Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan

05 Januari 2014

"33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh"*

Berikut adalah nama-nama sastrawan yang berpengaruh dalam kesusastraan Indonesia sejak tahun 1900. Nama-nama ini disebut dalam sebuah buku terbitan KPG dengan judul yang sama*.
1. Kwee Tek Hoay
2. Marah Rusli
3. Muhammad Yamin
4. HAMKA
5. Armijn Pane
6. Sutan Takdir Alisjahbana
7. Achdiat Karta Mihardja
8. Amir Hamzah
9. Trisno Sumardjo
10. H.B. Jassin
11. Idrus
12. Mochtar Lubis
13. Chairil Anwar
14. Pramoedya Ananta Toer
15. Iwan Simatupang
16. Ajip Rosidi
17. Taufik Ismail
18. Rendra
19. NH. Dini
20. Sapardi Djoko Damono
21. Arief Budiman
22. Arifin C. Noor
23. Sutardji Calzoum Bachri
24. Goenawan Mohammad
25. Putu wijaya
26. Remy Sylado
27. Abdul Hadi W.M.
28. Emha Ainun Nadjib
29. Afrizal Malna
30. Wowok Hesti Prabowo
31. Ayu Utami
32. Helvi Tiana Rosa
33. Denny JA
Sekiranya teman-teman sudah membaca buku tersebut, kita bisa berbagi dan berdiskusi! :)
Read More

18 September 2012

Lokalitas dalam Sastra Indonesia


Tulisan ini merupakan cuplikan dari artikel yang berjudul sama.



: Maman S. Mahayana

Lokalitas (locality) sebagai konsep umum berkaitan dengan tempat atau wilayah tertentu yang terbatas atau dibatasi oleh wilayah lain. Lokalitas mengasumsikan adanya sejumlah garis pembatas yang bersifat permanen, tegas, dan mutlak yang mengelilingi satu wilayah atau ruang tertentu. Dalam konsep politik, terutama yang berkaitan dengan kekuasaan dan penguasaan wilayah, lokalitas dengan sejumlah garis pembatas yang dimilikinya itu, diandaikan pula seperti berhadapan dengan kepungan garis pembatas lain sebagai simbol atau representasi kekuasaan lain dalam posisi yang bisa bersifat arbitrer atau bisa juga dalam posisi yang saling mengancam.

Lokalitas dalam sastra bukanlah sekadar ruang (space), locus, tempat (place) atau wilayah geografi yang dibatasi atau berbatasan dengan wilayah lain yang secara fisikal dapat diukur, tetapi mesti dimaknai dalam ranah budaya. Secara struktural, lokalitas dalam sastra kerap dimaknai sebagai wilayah, tempat, kondisi, atau situasi dalam teks yang menggambarkan para pelaku memainkan perannya. Lokalitas seperti mengalami pereduksian menjadi sekadar latar (setting) dalam teks yang mewartakan tempat, situasi, suasana, atau gambaran tentang masyarakat budaya.
Lokalitas dalam sastra (teks) mestinya diperlakukan bukan sekadar latar an sich, melainkan sebuah wilayah kultural yang membawa pembacanya pada medan tafsir tentang situasi sosio-kultural yang mendekam di belakang teks. Di sana lokalitas bukan abstraksi tentang ruang atau wilayah dalam teks yang beku, melainkan ruang kultural yang menyimpan sebuah potret sosial, bahkan juga ideologi yang direpresentasikan melalui interaksi tokoh-tokohnya dan dinamika kultural yang mengungkapkan dan menyimpan nilai-nilai tentang manusia dalam kehidupan berkebudayaan. Lokalitas –menyitir pandangan Melani Budianta—adalah “proses pembumian yang tidak pernah berhenti bergeser, berpindah, dan berubah.” Jika demikian, lokalitas dalam sastra, dapat dikatakan sebagai proses pemaknaan atas teks yang tersurat atau tersirat. Di sinilah imajinasi pembaca sangat menentukan proses pemaknaannya. Maka, tidak terhindarkan, makna teks, jadinya akan terus menggelinding, membengkak, dan memancarkan banyak hal yang dapat dicantelkan dengan realitas masa lalu, masa kini, atau masa depan yang mungkin bakal terjadi.

Dalam banyak pandangan pengamat sastra Indonesia, kesusastraan Indonesia yang sejatinya merupakan bagian tidak terpisahkan dari kebudayaan yang melahirkannya, seolah-olah wujud begitu saja, tanpa proses, tanpa pergulatan budaya pengarangnya. Sepertinya, sastra Indonesia dibawa para malaikat dari langit dan kemudian jatuh seketika di ruang pembaca. Seolah-olah lagi, sastra Indonesia datang dari tiada menjadi ada, dari situasi kosong, tanpa apa pun, tiba-tiba lahir dan mengada. Akibatnya, sastra Indonesia dimaknai tanpa ada usaha untuk memahami berbagai masalah sosio-kultural yang melatarbelakanginya dan penyelusupan ideologi yang melatardepaninya. Oleh karena itu, sastra Indonesia seperti telah tercerabut dari akar budaya dan problem ideologi, ketika ia diposisikan sebagai teks an sich.
Pencerabutan sastra Indonesia dari akar budayanya itu terjadi juga ketika tiba-tiba ada pemisahan yang tegas antara sastra Indonesia lama dan sastra Indonesia modern. Demikian juga hubungan sastra daerah dan sastra Indonesia seolah-olah sudah menjadi produk budaya yang berada dalam dua kutub yang berjauhan. Keduanya seperti berjalan sendiri-sendiri dan seolah-olah tidak saling mengenal, tidak saling mempengaruhi.

Secara temporal, lokalitas dalam sastra sesungguhnya dihadirkan oleh momen dan peristiwa tertentu. Muhammad Yamin, misalnya, dalam dua puisi awalnya, menyebut Sumatera—Andalas mula-mula sebagai tanah Melayu yang bahasanya digunakan sebagai lingua franca penduduk Nusantara. Sumatera ditempatkan sebagai titik berangkat tradisi yang melahirkannya. “Di mana Sumatera, di situ bangsa/Di mana perca, di sana bahasa// (“Bahasa, Bangsa”). Dalam puisi “Tanah Air”, Sumatera lebih tegas lagi dikatakan sebagai Tanah Air: “Itulah tanah, tanah airku/Sumatera namanya tumpah darahku//
Sumatera sebagai lokalitas budaya, bagi Yamin tidak berhenti pada tanah Melayu. Juga kemudian disadari bukan sekadar tempat kelahiran: tumpah darahku. Dalam konteks itu, Tanah Air yang pada awalnya dimaknai sebagai tempat kelahiran yang tidak lain adalah Sumatera, memperoleh perluasan makna. Tumpah darahku dan Tanah Airku sebagai tempat kelahiran, tidak lagi jatuh pada Sumatera, melainkan Indonesia. Puisinya yang berjudul “Indonesia, Tumpah darahku” menunjukkan gagasan Yamin tentang lokalitas budaya yang melingkupi: wilayah, bangsa, dan bahasa.

