Tampilkan postingan dengan label Catatan FLP Bandung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan FLP Bandung. Tampilkan semua postingan

17 September 2014

Kamisan FLP Bandung September-Oktober

Berikut adalah susunan kabinet, eh, susunan pemateri Kamisan FLP Bandung. Tema Kamisan bulan September adalah "Bandung" dan bulan Oktober adalah "muda". Oleh sebab itu, pada tanggal 18 September dan 25 September 2014 dipilihlah karya Dewi Lestari dan Pidi Baiq. Kedua nama tersebut adalah nama penulis asal kota kembang. Karya Dewi Lestari akan dibahas oleh Siti Hamidah dan karya Pidi Baiq akan dibahas Anis Wardhani. Pada bulan Oktober, dipilih karya-karya penulis muda. Di awal bulan Oktober, Dyah S. Anggrahita akan membahas karya Rio Johan. 
Seperti biasa, Kamisan digelar di Selasar Timur Masjid Salman ITB mulai jam 16.00 sampai 18.00 WIB. Acara ini gratis dan terbuka untuk umum. 
Mari melingkar dan berdiskusi bersama! :)





Read More

21 Februari 2014

From Salman with Love

Sore tadi, saya dan kawan saya Dyah Setyowati Anggrahita berencana hadir di Ganesa Film Festival esok (22/2). Sebelum ke tempat acara, kami akan janjian di masjid Salman. Lalu, terbersit dalam pikiran saya, “kemarin saya ke Salman, besok ke Salman, nanti ke Salman lagi”.hehe. Ya, tempat itu sungguh berkesan buat saya. Selain sering saya kunjungi juga karena menghadirkan banyak kenangan.
Tebak berapa lama saya jadi “kuncen” Masjid Salman ITB? Lima tahun! Padahal saya bukan civitas ITB atau tergabung di salah satu unit Salman. Saya, hanya pegiat FLP Bandung (yang memang tertakdir belum punya kesekretariatan dan harus terus betah nongkrong di Salman). Namun bagi saya, waktu lima tahun di Salman adalah waktu-waktu paling romantis yang selalu saya nikmati. Banyak hal yang saya dapatkan seperti keluarga, sahabat, kesempatan, dan tentu saja ilmu. Dalam satu minggu, saya “apel” di Salman sebanyak dua kali. Kamis ketika Kamisan dan Sabtu ketika mentoring. Jika FLP sedang mengadakan kegiatan, Salman tentu jadi tempat berkumpul. Maka, jadwal ngapel di Salman bertambah jadi tiga atau empat kali. Karena begitu sering bertandang ke masjid yang arsiteknya sama dengan arsitek Masjid Al-furqon UPI ini, saya iseng menyebut diri saya sebagai mahasiswa Masjid Salman. Bukan mahasiswa UPI, Unpad atau ITB. :D
Pertemuan Pertama dengan Salman
Saya ingat tanggal itu, 9 oktober lima tahun yang lalu, adalah hari pertama kali saya mendarat di Salman. Sebelumnya, saya yang ingin bergabung dengan FLP Bandung menanyakan tempat biasa FLP mengadakan diskusi. Saat itu, Teh Sri Al hidayati yang memberitahu bahwa Kamisan (rutinan FLP Bandung) diadakan di selasar timur masjid Salman ITB —Oh, ketahuilah, “selasar timur masjid Salman ITB” kelak jadi penunjuk tempat yang paling saya akrabi. Segeralah saya menuju tempat itu sepulang kuliah. Agak sulit menemukan lingkaran FLP Bandung sebab ternyta banyak juga lingkaran di sepanjang selasar. Ada yang rapat, diskusi, dan les. Akhirnya setelah menghubungi Teh Sri, saya mendapatkan lingkaran FLP Bandung. Nah, dari situlah semua bergulir. Semakin sering saya mampir ke Salman, semakin kangen kalau tak ke sana. :D

