Tampilkan postingan dengan label edukasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label edukasi. Tampilkan semua postingan

20 September 2015

Ruang Kelas Baru SMP Terbuka Cicalengka


Kondisi awal bangunan sekolah (dok: "Lentera Indonesia" NET TV)

Dari jarak sekira 200 meter, gubuk dari bambu itu sudah tak terlihat lagi. Bangunan panggung yang dahulu digunakan sebagai ruang kelas bagi siswa kelas 7, 8, dan 9 SMP Terbuka Cicalengka itu kini berganti menjadi bangunan permanen yang lebih layak dari beton bercat hijau cerah. Tepat di depan bangunan baru itu kini terdapat area pekarangan. Fasilitas pendukung seperti kamar mandi pun kini telah diperbaiki. Siswa tidak lagi khawatir akan tertimpa dinding bilik yang roboh atau berlubang saat berada di kamar mandi.
Siswa antusias melihat-lihat kelas barunya (dok: Agus Akmaludin)
SMP Terbuka Cicalengka merupakan sekolah rintisan LSM Frekuensi bersama masyarakat Kampung Rancabelut yang dibangun berdasarkan asas kerakyatan yakni dibangun dari, oleh, dan untuk rakyat. Oleh sebab itulah sekolah ini juga dikenal dengan nama “Sekolah Rakyat”. Berdiri tahun 2008, sekolah ini telah berhasil meluluskan empat angkatan ke jenjang setingkat sekolah menengah atas. Saat ini, SMP Terbuka Cicalengka mendidik 25 siswa kelas 7, 15 orang siswa kelas 8, dan 10 orang siswa kelas 9.

Warga yang bergotong royong saat membangun kelas (dok: Agus Akmaludin)
Ruangan kelas yang terbuat dari bilik dan bambu membuat kegiatan belajar dan mengajar di sekolah ini kurang kondusif. Kondisi kelas yang mulai rapuh membuat para guru seperti saya harus mengingatkan siswa saat mereka berjalan terlalu cepat, berlari, dan bahkan melompat-lompat di dalam kelas. Saya akan berseru, "Kade runtuh! (awas runtuh!)". Saat musim hujan, atap di sekolah ini bocor. Siswa harus membenahi posisi duduk dengan melipir ke sudut kelas yang teduh agar tidak terkena air hujan. Beberapa lubang besar di dinding bilik pun mengganggu kenyamanan belajar. Lubang-lubang itu sering digunakan siswa untuk mengintip keluar saat pelajaran masih berlangsung. 

Kondisi tersebut mendorong pihak sekolah untuk merencanakan pembangunan kelas baru melalui gerakan urunan. Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar yang menyempatkan diri mengunjungi sekolah tersebut pada Rabu (29/7) memulai urunan itu dengan menyisihkan dana pribadinya untuk pembangunan sekolah. Gayung bersambut. Setelah gerakan urunan tersebut dimulai oleh tokoh nomor dua se-Jawa Barat berbagai pihak turut tergerak untuk berkontribusi dalam urunan. Maka, berselang satu bulan terkumpul dana sebesar 10 juta rupiah. Jumlah yang cukup untuk membangun kelas baru. Dengan semangat kerakyatan, warga Kampung Rancabelut pun sigap menyediakan tenaga untuk membangun ruang kelas baru. Akhirnya, bangunan baru yang diselesaikan pada bulan Agustus 2015 ini pun diresmikan oleh Camat Cicalengka Achmad Rizky Nugraha pada Sabtu (29/8) dalam acara bertajuk "Syukuran Urunan SMP Terbuka Cicalengka". Ya, disebut "syukuran urunan" sebab ruang  kelas baru itu berdiri atas sumbangan dana, tenaga, dan gagasan berbagai pihak.

Wakil Gubernur Deddy Mizwar saat mengunjungi SMP Terbuka Cicalengka (29/7)
(dok: Adi Amrullah)
Menanggapi selesainya pembangunan kelas tersebut, Rizky mengungkapkan harapan agar sekolah tersebut mampu mengembangkan potensi siswa dengan baik. Senada dengan Rizky, Pembina LSM Frekuensi Cicalengka Sodikin menuturkan bahwa sekolah yang dirintis para pemuda ini diharapkan membawa kebaikan bagi masyarakat. Kemudian, selaku perwakilan dari orangtua siswa, Dede pun turut mengungkapkan rasa terima kasih atas selesainya pembangunan ruang kelas baru di sekolah tersebut. Menurutnya, jarak jauh yang mesti ditempuh dari Rancabelut ke Cicalengka turut menjadi kendala warga sekitar untuk bersekolah. Oleh sebab itu, keberadaan sekolah terbuka di kawasan Desa Rancabelut sangat membantu akses pendidikan bagi warga sekitar serta ikut andil dalam mengurangi angka putus sekolah. Terkait hal itu, kepala Departemen Advokasi dan Pendidikan Alternatif LSM Frekuensi serta Koordinator Sekolah Rakyat Agus Akmaludin pun optimis dapat melahirkan siswa-siswa berprestasi dan berakhlak mulia lewat program-program baru sekolah yang akan dirintis setelah pembangunan sekolah selesai.

