuan edisi komik. 



Ada lagi hal yang menarik. Buku-buku how to disimpan terkucil di sebuah rak sederhana di belakang pintu masuk. Tentu, rak itu akan rapat tertutupi saat pintu dibuka. Sialnya, setiap jam kerja perpustakaan pintu masuk itu selalu terbuka. Rupanya, sang pemilik memiliki sentimen tersendiri terhadap buku jenis ini. :D
Kode buku dan buku peminjaman anggota
Perpustakaanlain, pada umumnya, memasang kode khas yang tertera di bagian samping buku untuk memudahkan kategorisasi dan pencarian. Hal tersebut berbeda dengan perpustakaan unik ini. Kode buku tidak ditemukan di sini. Semua disusun berdasarkan tema saja. Kadang, diubah sekehendak pemiliknya. Jika pengunjung kesulitan mencari satu buku maka langsung tanyakan saja kepada empunya perpustakaan. Hanya Tuhan dan Bang Antonlah yang tahu di mana letak persis buku-buku di perpustakaannya. :D

Begitu pula dengan catatan peminjaman milik anggota. Catatan  tersebut tidak dicetak seperti di perpustakaan lainnya. Catatan terbuat dari kertas yang didaur ulang dan dikreasikan sedemikian rupa oleh Teh Arum. Kemudian, catatan tersebut akan disimpan di sebuah tempat yang tersusun berdasarkan frekuensi kunjungan ke perpustakaan. Saya terbilang cukup sering berkunjung, jadi catatan saya terletak di laci atas. Namun, anggota dengan nomor jadul seperti saya, 5960, menempati sisi paling pojok. Haha. 

Kliping 
Selain buku, perpustakaan ini memiliki daya tarik lain yakni koleksi kliping. Kliping tersebut terdiri atas beragam tema humaniora yang menarik. Semua dikumpulkan Bang Anton dari koran atau majalah saat Bang Anton senggang!

Film dan musik
Selain buku, Batu api juga memiliki koleksi musik dan film yang menarik. Tentu saja bukan  musik dan film populer. "Terlalu banyak lagu populer diputar di mana-mana." Kata Bang Anton di suatu hari saat saya berkunjung. Bang Anton sering memutar lagu tak biasa itu untuk memperkaya khazanah pengetahuan pengunjung tentang musik, katanya. Selain memutarkan musik perpustakaan ini  juga kerap menggelar diskusi film dan musik. 


sumber dari instagram Batu Api 

Acara literasi 
Bekerja sama dengan beberapa pihak seperti kampus, penerbit dan komunitas Batu Api pun sering menggelar bedah buku dan diskusi. Kebanyakan memang digelar di kampus Jatinangor, tepatnya di Universitas Padjadjaran. Berikut ini adalah salah satu acara yang digelar Batu Api. 

sumber dari instagram Batu Api


Bang Anton
Saya sudah beberapa kali "menculik" teman-teman untuk kemudian bergabung menjadi anggota perpustakaan. Hal itu saya lakukan sebab saya yakin teman-teman saya tidak hanya bisa meminjam buku untuk dibaca tetapi juga dapat berdiskusi banyak hal dengan Bang Anton, sang empunya perpustakan. Kerja keras dan konsistensinya mengembangkan perpustakaan sejak tahun 1999 selalu menjadi inspirasi. Atas hal tersebut, Batu Api kemudian diundang ke Frankfurt Book Fair tahun 2015 untuk menceritakan perjalanan Perpustakaan Batu Api

sumber gambar dari instagram Batu Api

Kamu suka membaca dan berdiskusi? Tempat ini sungguh bisa jadi tempat yang asyik untuk dikunjungi. 
Atau, kamu pun adalah anggota perpustakaan Batu Api? Menurutmu, apa hal menarik yang ditemukan di perpustakan ini?

*Kapan-kapan, boleh lah kita ke Batu Api bersama-sama. :)
Read More

28 Maret 2019

MENONTON "NYAI" KARYA GARIN NUGROHO



*Catatan: tulisan agak (terlihat) serius. Ditulis karena sedang rajin :D
Oh iya. Tulisan ini pun mengandung spoiler. Harap maklum :) 

Ini adalah kali kedua saya meononton film di gelaran Bulan Film Nasional dari Indie Cinema Club Bandung. Berdasarkan pengalaman menonton film "Petualangan Menangkap Petir" Kamis (21/3/2019) lalu, saya sempat sangsi jika jumlah penonton film hari itu banyak. Saat menonton "Petualangan Menangkap Petir", jumlah penonton hanya tiga orang. Saya dan dua teman saya, Dyah dan Teh Anis. Berkaca dari pengalaman itu, saya agak cemas. Ya, saya 'kan awkward kalau ternyata yang menonton hanya dua orang. Haha.  Syukurlah, hari itu, Senin (25/3/2019) penonton cukup banyak. Enam orang. Okesip.

Sebelum film diputar, ditampilkanlah beberapa trailer film yang tidak secara komersial diputar di bioskop. Perhatian saya tertuju pada trailer film “Setan Jawa”. Film itu adalah film garapan Garin Nugroho yang tayang terbatas tahun 2016. Tidak ada dialog dalam film tersebut. Ya, film itu adalah film bisu yang hanya diiringi permainan gamelan. Selain itu, film ditampilkan hitam putih. Melihat trailer tersebut, sedikitnya saya seakan diberi petunjuk bahwa film yang akan saya tonton pun punya rasa yang sama. Ini adalah film idealis Garin Nugroho. Lebih tepatnya, proyek eksperimental kedua setelah film “Setan Jawa”.