(Menara Masjid Salman ITB. Gambar ini milik: T’ Sri Al Hidayati)
Salman dan lingkaran paling hangat
Seperti yang diceritakan di atas, dari lingkaran FLP Bandunglah saya mengenal Salman. Atau, Salmanlah yang mengenalkan saya pada FLP Bandung. Atau keduanya? Ah, hubungan yang penuh harmoni. FLP Bandung dan Salman tidak dapat saya pisahkan dalam kisah hidup saya. Keduanya sama penting, keduanya sama indah.
Lingkaran FLP Bandung saya rasa adalah lingkaran paling hangat yang menghuni selasar timur masjid Salman ITB (fasih sekali bukan saya ngajengjrengkeun nama tempat ini?haha). Ketika lingkaran yang lain berkisar antara dua atau tiga orang, pernah lingkaran FLP mencapai dua puluh orang. Bayangkan sebesar apa lingkaran kami di Salman. Lingkaran kami “menyabotase” jalan di selasar. Lalu, sehabis magrib, lingkaran FLP Bandung masih hangat dengan diskusi ringan selepas Kamisan. Bahkan jika sedang menggelar rapat, lingkaran bertahan sampai diusir penjaga masjid. :D
FLP Bandung mewarnai Salman lewat aktivitas sastra dan literasi. Selain Kamisan dan mentoring, FLP Bandung juga sering melingkar di area rumput untuk mentoring puisi. Kami membawa sajak dan mengapresiasinya. Tak jarang, mentor kami kang Adew membawa gitar kesayangannya, “neng Gita”, lalu kami latihan musikalisasi puisi di sebuah tempat duduk di dekat ruang Ustman.
Apapun yang terjadi, lingkaran FLP Bandung telah menjadi lingkaran paling akrab yang saya kenal dan itu terjadi di Salman. :)

(“Suasana Kamisan FLP Bandung”. Sumber: Dokumentasi Kamisan)
Bersama pegiat Salman
Saya tetap mencintai masjid ini beserta seluruh unitnya meski saya (dan FLP Bandung) tidak juga resmi jadi bagian masjid ini. Tapi, lihatlah bagaimana FLP Bandung dan unit-unit di Salman bersinergi. Kami bersaudara dalam kegiatan dan tentu saja dalam Islam. Bahagia rasanya bisa saling mengenal dan berkegiatan bersama. Tak jarang, FLP Bandung dan Salman saling beririsan dengan bermacam cara. Beberapa di antaranya adalah karena pekerjaan, aktivitas, dan pernikahan.
Hubungan FLP Bandung dengan Korsa dibangun karena ada anggota FLP Bandung yang menikah dengan punggawa Korsa. Ada kang Hendra Veejay yang juga jadi bagian dari Salman Film karena beliau juga aktivis film. Terakhir, ada kang Haflah di Salman Reading Corner. Beliau ada di situ karena memang pustakawan di sana.

(FLP Bandung bersama AKSARA Salman ITB saat bincang buku Almh. Nurul F. Huda)
Teh manis dan kopi, Kantin Salman, dan ISTEK.
Inilah serangkaian “penyambung hidup" teristimewa di Salman. Sejak ada teh manis dan kopi gratis di Salman, saya makin betah berada di sana. Sering saya membawa botol minum kosong untuk kemudian diisi kopi atau teh manis di Salman sampai penuh. Ehehe. Itu tak separah cerita salah seorang teman saya yang tanpa sadar membawa pulang cangkir kopi di Salman. Ada lagi, sebelum Kamisan atau mentoring, saya membeli konsumsi di ISTEK. Masih lapar? Perlu makanan berat? Datang saja ke kantin Salman. :D
Ramadhan di Salman
Bagi saya, ini adalah puncak syukur saya karena telah lama beraktivitas di Salman --sebuah masjid, rumah Allah-- yakni I’tikaf di masjid yang sudah sekian lama memberikan banyak cerita buat saya. Maka tahun 2013 lalu, saya mencoba I;tikaf di Salman. Selama ramadhan inilah, saya merasa, Salman lebih syahdu dari biasanya. Makin banyak orang berkegiatan di sini. Oh, iya, duha di Salman adalah waktu yang paling teduh! Damai sekali.