Foto bersama para donatur dan tamu undangan (dok: Iman Nurjaman)
Turut pula hadir dalam acara syukuran tersebut para donatur dan rekan relawan yang berkontribusi dalam pembangunan ruang kelas baru seperti Komunitas 1000 Guru Bandung, PKPU, Rumah Zakat, Yayasan Mutiara Bunda, dan Kitabisa.com. Dalam kesempatan tersebut, Komunitas 1000 Guru Bandung memberikan bantuan berupa dana pendidikan untuk SMP Terbuka Cicalengka. Bantuan tersebut diterima langsung oleh Agus Akmaludin dan akan digunakan untuk pembangunan sarana sekolah.
Penampilan kreativitas siswa. calung. (dok: Iman Nurjaman)
Acara syukuran yang digelar sampai pukul 13.00 WIB ini turut menampilkan kreativitas siswa binaan. Penampilan grup vokal kelas 9 SMP Terbuka Cicalengka, kesenian calung, marawis, dan tari jaipong adalah beberapa keterampilan yang ditampilkan untuk menghibur hadirin sekaligus untuk memamerkan potensi seni dan budaya daerah tersebut. Para siswa yang menampilkan kesenian calung rupanya membuat sebuah lagu istimewa tentang sekolahnya. Lagu yang mereka beri judul "Hayu Sakola (Ayo sekolah)" tersebut mereka ciptakan sendiri beberapa hari sebelum acara syukuran. Di akhir acara, digelar doa bersama untuk kelancaran aktivitas pengajaran di SMP Terbuka.

Read More

02 September 2015

Pejabat yang tak dirindukan*

"Saya sudah biasa menyambut pejabat yang datang ke pesantren saya, Bu. Rasanya biasa-biasa saja." Ujar Pak Adi Amrullah saat kami dibuat sibuk dengan kedatangan mendadak orang nomor dua se-Jawa Barat siang itu (29/7). Raut wajahnya menyiratkan bahwa kedatangan sang Wagub itu tidak begitu ia rindukan.
Kedatangan Wagub itu memang terhitung cepat dari perkiraan. Sabtu malam cuitan Agus Akmaludin di Twitter dibalas Wagub. Senin, sudah datang beberapa perwakilan dari Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung ke sekolah kami untuk meninjau. Selasa, datang lagi beberapa orang dari Dinas Provinsi Jawa Barat untuk melakukan survey. Hari Rabu, lelaki yang biasa dikenal sebagai "Bang Jack" itu datang juga untuk mengunjungi sekolah kami. Kedatangannya yang tanggap dan cepat itu membuat banyak pihak kaget. SMP Negeri 1  Cicalengka sebagai sekolah induk Sekolah Rakyat, kelurahan, dan kedusunan terkejut dengan kedatangan beliau. Semua disusun secara mendadak mulai dari acara, perjamuan, dan penyambutan. Di acara itu, saya bahkan tak melihat Pak Bupati. Demikian terkejutnya hingga saya ikut harap-harap cemas jika beliau kurang berkenan dengan sambutan dari sekolah kami. Di tengah hiruk-pikuk itulah, Pak Adi berkisah.
"Saya justru gemetar ketika pesantren kami didatangi Kyai, Syekh, dan orang-orang berilmu agama seperti itu." Lanjut guru muda yang sekarang sedang mondok di pesantren Alquran Al-Falah Cicalengka.
 "Setiap kali para pejabat itu datang ke pesantren, jalan di sekitar pesantren akan disulap menjadi bagus dan rapi. Tidak lagi ada yang bolong-bolong". Ia kemudian bercerita saat beberapa menteri datang ke pesantrennya membawa banyak rencana. Saya simak kisahnya itu dengan seksama. Ingatan saya sampai pada beberapa peristiwa serupa saat sebuah daerah didatangi pejabat pemerintahan. Daerah itu akan bersolek secantik-cantiknya. Dalam hal ini, saya kira tak jadi masalah sebab tak ada salahnya memuliakan tamu yang bertandang ke suatu daerah. Apalagi bila yang datang adalah tamu yang istimewa semacam pejabat. Namun mengenai hal itu, saya kembali terdiam saat Pak Adi melanjutkan kisahnya.
" Tapi sungguh, semuanya terasa biasa-biasa saja. " Pungkas guru PAI kami itu. Ya, memang, dalam hal ini patutnya mereka melihat keadaan yang sesungguhnya. Jalan yang bolong-bolong, macet, dan segala yang tak indah.