Film pun dimulai. Di awal film, penonton disuguhkan dengan latar teras sebuah rumah joglo dan lukisan ratu Belanda di atas pintu kamar utama.  Hal ini seakan menjadi petunjuk yang akan ditawarkan dalam film mengenai saling singgung dua budaya yang berbeda dalam hal ini Jawa dan Belanda. Betul saja hal tersebut tampak saat sang Nyai sedang mempersiapkan sejumlah hiburan untuk acara ulang tahun suaminya. Suaminya adalah seorang Belanda yang telah sekian lama sakit-sakitan. Bergantian tamu demi tamu datang untuk menghibur Meneer Willem. Hiburan pertama datang dari rombongan keroncong. Ketika asyik bersenandung, tiba-tiba dari luar warga melempari batu sambil berteriak “Kafir!”. Rombongan pun bubar. Tamu selanjutnya adalah seorang kyai bersama beberapa muridnya. Ia berencana melaksanakan pengajian di rumah sang Nyai sambil menampilkan tarian khas Turki. Saat sedang khusyuk melantunkan nyanyian dan puji-pujian, sang Meneer muncul dan berteriak-teriak. Rombongan kembali bubar.  Dari sini saya menangkap bahwa dua budaya yang tampil dalam film ini bukan hanya saling singgung melainkan juga saling tarik. 



Nyai Memandang Dirinya Sendiri
Sepanjang film, penonton seakan dikenalkan pada cara pandang tokoh Nyai menyikapi dunia antara yang ia hadapi itu. Setidaknya ada dua cara pandang yang saya tangkap. Cara pandang Nyai terhadap dirinya sendiri dan cara pandang Nyai terhadap orang lain.
Seiring berjalannya cerita, dialog demi dialog kemudian menjelaskan jejak kehidupan Nyai yang ternyata dijual oleh ayahnya sendiri kepada Meneer Willem agar ayahnya dapat naik pangkat. Menyikapi hal tersebut, Nyai tak lantas pasrah. Ia kemudian bertekad menjadikan dirinya sendiri sebagai “barang dagangan yang mahal”. Ambisi tersebut tampak dari wawasan luas, daya kritis mumpuni, sampai pembawaan blak-blakan khas budaya Eropa. Caranya memandang diri sendiri sebagai “barang dagangan yang paling mahal” tersebut memengaruhi caranya menghadapi permasalahan yang datangdengan tegar. Masalah yang Nyai hadapi yakni status hukum  putri semata wayangnya dengan Meneer Willem, upah buruh pekerja pabrik gula, hingga kepemilikan aset yang diklaim Belanda.
Masalah-masalah yang dihadapi Nyai sangat mengingatkan saya pada konflik yang dialami Nyai Ontosoroh di buku “Bumi Manusia”. Tak salah, film ini memang mengadaptasi bebrapa novel seperti “Nyai Isah” (1904) karya F. Wiggers;  “Seitang Koening” (1906) karya R.M. Tirto Adhisoerjo ;  “Boenga Roos dari Tjikembang” (1927) karya Kwee Tek Hoay;  “Nyai Dasima” (1960) karya S.M Ardan dan tentu saja “Bumi Manusia” (1980)  karya Pramoedya Ananta Toer. Kisah Nyai Ontosoroh dari "Bumi Manusia" rupanya menjadi kerangka utama dari film ini

Nyai Memandang Orang Lain
Berbeda dengan caranya memandang diri sendiri sebagai barang dagangan paling mahal, Nyai memandang orang lain dengan cukup tajam. Setiap kali rekan Belanda Meneer Willem atau bahkan Meneer Willem berhadapan dengan Nyai, tokoh Nyai ditampilkan berdiri seakan menantang lawan bicaranya. Kemudian, saat berhadapan dengan tokoh-tokoh pribumi seperti rombongan kesenian dan kyai tokoh Nyai ditampilkan duduk di atas kursi ssementara tamunya duduk di lantai. Agaknya, hal ini menyiratkan kedudukan dan kekuatan tokoh Nyai. Tokoh Nyai kini memiliki kedudukan yang sama dengan Belanda dan setingkat lebih tinggi dibandingkan pribumi. Nyai digambarkan memiliki kekuatan untuk berani melawan Belanda yang semena-mena dan juga menguasai pribumi yang telah membuangnya. Yang menarik justru muncul saat tokoh Nyai berhadapan dengan tokoh Sastro, seorang novelis yang telah lama berkirim surat dengannya selama tiga tahun. Sastro seorang pribumi yang berwawasan Eropa. Nyai dan Sastro dikisahkan kopdar *kopdar? Tinder kali ah :D*  setelah tiga tahun tanpa pertemuan itu. Saat bertemu, ditampilkan Sastro dan Nyai sama-sama duduk di kursi dan berbincang panjang. Hal tersebut menyiratkan pandangan Nyai yang berbeda dari pandangan sebelumnya. Sastro lebih ia terima karena tidak mengancam seperti halnya tokoh Belanda atau pribumi yang telah menyakitinya.