Demikianlah, pemaknaan lokalitas dalam sastra tidak dapat berhenti hanya pada teks, hanya pada makna tekstual. Di belakangnya bertaburan kekayaan makna lain yang tidak hanya menuntut pembaca mengisi ruang kosong yang ditinggalkan teks, melainkan juga menuntut pembaca memahami kode bahasa, kode budaya, dan kode sastra.
Lokalitas dalam sejumlah besar novel terbitan Balai Pustaka sebelum merdeka memperlihatkan terjadinya perang ideologi. Di satu pihak, Balai Pustaka sebagai lembaga kolonial mengemban tugas suci kolonialisme dengan menerapkan sejumlah syarat dan aturan main, dan di pihak lain, berdiri para pengarang Indonesia yang bagaimanapun juga menyadari tugas suci nasionalisme. Sebagai contoh kasus, Sitti Nurbaya dan Salah Asuhan, misalnya, seperti merepresentasikan perang ideologi itu.
Pertama, lokalitas Minangkabau dengan Datuk Meringgih dan tradisionalismenya adalah musuh ideologi yang harus diperangi. Tetapi di sana, ada juga pihak lain yang harus dibela: ninik-mamak, kultur leluhur, tanah kelahiran, dan idealisme anak muda Minang. Maka, Datuk Meringgih, dengan sejumlah sisi negatifnya, juga mempunyai alat legitimasi: membela ninik-mamak, kultur leluhur, dan tanah kelahiran. Datuk Meringgih tampil dalam dua kutub yang saling berlawanan: tradisionalisme—patriotisme. Ia menjadi sosok tokoh penindas, curang-licik, serakah, dan brengsek yang menunjukkan segala sisi negatif bagi kemanusiaan. Sementara itu, sistem pajak (belasting) yang dapat dimaknai sebagai penghancuran otoritas ninik-mamak, pencemaran kultur leluhur, dan pencaplokan tanah kelahiran, adalah alat legitimasi tindakan patriotisme sang Datuk Meringgih. Maka, tersirat ia tampil sebagai pahlawan.
Kedua, lokalitas Jakarta (Batavia) dengan Samsulbahri dan modernismenya, juga musuh ideologis yang harus diperangi. Jakarta dengan Stovia-nya, memang menawarkan sisi positif modernisme melalui dunia pendidikan. Tetapi di sisi yang lain, Jakarta sebagai pusat kekuasaan kolonial, memproduksi politik kolonial yang diskriminatif, menciptakan pengkhianatan pada tanah leluhur.
Bahwa Datuk Meringgih dan Samsulbahri pada akhirnya tewas, itulah bentuk kompromi yang menggiring pembaca melakukan introspeksi. Pembelaan dengan memberi kemenangan pada tradisionalisme Datuk Meringgih, sama buruknya dengan pembelaan pada Samsulbahri yang tercerabut dari akar budaya leluhur, jadi pengkhianat, lalu datang ke tanah kelahiran justru untuk membunuhi sanak-saudaranya sendiri. Bahwa kematian Samsuhbahri diusung sebagai pahlawan, itu juga bentuk kompromi dengan syarat dan aturan main yang ditetapkan Balai Pustaka.

Lokalitas dalam Salah Asuhan pada dasarnya juga merepresentasikan perang ideologi yang semacam itu. Minangkabau—Jakarta, Rafiah—Hanafi—Corrie adalah simbolisasi dua kutub ideologi. Minangkabau—Rafiah adalah dunia adat yang dalam hal-hal tertentu bermakna negatif. Ia hidup dengan segala kesederhaan, keterbelakangan, dan kebodohannya, meski pada akhirnya tampil sebagai korban dan sekaligus juga pemenang. Batavia—Corrie adalah modernisme yang dalam beberapa hal, justru berdampak negatif ketika gaya hidup modern (: Barat) menjadi ukuran. Maka, Batavia tempat yang subur bagi pemuasan gaya hidup modern Corrie, tetapi tidak untuk Hanafi. Keadaannya lebih buruk lagi bagi Hanafi. Ia membuang kultur leluhur dan hidup di kota yang dijalaninya setengah hati. Hanafi tertolak di tanah kelahirannya dan mati sebagai pecundang.
Sejak Balai Pustaka berdiri dan memainkan peranannya sebagai agen ideologi kolonial, lokalitas Minangkabau yang pada awalnya diposisikan dalam tarik-menarik  tradisionalisme dan modernisme, seperti sengaja diperluas menjadi stereotipe tentang Timur yang kemudian dibenturkan dengan stereotipe Barat. Lokalitas dalam sastra yang terbit pada zaman itu lalu ditandai dengan ciri-ciri umum yang memperlihatkan potret etnik yang eksotik, tradisional, komunal, dan karikaturis. Ciri umum itu tentu saja berlainan dengan stereotipe Barat yang lumrah, modern, individual, kompleks, dan berperadaban dan berkebudayaan tinggi dengan berbagai teknologinya.

Lokalitas dalam sastra pada akhirnya tidak dapat dipatok sebatas makna tekstual. Teks sekadar bertugas memberi isyarat pada pembaca akan adanya simpul-simpul makna yang mendekam dan bersembunyi di luar teks. Ketika makna itu diterjemahkan pembaca, seketika itu pula simpul-simpul tadi memberi sinyal lain yang memungkinkan saklar imajinasi pembaca bergentayangan memasuki medan tafsir dan mengungkap kekayaan dan kompleksitas sosio-budaya yang melingkari, membentuk, mempengaruhi, dan menciptakan visi budaya dalam diri sastrawan bersangkutan. Dengan demikian, lokalitas dalam sastra, lebih merupakan ruang imajinatif pembaca yang titik berangkatnya bersumber pada teks, pada makna tekstual.
Perhatikan teks berikut ini:
Aston kelihatan kaget. Ia melangkah menerobos kesibukan … Orang-orang mengikutinya…. Sebuah komidi puter dengan ributnya memanggil anak-anak kampung dengan lagu-lagu dangdut. Seorang pedagang kain dengan aksen orang awak sibuk berteriak-teriak mengatasi suara mesin parutan kelapa, menarik perhatian ibu-ibu yang mondar-mandir mencari bumbu dapur. Sebuah truk kecil yang biasa mengangkut es, ribut mengklakson untuk mencari parkiran menggeser tukang-tukang becak yang tak mau minggir kalau tidak dicolek secara pribadi oleh kenek. Dari arah yang lain, masuk mobil penjual jamu dengan badut kate. Jalan yang menampung dua arus kendaraan … itu agak kalang kabut, sebagaimana biasanya. Sepasang suami—istri muda dengan tenang mendorong kereta bayi, anaknya yang baru berusia beberapa bulan menggeliat-geliat. Di pinggang bapak muda itu ada walkman. Di atas atap dua buah rumah, terlihat beberapa anak mengayun-ayunkan burung merpati, memangil merpati yang baru saja diterbangkan. Dan sebuah kapal terbang melintas dekat sekali, tapi tak ada yang mengacuhkan. (Putu Wijaya, Pol, Jakarta: Grafiti, 1987,  hlm. 10—11).
Bagaimana kita menyimpulkan persoalan lokalitas dalam teks di atas? Bukankah ketika kita mengikuti deretan kalimat dalam teks itu, tanpa sadar, saklar imajinasi kita menyala seketika dan kemudian bergentayangan mencari cantelannya pada makna di luar teks? Tidak dapat lain, pintu masuknya memang teks. Dan yang menghidupkan teks itu memperoleh lokalitasnya, tidak lain, karena pembaca juga mempunyai persediaan referensi tentang lokalitas berdasarkan pemahaman dan pengalamannya sendiri. Bukankah teks itu hidup lataran imajinasi pembaca menghidupinya.
Perhatikan juga puisi Sutardji Calzoum Bachri berikut ini:

LUKA
ha ha

Bagaimana kita menemukan lokalitas dalam puisi itu ketika sinyal dan simpul-simpul maknanya tidak kita temukan atau seola-olah tidak ada di sana. Kembali, persoalan lokalitas dalam sastra tidak berhenti pada teks. Dalam hal ini, salah satu tugas utama pembaca adalah menelusuri, melacak dan mencari makna di luar teks. Pencarian dan pelacakan itu memang pada akhirnya bermuara pada latar belakang sosio-kultural yang melingkari diri pengarang. Cantelan teks dengan konteks menjadi niscaya ketika kita hendak menguak kekayaan maknanya. Lokalitas menjadi ruang sosio-kultural yang harus diterjemahkan berdasarkan pemahaman tiga kode: kode bahasa, kode sastra, kode budaya.
Salah satu problem besar pemahaman sastra Indonesia –sebagaimana yang tampak dalam pengajaran sastra Indonesia di sekolah dan berdasarkan pengamatan sejumlah besar skripsi atau tesis di berbagai institusi sastra—adalah kemalasan mencari dan menemukan cantelan teks dengan konteks sosio-budaya. Padahal, sastra Indonesia menyajikan begitu banyak problem itu. Belum lagi jika dikaitkan dengan perubahan politik sekarang yang memberi ruang pemerintah daerah mengurus dan mengembangkan dirinya (otonomi daerah). Oleh karena itu, keyakinan bahwa teks sudah menyediakan segalanya dan pemaknaannya cukup sampai pada makna tekstual, mesti dimaknai sebagai salah satu halte yang memungkinkan pembaca melanjutkan perjalanannya sampai entah ke mana.

Demikianlah, lokalitas dalam sastra tidak lain adalah isyarat dan simpul makna teks yang mempunyai kualitas untuk menghidupkan saklar imajinasi pembaca memasuki medan tafsir yang tidak pernah selesai. Tanpa kualitas itu, lokalitas dalam sastra akan terjerembab pada ketersesatan.

sumber utama dari sini
Sumber tautan
Read More

05 September 2012

Lokalitas & Tradisionalitas*



:Benny Arnas

SUNGGUH menyedihkan, ketika membincangkan lokalitas dalam sastra, maka yang serta-merta terbersit dalam pikiran adalah karya yang bermuatan unsur kedaerahan; nama tempat, dialek, tradisi, mitos, hikayat, sejarah, dan kearifan lokal. Lho?Bukankah hal-hal tersebut menjadi bahan utama sebuah karya yang mengusung lokalitas? Pun kalau salah, memangnya lokalitas dalam sastra itu apa?


Sejatinya, muatan kedaerahan sangatlah tidak salah untuk dikaitkan atau bahkan dimasukkan ke dalam kotak ‘lokalitas’. Hanya saja, semua itu tak dapat langsung dijadikan sebagai penanda tunggal untuk definisi lokalitas. Muatan kedaerahan cenderung mengerucut pada sebuah lingkup yang bernama tradisionalitas. Tradisionalitas inilah yang kerap salah dipersepsikan. Tradisionalitas kerap dianggap sama dengan lokalitas. Padahal tradisionalitas hanya bagian atau varian dari lokalitas.


Melanie Budianta memberi batasan ‘lokalitas’ sebagai sesuatu yang partikular (yang tertentu). Agus R. Sarjono melihat ‘lokalitas’ sebagai penajaman perspektif. Lebih jauh ia menyatakan bahwa menjadi lokal, tak lain dan tak bukan, menjadi pribumi untuk tema-tema yang diangkat. Raudal Tanjung Banua menyatakan bahwa ‘lokalitas’ adalah ‘iman’ estetik dan tematik yang dikukuhi. Raudal lebih menyoroti bagaimana kemampuan para pengarang mengeksplorasi tema dengan baik, dalam, kuat, dan memberikan ‘taste’ tersendiri terhadap karyanya.


Ya, menjadi lokal adalah menyelami tema-tema sastra dengan sepenuh hati. Mencintai apa-apa yang ia karang dengan mesra. Hingga akhirnya, selain meng-upgrade kemampuan pembaca dalam memaknai cerita, juga melahirkan keintiman psikologis dengan pembaca. Maka, lokalitas dalam sastra adalah bagai menyaksikan taman bunga yang harum. Harum yang partikular. Ada aroma mawar, melati, anyelir, atau wangi bunga yang lain. Maka, adalah sangat menarik, berkenaan dengan buku “Orang-orang Bloomington”-nya, Budi Darma mencuatkan istilah “lokalitas Orang-orang Bloomington”. Maka, dengan semua keberhasilannya, Ahmad Tohari dapatlah dikatakan menyerusi lokalitas-desa; pada beberapa karyanya Habiburahman cenderung pada lokalitas-Mesir atau lokalitas-pesantren, Helvy Tiana Rosa dengan lokalitas-profetik, Rag Di F. Daye dengan lokalitas-Minangkabau, Hamsad Rangkuti dengan loklaitas-urban, dalam kumpulan cerpen Kali Mati, Joni Ariadinata tampak setia pada lokalitas-gelandangan, dll.


DALAM perkembangannya, ‘lokalitas dengan variannya’ tak dapat secara otomatis disematkan pada pengarang. Ini bukan perkara inkonsistensi, namun lebih pada keinginan untuk melakukan ekplorasi. Baik itu ekplorasi tema, maupun gaya garapan. Namun begitu, pada pengarang-pengarang yang sudah kuat dan mapan kemampuan kesusastraannya, tema apa pun yang mereka garap, dapat kita kenali jejaknya. Hal inilah, menurut saya, yang dikatakan Raudal Tanjung Banua sebagai ‘iman estetik’. Pengarang yang sudah ber-‘iman’ niscaya akan melahirkan karya-karya yang memiliki kekuatan estetik, atau bahasa popularnya ciri khas. Pengarang yang sudah memiliki ciri khas dalam teknik garapan akan jauh lebih muda menghasilkan karya-karya yang memiliki kecenderungan lokalitas. Karya-karyanya mampu menghadirkan kedekatan psikologis dengan pembaca. Hasan al Banna, Joni Ariadinata, dan Habiburrahman el Shirazy—sekadar menyebut beberapa contoh—adalah pengarang-pengarang yang telah berada dalam taraf itu.


Ada beberapa persepsi tentang lokalitas yang rasanya perlu untuk ditinjau kembali.

Pertama, selama ini lokalitas ‘kadung’ melekat pada simbol-simbol kedaerahan. Ketika ada cerita-cerita yang mampu menggunakan dan atau menggali nama tempat, dialek, tradisi, mitos, hikayat, sejarah, dan kearifan lokal, maka ia akan terkodifikasi ke dalam ranah lokalitas. Padahal, belum tentu karya-karya yang memakai simbol/unsur kedaerahan tadi mampu mengeksplorasi unsur-unsur cerita dengan optimal. Inilah yang menyebabkan ‘lokalitas’ yang dipersepsikan pada karya tersebut tak lebih sebagai tempelan semata. Artinya, menggarap tema-tema daerah, tidaklah otomatis membuat karya tersebut disebuat sebagai karya—yang mengandung unsur—lokalitas.