Saat Pak Adi berkisah demikian, saya jadi menduga-duga alasan lain terhadap kesan biasa-biasa saja yang diungkapkan Pak Adi. Barangkali karena kedatangan para elit itu selalu  disambut gegap gempita oleh beragam kepentingan. Semua orang yang menyambut mereka menjadi seperti pemakai topeng yang menyembunyikan raut wajah sesungguhnya di balik wajah palsu. Jika menyandingkan dengan kisah Pak Adi, saya menangkap betapa peristiwa menyambut seorang guru adalah peristiwa yang khidmat. Istilah "ngalap barokah" menyertai kedatangan itu. Tak lain, artinya adalah berburu ilmu, doa, dan kebaikan dari seorang guru. Bukan berburu amplop. Terkait hal ini, saya sangat setuju.
Lahirnya seorang  pejabat yang dirindukan rakyat karena keteladanannya dan bukan semata janji surganya sungguh sebuah impian besar. Meski rasanya hal itu masihlah jauh panggang dari api.

Lama menyimak kisah Pak Adi, tiba-tiba Pak Agus datang. "Pak, Bu, ke rumah Pak Kadus sekarang. Makan siang dulu sama Pak Wagub."

Kami bergeming.
Dokumentasi Pak Agus Akmaludin


*) Judul terinspirasi dari judul film yang sedang hits, "Surga yang Tak Dirindukan".

Read More

09 Agustus 2015

Guru yang Tertukar

Orang yang pertama kali saya kenal saat diminta menggantikan Medina sebagai pengajar di SMP Terbuka adalah Agus Akmaludin. Dalam struktur resmi, jabatannya disebut guru pamong namun kemudian Agus lebih kami kenal sebagai kepala sekolah Sekolah Rakyat. Ia adalah mahasiswa jurusan Sejarah di UIN Sunan Gunung Djati, Bandung. Di sekolah ini, selain menjadi kepala sekolah, ia pun adalah seorang pengajar. Mata pelajaran apa yang Agus ampu? Ternyata bukan IPS --mata pelajaran yang memayungi Sejarah seperti jurusan yang sedang ditekuninya-- melainkan Bahasa Indonesia. Alasannya cukup kuat, sebab di sekolah sudah ada Esti Santinalia yang mengajar IPS. Nah, apa yang terjadi pada saya?

Saya besar dan tumbuh di jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia di UPI. Selama empat tahun saya bergelut dengan hal-hal pembelajaran dan pengajaran Bahasa Indonesia. Tapi, jangan kira saya akan mengajar mata pelajaran tersebut di sekolah ini. Alih-alih mengajarkan mata pelajaran sesuai bidang yang didalami, saya justru mengajar pelajaran lain yakni Bahasa Inggris. Alasannya, karena tidak ada guru  Bahasa Inggris. Lebih tepatnya, tidak ada yang mau mengajar Bahasa Inggris! Oh, lugas sekali.

Lalu, lain lagi dengan yang terjadi pada Pak Robiyana. Sepuluh tahun lamanya beliau mengajar Bahasa Inggris di beberapa SMP dan MTs di Cicalengka tak jadi jaminan beliau akan kembali mengajar Bahasa Inggris di sekolah ini. Di sekolah ini, beliau justru mengajarkan siswa cara menggocek bola hingga gawang dan menangkis bola voli. Ya, beliau saat ini mengajar pelajaran Penjaskes di sekolah kami. Pasalnya, posisi guru Bahasa Inggris itu sudah lebih dulu terisi oleh saya. Saya kemudian merasa bahwa hal yang saya, Agus, dan Pak Robiyana alami ini, tak ubahnya seperti judul sinetron yang sempat tayang di  televisi swasta itu. Kami jadi seperti "Guru yang Tertukar". Apa yang "tertukar"? Mata pelajarannya.

Para "Guru yang Tertukar" bersama Pak Deddy Mizwar


Bukan pengalaman baru
Menurut penuturannya, Pak Robiyana aktif di UKM olahraga saat kuliah. Beliau juga memang memiliki minat yang besar terhadap olahraga terutama sepak bola.  Serupa dengan Pak Robi, demikian kami akrab menyapa beliau, Agus pun punya kaitan yang erat dengan bahasa Indonesia. Ia rupanya pandai menulis dan gemar membaca. Lalu saya? Menjadi penggemar budaya populer Amerika dan Eropa cukuplah kiranya menjadi dasar minat saya pada Bahasa Inggris.
Mata pelajaran yang kami ampu saat ini --yang bertolak belakang dengan bidang kami di bangku kuliah-- akhirnya tidak tampak jadi masalah besar. Bukan sebuah pengalaman baru, rupanya, berkhidmat dengan pelajaran yang kami ajarkan saat ini. Selain memang harus selalu siap tempur dalam pelajaran apapun, mata pelajaran yang kami ajarkan saat ini adalah juga bagian dari diri kami. Oleh sebab itu, tak jarang kami menggabungkan minat kami tersebut. Olah raga dan bahasa Inggris yang menjadi minat Pak Robi, misalnya. Saat mengajar pelajaran olahraga tak jarang ia meminta siswa berhitung dengan bahasa Inggris saat memulai pemanasan atau saat latihan melempar bola. Kemudian, Agus Akmaludin terbiasa memulai kelasnya dengan bercerita kisah-kisah sejarah dari berbagai dunia dan saya meminta siswa membaca puisi (dalam bahasa Indonesia) di kelas. Selain minat-minat kami jadi tersalurkan, kelas pun jadi ceria dan tak biasa.