(“I’tikaf di Salman bersama Teh Sri Al Hidayati”. Dokumentasi pribados ^_^)
From Salman with Love
Sampai saat ini, saya masih mengikatkan hati dengan masjid ini. Misalnya, saat saya ada kuliah di Unpad kampus Dipatiukur saya akan menyengaja mampir dulu ke Salman untuk ngopi dan jajan kentang arab karena baru akan masuk kuliah siang harinya. Atau, kalau tugas saya belum selesai, saya akan datang ke Salman lebih pagi lalu numpang daring (online) di sana. Biasanya, teman sekelas saya bertanya, “Dari mana, Rul?”. Saya tentu akan menjawab “Dari Salman, ngopi gratis” :D
Salman sudah menghadirkan banyak cinta selama lima tahun. Alhamdulillah. Saya sangat bersyukur menjadi bagian darinya. Saya juga bersyukur bisa berkegiatan di sana. Saya menganggap, apa yang saya lakukan selama ini di Masjid Salman adalah bentuk usaha memakmurkan masjid. Menjadikan masjid sebagai pusat beragam aktivitas keislaman. :)
Alhamdulillah. Salman memberi saudara, keluarga, ilmu, dan rezeki. Satu lagi hal yang sepertinya sangat mungkin didapatkan melalui perantara masjid Salman: jodoh! #eaa

Alhamdulillah wa syukurillah.. ^___^
Read More

24 Januari 2014

Kangen FLP Jabar

Ini postingan yang tertunda karena ngantuk. hehe. harusnya saya posting jauh-jauh hari. Ini pun saya repost dari catatan saya di tempat lain. Tak apalah, ya :D
----------------------------------------------------------------------------------------~~
Malam ini, saya disergap kangen. Hal ini berawal dari tragedi "salah masuk kelas" di kelas menulis online Milad FLP. Memang, pemberitahuan di awal tidak rinci menyebutkan siapa saja yang boleh masuk di kelas itu. Berhubung saat itu banyak anggota FLP Jabar yang diundang ke kelas online, jadilah kami kira kelas tersebut memang diperuntukkan pula untuk Jabar. Ternyata, malam ini (selasa, 7/1) kelas dibuka untuk FLP di wilayah Sumatera. Walhasil, gerombolan siswa FLP Jabar yang salah masuk itu akhirnya nangkring saja di grup FLP Jabar. Di sanalah kami curhat. "Pantesan tatadi teu aya nu nyarios basa Sunda." ujar Kang Agus. Kelas untuk kami baru dibuka besok (Rabu, 8/1), ternyata. Yaa, Alhamdulillah… kesalahan kami masuk kelas mengakibatkan “bocornya” materi yang akan disampaikan besok. “Sprindik bocor, cuy!” Kang Hade girang. Dan seterusnya, dan seterusnya… Di tengah pembicaraan, Eika memulai perbincangan baru tentang momen silaturahmi wilayah (silwil) yang kami lalui di Kuningan sekira tahun 2012. 

image

Komentar-komentar di bawahnya mulai bercerita tentang kesan-kesan para peserta di silwil itu: tempat menginap yang ternyata bersebelahan dengan kuburan, andong yang tak bisa jalan karena membawa penumpang “overload”, dan nasi goreng “be my love” yang menggegerkan :D

image

Yup! Ingatan saya justru tertuju pada silwil di Pangandaran tahun 2011. Itu momen paling bodor yang saya lalui. Malam itu, di penginapan perempuan, teman saya kaget melihat laba-laba mejeng di langit-langit kamar. Teman-teman sekamar saya yang lain ikut kaget, ya…mereka takut si tuan laba-laba (lah saya? Saya mah bingung melihat teman-teman menjerit dan berlarian.hehe). Alhasil, satu penginapan gempar karena suara ribut dari kamar kami. Saya ingat, saat itu om Hendra Veejay datang menjadi tim pengusir laba-laba. Tapi, saat sampai di TKP dia malah meledek. “Euh, sugan teh sagede Tarantula, Gorila, Anaconda. Pek teh lancah sagede kitu! (maksudnya laba-laba yang, ya..sebenarnya aman-aman saja dan tidak membahayakan, tapi maklum orang takut atuh nya. Hehe)”

image
>>oh iya, nasi goreng "be my love" itu maksudnya nasi goreng yang di atasnya ada permen kiss dengan tulisan "be my love". dikirim dari rombongan pria yang entah siapa kepada entah siapa. pokoknya, tiba-tiba ada di pintu kamar rombongan perempuan. gerrr<<