Kedua, lokalitas kerap disamakan dengan tradisionalitas. Ketika karya sastra mengangkat budaya lokal, perihal kearifan lokal, hikayat, mitos, dan sejenisnya, maka dengan ‘semena-mena’ karya tersebut dilabeli lokalitas. Karya-karya yang mampu mengeksplorasi aspek tradisi(onal?) dengan baik tentulah dapat dikatakan sebagai karya lokalitas, lokalitas-daerah. Namun, yang perlu dicermati adalah, karya-karya yang mengangkat tradisi(onal?) belum tentu mampu tampil dengan baik, belum tentu menampilkan ke-daerah-annya dengan baik, belum tentu mampu menampilkan lokalitas, belum tentu adalah karya lokalitas! Artinya, tradisionalitas adalah lokalitas, namun lokalitas tidak melulu tentang tradisionalitas. Lokalitas tidak sama dengan tradisionalitas karena tradisionalitas hanya salah satu bidang eksplorasinya saja.

Ketiga, tradisionalitas (yang kerapkali disebut lokalitas) dalam sastra kerapkali dikatakan sebagai karya yang mengangkat kearifan lokal. Padahal, faktanya, karya-karya tradisionalitas justru menampilkan betapa TIDAK ARIF-nya tradisionalitas/lokalitas yang ada di daerah mereka. Beberapa contoh adalah; Novia Syahidah memaparkan kejawen sebagai tradisi yang bertentangan dengan ajaran agama (Islam) dalam Putri Kejawen, Raudal Tanjung Banua memaparkan bahwa perempuan yang meninggal dunia karena jatuh dari pohon adalah sebuah ketidakarifan dalam Perempuan yang Jatuh dari Pohon, atau Khrisna Pabicahara yang membeberkan kepada publik bahwa orang tua-orang tua di Makasar yang menerima pinangan terhadap anak gadisnya atas dasar besar/kecilnya jumlah mas kawin yang ditawarkan pihak pelamar (lelaki) adalah sebuah penghinaaan atas perempuan sendiri dalam Silariang….


HAL lain yang perlu ditelisik adalah, tradisionalitas (atau lokalitas) seolah selalu tak habis-habisnya untuk dijadikan bahan cerita dalam kesusastraan Tanah Air. Hal ini tak dapat dilepaskan oleh faktor geografi dan budaya Indonesia. Dengan ribuan pulau, ratusan suku bangsa, bahasa, dan perbedaan budaya, sangatlah wajar bila tradisionalitas selalu up date, selalu menarik untuk diketengahkan dalam karangan.

Dalam sebuah perbincangan tentang lokalitas oleh Komunitas Meja Budaya di Pusat Pendokumentasian Sastra (PDS) HB Jassin, November 2010, Zen Hae menyatakan bahwa unsur-unsur kedaerahan yang menyusup (bahkan mewarnai) sebagian karya-karya lokal, membuat bingung; menimbulkan pertanyaan: ini sastra Indonesia atau sastra daerah? Lalu, untuk apa lokalitas (tradisionalitas) ditulis/dijadikan unsur cerita apabila citarasa lokalnya akan serta-merta hilang bila diterjemahkan ke dalam bahasa asing (Inggris).

Sekilas, pernyataan Zen Hae terdengar sangat masuk akal. Namun begitu, harus dikembalikan lagi pada geo-kultur Indonesia sendiri. Dengan ke-bhineka-annya, maka sastra-daerah adalah refleksi adalah sastra Indonesia itu sendiri. Beragamnya nuansa kedaerahan yang muncul dalam karya sastra menunjukkan betapa bergeliatnya sastra Tanah Air. Betapa penggiat sastra negeri ini memiliki milintasi untuk menampilkan otentitasnya, menampilkan identitasnya yang murni, paling tidak dari tema-tema genuine (asli daerah) yang mungkin saja hanya terdapat di daerah mereka. Misalnya, uang jumputan di Minangkabau, warahan di Lampung, senjang di Sumatera Selatan, atau pemakaian koteka bagi lelaki di Papua.


Bagaimana dengan alih-bahasa yang memungkinkan hilangnya rasa lokal pada karya lokalitas-tradisionalitas. Tentang ini, tak sepenuhnya dapat diiyakan. Beberapa karya Garcia-Marquez yang dialihbahasakan ke bahasa Indonesia, masih terasa America Latinnya, atau masih terasa realisme-magisnya; atau karya-karya Akutagawa Ryunosuke ketika dialihabahasakan ke bahasa Indonesia, masih terasa Jepang-nya. Artinya, sangat tergantung pada—kemampuan dan sensitivitas—penerjemahnya. Sejauh mana ia mampu mencari padanan kata yang mewakili rasa cerita yang diterjemahkan. Namun begitu, hal yang paling penting untuk disadari dengan saksama adalah, ke-Indonesia-an kita telah melahirkan keberagaman yang kaya, termasuk tardisionalitas di dalamnya. Belum lagi, kecenderungan pembaca yang menyukai hal-hal yang belum mereka ketahui (termasuk apa-apa yang terjadi di daerah lain), telah membuat tema tradisionalitas sejatinya masih begitu menarik untuk diangkat dan digali. Hal lain yang perlu ditambahkan adalah bila sebelum mengangkat tradisionalitas dalam karangan kita harus memikirkan “apakah rasa lokalnya masih akan ada atau hilang”, alangkah repotnya mengarang tradisionalitas itu!


KHATIMAH, mari kita menghasilkan karya yang berhasil menampilkan lokalitas. Jangan pernah ragu untuk mengangkat tradisionalitas sebagai bahan baku lokalitas cerita. Sejatinya masih begitu banyak unsur tradisionalitas yang belum digali dan ditunggu-tunggu pembaca. Untuk memberikan beragam warna pada sastra, agar mampu mencerahkan, cerah yang berwarna, warna yang indah…. ***



*) sebuah makalah menarik yang bersumber dari sini

Read More

04 Juli 2012

Warisan Pramoedya: Keberpihakan Perjuangan Perempuan dalam Karyanya*




Jakarta, Kompas - Kesenimanan bukan sekadar tugas menyatakan keyakinan dan pikiran pribadi penulis dalam beragam bentuk karyanya.

Di dalamnya juga ada tugas sosial yang berupaya untuk membela manusia sesuai dengan realitas sosial yang ada. Hal ini yang dilakukan Pramoedya Ananta Toer dalam karya-karyanya yang diminati banyak kalangan.

Pramoedya dengan konsisten menggambarkan perjuangan untuk melawan kekuasaan kolonialisme dan feodalisme yang menjadi penyebab ketertindasan ekonomi, sosial, politik, dan kemanusiaan.

Realitas sosial bertema kekuasaan feodalisme dan kolonialisme yang dalam bentuk lain juga masih relevan sampai saat ini bukan saja dinyatakan secara gamblang lewat karakter tokoh- tokohnya, tetapi juga mencoba mencari solusi.

Penelaahan terhadap karya- karya Pram diungkap dalam diskusi "Perempuan dalam Roman Karya Pramoedya Ananta Toer" di Taman Ismail Marzuki di Jakarta, Jumat (16/2). Kegiatan ini merupakan rangkaian acara yang dilakukan The Nyai Ontosoroh Project yang akan mempergelarkan lakon Nyai Ontosoroh, tokoh roman Bumi Manusia, Pramoedya, tanggal 21-23 April di TIM Jakarta. Pergelaran nanti merupakan hasil kolaborasi sejumlah organisasi perempuan di Tanah Air dan pernah pentas di beberapa daerah sejak tahun lalu.

Eka Kurniawan, penulis yang menjadi salah satu pembicara, mengatakan, dalam karya-karyanya, Pram memperlihatkan hubungan karakter antartokoh dengan menempatkan pada realitas dengan dua tema besar, yakni feodalisme dan kolonialisme.