Rupanya,  mengajar merupakan hobi kami masing-masing. Maka tak masalah apapun pelajaran yang mesti diampu selagi masih mampu kami pelajari. Itu pula yang membuat mengajar, bagi saya, adalah juga belajar yang tak pernah selesai. Setiap saat kami harus terus menggali dan mengasah potensi dalam diri kami lalu mengembangkannya menjadi pelajaran yang menarik untuk disampaikan di kelas. Kami pun harus kembali membaca banyak buku, artikel, dan referensi lain terkait pelajaran yang kami ampu serta pengajaran yang efektif. Kami belajar dari banyak guru senior, dari rekan-rekan, bahkan tak jarang dari murid kami sendiri.
:D

Read More

30 Juli 2015

Ketika Pak Deddy "Jack" Mizwar Berkunjung ke Sekolah Kami Siang Ini

Hari ini (29/7) sekolah kami, Sekolah Rakyat Frekuensi, mendapat kunjungan dari Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar. Di balik foto ini, jauh di balik euforia yang tampak saya bagikan ini, kami tumpahkan aspirasi-aspirasi mengenai kualitas pendidikan di Jawa Barat terutama di daerah-daerah pelosok pada saat forum temu-dengar. Sebelum itu, siswa kami ternyata telah melakukan hal tersebut. Saat itu, tokoh nomor dua se-Jawa Barat tersebut melihat kelas-kelas sekolah kami. Ia bertanya pada siswa kelas VIII, "Kalian nyaman, ya, sekolah di sini?" anak-anak itu dengan lugu menjawab, "Panas, Pak!". Mendengar keluguan mereka, spontan saja para guru, pejabat pemerintahan, dan dinas pendidikan yang turut mendampingi Wagub itu terkekeh. Ya, jelas saja, ruang kelas VIII di sekolah ini beratapkan terpal dengan dinding dari spanduk-spanduk bekas. Maka tak salah jika hawa di kelas ini akan memanas jika siang tiba. "Kita bangun sekolah ini, ya!" pungkas lelaki yang siswa kami kenal sebagai "Bang Jack" itu begitu yakin. Siswa kami pun tersenyum dan mengangguk puas.

Pak Deddy Mizwar saat menengok ruang kelas VIII. Foto dari akun twitter Pak Wagub

Kami, guru dan siswa Sekolah Rakyat Frekuensi, berterimakasih atas kesediaan beliau mengunjungi sekolah kami. Tentu tak mudah mengundang beliau untuk hadir di acara serupa ini. Di tengah padatnya aktivitas beliau, rupanya beliau cukup tanggap dengan cuitan rekan kebanggaan kami, Agus Akmaludin, di Twitter. Atas hal itu, kami sangat bersyukur. Selebihnya, kami berharap kunjungan ini berbuah jejak yang membekas di sekolah kami. Ada sesuatu yang lebih manis dari tatap muka dan sedikit orasi yakni sebuah realisasi. Bismillah, mari sama-sama berdoa dan berupaya.

(Sebagian) guru-guru Sekolah Rakyat Frekuensi bersama Deddy Mizwar. Foto dari dokumentasi Pak Adi Putra

Kami sudah coba apa yang kami bisa. Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa..." ("Krawang-Bekasi", Chairil Anwar)


Read More

19 Juni 2015

Tak Perlu Keliling Dunia

Seringkali saya tergoda dengan pesona negeri seberang. Berkali-kali bayangan akan kemegahan kota-kota di antah berantah itu datang dengan menggiurkan. Sering saya membayangkan menyentuh kejayaan itu dari dekat dengan tangan sendiri, mengagumi bangunan asing, dan menapaki  jalan-jalan yang tak pernah saya jamah sebelumnya. Sering pula saya angankan seakan salju turun di ubun-ubun saya dan membuat saya kedinginan. Hal yang tentu tak bisa saya rasakan di tanah kelahiran. Sejak sekolah dasar, saya mengangankan hijrah ke negeri Paman Sam. Adapun penyebabnya, kala itu saya menggandrungi serial tivi, Power Rangers. Beranjak remaja, saya menginginkan pula pindah ke Negeri Sakura. Tak lain, karena saya begitu keranjingan budaya populer Jepang. Impian untuk meninggalkan tanah air agaknya telah tumbuh sejak lama bahkan hingga beberapa waktu sekarang. Namun, kali ini semuanya seakan tidak begitu kentara. Tak perlu lagi rasanya mengelilingi dunia sebab semua kebahagiaan saya kini begitu jelas bahkan di depan mata saya sendiri.