Secara keseluruhan, film ini cukup menggambarkan tokoh Nyai dan konflik yang terjadi. Karena ditampilkan di satu latar saja, menurut saya  dinamika karakter tokoh tak begitu tergambar. Penonton disuguhkan tokoh Nyai yagn sudah sangat tegar dan kuat namun tidak digambarkan prosesnya. Adapun penjelasan tenang itu secara keseluruhan dipaparkan dengan cara tell don’t show yakni diutarakn oleh tokoh lewat monolog. Meski demikian, film ini pun menyuguhkan cara baru menyajikan tayangan dengan rasa teater. :)

Film pun berakhir, saya lapar dan ingin mencari sesuap bebek goreng yang enak di Dipati Ukur. :D

*Tulisan ini kok terasa seperti tugas matakuliah Kajian Sinema Pak Acep Iwan Saidi?  Baiklah, mungkin saya kangen belajar semiotika. 
**Berikut ini trailer film "Nyai" dari youtube Taipei Film Festival




x
Read More

24 Maret 2019

MENOLAK HOAKS (KEGIATAN LINGKAR LITERASI CICALENGKA 2018)

Peserta tampak memenuhi aula kantor kepala desa Cicalengka Wetan sore itu. Mata mereka tak lepas dari salindia yang ditayangkan pembicara di depan mereka. Sesekali mereka mengangguk dan bergumam membenarkan pernyataan sang pembicara. Pembicara sore itu adalah Fauzi abdillah, seorang dosen Universitas Pendidikan Indonesia. Ia tengah menjelaskan sebuah berita yang tengah viral kala itu yakni berita hujan yang terjadi hanya di satu rumah saja. Fauzi kemudian menjelaskn bahwa berita tersebut adalah berita palsu atau hoaks. Sontak peserta terkesima. 
Pemaparan dari Fauzi Abdillah mengenai hoaks

Ya, hoaks atau berita bohong ini tengah menjadi sorotan banyak pihak sebab penyebarannya yang masif selalu berujung keresahan. Masyarakat dibuat bingung dengan kebenaran yang terkandung dalam sebuah berita. Lebih jauh, hal tersebut dapat mengarahkan masyarakat terhadap tindakan yang lebih kacau. Berangkat dari kegelisahan tersebut, forum taman baca masyarakay se-Cicalengka yakni Lingkar Literasi Cicalengka menggelar diskusi bertajuk  "Pemuda dan Literasi Digital; Membangun Harmonisasi Sosial Tanpa Hoaks" pada Sabtu, 26 Mei 2018.  
Fauzi Abdillah, dalam pemaparannya, kemudian menjelaskan alasan terjadinya perbedaan pemahaman atas suatu berita yang mendasari tersebarnya berita hoaks. Hal tersebut adalah latar belakang pendidikan, minat, dan kemampuan membaca. Fauzi menekankan bahwa kemampuan membaca adalah hal penting dalam memahami kebenaran sebuah berita. "Masyarakat harus betul-betul membaca konteks dari sebuah berita yang diterima di media sosial mana pun" Jelasnya. 


Peserta diskui menyimak pemaparan pembicara


Selanjutnya, Fauzi pun menjelaskan beberapa langkah yang bisa ditempuh untuk menyaring berita agar tidak terjebak berita palsu atau hoaks. "Pertama, cari tahulah siapa penulis berita tersebut dengann jelas. Selanjutnya, carilah siapa kira-kira target pembaca berita tersebut. Lalu, cari tahu siapa yang mendanai berita tersebut. Lebih jelas, siapa yang kira-kira mendapatkan dana ketika berita tersebut kita klik."


Selain cara tersebut, Fauzi pun menjelaskan bahwa penting pula mengetahui pihak mana yang kira-kira akan diuntungkan atau dirugikan dengan adanya berita tersebut. "Kemudian, barulah pembaca meyimpulkan apakah berita tersebut kredibel atau tidak" pungkasnya. 
Diskusi yang berlangsung selama dua jam tersebut kemudian dibanjiri pertanyaan dari peserta yang merupakan siswa sekolah menengah di kawasan Cicalengka, pegiat literasi, dan masyarakat pada umumnya. Di akhir acara, peserta bersama pemateri membuat deklarasi menolak hoaks yang dipimpin pula oleh Kapolsek Cicalengka AKP M Yusuf B. Bunidin.


Simbolisasi gerakan literasi dan aksi menolak hoaks

(Nurul Maria Sisilia)

Read More

08 Oktober 2015

Menyusuri Kota di Jawa Tempo Dulu

Kota memang selalu menyajikan hal unik untuk dipelajari mulai dari keberagaman penghuninya, lingkungan, sampai sejarah kota tersebut. Saya memang bukan orang yang lahir dan tumbuh di kota besar melainkan di kabupaten, "satelit" dari kota besar Bandung. Namun demikian, kehidupan saya sangat beririsan dengan kota kembang ini. Sifat kota yang dinamis pun membuat saya tertarik membuat sebuah penelitian sederhana mengenai taman kota tematik dan kehidupan urban di Bandung saat mata kuliah Kajian Budaya. Ya, ketertarikan-ketertarikan inilah yang mendorong saya mengikuti sebuah diskusi buku mengenai kota di Jawa tempo dulu.

Diskusi buku karya Olivier Johannes Raap itu digelar pada Selasa (29/9) di aula Pusat Studi Bahasa Jepang (PSBJ) Unpad oleh Himpunan Mahasiswa Sejarah Unpad bekerja sama dengan Komunitas Layar Kita, Perpustakaan Batu Api, dan Penerbit Gramedia. Buku berjudul Kota di Djawa Tempo Doeloe tersebut merupakan buku ketiga yang diterbitkan Olivier setelah dua buku sebelumnya berjudul Pekerdja di Djawa Tempo Doeloe dan Soeka-Doeka di Djawa Tempo Doeloe. Dalam buku terbarunya, kolektor kartu pos lawas kelahiran Belanda ini menyuguhkan situasi kota, bangunan, dan unsur-unsur pembangun kota di Jawa pada tahun 1900-an sampai 1950-an. Sekira 277 lembar foto kartu pos dari seribuan kartu pos koleksinya turut disuguhkan dalam buku tersebut.