Jika ada tokoh perempuan dalam karyanya, Pram akan menempatkan tokoh tersebut dalam realitas feodalisme atau kolonialisme.

"Kalau dia membicarakan keberpihakan tentang perempuan di zaman feodalisme, ya beda dengan kolonialisme," katanya.

Sedangkan Rieke Dyah Pitaloka, artis/penulis puisi, mengatakan, karya sastra adalah mimesi, meniru realitas masyarakat. Pram juga memperlihatkan problematika dalam realitas sosial feodalisme dan kolonialisme tanpa menggurui dan mencari solusi. "Tema itu bisa dikatakan masih relevan hingga kini dalam bentuk yang lain," kata Rieke.

Mengaitkan keberpihakan Pram dengan perempuan dalam karya-karyanya, kata Rieke, sering terlihat hubungan antara jender dan kekuasaan. Dalam sosok Nyai Ontosoroh terlihat bahwa perempuan dilemahkan oleh konstruksi sosial yang ada.

Sedangkan Dita Indah Sari, perempuan aktivis politik, mengatakan, membaca karya-karya Pram akan terlihat kritik dan kemarahan Pram terhadap kolonialisme dan feodalisme yang menjadi biang keladi ketertindasan ekonomi, politik, kebudayaan, dan kemanusiaan.

Perjuangan melawan ketertindasan melalui tokoh-tokohnya itu memang jarang menang.

"Tetapi, Pram seakan ingin mengatakan bagaimana proses melawan itu yang penting meskipun tidak menang," ujar Dita.

Ia juga melihat gambaran sosok perempuan yang ditampilkan Pramoedya tidak sekadar menjadi penghias supaya banyak karakter dalam ceritanya.

Pramoedya juga menempatkan tokoh-tokoh perempuan yang memiliki pendapat sendiri dan mengapresiasi pikiran-pikiran perempuan. (ELN)

* Sumber: Kompas, Senin, 19 Februari 2007
arsip dari sini
Read More

16 Juni 2012

TIPS KECIL CERPEN KOMPAS (DARI PUTU FAJAR ARCANA)


Tulisan ini disarikan dari Twitter Putu Fajar Arcana (@fajar_arcana), editor Kompas Minggu dan penulis novel Gandamayu. Silakan diresapi! :)






  1. Perhatikan soal bahasa. Secara gramatika benar, mengandung kesegaran, dan diolah (bila perlu) dg unsur2 puitika yg menawan
  2. Sebaiknya bahasa jg mampu mengantarkan imajinasi pembaca kpd sesuatu di luar teks. Menggali narasi2 yg bisa memperkaya teks
  3. Terbuka thd eksplorasi berbagai pendekatan.Realis hanya salah satu dr gaya yg diperhatikan. Crt absurd atau solilokui jg dapat tempat
  4. Unsur2 spt logika, konsistensi, kecermatan, karakterisasi, dan etika penggunaan bahasa serta kejujuran sgt jadi penentu
  5. Silakan melakukan eksplorasi tema. Lebih diperhatikan crt yg menggali tema2 unik dan spesifik dg point of view yg menawan
  6. Sbaiknya kirim 1-2 cerpen dlm sebulan, tp benar2 hasil prtarungan yg dahsyat.Tak perlu over-produktif, kadang jadi miskin eksplorasi
  7. Penulis pemula tak perlu khawatir, semua dpt tempat.Editor mmbaca cerpen yg diinput ke basket kompas minggu secara berurutan sesuai antrean.
  8. Para editor kompas akan sangat terkesan pd pembukaan cerpen yg memikat, yg berhasil memancing untuk terus membacanya
  9. Tarikan yg memikat a.l ditandai dg penggunaan bhs yg segar, penuh inovasi, tidak klise, dan tentu hrs dg ejaan yg baik dan benar
  10. Tarikan pertama sangat penting bg cerpen koran, krn akan menentukan pembaca terus atau beralih ke tulisan lain
  11. Cerpen2 Kompas tak dibatasi dlm tema tertentu. Penulis dibiarkan bebas mrengkuh imajinasi dg penekanan pd originalitas
  12. Bahasa yg segar, penuh imajinasi dan inovasi, akan sangat menentukan. Editor beranggapan itulah penemuan pertama seorng penulis
  13. Cerpen Kompas tdk diarahkan untk membentuk slera trtentu. Bhw kami punya slera pribadi sdh tentu. Itulah yg diminimalisir dg kriteria cerpen kompas.
  14. Karya yg masuk nyatanya mengarah pd tema2 sputar masyarakat urban. Sdh jarang yg menggarap kampung atau desa sbgmn dulu Kuntowijoyo
  15. Yang menarik cerpen yg diterima editor sbgian besar cerpen2 solilokui, tokoh2 yg lbh banyak berkisah ttg jiwa dalmnya sendiri
  16. Solilokui bs dibaca sbg makin minimnya persentuhan sosial antarmanusia, shg potensi2 cerita hanya digali brdasarkan persepsi personal
  17. Itu pulalah sebabnya cerpen2 kontemporer spt "antiplot". Jarang kita temui cerpen2 dg plot kuat spt karya Umar Kayam atau Hamsad R
  18. Nah kira2 itulah tips kecil yg bisa jd patokan seblm menulis dan mngirim cerpen ke Kompas. Sila keopini@kompas.com cc can@kompas.com



