Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

28 September 2013

Di Ujung Dago

Sunyi mengalunkan lagu
Pun segala jemu. Semilir angin mengurapi rabu
Ketika langkahku kehilangan tuju
Di antara pohon-pohon dan udara beku

Kabut mempersempit ruang
Memadatkan waktu. Kenapa aku
Kenapa masih menunggu
Kenapa masih percaya padamu

Sedang ruang
Tak mengenal waktu
Sedang waktu tak mengenal ruang
Ruang dan waktu tak mengenal rindu

 (Acep Zamzam Noor)

=======================================================================
Sajak di atas adalah salah satu sajak Acep Zamzam Noor yang terdapat dalam kumpulan puisi berjudul Tulisan pada Tembok.
Rupanya Dago begitu sunyi dalam sajak ini. Apakah penantian dalam sajak ini selaras dengan arti "dago" dalam bahasa Sunda yang berarti "tunggu" (dalam bahasa Sunda: "antos", "anti". Diantos, dianti-anti)?
Agaknya bisa diartikan demikian. :)
Read More

18 September 2013

Berjaga Padamukah

Berjaga padamukah lampu-lampu ini, cintaku
yang memandang tak teduh lagi padamu
Gedung-gedung memutih memanjang
membisu menghilang dari sajakku

Tapi kita masih bisa mencinta, jangan menangis
Tapi kita masih bisa menunggu. Raja-raja akan lewat
dan zaman-zaman akan lewat
Sementara kita tegak menghancur 1000 kiamat


(Goenawan Mohammad, 1963)
Read More

13 September 2013

Perpisahan

Kau meninggalkanku dengan rambut
Yang terbungkus kabut
Langkahmu kunangkunang
Diantara kegelapan yang mengepung malam
Aku pun melepasmu tanpa kepak elang
Tanpa lolongan anjing di kejauhan


(Acep Zamzam Noor, 2003)



------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Saat membaca sajak dan mendengarkan musikalisasinya, teman-teman akan merasakan perpisahan yang hening dan sunyi. Saya, pribadi, meyakini bahwa hidup itu penuh paradoks. Hal yang kosong sejatinya penuh, hal yang diam sejatinya gaduh. Oleh sebab itu, hening pun adalah riuh. Perpisahan yang hening dan sunyi --yang ditawarkan penyair ini-- sejatinya perpisahan yang paling memilukan. 
Silakan mengapresiasi!
Read More

09 Agustus 2013

Amsal Penyair



pencarian ini tak akan pernah sampai
hingga waktunya nanti ku temukan makna cinta
perjalanan ini tak akan pernah sampai
hingga waktunya nanti ku dapati arti pulang

Tuhan bimbinglah langkahku
Tuhan jagalah jiwaku
Tuhan terimalah hadirku
Tuhan sambutlah pulangku

(Rudi Aliruda)


Read More

22 Juli 2013

#Dedicated

Saya mengapresiasi puisi yang ditujukan untuk saya ini. Sepertinya terinspirasi dari sebuah momen tanggal 30 Juni atau karena sang penulis paham betul kebiasaan "dia" berkendara dengan kereta. hehe
Apapun itu, terima kasih banyak! :)

DIA

Dia
Terus berlari mengejar mimpi
Dalam goresan pena
Tak lagi peduli
Akan onak dan duri

Dia
Pun selalu berlari mengejar jadwal kereta
Tapi itu semua
Laiknya mengejar cita-cita
Yang terpatri dalam diri

Dia
Yang akan memberi banyak inspirasi
Layaknya hujan harapan
Pada kami semua

Dia
Yang terpilih
Untuk menjadi
Pemimpin kami

Dia
Tak bisa berdiri sendiri
Karena layaknya pena
Yang tak bisa berdiri tanpa kertas
Membutuhkan kami di sini

Dia
Yang mencoba mengerahkan upaya
Untuk bisa merubah kami
Menjadi lebih baik

Dia
Adalah sosok yang bersahaja
Yang siap menjadi inspirasi
Untuk kami semua
Di sini