Olivier J. Raap, Kota di Djawa Tempo Doeloe
Jilid buku Kota di Djawa Tempo Doeloe

Kota-kota yang dibahas dalam diskusi buku tersebut antara lain Batavia, Bandung, Surabaya, dan Semarang. Pada sesi pertama, Olivier menjelaskan gaya arsitektur bangunan di Jawa zaman dahulu. Dari bentuk dan gaya arsitektur sebuah gedung, kita dapat memperkirakan usia bangunan tersebut. Biasanya, gaya bangunan zaman kolonial ditandai dengan jendela yang lebar dan atap yang memanjang. Pada masa kolonial, bangunan-bangunan yang terdapat di pinggir jalan harus menyediakan area untuk pejalan kaki setinggi 31 cm dan luas 150 cm atau sekira lima kaki (five feets). Istilah inilah yang kemudian digunakan untuk menyebut para pedagang yang mangkal di trotoar jalan dengan "pedagang kaki lima".

Selain bentuk bangunan, lelaki yang menempuh studi arsitektur di Delft ini menjelaskan seluk beluk pasar. Ini adalah bagian yang saya sukai sebab pasar serupa pusat aktivitas sebuah daerah. Pasar pun telah tumbuh sejak pertama kali manusia mengenal sistem jual beli. Pasar di Jawa, menurut Oliv, memiliki keunikan dari namanya. Nama-nama pasar di Jawa diambil dari nama hari saat pasar tersebut rutin dibuka. Pasar Jumat atau Pasar Rebo, misalnya. Pasar ini tentu dibuka hanya pada hari Jumat atau Rabu saja. Pasar Wage yang terdapat di Purwokerto pun dibuka hanya pada hari itu saja. Wage dalam penanggalan Jawa merupakan salah satu nama hari dalam lima nama pasaran Jawa.

Masih mengenai pasar, Bandung memiliki pasar bernama Pasar Baru. Dari seberang terminal stasiun pintu selatan, terlihat dua buah bangunan yang membentuk gerbang masuk menuju pasar baru. Pada masa kolonial, dua bangunan ini adalah pos polisi dan pos kepala pasar. Dua bangunan tersebut lazim ada dalam tata ruang sebuah pasar. Setelah dilakukan renovasi pada tahun 2001, dua bangunan tersebut sudah tidak tampak lagi.

Pasar Baru Bandung. Foto ini diambil dari web Ridwan Hutagalung karena saya belum baca langsung buku Olivier. :D
Setelah menjelaskan tentang seluk-beluk pasar, lelaki 48 tahun ini kemudian menjelaskan permukiman. Pecinan adalah jenis permukiman yang pertama kali ia jelaskan. Pecinan pertama kali digagas pada tahun 1816 di masa kolonial Belanda. Saat itu, Belanda merasa terancam dengan keberadaan warga Tionghoa yang menetap di Hindia Belanda. Untuk alasan pengontrolan, keamanan, dan persaingan dagang maka pemerintah kolonial  membuat peraturan agar para warga Tionghoa bermukim di pecinan. Permukiman khusus tersebut biasa terletak di batas kota, tepatnya terletak di dekat pasar dan kawasan Belanda.

Keberadaan permukiman warga Tionghoa ini memberi warna bagi sebuah kota. Gaya arsitektur negeri tirai bambu menghiasi sudut kota. Ciri khas bangunan-bangunan tersebut antara lain warna merah serta keemasan yang khas, atap pelana dengan ujung melengkung ke atas, dan bangunan dua lantai yang berfungsi sebagai ruko. Pecinan pun merupakan kawasan yang selalu menjadi pusat keramaian dengan aktivitas jual beli. Menjelang tahun 1920, warga Tionghoa lagi tidak harus  menetap di pecinan. Mereka dapat tinggal berbaur bersama warga yang lain di penjuru kota.

Selain warga Tionghoa, terdapat pula permukiman yang dihuni para pendatang dari India dan Yaman. Keberadaan mereka menambah semarak warna kota. Daerah Pekojan merupakan satu kawasan di Jawa yang dihuni oleh muslim India. Kawasan tersebut diambil dari kata "Khoja", sebuah nama daerah di India. Ciri khas bangunan mereka adalah menara tinggi yang menjulang serta pintu tinggi yang melengkung. Biasanya, permukiman mereka berada di belakang sebuah masjid. Warga yang datang dari luar pulau Jawa pun rupanya tertarik untuk turut menghidupkan kota-kota di Jawa. Beberapa di antaranya adalah warga Madura dan Melayu. Kawasan-kawasan khusus yang mereka huni pun dapat ditemukan di kota-kota di pulau Jawa.

Adanya daerah-daerah khusus yang dihuni etnis atau bangsa tertentu bukanlah hal yang direncanakan sejak awal pendirian sebuah kota. Kota, kata Olivier, tumbuh dinamis secara alami. Dalam perkembangannya, kota dihuni oleh beragam suku, ras, dan agama.

Suasana diskusi buku Kota di Djawa Tempo Doeloe di PSBJ Unpad. Foto milik teh Arumtyas  karena kualitas foto dari ponsel saya buruk :D

Selain menyusuri sejarah pasar dan permukiman, Olivier kemudian mengajak peserta diskusi mengenal sejarah nama-nama jalan di Jawa. Jalan di pulau Jawa menggambarkan kepemilikan tanah dan situasi geografis di suatu daerah. Nama-nama jalan seperi Tumenggungan dan Kranggan adalah nama jalan yang diambil dari gelar bangsawan Jawa sebagai pemilik tanah di kawasan tersebut. Ya, sistem kepemilikan tanah memang erat kaitannya dengan feodalisme di Jawa. Nama jalan yang diambil dari kondisi geografis sebuah kota terdapat pada jalan Kaliasin, Pisang Batu, dan Kaca-Kaca Wetan. Nama Kaliasin di Surabaya diambil dari letak laut yang dahulu begitu dekat dengan pusat kota Surabaya. Pisang Batu diambil dari sebuah pohon pisang batu yang dahulu terdapat di Jakarta. Lalu, jalan Kaca-Kaca Wetan yang terdapat di Bandung (yang juga alamat rumah saya di Cicalengka) diambil dari bahasa Sunda yang berarti gerbang. Kaca-kaca wetan berarti gerbang menuju pusat kota yang terletak di sebelah timur.