Read More

30 Maret 2012

KIAMAT PUN DATANG MENGINGATKAN MANUSIA


oleh: Nurul M. Sisilia

Setelah menempuh perjalanan panjang dengan dua angkutan kota, saya sampai di sebuah gedung kesenian di daerah Kosambi. Gedung kesenian bernama Rumentangsiang itu tak menjadi tempat yang asing bagi saya. Sejak duduk di bangku sekolah menengah saya sudah terbiasa mengunjungi tempat ini untuk memenuhi tugas menonton pertunjukan teater dari mata pelajaran bahasa Indonesia. Perjalanan menuju tempat ini seakan sebuah nostalgia ke masa sekolah menengah dulu.
Pukul 13.00 WIB, penonton telah banyak berjejal di ruang tunggu. Pintu area pertunjukan belum juga dibuka. Terdengar gerutu para penonton mengeluhkan keterlambatan tersebut. Setelah menunggu selama lima belas menit, akhirnya pintu terbuka dan penonton berburu masuk ruang pertunjukan. Tak berapa lama penonton disuguhi atraksi lampu warna-warni di dinding panggung sebagai pembuka, muncullah tokoh-tokoh dengan kostum unik ke atas panggung. Pertunjukan bertajuk kiamat ini dimulai.
Pertunjukan ini berkisah mengenai keadaan Bumi yang telah rapuh dan renta. Keadaan ini menjadi perbincangan serius antara Matahari, Mars, Venus, dan Saturnus. Mereka sepakat untuk memanggil Bulan, sahabat dekat Bumi. Bulan diminta untuk memberitahu pemyebab Bumi nampak menderita. Dari penjelasan Bulan, mereka memperoleh kesimpulan bahwa penyebab penderitaan Bumi adalah “Kutu” di tubuh Bumi bernama manusia. Mendengar  hal itu Matahari menyusun rencana agar manusia lenyap dari Bumi. Ia memerintahkan Konrad, sang komet, untuk menlenyapkan manusia. Konrad harus membuat sebuah tabrakan yang sangat fatal bagi manusia di tubuh Bumi.
Di bumi, pemberitaan mengenai kiamat telah tersebar begitu gencar. Di sebuah belahan bumi, seorang pemimpin bersitegang dengan seorang ilmuwan bernama Profesor Guck. Sang Pemimpin yang mengangkat Profesor Guck sebagai Menteri Negara Pemberdayagunaan Tenaga Panas mencabut kembali gelar yang diberikannya sebab Sang Pemimpin tidak setuju dengan pendapat Profesor Guck bahwa penyebab kiamat bukan rekayasa manusia.
Di belahan bumi lain, dua diplomat bersikukuh tentang kiamat. Satu pihak menganggap kiamat bukanlah hal yang penting dan pihak yang lain tak ingin kestabilan Eropa terganggu karena kiamat.
Pemberitaan mengenai kiamat yang akan datang satu bulan lagi makin gencar. Profesor Guck berjuang keras menemui banyak orang untuk memperingatkan manusia bahwa kiamat kan segera terjadi. Guck punya alatnya, sekarang tinggal kesediaan manusia untuk percaya bahwa kiamat akan segera datang. Namun perjuangan Profesor Guck ini tak tersambut. Orang-orang yang ia temui menolak penemuannya, mereka sibuk dengan berbagai urusan masing-masing. Adapun orang yang bersedia menanggapi Profesor Guck, tidak lantas menerimanya dengan mudah. Profesor guck harus menunggu proses birokrasi yang rumit dan panjang. Penemuan Profesor Guck harus mendapat hak paten terlebih dahulu, hal ini tak bisa diselesaikan dalam jangka waktu kurang dari tiga puluh hari. Jelas sangat mustahil, kiamat akan datang sebentar lagi.
Profesor Guck terus berjuang dan semakin giat berjuang. Namun hasilnya sama saja. Ia pun menyerah pada waktu 15 menit sebelum kiamat datang. Sebelumnya, Profesor Guck pergi ke Amerika untuk menemui orang-orang terpandang di sana dan mengingatkan mereka bahwa mereka harus melakukan sesuatu. Orang-orang Amerika itu tak menghiraukan perkataan Profesor Guck sebab mereka telah membeli sebuah pesawat luar angkasa. Pesawat luar angkasa itu akan digunakan untuk pergi ke planet lain sehingga mereka selamat dari serangan kiamat. Profesor Guck benar-benar patah arang.
Pada akhirnya, kiamat tak jadi datang ke Bumi. Hal itu terjadi bukan karena usaha Profesor Guck untuk meyakinkan orang-orang tentang persitiwa Kiamat telah berhasil, melainkan karena pada saat itu, Konrad jatuh cinta kepada Bumi.
Tokoh Profesor Guck, Sang Pemimpin, dan manusia di bumi dalam cerita tersebut memiliki karakter yang kuat dalam simbolisasi manusia saat ini. Kiamat diartikan sebagai kehancuran, sebuah ketetapan yang pasti akan terjadi. Professor Guck berjuang memberitahu manusia bahwa kiamat akan segera datang. Tokoh Profesor Guck dapat diartikan sebagai simbolisasi peringatan kedatangan kiamat yang kentara. Manusia yang ditemui Profesor Guck menolak kebenaran datangnya kiamat. Hal ini sejalan dengan kenyataan yang ditemukan di ranah kekinian. Manusia sudah tak acuh dengan peringatan macam itu. Mereka lebih mementingkan urusan dunia daripada kiamat atau hal sejenisnya. Meskipun pada akhir cerita Konrad jatuh cinta kepada Bumi dan tidak jadi menghancurkan manusia dari tubuh Bumi, tapi ternyata tak ada manusia yang menyadari hal itu. Sebuah pesan yang cukup menggelitik.
Saya cukup menikmati cerita tersebut alur demi alur. Namun saya agak terganggu dengan pembukaan yang saya rasa cukup lama. Atraksi lampu-lampu yang menyorot ke panggung itu tidak lantas memberi klimaks tersendiri pada penampilan awal. Kemudian pada saat kekacauan terjadi di berbagai belahan bumi, saya menemukan backsound yang digunakan adalah serupa. Suara latar yang digunakan adalah semacam suara manusia-manusia di radio yang ribut dan menyuarakan kegalauan mereka tentang hari kiamat. Suara manusia di radio itu diujarkan dengan bahasa asing. Hal tersebut diulang beberapa kali setiap muncul latar suasana yang tegang dan kacau. Bagi saya, hal tersbut menjadi monoton karena nampak sama.
Secara keseluruhan, saya mengapresiasi pertunjukan tersebut. Pesan yang dapat diambil dan ditafsirkan oleh penonton menjadi nilai tambah atas pertunjukan itu. Pukul 15.30 WIB pertunjukan selesai. Penonton meninggalkan ruang pertunjukan. Saya bergegas ke luar. Langit sore itu cukup cerah, saya lantas berpikir seandainya kiamat datang setelah saya berpikir seperti ini. Tentu saja itu hanya sebuah candaan dalam tulisan saya ini.




Rumentangsiang, 14 Desember 2010.

*Sebenarnya tulisan ini saya buat untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Apresiasi Bahasa dan Seni dari Bu Suci. Namun, saya ‘gatal’ untuk segera membagikannya di blog.  Tujuannya tak lain adalah agar lebih banyak yang bisa mengapresiasi.

Read More

05 Februari 2012

Gaya Bahasa Berdasarkan Langsung Tidaknya Makna

A. Gaya Bahasa Retoris







Gaya bahasa retoris merupakan penyimpangan dan konstruksi biasa untuk mencapai efek tertentu.

1. Aliterasi
Aliterasi adalah semacam gaya bahasa yang berwujud perulangan konsonan 
yang sama, baik di awal, di tengah, maupun di akhir kata, frase atau kalimat.
Universitas Sumatera UtaraBiasanya dipergunakan dalam puisi, kadang-kadang dalam prosa, untuk  hiasan 
atau untuk penekanan.
Misalnya : Takut titik lalu tumpah.
Keras-keras kerak kena air lembut juga.




2. Asonansi
Asonansi adalah semacam gaya bahasa yang berwujud perulangan vocal 
yang sama, baik di awal, di tengah, maupun di akhir kata, frase atau kalimat.
Biasanya dipergunakan dalam puisi, kadang-kadang dalam prosa, untuk 
memperoleh efek penekanan atau sekedar keindahan. 
Misalnya:  aku adalah wanitamu, aku adalah kekasihmu, dan aku adalah kamu.




3. Anastrof
Anastrof atau inversi adalah semacam gaya bahasa retoris yang diperoleh 
dengan pembalikan susunan kata yang biasa dalam kalimat. 
Misalnya: Pergilah ia meninggalkan kami, keheranan kami melihat perangainya.




4. Apofasis atau preterisio
Apofasis atau disebut juga dengan  preterisio merupakan sebuah gaya di 
mana penulis atau pengarang menegaskan sesuatu, tetapi nampaknya menyangkal. 
Berpura-pura membiarkan sesuatu berlalu, tetapi sebenarnya ia menekankan hal 
itu. 
Misalnya : Saya tidak mau mengungkapkan dalam forum ini bahwa saudara telah 
menggelapkan ratusan juta rupiah uang negara.




5. Apostrof
Apostrof adalah semacam gaya yang berbentuk pengalihan amanat dari para 
hadirin kepada sesuatu yang tidak hadir. Cara ini biasanya dilakukan oleh orator 
Universitas Sumatera Utaraklasik. Dalam pidato yang disampaikan kepada suatu massa, si orator secara tibatiba mengarahkan pembicaraan langsung kepada sesuatu yang tidak hadir: kepada 
mereka yang sudah meninggal, atau kepada barang atau objek khayalan atau 
sesuatu yang abstrak, sehingga tampaknya ia tidak berbicara kepada hadirin. 
Misalnya : Hai kamu dewa-dewa yang berada di surga, datanglah dan 
bebaskanlah kami dari belenggu penindasan ini.