Dia
Adalah Nurul Maria Sisilia



Bandung, 1 Juli 2013

- Nuhun, Bos Agus Budi Santoso!
Read More

11 September 2012

Kereta*


1


Sendiri di Stasiun Tugu,
entah siapa yang ia tunggu
Orang-orang datang dan lalu,
ia cuma termangu
Sepasang orang muda berpelukan
(sebelum pisah) seolah memeluk harapan
Ia mendesis,
serasa mengecap dusta yang manis
Kapankah benih kenangan pertama kali tumbuh,
kenapa ingatan begitu rapuh?
Cinta mungkin sempurna,
tapi asmara sering merana
Ia tatap rel menjauh dan lenyap di dalam gelap
: di mana ujung perjalanan, kapan akhir penantian?
Lengking peluit, roda + roda besi berderit,
tepat ketika jauh di hulu hatinya terasa sisa sakit

2

Andai akulah gerbong kosong itu,
akan kubawa kau dalam seluruh perjalananku
Di antara orang berlalang-lalu,
ada masinis dan para portir
Di antara kenanganku denganmu,
ada yang berpangkal manis berujung getir
Cahaya biru berkelebat dalam gelap,
kunang-kunang di gerumbul malam
Serupa harapanku padamu yang lindap,
tinggal kenang timbul-tenggelam
Dua garis rel itu, seperti kau dan aku,
hanya bersama tapi tak bertemu
Bagai balok-balok bantalan tangan kita bertautan,
terlalu berat menahan beban
Di persimpangan kau akan bertemu garis lain,
begitu pula aku
Kau akan jadi kemarin,
kukenang sebagai pengantar esokku
Mungkin kita hanya penumpang,
duduk berdampingan tapi tak berbincang,
dalam gerbong yang beringsut
ke perhentian berikut
Mungkin kau akan tertidur dan bermimpi tentang bukan aku,
sedang aku terus melantur mencari mata air rindu
Tidak, aku tahu, tak ada kereta menjelang mata air
Mungkin kau petualang yang (semoga tak) menganggapku tempat parkir
Kita berjalan dalam kereta berjalan
Kereta melaju dalam waktu melaju
Kau-aku tak saling tuju
Kau-aku selisipan dalam rindu
Jadilah masinis bagi kereta waktumu,
menembus padang lembah gulita
Tak perlu tangis jika kita sua suatu waktu,
sebab segalanya sudah beda
Aku tak tahu kapan keretaku akan letih,
tapi aku tahu dalam buku harianku kau tak lebih dari sebaris kalimat sedih



*Puisi Sitok favorit saya. ^_^.
diambil dari sini
Read More

07 Juli 2012

KESEDIHAN INI*





aku merasakan kesedihan ini
seperti mahoni yang tumbang
di kesenyapan hutan. sedang tanah
tak lagi basah oleh hujan

di dahannya yang rapuh itu
kunangkunang mabuk menghisap anggur
dan kenangan, berguguran
bagai dedaun ditiup malam

sunyi tidak akan berbuah di lahan ini
karena air mata telah membusukan
setiap bunga yang mulai merekah

lalu rindu pun usai
dan cinta hanyalah.  kelebatan bayangbayang
bulan di ujung gang

ah, bagaimana aku akan merelakanmu
dirampas waktu. sedang matamu 
adalah satusatunya kanvasku
tempat aku menulis dan melukis kematianku

*) puisi karya: Lian Kagura, 2009

Read More

05 Mei 2012

Mencintaimu, aku jemu


:jam 

dengan teramat sangat aku jemu pada gaduhmu,
pada keluhmu, pada lajumu yang melulu begitu.
Inilah dosa teramat siksa yang kuderita
sejak pertama aku tercipta jadi jarum jam yang terpenjara,
bersamamu.

Aku jemu pada segalamu
jengah menyertai detakmu, kerapuhanmu, pun ketiadaan yang
menyeringai di rupa-rupa angkamu,
hampa dan kelabu.
Sungguh bosan dengan selalu dan senantiasamu,
dengan rutin dan tetapmu,

Aku jenuh membersamaimu
menjadi mulut terbuka yang dipaksa menelan kisahkisah purba,
yang tak pernah kau ubah urutan katanya
sama, tiada berbeda.

Mencintaimu, aku jemu
dengan teramat sangat aku jemu pada caramu perlakukan aku.
Maaf, maafkan
Nyatanya akulah cinta paling durhaka yang akan selalu mengiringimu.