Sekolah Rakyat Frekuensi, tampak atas


Gagal keluar
Beberapa kali saya mencoba mengirimkan persyaratan untuk mengikuti beasiswa atau seminar di luar negeri. Namun, beberapa kali pula saya menerima penolakan. Terakhir, saya mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh National University of Singapore dan Ewha Womans University Korea. Besar sekali harapan saya untuk bisa ikut serta dalam kegiatan yang diselenggarakan itu. Lantas, kesempatan itu masih juga kandas. Saya berbincang dengan rekan-rekan saya, Kang Agis misalnya. Beliau seakan membesarkan hati saya, katanya, "Baru beberapa kali (ditolak) ini. Saya mah sudah sering. Tenang saja.".Ya, saya tahu betul usaha beliau demi meraih mimpi studi di luar negeri itu begitu keras. Di saat seperti itu saya sadar bahwa ada yang berusaha lebih keras dari saya.
Perbincangan saya dengan Esti lain lagi. Kali ini, saya seakan dibesarkan hatinya sekaligus ditampar pelan-pelan. Saat itu, ia berkata "Kamu masih dibutuhkan di Indonesia."
Sejujurnya, seketika itu juga saya merenung dalam-dalam. Apakah keinginan saya untuk hijrah ke negeri-negeri seberang adalah semata niat yang berasal dari kedalaman jiwa atau hanya mengejar gengsi? Telah seberapa bermanfaat saya untuk tanah air sendiri lantas berani-beraninya saya lari ke negeri orang? Atau, sebenarnya saya lupa bahwa semua yang saya cari sejatinya ada di tanah air sendiri.

Pemandangan saat memasuki gerbang Desa Dampit, Keca. Cicalengka


Kebahagiaan dan cara pandang
Ya. Barangkali, intinya, saya telah benar-benar keliru menakar kebahagiaan dari hal-hal besar dan mewah padahal hal besar dan mewah itu pun dibangun dari hal-hal sederhana. Pada akhirnya saya sadar bahwa kebahagiaan itu telah kentara di depan mata saya sendiri, dengan begitu istimewa. Yang kurang tepat selama ini rupanya perkara sudut pandang.
Pertemuan (kembali) saya dengan rekan-rekan LSM Frekuensi membuka mata saya bahwa saya beruntung berada di tengah orang-orang berhati mulia. Pada gilirannya, mereka adalah rumah yang lebar membuka pintu saat saya pulang dengan jiwa compang-camping dari pengabdian di kota yang hiruk-pikuk. Begitu pula saat saya mengajar di Sekolah Rakyat. Setahun mengajar di sana, saya merasa seperti menjadi batu yang menerus ditempa hingga perlahan melunak. Perjalanan saya di atas tunggangan (baca: ojek menuju Sekolah Rakyat) setiap pagi menyadarkan saya bahwa saya berada di tanah yang kaya jiwa dan raganya. Setiap orang yang saya temui pun (mamang tukang ojek, pedagang, petani, pemilik warung, warga dan orang tua siswa) menampakkan besarnya ketulusan dan keluhuran hati. Terlebih, saat berada di kelas, saya seperti berada di tengah-tengah mimpi dan harapan besar tentang masa depan yang menjelma para siswa itu. Lalu para pendidik itu, kepala sekolah -walaupun Agus menolak disebut demikian- dan para guru di sana adalah orang-orang besar dengan jiwa yang lebih besar dan lapang. Hal-hal itulah, rupanya, senyata-nyatanya kebahagiaan.

Sungai yang memisahkan Kab. Bandung dan Kab. Sumedang

Baiklah, sedikit saya kisahkan pula kebahagiaan sederhana yang datang dari kelas. Kala itu, saya melaksanakan ulangan praktek Bahasa Inggris di kelas tiga. Saya meminta siswa untuk membuat percakapan dan memperagakannya di depan kelas tanpa melihat teks sama sekali. Awalnya, semua siswa keberatan. Kebanyakan di antara mereka merasa tidak mampu. Terutama Ahmad. Ahmad berkali-kali meminta saya agar ia diperbolehkan tampil sambil membaca teks. Saya bersiteguh bahwa semua siswa harus tampil tanpa melihat teks. Saya lantas meminta Iwa, rekan sebangku ahmad, untuk mengajari Ahmad pelan-pelan. Saya tak mau membuat Ahmad dikucilkan dengan keinginannya itu. Saya pun ingin teman-temannya, dalam hal ini Iwa, mau menolong kesulitan belajar Ahmad. Saat akhirnya siswa demi siswa tampil, tibalah giliran Ahmad dan Iwa. Terkejut saya saat itu sebab Ahmad berhasil menghapal dialog dengan baik bahkan sangat ekspresif. Semua rekannya di kelas bertepuk tangan. Saat itu, saya merasa memberikan tepuk tangan paling keras untuk pencapaian Ahmad. Pernah pula saya mengajak Dede Lulu Ludimal, Dadi Ahmad Zaki dan Aulia ke sebuah pelatihan menulis puisi. Di akhir pelatihan, semua peserta membacakan puisinya, termasuk Dede. Semua peserta terdiri atas pegiat komunitas yang rata-rata seusia dengan saya maka Dede, Dadi dan Aulia adalah peserta termuda kala itu. Saat Dede membacakan puisinya, semua peserta terpukau sebab diksi yang dia pilih begitu indah. Gerimis hati saya. Rupanya, sesederhana itu pulalah kebahagiaan. Maka, apa yang lantas saya kejar jika semua telah hadir di depan mata saya? Semangat, kasih sayang, harapan, hidup, ketulusan dan cinta. 