6. Asindeton
Asindeton adalah suatu gaya yang berupa acuan,  yang bersifat padat di 
mana beberapa kata, frasa, atau klausa yang sederajat tidak dihubungkan dengan 
kata sambung. 
Misalnya : Kesesakan, kepedihan, kesakitan. Seribu derita detik-detik 
penghabisan orang melepaskan nyawa.




7. Polisindeton
Poliosindeton adalah suatu gaya yang merupakan kebalikan dari asindeton. 
Beberapa kata, frasa, atau klausa yang berurutan dihubungkan satu sama lain 
dengan kata sambung. 
Misalnya: Dan ke manakah burung-burung yang gelisah dan tak berumah dan 
tak menyerah pada gelap dan pada dingin yang bakal merontokkan 
bulu-bulunya? 




8. Kiasmus
Kiasmus (chiasmus) adalah gaya bahasa yang  berisi perulangan dan 
sekaligus juga merupakan inversi hubungan antara dua kata dalam satu kalimat.
Misalnya:  Dia menyalahkan yang benar, dan membenarkan yang salah.
Universitas Sumatera Utara9. Elipsis
Elipsis adalah suatu gaya yang berwujud menghilangkan suatu unsur kalimat 
yang dengan mudah dapat diisi atau ditafsirkan sendiri oleh pembaca atau 
pendengar, sehingga struktur gramatikal atau kalimatnya memenuhi pola yang 
berlaku. 
Misalnya : Orang itu memukul dengan sekuat daya. (penghilangan objek: saya, 
istrinya, ular, dan lain-lain).




10. Eufemismus
Kata eufemisme atau eufemismus diturunkan dari kata Yunani euphemizein
yang berarti “mempergunakan kata-kata dengan arti yang baik”. Secara gaya 
bahasa, eufemisme adalah semacam acuan berupa ungkapan-ungkapan yang tidak 
menyinggung perasaan orang lain, atau ungkapan-ungkapan yang halus untuk 
mengganti acuan-acuan yang mungkin dirasakan menghina, menyinggung 
perasaan atau mensugesti sesuatu yang tidak menyenangkan. 
Misalnya : Pikiran sehatnya semakin merosot saja akhir-akhir ini ( =gila). 




11. Litotes
Litotes adalah semacam gaya bahasa yang dipakai untuk menyatakan 
sesuatu dengan tujuan merendahkan diri. Sesuatu hal dinyatakan kurang dari 
keadaan sebenarnya. Atau suatu pikiran dinyatakan dengan menyangkal lawan 
katanya. 
Misalnya : Saya tidak akan merasa bahagia bila mendapat warisan satu milyar 
rupiah.
Universitas Sumatera Utara




12. Histeron proteron
Histeron proteron adalah semacam gaya bahasa yang merupakan kebalikan 
dari sesuatu yang wajar, misalnya menempatkan sesuatu yang terjadi kemudian 
pada awal peristiwa. Gaya bahasa ini juga disebut hiperbaton. 
Misalnya : Kereta melaju dengan cepat di depan kuda yang menariknya. 




13. Pleonasme dan tautologi
Pada dasarnya pleonasme dan tautologi adalah acuan yang mempergunakan 
kata-kata lebih banyak daripada yang diperlukan untuk menyatakan satu pikiran 
atau gagasan. Suatu acuan disebut  pleonasme bila kata yang berlebihan itu 
dihilangkan, artinya tetap utuh. 
Misalnya : Saya telah melihat kejadian itu dengan mata kepala saya sendiri.
Sebaliknya, acuan itu disebut tautologi kalau kata yang berlebihan itu sebenarnya 
mengandung perulangan dari sebuah kata yang lainnya.
Misalnya : Ia tiba pukul 20.00 malam  waktu setempat.




14. Perifrasis
Sebenarnya  perifrasis adalah gaya bahasa yang mirip dengan pleonasme, 
yaitu mempergunakan kata lebih banyak daripada yang diperlukan. Perbedaannya 
terletak dalam hal kata-kata yang berlebihan itu  dan  sebenarnya dapat diganti 
dengan satu kata saja. 
Misalnya : Jawaban bagi permintaan Saudara adalah tidak. (= ditolak). 




15. Prolepsis atau antisipasi
Prolepsis atau antisipasi adalah semacam gaya bahasa di mana orang 
mempergunakan lebih dahulu kata-kata atau sebuah kata sebelum peristiwa atau 
gagasan yang sebenarnya terjadi. 
Universitas Sumatera UtaraMisalnya : Pada pagi yang naas itu, ia mengendarai sebuah sedan biru.




16. Erotesis atau pertanyaan retoris
Erotesis atau pertanyaan retoris adalah semacam pertanyaan  yang 
dipergunakan dalam pidato atau tulisan dengan tujuan untuk mencapai efek yang 
lebih mendalam dan penekanan yang wajar dan sama sekali tidak menghendaki 
adanya jawaban. 
Misalnya: Terlalu banyak komisi dan perantara yang masing-masing 
menghendaki pula imbalan jasa. Herankah Saudara kalau hargaharga itu terlalu tinggi?




17. Silepsis dan zeugma
Silepsis dan zeugma adalah gaya di mana orang mempergunakan dua 
konstruksi rapatan dengan menghubungkan sebuah kata dengan dua kata lain yang 
sebenarnya hanya salah satu yang mempunyai hubungan dengan kata pertama.
Dalam silepsis, konstruksi yang dipergunakan itu secara gramatikal benar, 
tetapi secara semantik tidak benar. 
Misalnya:  Ia  sudah kehilangan topi dan semangatnya.
Dalam zeugma, yang dipakai untuk membawahi  kedua  kata berikutnya, 
sebenarnya hanya cocok untuk salah satu  kata itu (baik secara logis maupun 
secara gramatikal). 
Misalnya : Ia  menundukkan kepala dan  badannya untuk memberi hormat kepada 
kami.




18. Koreksio dan epanortosis
Koreksio dan epanortosis adalah suatu gaya yang berwujud, mula-mula 
menegaskan sesuatu, tetapi kemudian memperbaikinya. 
Universitas Sumatera UtaraMisalnya:  Sudah empat kali saya mengunjungi daerah  itu, ah bukan, sudah lima 
kali.




19. Hiperbol
Hiperbol adalah semacam gaya bahasa yang mengandung suatu pernyataan 
yang berlebihan dengan membesar-besarkan sesuatu hal (jumlahnya, ukurannya, 
atau sifatnya). 
Misalnya : Kemarahanku sudah menjadi-jadi, hingga hampir-hampir meledak 
aku. 




20. Paradoks 
Paradoks adalah semacam gaya bahasa yang mengandung pertentangan yang 
nyata dengan fakta-fakta yang ada. Paradoks dapat juga berarti semua hal yang 
menarik perhatian karena kebenarannya. 
Misalnya : Ia mati kelaparan di tengah-tengah kekayaannya yang berlimpahlimpah.




21. Oksimoron
Oksimoron adalah suatu acuan yang berusaha untuk menggabungkan katakata untuk mencapai efek yang bertentangan, namun sifatnya lebih padat dan 
tajam dari paradoks. 
Misalnya : Keramah-tamahan yang bengis.