(2011)


Read More

selepas hujan






Ada kisah yang masih menggenang di tepi jalan,
selepas hujan menggenapi musim yang gemetaran
Aku pun menjadi gelisah selembar daun
yang jatuh dan
membuyarkan bayangan langit di atas air

Kau selalu terhenti pada tengah cerita
sebelum tuntas kusimak seluruhnya,
Aku  harus selalu resah dan bertanya
pada wangi tanah basah yang ditinggalkan gerimis

Ada kisah yang masih  memantul  di ranting-ranting kuyup
saat angin dingin berhembus tipis
aku pun menjadi gigil batang-batang cemara yang
beku dibalut kabut

Kisahmu belum usai dan selesai saat kau
tiba-tiba menjelma diam dalam  rahasia
Maka aku pun harus selalu bimbang pada mendung
yang masih mengabu di atas kepalaku

Kau tak berniat menyelesaikannya
menjadi bianglala
Meskipun  hujan dan badai telah selesai kutanam
di rimbun pepohonan

(Bandung, 2012)
Read More

15 April 2012

Telinga


: Dhatu

Suaramu   mengajariku cara merimbunkan daun
 telinga agar  sudi mendengar dan menyetiai  suara-suara
Daun telingaku telah lama layu
dan enggan menyanding bunga-bunga,
 mencium embun, dan memeluk
pendar cahaya

Musim belum kemarau, Dhatu
Suaramu mesti kujadikan gerimis
 yang menyembuhkan rapuh batang-batang lusuh
pohon, dan semak
Serta menghidupkan kembali dedaun telinga
yang pura-pura tuli
 supaya tegak dan mampu menyimak kata-kata

(2012)

Read More

21 Maret 2012

Kita Bertemu



 

"Kita mesti bertemu lalu
menyelesaikan sulaman kata
 yang diputus jarum waktu.

Gumaman-gumaman kita dahulu menjelma kabut
yang kalut ditingkahi gigil hujan
Sayup-sayup rindu itu lalu menjadi
sesuara yang membentur dahan-dahan
 dan rusuk hutan
Kita pun menjelma bayangan
yang diamdiam mencari cahaya di tengah lebat rimba raya

Itulah mengapa kita mesti bertemu
 lalu bertukar tangis di rimbun daun
atau sekadar memintal air mata menjadi sajak
 yang tak putus direntang jarak
-digaduhi lolongan serigala yang mengaburkan

 percaya"

semoga.


(Priangan, 2012)
Read More

11 Maret 2012

EPILOG


Mungkin seperti inilah akhirnya, Kawan
Kita berpisah di ujung senja yang muram
saat bianglala tak lagi
meneduhi hujan.
Bayangmu pun lalu memanjang
di bawah pendar lampu jalan
Meninggalkan aku yang memaku diri
menyalami jarak

Perlahan kuamini kepergianmu dengan suka cita
sebagai  awal perjumpaan yang kekal
di suatu ketika
Meski kekisah yang kita lewati
mesti memuarakanku di kedukaan
yang hening dan hampa
-Lalu netas jadi air mata

Kawan,
Gerimis mulai membasahi jejakmu
dan akhirnya berhasil membuat aku menjadi
seseorang yang paling teguh
 merindui jabat tanganmu

(Bandung, 2012)



Read More

20 Februari 2012

KUPU-KUPU DI DALAM BUKU (TAUFIQ ISMAIL)







Ketika duduk di setasiun bis, di gerbong kereta api, di ruang tunggu 
praktek dokter anak, di balai desa, kulihat orang-orang di 
sekitarku duduk membaca buku, dan aku bertanya di negeri 
mana gerangan aku sekarang, 

Ketika berjalan sepanjang gang antara rak-rak panjang, di perpustakaan 
yang mengandung ratusan ribu buku dan cahaya lampunya 
terang-benderang, kulihat anak-anak muda  dan anak-anak tua 
sibuk membaca dan menuliskan catatan, dan aku bertanya di 
negeri mana gerangan aku sekarang, 

Ketika bertandang di sebuah toko, warna-warni produk yang dipajang 
terbentang,  orang-orang memborong itu barang dan mereka 
berdiri beraturan di depan tempat pembayaran, dan aku 
bertanya  di toko buku negeri mana gerangan aku sekarang,  