Perbincangan itu sukses membuat saya kangen teman-teman FLP se-Jabar! Rasanya, timbul kesadaran bahwa kami dipersatukan dalam ikatan persaudaraan. Kami sedang belajar, berorganisasi, dan berjuang bersama. Tidak ada yang terpisah. FLP itu bukan di Bandung saja, melainkan di hampir 11 cabang di Jawa Barat, dunia tak selebar daun kelor. Ya, saya sendiri merasa mendapatkan kekuatan saat mengetahui saya punya teman-teman di Jabar. Teman-teman yang sedang sama-sama meneguhi kecintaannya pada dunia literasi, berkhidmat atas itu. Rasanya, akan timbul energi positif jika dalam suatu kesempatan kami semua bisa bertemu dan kembali menguatkan semangat macam itu (di kehidupan nyata tentu saja, bukan dunia dalam jaringan –baca: online).
“Kangen atuhlaah...kangen...“

image


Baiklah, kelas menulis cerpen online untuk FLP di Jawa Barat akan dimulai Rabu malam. Semoga kami tidak salah masuk kelas lagi. :p. Mari kita lihat apakah kelas itu akan riweuh mengingat karakter Sunda yang suka bercanda?
Di kelas itu, semua anggota se-Jabar berkumpul (dalam arti yang tidak sebenarnya, tentu saja). Semoga hal itu dapat, sedikitnya, mengobati rasa kangen. Sedikit? Tentu, penawar perasaan rindu itu pertemuan fisik. Bukan pertemuan akun FB. Hihi

image
Selamat malam!

*sebagian foto diambil dari grup FLP Jabar, hasil jepretan ciamik Kang Alit :3

Read More

11 September 2013

Tentang "Kamu" #1

Ah, Tuhan. Sesungguhnya aku ingin berjalan bersama. Bergandengan tangan dan saling menguatkan.
Aku tak sesempurna para pecinta itu, rupanya
Namun, Tuhan. Nuraniku bicara. Ada hal yang mesti dilakukan bersama-sama. 
Bersama-Mu saja, barangkali. Aku merasa begitu kuat jika Engkau selalu kutempatkan dalam apapun di hidupku. Tentu saja, Engkau yang memampukan aku menimang amanah ini menjadi cinta yang besar dan membumi.
:bimbinglah aku.



Read More

04 Mei 2012

21 Februari 2012

ROMANTISME KOMUNITAS


 [Essai "Aku dan FLP]

Oleh : Nurul M. Sisilia (FLP Bandung)


Komunitas bukan segalanya, namun segalanya butuh komunitas. Tampaknya itu yang bisa disimpulkan dari beragam efektivitas berkomunitas. Seseorang, pada hakikatnya, tidak bisa lepas dari berhubungan dengan orang lain. Ia adalah makhluk sosial yang memerlukan keberadaan orang lain. Itulah alasan seseorang butuh berkelompok, berkomunitas misalnya.
Seseorang yang memiliki ketertarikan dengan dunia literasi atau sastra perlu suntikan energi yang memadai agar mampu mengoptimalkan potensinya. Dalam hal ini, komunitas kepenulisan merupakan wadah yang dirasa tepat. Saya ingat ucapan Irfan Hidayatullah dalam sebuah pertemuan. Menurutnya, komunitas adalah tempat untuk saling transfer energi: ilmu dan semangat. Saya setuju, sebab di komunitas seperti inilah motivasi biasanya bermunculan dengan liar. Kita akan merasa termotivasi untuk membaca dan menulis saat bertemu dengan orang-orang yang sedang begitu akrab dengan membaca dan menulis. Kita pun akan begitu bersemangat untuk menerbitkan sebuah karya ke media massa saat bertemu dengan orang yang telah mencicipi manisnya menerbitkan karya. Menurut saya, inilah yang disebut atmosfer kompetisi yang positif. FLP pun hadir sebagai komunitas literasi yang menjanjikan segenap fungsi berkomunitas.
Bandung dan laju waktu di dalamnya kemudian mempertemukan saya dengan  FLP Bandung. Di sana, saya makin akrab mencicipi indahnya belajar bersama. Kurun waktu tiga tahun di sana rasanya masih terlampau muda untuk menerjemahkan forum ini. Saya masih melangkah, masih menapak. Belum menjejak. Tapi tak mengapa, bukan? Dalam kurun wakttu tersebut saya berani mengartikan FLP ternyata lebih dari sekadar komunitas: bagi saya, pun hidup saya.  Menurut saya, FLP menjanjikan segenap fungsi berkomunitas dalam bingkai romantisme.