Penulis buku Kota di Djawa Tempo Doeloe bersama koleksi kartu pos miliknya. Foto dari koran tempo edisi Juli 2015.
Banyak sekali hal yang dapat dipelajari dari sejarah sebuah kota. Dalam hal ini, dari sebuah kartu pos lawas yang disuguhkan olivier dalam bukunya. Namun terkait hal ini, Olivier mengatakan bahwa masyarakat Jawa kurang  mendokumentasikan sesuatu dengan baik. Hal itu ia ungkapkan saat salah seorang peserta bertanya tentang kesulitan yang dialami Olivier ketika menyusun buku ketiganya. "Saya sulit menemukan referensi sejarah dari sebuah kota yang tidak memiliki warga asing (Eropa)" ujarnya. Olivier mencontohkan kota Kudus sebagai kota yang kurang referensi sejarahnya. Kemungkinan hal itu berkaitan dengan sedikitnya jumlah warga Eropa di daerah tersebut. Nah, pernyataan Olivier ini tentu menjadi pelajaran berharga bagi kita selaku warga sebuah kota. Mendokumentasikan kekayaan sebuah kota bisa menjadi cara mencintai kota tersebut, bukan? 
Read More

02 Oktober 2015

ASUS ZenPad C 7.0 untuk Blogger yang Produktif


quotes, John F. Kennedy, idea
Kutipan dari John F. Kennedy

Bagi seorang blogger seperti saya, ide  adalah hal yang sangat penting. Oleh sebab itu, saya harus segera merekam ide agar tidak mudah lupa. Selain mencatat di buku catatan, rasanya, saya memerlukan tablet untuk segera mencatat ide dan membagikannya di blog. Ya, tablet. Perangkat ini merupakan benda yang paling banyak digunakan para blogger untuk mencatat ide sebab menyediakan fitur serupa laptop dalam bentuk lebih ringkas.

tablet, blogging
Kelebihan Tablet untuk Blogging

Terdapat setidaknya tiga alasan para blogger memilih menggunakan tablet untuk kegiatan menulis mereka yakni mudah dibawa, hemat energi, dan layar sentuh yang interaktif. Tiga hal itu rupanya terdapat dalam ASUS ZenPad C 7.0. Seri ASUS terbaru dengan ukuran layar 7 yang diluncurkan pada Juli 2015 ini memiliki desain ergonomis dengan dimensi 189x198x8.4 mm. Sudut tumpul pada ASUS ZenPad ini membuat perangkat lebih mudah digenggam. Kenyamanan-kenyamanan tersebut disempurnakan dengan bobot ASUS ZenPad yang terhitung ringan yakni 256 gr. Hal ini tentu makin memudahkan para blogger dengan mobilitas tinggi untuk membawa tablet ke mana pun pergi. Selain itu, baterai 13Wh Li-polymer 3450mAh*3 yang terdapat pada ASUS ZenPad memungkinkan tablet ini hidup selama 8 jam.

ASUS ZenPad C 7.0, blogging
ASUS ZenPad C 7.0 untuk Blogging

Sistem operasi Android 5.0 Lollipop dan Intel® Atom™ x3-C3230 Quad-Core 64bit di dalamnya mendukung kemampuan menjalankan beragam aplikasi yang mumpuni serta hemat energi. Mengenai kualitas layar, layar sentuh ASUS ZenPad dilengkapi dengan teknologi TruVivid untuk menyempurnakan kejernihan, kecerahan, dan tingkat responsifitas pada layar. Selain itu, layar ASUS ZenPad C 7.0 disertai HD IPS yang punya sudut pandang 178 derajat dan ASUS Splendid. Teknologi tersebut dapat mereproduksi warna dengan lebih akurat, jernih, dan cerah.Tentu saja, masih ada kelebihan lain yang bisa saya optimalkan untuk beraktivitas.

Mengabadikan ide dengan segera dan sebanyak-banyaknya
Memotret atau merekam adalah kegiatan yang menunjang tersimpannya ide dari lingkungan sekitar saya. Saya paham betul bahwa foto-foto koleksi pribadi jauh lebih menarik jika dibandingkan foto yang diperoleh dari mesin pencari (well, this post is an exception, by the way). Saya tentu membutuhkan perangkat yang mampu memotret dan merekam dengan baik.

ASUS ZenPad C 7.0, PixelMaster, Zero Shutter Lag, Selfie Panorama
Memotret asyik dengan ASUS ZenPad C 7.0
Terkait hal itu, rupanya, ASUS ZenPad menyuguhkan aplikasi kamera yang cukup menunjang lewat kamera dengan mutu 2 MP pada kamera belakang dan 0.3 MP pada kamera depan. Kamera ini dilengkapi Zero shutter lag yang dapat menangkap momen dengan cepat seperti kedipan mata sehingga saya tidak akan kehilangan satu momen pun. Selain itu, terdapat teknologi kamera PixelMaster yang menyertakan HDR untuk memperbaiki keseimbangan cahaya. Teknologi penyempurna piksel inovatif ini meningkatkan kecerahan dan detail dari area bayangan. Tak hanya itu, apertur lensa f/2.0 dan sudut 75 derajat di ASUS ZenPad memungkinkan saya mengambil foto pemandangan dengan lebih luas. Dengan demikian saya dapat menangkap ide visual dan menambah jumlah foto untuk tulisan dengan lebih menarik.