Ketika singgah di sebuah rumah, kulihat ada anak kecil bertanya 
tentang kupu-kupu pada mamanya, dan mamanya tak bisa 
menjawab keingin-tahuan puterinya, kemudian  katanya, 
“tunggu mama buka ensiklopedia dulu, yang tahu tentang 
kupu-kupu”, dan aku bertanya di rumah negeri mana 
gerangan aku sekarang,  

Agaknya inilah yang kita rindukan bersama, di setasiun bis dan ruang 
tunggu kereta     api negeri ini buku dibaca, di perpustakaan 
perguruan, kota dan desa buku dibaca, di tempat  penjualan 
buku laris dibeli, dan ensiklopedia yang terpajang di ruang 
tamu tidak berselimut debu karena memang dibaca.


1996





Read More

04 Februari 2012

Sembilan Saran Sapardi: Menulis Sajak Liris


 


BUTIR-BUTIR berikut ini disarikan dari tulisan berjudul "Keremang-remangan Suatu Gaya", yaitu sebuah ulasan Sapardi Djoko Damono atas sajak Abdul Hadi WM. Saya kira tulisan itu adalah sebuah petunjuk yang sangat jelas dan bagus bagi penyair yang hendak menulis sajak-sajak lirik yang baik. Saya tak menambahkan penjelasan, karena menurut saya apa yang dipaparkan beliau sudah amat jelasnya.

1. Sebuah sajak yang buruk biasanya berusaha "meyakinkan" pembacanya dan dengan demikian memaksanya saja untuk mendengar dengan pasif.

2. Perasaan yang paling khas dalam arti: yang paling banyak melibatkan manusia dari zaman ke zaman, adalah bahan terbaik untuk sajak lirik.

3. Penyair harus menjelmakan perasaan yang klise itu sebagai bahan sajaknya --- misalnya cinta --- dengan segar, menjadi sajak yang segar dengan ungkapan yang tidak klise, tetapi harus unik dan personal.

4. Untuk menuliskan sajak lirik yang baik, penyair harus cermat mengamati dan mencatat perasaan-perasaan sendiri dan peristiwa-peristiwa di alam sekitarnya.

5. Dua elemen penting dalam sajak lirik adalah menyatakan perasaan yang samar-samar dan dengan cara yang sederhana menyatukannya dengan alam sekitar.

6. Kesamar-samaran itu unik, dan dia akan menjadi tidak unik lagi, dan berhenti sebagai puisi - kalau ia digamblangkan.

7. Penyair harus sadar bahwa sebenarnya perasaan yang samar-samar itu tidak komunikatif, dan penyair harus mengkomunikasikannya, dengan bahasa, alat komunikasi.

8. Ujian bagi penyair lirik: ia mungkin tergelincir ke dalam sajak-sajak gelap, sajak-sajak yang sama sekali kehilangan kontak dengan pembaca atau ia menghasilkan sajak yang habis sekali baca bahkan tidak jarang sudah habis sebelum dibaca sampai terakhir.

9. Penyair harus meletakkan sajak liriknya tepat pada garis yang memisahkan kedua kemungkinan tersebut di atas. Itulah garis yang harus dicari, ditemukan dan dicapai oleh penyair lirik yang baik.

* Disarikan dari buku "Sihir Rendra: Permainan Makna", terbitan Pustaka Firdaus, Jakarta, 1999. (Dari Note Hasan Aspahani)





Read More

11 Januari 2012

Sajak Pertemuan Mahasiswa (Pembacaan puisi oleh W.S Rendra)





Matahari terbit pagi ini
Mencium bau kencing orok di kaki langit
Melihat kali coklat menjalar ke lautan
Dan mendengar dengung lebah di dalam hutan

Lalu kini ia dua penggalah tingginya
Dan ia menjadi saksi kita berkumpul di sini
Memeriksa keadaan

Kita bertanya:
Kenapa 'maksud baik' tidak selalu berguna?
Kenapa 'maksud baik' dan maksud baik bisa berlaga?

Read More

Jenis-Jenis Puisi




Berikut ini adalah pemaparan mengenai puisi yang dikategorikan ke dalam beberapa jenis. Penting rasanya mengetahui macam-macam puisi. Selain mengenal puisi lebih dekat, mengetahui jenis puisi menjadikan kita akrab dengannya. Begitu, saya kira. :)
Simaklah! 