Romantisme FLP adalah "Lingkaran" yang Ideal
Bercita-cita mengakrabi sastra sempat membuat saya kelimpunngn mencari komunitas. Paradigma bahwa sastra dibangun dari kumpulan orang-orang Bohemian membuat saya ciut dan kalut. Ah, ternyata tidak! Setelah pencarian yang syahdu, saya seakan menemukan oase. Dosen sastra saya, Nenden Lilis, memberikan nomor kontak FLP Bandung  (nomor Sri Al  Hidayati  dan Wildan Nugraha) di akhir sebuah perkuliahan. Dari sanalah, semua kisah bermula dan bergulir bagai jalan keluar yang melegakan. Akhirnya saya bertemu dengan lingkaran itu di selasar timur masjid Salman ITB.
Beriringan dengan lingkaran ini, saya melihat FLP Bandung  tumbuh bukan sekadar dengan membaca dan mennulis melainkan juga sastra. Hal itu  membuat saya  menemukan sebuah Aha! Moment, “Inilah diri saya!”. Saya menemukan hubungan yang harmonis antara saya dan sastra dari “Teater Embun" rintisan Topik Mulyana, musikalisasi puisi “Kapak Ibrahim” rintisan Adew Habtsa dkk, dan pesona filmografi dari Hendra Veejay. Semua ranting sastra melengkapi kerimbunan FLP.  jadilah FLP ibarat pohon yang rindang dan meneduhkan. Kerimbunan  inilah yang  kemudiaan saya istilahkan sebagai sesuatu yang ideal. Ditambah lagi, nilai humanis dan relijius menjadi akar yang menutrisi semua organ. Inilah yang kemudian membuatnya kokoh dan teguh.
FLP seakan begitu ideal dengan sastra dan literasinya. Oleh sebab itulah, saya merasa mantap dengan lingkaran ini. Mantap pula mengukuhkan cita-cita sebagai  muslim sastrawan. Kemudian FLP, bagi saya, menjadi sempurna dan menyempurnakan saya.

Romantisme FLP  adalah Rona
Seni rupa mengartikan romantisme sebagai sebuah aliran yang ditandai adanya  kontras cahaya yang tegas, kaya dengan warna dan komposisi yang hidup. Agaknya, FLP pun memberikan hal yang serupa. Orang-orang dalam komunitas ini terdiri atas individu yang beragam profesi, latar belakang, dan keilmuan. Keberagaman ini adalah warna yang memesona. Di sini tidak ada dominasi warna, semua berbaur dan menjadi pelangi. Artinya, semua orang di lingkaran ini adalah istimewa dengan segala potensi dan kesederhanaannya.  
Dari keberagaman ini pulalah timbul budaya berbagi ilmu. Masing-masing individu di sini memiliki “guru yang banyak”. Maksudnya, sering melakukan diskusi sederhana yang di dalamnya terdapat proses saling serap ilmu, motivasi dan inspirasi. Belajar dan mengajar, dilatih dan melatih, dibina dan membina. Hal ini yang membuat seseorang bisa bertahan dalam kelompok. Pun saya.