Siswa kami, Ahmad Wahyudin


Ah, di atas berulang saya menyebut kata "sederhana". Dalam "Hujan Bulan Juni", Sapardi berkata, aku ingin mencintaimu dengan sederhana seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu pada api yang menjadikannya abu. Maka lihatlah, "sederhana" yang diungkap Sapardi sejatinya telah melampaui hal-hal yang teramat rumit dan tak biasa. Kesederhanaan cinta sang kayu pada api yang menjadikannya abu adalah kerja yang sejatinya sempurna dan ikhlas. "Simplex veri sigillum", kata petuah Yunani. Kesederhanaan pangkal kebijaksanaan. Oleh karenanya, berada di tempat sesederhana ini justru membuat saya merasa lengkap karena saya dikelilingi berlimpah kebijaksanaan.


Suasana belajar di kelas IX

Sebagai penutup, berikut saya sertakan video klip Gita Gutawa berjudul "Tak Perlu Keliling Dunia". Lagu ini terasa begitu pas dengan segala hal yang saya pikirkan dan saya rasakan. Saya sertakan video dengan lirik untuk memudahkan teman-teman yang rasa-rasanya pernah mendengar soundtrack Laskar Pelangi ini tapi tak fasih pada liriknya. Baiklah, mari bernyanyi bersama saya!
Oh, maaf. Maksud saya, bersama Gita Gutawa. :)

*) sumber foto diambil dari video tayangan Lentera Indonesia Net TV edisi "Sekolah Rakyat Cicalengka" 

Kapur putih yang pucat
Terasa penuh warna
Dan pelangi yang enggan datang pun berbinar

Kertas putih yang pudar
Tertulis seribu kata
Dan kuungkap semua yang sedang kurasa
Dengarkanlah kata hatiku
Bahwa kuingin untuk tetap di sini

Tak perlulah aku keliling dunia
Biarkan ku di sini
Tak perlulah aku keliling dunia
Karna ku tak mau jauh
Darimu

Dunia boleh tertawa
Melihatku bahagia
Walau di tempat yang kau anggap tak biasa
Biarkanlah aku bernyanyi
Berlari berputar menari di sini

(Tak perlulah aku keliling dunia)

Tak perlulah aku keliling dunia
Karna kau di sini
Tak perlulah aku keliling dunia
Kaulah segalanya bagiku

Di duniaaa...
Read More

08 Maret 2015

Ketulusan yang Dicederai

Saya tak berani menghitung jumlah teman-teman guru honorer yang belum menerima gaji selama berbulan-bulan. Alasannya, jumlah mereka tentulah banyak. Menurut data pokok pendidikan (Dapodik) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2013 yang dilansir JPNN, jumlah guru honorer di seluruh Indonesia telah mencapai 489.459 orang, dari total 1.441.171 orang guru. Jumlah ini masih merupakan jumlah guru honorer SD, belum ditambah guru honorer SMP dan SMA. Jumlah tadi tersebar di 33 propinsi termasuk wilayah pelosok, perbatasan, dan kepulauan terdepan. Artinya, demikian besar jumlah mereka di Indonesia. Saya membayangkan jika gaji yang semestinya diperuntukkan bagi mereka tersendat entah oleh apa, maka hampir sejumlah itulah hak teman-teman guru honorer yang abai tersampaikan.

Saya kemudian membayangkan betapa teman-teman itu adalah guru yang benar-benar berkenan mengabdikan diri untuk masa depan penerus negeri. Mereka penuh tulus membimbing para siswa. Jika ada rekan guru yang mesti menempuh jarak dan waktu yang tak biasa menuju sekolah, hal tersebu dilalui dengan kerelaan. Ilmu yang mereka punya lantas mereka bagikan dengan sukarela. Tak jarang mereka berupaya menempa diri, mengembangkan keilmuan dengan cara mereka demi pembelajaran yang lebih baik. Di satu sisi, mereka pulalah yang dimintai tanggung jawab atas perkembangan karakter, sikap, dan perilaku siswa secara menyeluruh. Di saat seperti itu, saya merasa tugas pendidik adalah tugas yang tak kenal henti. Namun kebanyakan dari mereka melakukannya dengan penuh kesadaran dan sukacita.