ASUS ZenPad C 7.0, AudioWizard
ASUS ZenPad C 7.0 dengan Audio Berkualitas

Terkadang, mengabadikan sebuah ide lewat potret belumlah cukup. Ide tersebut mesti saya abadikan dalam bentuk rekaman video. Kebutuhan saya itu terjawab dengan tablet ini. ASUS ZenPad C 7.0 diklaim mampu membuat gambar bergerak lebih jernih dan bebas buram dengan menyempurnakan detail gambar secara dramatis agar gambar terlihat lebih nyata. Selain lewat video, saya juga dapat memaksimalkan teknologi audio yang disediakan ASUS ZenPad C 7.0 ini untuk merekam pemaparan narasumber di sebuah diskusi atau suara narasumber saat wawancara. Hasil audio ASUS ZenPad didukung oleh adanya AudioWizard yang membuat kualitas suara menjadi jernih.

Selain memotret dan merekam, hal lain yang dapat dilakukan untuk mengabadikan ide tentu dengan mencatatnya di notes. Saya terbiasa membuat draft sesegera mungkin saat ide itu datang. Ternyata saya tak perlu khawatir akan mengalami salah ketik atau typo saat membuat draft di tablet sebab keyboard pada ASUS ZenPad C 7.0 ini telah didesain cukup luas buat jemari saya.

Menambah bacaan

ASUS ZenPad C 7.0, reading, Tru2Life, Bluelight Filter
Membaca makin menyenangkan
Aktivitas membaca saya untuk memperdalam ide akan jadi lebih nyaman dengan ASUS ZenPad C 7.0. Terdapat sensor cahaya bersama teknologi Tru2Life yang berfungsi menyesuaikan tingkat kecerahan layar dengan kondisi cahaya. Tak hanya itu, teknologi ini dapat memastikan tampilan yang jernih dan nyata saat dilihat di luar ruangan dengan cahaya matahari terik. Selain Tru2life, Bluelight Filter dalam perangkat ini pun membantu mengurangi kelelahan pada mata dan membuat penglihatan lebih nyaman dengan mengurangi emisi cahaya biru dari layar tanpa memengaruhi warna lain.

Menyimpan dan membagikan
Setelah mengabadikan ide dan menambah bacaan, saya dapat dengan leluasa menyimpan dan membagikan ide tersebut lewat ASUS ZenPad C 7.0. Perangkat ini rupanya dilengkapi penyimpanan data sebesar 8 GB dan dapat diperluas sampai 64 GB dengan MicroSD. Tak hanya itu, ASUS ZenPad pun hadir dengan ruang simpan Google Drive sebesar 100 GB yang tersedia gratis selama 2 tahun. Terkait konektivitas, ASUS ZenPad C 7.0 hadir dengan jaringan standar 2G dan 3G. selain itu, perangkat ini juga didukung oleh Wi-Fi, hotspot, Bluetooth , dan GPS navigasi.

Kelebihan-kelebihan pada ASUS ZenPad C 7.0 di atas membuat saya semakin ingin memiliki perangkat ini. ASUS ZenPad C 7.0 cocok untuk blogger produktif dengan mobilitas tinggi yang perlu kenyamanan saat blogging. ASUS ZenPad C 7.0 akan menunjang saya membuat tulisan yang berkualitas.

ASUS ZenPad C 7.0, blogger
ASUS ZenPad C 7.0 untuk Blogger yang Produktif (dan keren badai seperti saya)
*) Gambar-gambar diambil dari website ASUS Indonesia dengan perubahan
Read More

17 September 2015

Oleh-Oleh dari Pameran Potret Keluarga

Katalog Pameran Potret Keluarga 
Bandung telah menjadi kota yang dinamis sejak dulu. Demikian kesan saya saat kembali membuka catatan mengenai kunjungan saya ke pameran potret keluarga di Rumah Seni Ropih, Jl. Braga no. 43 Bandung, September 2014 lalu. Pameran tersebut memamerkan koleksi foto (yang masih ada dan kondisinya cukup baik) dari keluarga-keluarga besar di Bandung pada tahun 1920-an sampai tahun 1970-an. Baiklah, sedikit saya kisahkan mengenai pengalaman saya mengunjungi pameran tersebut.

Terletak tepat di dekat Sumber Hidangan dan Kopi Oey di jalan legendaris Braga, Rumah Seni Ropih mudah sekali dikenali. Sejak tanggal 3 sampai 14 September 2014 tempat ini ramai oleh pengunjung pameran foto yang digelar di sana. Pameran foto yang bertajuk "Memahami Bandung melalui Pameran Potret Keluarga; Upaya Memahami Kota Tercinta melalui Para Penghuninya" ini memajang foto keluarga Dewi Sartika, keluarga Harry Roesli, keluaga M. Fadli, keluarga Sony Soeng, keluarga Soekarno bersama Inggit Garnasih, dan lain sebagainya.  Menurut penjelasan dari pemandu pameran, pameran yang akan digelar beberapa seri itu bertujuan agar pengunjung dapat mempelajari sejarah Bandung lewat rupa-rupa penghuninya. Memang benar, dari deretan foto-foto itu, saya mempelajari Bandung sebagai sebuah kota yang berkembang dinamis