Romantisme FLP adalah Ekspresi Cinta dan Kasih Sayang
FLP kemudian menjadi semacam ungkapan yang begitu ekspresif, bahkan impresif tentang makna kebersamaan. Saya menemukan sahabat-sahabat yang begitu tulus. Ikatan antar individunya pun kini menjadi lebih dekat dari sekadar sahabat: keluarga. Keluarga literasi.
Kamisan adalah ruang ekspresi cinta dalam bentuk bebeda, menurut saya. Kamisan yang digelar sebagai kegiatan rutin seminggu sekali di kala senja ini seakan menjadi tempat rehat paling bersahabat dan paling hangat setelah beragam kepenatan mendesak-memabukkan. Di inilah, keluarga literasi ini bertemu dan bertukar kebahagiaan. Dalam kamisan, saya bertemu dengan orang-orang yang membaca. Mereka yang membaca ini selalu mampu menularkan energi bacanya. Tak usah rumit berteori, mereka yang membaca ternyata telah lebih paham bagaimana seharusnya teori itu hidup dalam kehidupan! Begitulah kesannya.
Kamisan pun mempertemukan saya dengan orang-orang yang begitu dermawan dan tak segan membagi ilmu. Atmosfer ini tentu berbeda dengan bangku kuliah yang begitu teoretis bagi saya –walau samaa-sama menyoal litersi dan sastra. Inilah ekspresi cinta yang melankolis.
Selasar Salman ITB sore hari mendadak dipenuhi sastra setiap kali kamis menjejak. Bahkan selepas kamisan, selasar  Salman masih dihangatkan perbincangan akrab tentang banyak hal. Keluarga literasi ini menghangatkan petang dengan perbincangan seputar sastra, literasi, dan petuah kehidupan.  Kamisan pun menjadi jeda yang produkif.
Entahlah, saya merasa selalu berjodoh dengan kamisan. Tidak ada halangan berarti yang merintangi saya hadir di kamisan misalnya jadwal kuliah atau jadwal mengajar. Sejak menyandingkan diri dengan FLP hingga saat ini, waktu seakan selalu mempertemukan saya dengan kamisan. Ini bukan kebetulan, saya yakin.

Saling Bertemu
Menyetiai FLP kemudian menjadi kebutuhan, bukan tuntutan atau keharusan.  Ya, lepas dari jabatan sebagai 'pupuhu’ Pengaderan Pengembangan Sumber Daya Manusia (PPSDM) atau apapun namanya, saya merasa bahwa menyeriusi FLP adalah sebuah keseharian atau kewajaraan. Ibarat napas yang aktivitasnya tak mesti ditentukan, ia berjalan wajar dan lancar tanpa sadar.
Entahlah, saya lalu  merasa bahwa bukan saya yang menemukan FLP, melainkan FLP yang berhasil menemukan saya. Atau lebih dari itu! Mungkin kami saling bertemu. Saya menemukan FLP dan FLP mempertemukan saya dengan diri saya.
Pada sebuah kesadaran tertentu, saya mengibaratkan relasi antara saya-FLP bukan lagi tersekat "dan", sebuah makna sertaan yang setara, melainkan "adalah", makna representif dan definitif. Artinya, FLP telah dengan syahdu menjadi bagian dari diri saya. Ya, hal itu terjadi mungkin karena di lingkaran inilah Rabithah  menjadi begitu gema, begitu mengikat, dan begitu dekat.
Syukur tiada henti terujar begitu khidmat sebab Sang Mahacinta memperkenankan saya menjadi bagian dari salah satu sisi lingkaran ini -meminjam istilah Thareq Barasabha.
“Aku bersyukur dan berterima kasih sebab Engkau telah mempertemukanku dengan lingkaran ini.” Pada akhirnya, pernyataan itulah yang mampu saya ujarkan.
Alhamdulillah wa syukurillah.


(Bandung, Februari 2012)
Read More

12 Desember 2011

Mengenai Saya

Foto saya
Perkenalkan! Saya Nurul Maria Sisilia. Seorang pengajar, penulis, dan pekerja sosial. Saya senang menulis hal menarik yang terjadi di kehidupan sehari-hari. Mari berbincang!

Terjemahkan (Translate)

Rekan

Diberdayakan oleh Blogger.