Lantas, saya kembali pada ingatan bahwa hak mereka tak terpenuhi dengan baik. Jujur, saya merasa terluka. Ibarat mengikhlaskan diri menjadi bumi bagi tanaman-tanaman yang kelak akan rimbun berbunga, mereka rela menyediakan kesuburan bagi tumbuhnya tanaman-tanaman tersebut, rela menjadi wadah bagi kehidupan yang kelak akan berjalan. Teman-teman pengajar tadi adalah wadah yang bersedia menyediakan dirinya untuk menumbuhkan potensi para siswanya di masa depan. Di tengah luasnya kerelaan tersebut, saya masih mendengar cerita mereka yang belum memperoleh gaji. Mungkin tidak semua teman guru menyikapinya sebagai sebuah kendala besar. Mereka masih tulus ikhlas mengajar sembari berharap hak mereka tiba suatu hari. Namun, harus seberapa lama mereka berada dalam kondisi seperti itu? Apa harus seperti itu penghargaan atas mereka? Tidakkah ada yang merasa bahwa ketulusan mereka telah dicederai?

Ketulusan mereka dicederai oleh rasa abai. Atas nama kepentingan, hak mereka mengambang di udara. Di entah di mana. Saya tak hanya sedang menyoal hak berupa materi sebagai satu-satunya bentuk penghargaan. Namun, jika hal yang seperti itu tak bisa dipenuhi saya sangsi hal besar yang mestinya diberikan kepada mereka juga mampu disanggupi. Saya hanya ingin menyoal perasaan terdalam manusia  jika menemukan sosok-sosok yang berjuang tanpa pamrih dan begitu sungguh-sungguh untuk orang lain, sebuah kesatuan di luar dirinya sendiri, di tengah kondisi mereka sendiri yang terbatas. Semestinya rasa haru dan terenyuh yang muncul sebagai satu bentuk sederhana dari menghargai usaha besar itu. Yang muncul ternyata beragam perlakuan tak hirau dari negeri sendiri.

Seperti yang saya utarakan di atas, tidak semua teman-teman pengajar menjadikan materi sebagai satu-satunya tujuan mengajar. Banyak pula yang megajar karena panggilan jiwa. Mereka benar-benar ingin membangun generasi yang lebih baik. Maka saat nominal yang turun tak lengkap atau sama sekali tak datang, mereka masih berbesar hati. Namun, bukan berarti saya harus memandang dari sudut itu. Bukankah semestinya saya makin terluka sebab mereka bahkan begitu  berlapang hati menerima kenyataan bahwa ketulusan mereka tengah dicederai.

Tulisan saya ini begitu emosional, tampaknya. Saya lantas tak fasih berujar mengenai hal ini. Tentu banyak tulisan serupa yang telah dibuat. Isu serupa, suara serupa. Maka saya hanya sebagian kecil dari penyuaraan tersebut. Saya hanya merasa khawatir, kemudian, terhadap negeri yang konon tengah berbenah ini. Saya mencoba bercermin pada keadaan Indonesia yang masih karut marut. Saya khawatir hal tersebut terjadi, salah satunya, karena masih begitu banyak ketulusan yang sedemikian dicederai.

Mari berbenah, mari peduli.


Read More

05 Maret 2015

Belajar Memahami

Saya merasa bahwa pekerjaan mendidik adalah pekerjaan memahami secara lebih dalam. Pendidik memahami siswanya, dirinya, dan kemungkinan lain yang muncul di sekitarnya. Di antara hubungan itulah, saya kira, totalitas lahir.

Saya masih ingat saat saya masih kecil dulu, ibu selalu berusaha mengenal hal-hal kesukaan saya. Ia kemudian menjadikan hal tersebut sebagai upaya untuk membuat saya merasa senang dan bahagia. Misalnya, saat sekolah dasar saya sangat menyukai Pokemon. Sebuah judul anime yang tak pernah saya lewatkan penayangannya di televisi kala itu. Melihat saya begitu menyukai salah satu tokoh dalam anime bernama Pikachu, ibu menjadikan tokoh itu sebagai referensi saat membelikan saya barang. Ibu akan membeli sepasang ikat rambut dengan hiasan boneka Pikachu, membeli baju tidur dengan motif Pokemon, atau membeli alat tulis dengan ornamen Pokemon. Pun ketika saya menyukai Power Rangers Turbo terutama ranger biru, Justin. Ibu membiarkan saya mengoleksi aneka gambar Power Rangers. Tak jarang ibu membelikan saya baju mirip Justin seperti celana jeans, kaos, dan kemeja. Semua berwarna biru. Tak sepenuhnya saya menyukai pemberian ibu. Kadang, saya merasa tidak cocok dengan motif baju yang dibelikan ibu sebab motifnya terlalu penuh. Kadang pula, saya tidak suka warnanya sebab terlalu tua. Namun demikian, saya selalu senang dengan pemberian ibu sebab ibu telah berusaha memahami hal yang tengah jadi dunia saya.