Saat berada di pameran, saya menangkap banyak cerita yang tersimpan di balik foto-foto tersebut. Foto keluarga di depan Rumah Makan Madrawi, misalnya. Foto itu dambil ketika tempat yang menyajikan kuliner khas Madura itu berdiri. Rumah Makan Madrawi adalah rumah makan yang menjual makanan khas Madura pertama di kota kembang. Barangkali, terang Teh Lely Mei pemandu yang cantik di pameran tersebut, berkat rumah makan inilah kemudian berdiri pula rumah makan khas Madura lainnya di kota kembang. Sayangnya, saat ini, rumah makan yang terletak di Jl. Dalem kaum tersebut telah beralih fungsi menjadi kantor satpol PP. Selain itu, tampak pula foto keluarga Sony Soeng pendiri Toko Yu di Jalan Hasanuddin yang berdiri tahun 1947. Awalnya, toko tersebut menyajikan kudapan orang Belanda seperti roti dan keju. Seiring perkembangan zaman, toko ini pun menyajikan menu yang beragam. Saat ini, toko tersebut telah memiliki kafe. Dari penjelasan mengenai dua foto tadi saya menangkap daya tarik Bandung yang telah tumbuh sedari dulu. Bandung ibarat magnet yang menarik beragam manusia dari segala penjuru Indonesia, segala etnis, dan suku bangsa untuk datang kemudian hidup dan menghidupkan Parijs van Java. 

Foto keluarga pendiri rumah makan khas Madura. Foto ini diambil dari situs indonesiakreatif.net  yang juga meliput acara ini sebab saya tak sempat mengabadikan foto lewat ponsel sendiri. Ponsel saya wafat ketika itu :(
Di ujung area pameran, terpampang foto keluarga besar Dewi Sartika. Beliau adalah pahlawan nasional yang memperjuangkan pendidikan bagi perempuan. Dalam foto, pendiri sekolah bernama Sakola Istri ini duduk didampingi para pengajar sekolah tersebut. Tak jauh dari foto Dewi Sartika terdapat foto legendaris yang mengabadikan gambar Bung Karno bersama sang isteri Inggit Garnasih. Ya, foto itu diambil saat Soekarno menetap di Bandung sambil menempuh studi di Technische Hoogeschool te Bandoeng atau saat ini dikenal dengan Institut Teknologi Bandung (ITB). Dua foto ini menyiratkan Bandung sebagai kota perjuangan. Bandung saat itu turut andil menjadi kota tempat para negarawan meraih kemerdekaan. Bagi saya, perjuangan Dewi Sartika dalam pendidikan di Bandung dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk maju melalui pendidikan. Di samping itu, perjuangan Soekarno yang didampingi Inggit Garnasih dari Bandung dapat menginspirasi masyarakat untuk menebar semangat kebangsaan.

Foto Dewi Sartika bersama para pengajar Sakola Istri. Foto dari indonesiakreatif.net (duh, Gusti, beri daku hape baru #eh) 

Hal unik yang iseng-iseng saya amati dari sejumlah foto keluarga  di ruang bawah tanah galeri itu adalah "komposisi" keluarga. Sebutlah demikian. Hampir semua foto keluarga yang dipampang di sana menampilkan sosok ayah, ibu, dan tujuh orang anak. Ya, tujuh orang anak berjajar seperti anak tangga dari anak sulung yang remaja hingga bungsu yang masih balita. Saya menerka-nerka waktu yang keluarga tersebut tunggu untuk memenuhi komposisi keluarga-dengan-tujuh-orang-anak sebelum berfoto di sebuah studio. Lebih dari itu, saya teringat ungkapan "banyak anak, banyak rezeki". Rupanya, ungkapan tersebut begitu lekat dalam foto masa 1920-an hingga 1970-an.

Hari ini, Bandung terus berbenah menjadi kota yang ramah. Lewat belajar sejarah Bandung, semoga segenap penghuni kota tersebut dapat membangun kota kembang menjadi lebih baik. Konon, pameran foto selanjutnya akan mengambil tema pergerakan, lingkungna hidup, dan seni budaya. Saya berharap, lewat pameran foto selanjutnya, pengunjung dapat lebih memahami dan mencintai kotanya serta menginspirasi mereka untuk terus berkarya.

Fotonya buram, ya? Hehe. Tapi, ini adalah foto yang mengabadikan (dan membuktikan) perjalanan saya ke pameran sebelum ponsel saya mati *yeah

Read More

30 Juni 2014

Suatu Ketika di Museum Sri Baduga

Minggu menjelang  Ramadhan biasanya dihabiskan dengan kegiatan makan bersama. "Munggahan" menurut istilah orang Sunda. Hal tersebut juga yang melandasi saya dan Dyah melakukan aktivitas serupa menjelang Ramadhan. Berbeda dengan munggahan biasanya, kami berencana berpetualang dahulu baru makan bekal masing-masing. Hari ini (25/6), kami memutuskan berpetualang ke daerah Tegallega. Ada dua tempat menarik di sana. Museum Sri Baduga dan Lapangan Tegallega. Setelah janjian pukul satu siang di depan museum, kami memulai penelusuran ke Museum Sri Baduga.