B. Gaya Bahasa Kiasan 


Gaya bahasa kiasan ini pertama-tama dibentuk berdasarkan perbandingan atau persamaan. Membandingkan sesuatu dengan yang lain, berarti mencoba menemukan ciri-ciri yang manunjukkan kesamaan antara kedua hal tersebut (Keraf, 2006:136). Perbandingan sebenarnya mengandung dua pengertian, yaitu perbandingan yang termasuk dalam gaya bahasa yang polos atau langsung dan 
perbandingan yang termasuk dalam gaya bahasa kiasan. Kelompok pertama 
termasuk gaya bahasa langsung dan kelompok kedua termasuk gaya bahasa 
kiasan.
a.. Dia sama pintar dengan kakaknya.
Kerbau itu sama kuat dengan sapi.
b. Matanya seperti bintang timur.
Bibirnya seperti delima merekah.
Perbedaan antara kedua perbandingan di atas adalah dalam hal kelasnya. 
Perbandingan pertama mencakup dua anggota yang termasuk dalam kelas yang 
sama, sedangkan perbandingan kedua, sebagai bahasa kiasan, mencakup dua hal 
yang termasuk dalam kelas yang berlainan.
Gaya bahasa kiasan dapat dibedakan atas :

1. Persamaan atau simile
Persamaan atau simile adalah perbandingan yang bersifat eksplisit, yaitu 
gaya bahasa yang langsung menyatakan sesuatu yang sama dengan hal lain.
Misalnya : Kikirnya seperti kepiting batu.
Alisnya bagai semut beriring.



2. Metafora
Metafora adalah semacam analogi yang membandingkan dua hal secara 
langsung, tetapi dalam bentuk yang singkat dengan kias perwujudan.
Misalnya : Pemuda adalah bunga bangsa.




3. Alegori, parabel, dan fabel
Alegori adalah suatu cerita singkat yang mengandung kisahan. Dalam 
alegori, nama-nama pelakunya adalah sifat-sifat yang abstrak, serta tujuannya 
selalu jelas tersurat.
Misalnya : Cerita tentang putri salju.
Parabel adalah suatu kisah singkat dengan tokoh-tokoh yang biasanya 
manusia, yang selalu mengandung tema moral dan biasanya berhubungan dengan 
agama.
Misalnya : Cerita tentang anak yang durhaka kepada orang tuanya.
Fabel adalah suatu metafora yang berbentuk cerita mengenai dunia binatang, 
di mana binatang dapat bertingkah laku seperti manusia.
Misalnya : Cerita dongeng Sang Kancil. 




4. Personifikasi
Personifikasi adalah semacam gaya bahasa kiasan yang menggambarkan 
benda mati atau barang yang tak bernyawa seolah-olah dapat bertingkah laku 
seperti manusia.
Misalnya : Angin malam meraung seolah mengerti kegalauan hatiku.




5. Alusi
Alusi adalah semacam acuan yang menyugesti kesamaan antara orang, 
tempat, dan peristiwa.
Misalnya : Bandung adalah Paris Jawa kebanggaan Indonesia




6. Eponim
Eponim adalah suatu gaya di mana seseorang yang namanya begitu sering 
dihubungkan dengan sifat tertentu.
Misalnya : Anak itu masih kecil, namun kekuatannya seperti Hercules.




7. Epitet
Epitet adalah semacam acuan yang menyatakan suatu sifat atau ciri yang 
khusus dari seseorang atau suatu hal.
Misalnya : Sang putri malam sedang menunjukkan sinarnya (=bulan).




8. Sinekdoke
Sinekdoke adalah semacam bahasa figuratif yang mempergunakan bagian 
dari sesuatu hal untuk menyatakan keseluruhan (pars pro toto) atau 
mempergunakan keseluruhan untuk menyatakan sebagian (totem pro parte).
Misalnya : Setiap kepala dikenai iuran Rp 1000,00 (pars pro toto).
Indonesia memenangkan medali di kejuaraan bulu tangkis dunia 
(totem pro parte).




9. Metonimia
Metonimia adalah gaya bahasa kiasan yang menggunakan sebuah kata untuk 
menyatakan suatu hal yang lain, karena mempunyai pertalian yang sangat dekat, 
atau dengan kata lain metonimia menyatakan sesuatu yang menyebutkan namanya 
secara langsung untuk memahami hal yang dimaksud.
Misalnya : Ia membeli sebuah chevrolet.




10. Antonomasia
Antonomasia adalah sebuah bentuk khusus dari sinekdoke yang berwujud 
penggunaan sebuah epitet untuk menggantikan nama diri, atau gelar resmi, atau 
jabatan untuk menggantikan nama diri.
Misalnya : Yang mulia tidak dapat hadir pada rapat kerajaan hari ini.




11. Hipalase
Hipalase adalah semacam gaya bahasa di mana sebuah kata tertentu 
digunakan untuk menerangkan sebuah kata, yang seharusnya dikenakan pada 
sebuah kata yang lain. 
Misalnya : Ia berbaring di atas sebuah  kasur yang gelisah. (yang gelisah adalah 
manusianya bukan kasurnya).




12. Ironi, sinisme, dan sarkasme
Ironi adalah gaya bahasa yang menyatakan sesuatu dengan menggunakan 
hal lain yang berlawanan dengan tujuan agar orang yang dituju tersindir secara 
halus.
Misalnya : Untuk apa susah-susah belajar, kau kan sudah pintar!
Sinisme adalah gaya bahasa yang menyatakan sesuatu dengan menggunakan 
hal yang berlawanan dengan tujuan agar orang tersindir secara lebih tajam dan 
menusuk perasaan.
Misalnya : Kau kan sudah hebat, tak perlu lagi mendengar nasihat orang tua 
seperti aku ini!
Sarkasme adalah gaya bahasa yang melontarkan tanggapan secara pedas dan 
kasar tanpa menghiraukan perasaan orang lain.
Misalnya : Sikapmu seperti anjing  dan sifatmu seperti babi!




13. Satire
Satire adalah ungkapan yang menertawakan atau menolak sesuatu. Bentuk 
ini tidak harus bersifat ironis. Satire mengandung kritik tentang kelemahan 
manusia.
Misalnya : Jangan pernah berpikir kau adalah dewa, menghadapi masalah seperti 
ini pun kau sudah kewalahan.




14. Inuendo
Inuendo adalah semacam sindiran dengan mengecilkan kenyataan yang 
sebenarnya.
Misalnya : Setiap ada pesta ia pasti sedikit mabuk karena kebanyakan minum.




15. Antifrasis
Antifrasis adalah semacam ironi yang berwujud penggunaan sebuah kata 
dengan makna kebalikannya, yang bisa saja dianggap sebagai ironi sendiri.
Misalnya : Lihatlah sang raksasa telah datang (maksudnya si cebol).




16. Pun atau paronamasia
Pun atau paronamasia adalah kiasan dengan mempergunakan kemiripan 
bunyi yang berupa permainan kata, tetapi terdapat perbedaan besar dalam 
maknanya.
Misalnya : “Engkau orang kaya!” “Ya, kaya monyet!”




(Berbagai sumber)
Read More

Mengenai Saya

Foto saya
Perkenalkan! Saya Nurul Maria Sisilia. Seorang pengajar, penulis, dan pekerja sosial. Saya senang menulis hal menarik yang terjadi di kehidupan sehari-hari. Mari berbincang!

Terjemahkan (Translate)

Rekan

Diberdayakan oleh Blogger.