Saya berkaca pada kenangan itu saat ini. Saat mengajar, saya tak ubahnya menjadi ibu yang tengah memahami anak-anaknya. Saya memperpanjang tangan batin saya untuk menyentuh dunia siswa-siswa saya. Saya berusaha keras memahami mereka. Saya pun mencoba sedemikain rupa mengenal hal-hal di luar unsur sekolah, misalnya keluarga siswa, lingkungan sekolah dan masyarakat. Hal-hal tersebut nyatanya adalah hal yang saling berkaitan. Akhirnya, saya tak bisa menyetarakan fakta siswa yang tak mengerjakan PR adalah siswa yang malas sebab konteksnya ternyata berbeda. Saya tak bisa mengabaikan kecenderungan siswa yang tak mengerjakan tugas karena harus bekerja membantu orang tua selepas sekolah atau buku tugas yang hilang karena terjual ke tukang loak. Kenyataan tersebut merupakan salah satu kemungkinan kecil saja dari begitu banyak hal yang mesti saya pahami di luar siswa itu sendiri. Di sisi lain, saya mesti mengukur diri. Memahami kemampuan diri saya sendiri. Sejak saya diminta mengajar di SMP Terbuka, saya makin menelaah diri saya sendiri. Seberapa mampu saya menyampaikan ilmu pengetahuan kepada siswa? Seberapa sanggup saya hadir untuk mengembangkan diri mereka?

Saya tak pernah menyangka akan jadi pengajar bahasa Inggris di sekolah tersebut sebab pada dasarnya latar belakang pendidikan saya adalah bahasa Indonesia. Alasan saya mengambil tawaran tersebut sebenarnya sederhana saja, saya merasa terpanggil untuk berada di sana dan mengajar anak-anak di sana. Selebihnya, saya seperti mengucapkan perkataan Ir. Soekarno di hadapan hadirin saat membuka Konferensi Asia-Afrika "bismillah, Godspeed!". Saya berserah dan berusaha semampu yang saya bisa. Dalam usaha saya itu, saya merasa tak boleh asal-asalan. Saya sangat ingat ujaran Kang Indra saat rapat guru untuk pertama kalinya. Beliau berujar "Hanya karena kita mengajar sukarela, jangan sampai usaha kita pun suka-suka. Sekadarnya". Sebuah "cemeti" yang membuat saya terus memperbaiki niat saya setiap hendak mengajar.

Seperti yang saya ungkapkan di atas, saya mesti menakar diri. Lantas, saya pun melakukan penelaahan atas kemampuan saya. Saya memang menyukai bahasa asing. Saya menyenangi bahasa Inggris sejak sekolah dasar dan pernah jadi juara lomba pidato bahasa Inggris saat sekolah menengah. Saya pun menyenangi bahasa Jepang dan Perancis. Namun, apa itu cukup? Jelas tidak. Saya tidak sedikit pun tahu apakah saya mampu mengajarkan itu pada siswa saya? Apakah saya sanggup menularkan kegemaran saya terhadap bahasa asing itu kepada mereka? Saya yakin tidak. Seratus persen tidak yakin. Selama empat tahun di perguruan tinggi, saya mempelajari cara mengajar bahasa nasional, bukan bahasa asing. Selama itu pula saya jarang menggunakan bahasa asing. Di tengah kondisi saya yang sangat serba terbatas keilmuan, saya merasa sangat tak pantas mengajar mata pelajaran itu kepada siswa saya. Namun justru di saat seperti itulah, saya terkenang upaya yang dilakukan ibu. Ibu begitu tulus berupaya memahami dunia saya. Saya merasa, itulah yang akhirnya mesti saya lakukan.

Saya tetap berupaya mengajar bahasa Inggris dengan terus menempa kemampuan diri. Saya mengikuti sebuah kursus bahasa Inggris, membaca sebanyak mungkin buku dan referensi tentang mengajar bahasa Inggris, dan berjejaring dengan rekan-rekan pengajar bahasa Inggris betulan. Saya berusaha memberikan yang terbaik untuk siswa-siswa saya.

Apakah kini saya merasa cukup? Tidak. Kemampuan bahasa Inggris saya memang bertambah, namun bukan itu yang sejatinya saya kejar. Saya masih harus memahami siswa saya. Dengan kemampuan tersebut, saya mesti meramu pembelajaran yang sesuai bagi siswa saya. Apakah siswa-siswa saya menyenangi upaya yang saya berikan berupa metode belajar, materi belajar hingga kesediaan saya untuk potensi mereka? Saya pun tidak persis tahu. Seperti halnya ibu saya yang tak persis tahu apakah saya menyukai motif dan warna baju Pokemon atau Power Rangers yang ia berikan. Namun demikian, ibu telah berusaha dan saya selalu bersyukur atas usahanya. Saya pun begitu. Saya sudah berupaya dan akan terus berupaya. Lalu, saya merasa bersyukur karena bisa terus berupaya memahami siswa saya, dunia di sekitarnya, dan diri saya sendiri.  Di antara hubungan itulah, saya kira, totalitas mencintai itu lahir.

 Cicalengka, 2015

Read More

Mengenai Saya

Foto saya
Perkenalkan! Saya Nurul Maria Sisilia. Seorang pengajar, penulis, dan pekerja sosial. Saya senang menulis hal menarik yang terjadi di kehidupan sehari-hari. Mari berbincang!

Terjemahkan (Translate)

Rekan

Diberdayakan oleh Blogger.