Museum Sri Baduga, tampak depan

Berlokasi di jalan BKR no. 185 Bandung, museum ini menyuguhkan sejarah kebudayaan Jawa Barat. Perjalanan kebudayaan Jawa Barat dari masa prasejarah hingga kontemporer ditampilkan lewat koleksi-koleksinya. Hal itu tampak dari tata penempatan benda-benda koleksi dari lantai satu sampai lantai tiga. Di lantai satu, kami disuguhi sejarah kebudayaan Jawa Barat pada masa prasejarah. Tampak gambaran mengenai keadaan alam Jawa Barat saat masih berupa danau disajikan dalam bentuk peta. Terdapat pula maket cekungan Bandung yang cukup interaktif di sana. Kami bisa mengetahui ragam gunung aktif yang mengelilingi Jawa Barat khususnya Bandung, aliran sungai Citarum dan Cikapundung serta letak sumber mata air Situ Aksan.  Tetiba saya ingat sebuah lirik "Bandung diriung ku gunung…" (Bandung dikelilingi gunung…). Di lantai ini pula disuguhkan aneka bebatuan yang ditemukan di sekitar Jawa Barat dan aneka fosil hewan serta tanaman purba. Memasuki ruangan tengah lantai satu, kami disambut dengan replika gua pawon. Di dalamnya terdapat replika belulang purba yang dikubur tepat di tengahnya. Di area ini, kami melihat perkembangan kepercayaan masyarakat Sunda zaman dahulu. Hal ini tampak dari aneka batu yang dipamerkan. Terdapat beberapa batu yang dibentuk patung dan digunakan sebagai sarana pemujaan roh leluhur. Patung-patung tersebut menunjukkan sistem kepercayaan animisme-dinamisme masyarakat pada saat itu. Pada bagian lain, kami melihat perkembangan kepercayaan tersebut telah terpengaruh Hindu-Budha. Hal tersebut tampak dari beberapa patung  dewa dalam kepercayaan Hindu-Budha.

Dyah sedang mengamati cekungan Bandung

Di lantai dua, kami seperti menelusuri linimasa sebuah zaman di kehidupan masyarakat Sunda saat didatangi pengaruh Islam dan  kolonial. Di pojok ruangan dekat pintu masuk terdapat penjelasan mengenai Momolo. Momolo biasanya diletakkan di atas atap tempat yang dianggap suci. Bentuknya berupa ukiran dengan empat segi dan di setiap segi dibuat meruncing. Pada perkembangannya, benda ini digantikan dengan kubah di atas masjid. Di bagian selanjutnya kami melihat sebuah replika bale yang biasa digunakan untuk belajar mengaji. Saat memasuki ruangan ini, saya dikagetkan dengan patung perempuan yang sedang mengaji di bale tersebut. Karena kurang fokus, saya mengira benar-benar ada sosok perempuan duduk di bale. Haha
Di lantai ini pula, kami menemukan beragam tulisan yang ditulis di atas lontar hingga berbentuk kitab. Tulisannya pun berkembang dari huruf Pallawa, Arab-Melayu hingga latin. 
Di tengah ruangan lantai dua, terdapat miniatur rumah tradisional Sunda seperti Julang Ngapak, Limasan, dan Badak Heuay. Saya rasa ada beberapa kesamaan dalam bentuk ruah tradisional tersebut yakni pintu belakang. Di setiap jenis rumah, terdapat pintu yang berada di belakang rumah dan golodog. Saya kira, pintu itu adalah pintu yang berasal dari pawon (dapur). Menurut saya, jenis rumah semacam ini menawarkan suasana yang hangat bagi penghuninya. Saya jadi kangen rumah saya dahulu. Rumah panggung dengan golodog dan pintu belakang dari pawon. :)

Salah satu jenis rumah adat Sunda. Yang ini apa, ya, namanya?

Suasana kekinian tampak di lantai tiga. Kami menyusuri kehidupan masyarakat Sunda pada era kolonial menuju kontemporer. Di lantai tiga dipamerkan beberapa jenis mata uang yang berlaku di Priangan sejak awal abad ke-XIX, masa kolonial, hingga masa kemerdekaan. Terdapat pula penjelasan mengenai kesenian yang berkembang seperi calung, angklung, wayang golek, hingga sinden. Yang menarik di lantai tiga ini adalah jajaran gerobak pedagang (lebih tepatnya tanggungan). Ada tanggungan pedagang rujak beubek, pedagang aromanis, pedagang kerupuk, pedagang bajigur, pedagang putu, dan pedagang . Heran, kenapa tanggungan tukang siomay disimpan di sini? Padahal, pedagang siomay yang membawa dagangannya dengan cara ditanggung di pundak masih bisa ditemui. Apa maksudnya, keberadaan pedagang tersebut akan lekas hilang ditelan zaman? Entahlah, kami masih bertanya-tanya. Dan pertanyaan kami makin menggunung saat menemukan sebuah etalase di ujung ruangan lantai tiga. Di sana terdapat berbagai kaulinan (permainan) tradisional. Gatrik, ngadu muncang, alat-alat papasakan, ketepel, mamanukan, dam-daman, dan kaleci. Coba tanyakan kaulinan tadi pada anak-anak masa kini, berapa banyak yang mereka kenal? Miris ketika saya ingat seorang teman yang mempunyai adik kecil bercerita bahwa di rumahnya sama sekali tidak ada mainan. Semuanya sudah tergantikan oleh tablet, ipad, smartphone. Apa hal ini yang menyebabkan kaulinan tersebut mesti dimuseumkan? Hmm…

Kaulinan zaman dulu. Miris adalah ketika semua ini sudah harus dimuseumkan. hmm...

Setelah keluar museum saya mendapat sebuah pemikiran bahwa...
Bermain ke museum, mana pun, menurut saya akan selalu menawarkan perasaan berjiwa besar. Sebagai seorang individu, seseorang sedang berada di dalam alur waktu. Ia bisa menengok  sejarah masa lalu sambil berharap-harap cemas akan jadi sejarah pula di kemudian hari. Atau, mengutip kata Pijar, individu itu menyadari bahwa ia adalah bagian dari sebuah sejarah yang panjang. 

:)


Read More

Mengenai Saya

Foto saya
Perkenalkan! Saya Nurul Maria Sisilia. Seorang pengajar, penulis, dan pekerja sosial. Saya senang menulis hal menarik yang terjadi di kehidupan sehari-hari. Mari berbincang!

Terjemahkan (Translate)

Rekan

Diberdayakan oleh Blogger.