1. Puisi Naratif, Lirik, dan Deskriptif
Klasifikasi puisi ini berdasarkan cara penyair mengungkapkan isi atau gagasan yang hendak disampaikan.

a. Puisi Naratif
Puisi naratif mengungkapkan cerita atau penjelasan penyair. Ada puisi naratif yang sederhana, ada yang sugestif, dan ada yang kompleks. Puisi-puisi naratif, misalnya: epik, romansa, balada, dan syair.

Balada adalah puisi yang bercerita tentang orang-orang perkasa, tokoh pujaan, atau orang-orang yang menjadi pusat perhatian. Rendra banyak sekali menulis balada tentang orang-orang tersisih, yang oleh penyairnya disebut "Orang-orang Tercinta". Kumpulan baladanya yaitu, Balada Orang-orang Tercinta dan Blues Untuk Bonnie.


WS Rendra


Romansa adalah jenis puisi cerita yang menggunakan bahasa romantic berisi kisah percintaan yang berhubungan dengan ksatria, dengan diselingi perkelahian dan petualangan yang menambah percintaan mereka lebih mempesonakan. Rendra juga banyak menulis romansa. Salah satu bagian dalam "Empat Kumpulan Sajak"nya berjudul "Romansa" dan berisi jenis puisi romansa, yakni kisah percintaan sebelum Rendra menikah. Kirdjomuljo menulis romansa yang berisi kisah petualangan dengan judul “Romance Perjalanan". Kisah cinta ini dapat huga berarti cinta tanah kelahiran seperti puisi-puisi Ramadhan K.H. Priangan “Si Jelita”. Priode 1953-1961 banyak ditulis jenis romansa ini.
Read More

26 Mei 2011

16 September 2010

simfoni 1



Malam ini rinduku melagu

Pada simfoni tentang namamu.

Padahal sama sekali tidak

Sebelumnya aku tak pernah melabuhkan dawaiku di dirimu

Namun langkah telah terhenti dan jejak telah tertuju

Padamu

Mungkin juga pada ragu,


Aku buta

Semoga kau mau menerima

Tak ada yang aku punya selain sekepal senja yang kugenggam sedari petang

Tak ada yang kubisa selain nada yang kueja hingga mengerang


Aku luka

Namun pintumu selalu terbuka

Bahkan saat aku lupa bagaimana mengetuknya

Akulah yang kerdil terjauhkan keasingan

menyerah pada kehilangan.


Malam ini rinduku melagu

Pada simfoni tentang namamu.

Padahal sama sekali tidak

Sebelumnya aku tak pernah melabuhkan dawaiku di dirimu


(September, 2010)

Read More

12 April 2010

Membaca Malam

Membaca malam diam-diam

Sepertiganya kueja dalam tahmid yang menghamba


Ternyata padamu semua bermuara

Bintang, bulan, jagat raya

Hewan, insan,dan dunia


Juga cinta




08 April 2010

22:43




Read More

17 Februari 2010

Perbincangan


“Ah, jiwa

Mengapa kau renta terlalu muda?

rapuh dihembus bisik angin

roboh di belai ujar kemarin”

nampak tiada akan bisa (atau tak akan pernah bisa) ia berdiri dalam jatuhnya

atau sekedar tegar meski sebentar

terlalu muluk ia definisikan hidup

dengan kamus kebesaran tatanan perkiraan

sedang kata-kata yang terbaca tersusun terbata

berlomba-lomba dengan airmata batinnya

Ia telah lelah dengan bermacam kesimpulan

yang menggaung tanpa iba di kala senja

Hanya kata

Sedang mayapada sejatinya sajikan wacana

“Ah, jiwa

bagaimana esok kan kita jelang bersama

jika malam ini kita masih bercengkrama

perihal cara menerima suratan dunia?”

26 November 2009

Read More

Mengenai Saya

Foto saya
Perkenalkan! Saya Nurul Maria Sisilia. Seorang pengajar, penulis, dan pekerja sosial. Saya senang menulis hal menarik yang terjadi di kehidupan sehari-hari. Mari berbincang!

Terjemahkan (Translate)

Rekan

Diberdayakan oleh Blogger.