17 September 2015

Oleh-Oleh dari Pameran Potret Keluarga

Share it Please
Katalog Pameran Potret Keluarga 
Bandung telah menjadi kota yang dinamis sejak dulu. Demikian kesan saya saat kembali membuka catatan mengenai kunjungan saya ke pameran potret keluarga di Rumah Seni Ropih, Jl. Braga no. 43 Bandung, September 2014 lalu. Pameran tersebut memamerkan koleksi foto (yang masih ada dan kondisinya cukup baik) dari keluarga-keluarga besar di Bandung pada tahun 1920-an sampai tahun 1970-an. Baiklah, sedikit saya kisahkan mengenai pengalaman saya mengunjungi pameran tersebut.

Terletak tepat di dekat Sumber Hidangan dan Kopi Oey di jalan legendaris Braga, Rumah Seni Ropih mudah sekali dikenali. Sejak tanggal 3 sampai 14 September 2014 tempat ini ramai oleh pengunjung pameran foto yang digelar di sana. Pameran foto yang bertajuk "Memahami Bandung melalui Pameran Potret Keluarga; Upaya Memahami Kota Tercinta melalui Para Penghuninya" ini memajang foto keluarga Dewi Sartika, keluarga Harry Roesli, keluaga M. Fadli, keluarga Sony Soeng, keluarga Soekarno bersama Inggit Garnasih, dan lain sebagainya.  Menurut penjelasan dari pemandu pameran, pameran yang akan digelar beberapa seri itu bertujuan agar pengunjung dapat mempelajari sejarah Bandung lewat rupa-rupa penghuninya. Memang benar, dari deretan foto-foto itu, saya mempelajari Bandung sebagai sebuah kota yang berkembang dinamis

Saat berada di pameran, saya menangkap banyak cerita yang tersimpan di balik foto-foto tersebut. Foto keluarga di depan Rumah Makan Madrawi, misalnya. Foto itu dambil ketika tempat yang menyajikan kuliner khas Madura itu berdiri. Rumah Makan Madrawi adalah rumah makan yang menjual makanan khas Madura pertama di kota kembang. Barangkali, terang Teh Lely Mei pemandu yang cantik di pameran tersebut, berkat rumah makan inilah kemudian berdiri pula rumah makan khas Madura lainnya di kota kembang. Sayangnya, saat ini, rumah makan yang terletak di Jl. Dalem kaum tersebut telah beralih fungsi menjadi kantor satpol PP. Selain itu, tampak pula foto keluarga Sony Soeng pendiri Toko Yu di Jalan Hasanuddin yang berdiri tahun 1947. Awalnya, toko tersebut menyajikan kudapan orang Belanda seperti roti dan keju. Seiring perkembangan zaman, toko ini pun menyajikan menu yang beragam. Saat ini, toko tersebut telah memiliki kafe. Dari penjelasan mengenai dua foto tadi saya menangkap daya tarik Bandung yang telah tumbuh sedari dulu. Bandung ibarat magnet yang menarik beragam manusia dari segala penjuru Indonesia, segala etnis, dan suku bangsa untuk datang kemudian hidup dan menghidupkan Parijs van Java. 

Foto keluarga pendiri rumah makan khas Madura. Foto ini diambil dari situs indonesiakreatif.net  yang juga meliput acara ini sebab saya tak sempat mengabadikan foto lewat ponsel sendiri. Ponsel saya wafat ketika itu :(
Di ujung area pameran, terpampang foto keluarga besar Dewi Sartika. Beliau adalah pahlawan nasional yang memperjuangkan pendidikan bagi perempuan. Dalam foto, pendiri sekolah bernama Sakola Istri ini duduk didampingi para pengajar sekolah tersebut. Tak jauh dari foto Dewi Sartika terdapat foto legendaris yang mengabadikan gambar Bung Karno bersama sang isteri Inggit Garnasih. Ya, foto itu diambil saat Soekarno menetap di Bandung sambil menempuh studi di Technische Hoogeschool te Bandoeng atau saat ini dikenal dengan Institut Teknologi Bandung (ITB). Dua foto ini menyiratkan Bandung sebagai kota perjuangan. Bandung saat itu turut andil menjadi kota tempat para negarawan meraih kemerdekaan. Bagi saya, perjuangan Dewi Sartika dalam pendidikan di Bandung dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk maju melalui pendidikan. Di samping itu, perjuangan Soekarno yang didampingi Inggit Garnasih dari Bandung dapat menginspirasi masyarakat untuk menebar semangat kebangsaan.

Foto Dewi Sartika bersama para pengajar Sakola Istri. Foto dari indonesiakreatif.net (duh, Gusti, beri daku hape baru #eh) 

Hal unik yang iseng-iseng saya amati dari sejumlah foto keluarga  di ruang bawah tanah galeri itu adalah "komposisi" keluarga. Sebutlah demikian. Hampir semua foto keluarga yang dipampang di sana menampilkan sosok ayah, ibu, dan tujuh orang anak. Ya, tujuh orang anak berjajar seperti anak tangga dari anak sulung yang remaja hingga bungsu yang masih balita. Saya menerka-nerka waktu yang keluarga tersebut tunggu untuk memenuhi komposisi keluarga-dengan-tujuh-orang-anak sebelum berfoto di sebuah studio. Lebih dari itu, saya teringat ungkapan "banyak anak, banyak rezeki". Rupanya, ungkapan tersebut begitu lekat dalam foto masa 1920-an hingga 1970-an.

Hari ini, Bandung terus berbenah menjadi kota yang ramah. Lewat belajar sejarah Bandung, semoga segenap penghuni kota tersebut dapat membangun kota kembang menjadi lebih baik. Konon, pameran foto selanjutnya akan mengambil tema pergerakan, lingkungna hidup, dan seni budaya. Saya berharap, lewat pameran foto selanjutnya, pengunjung dapat lebih memahami dan mencintai kotanya serta menginspirasi mereka untuk terus berkarya.

Fotonya buram, ya? Hehe. Tapi, ini adalah foto yang mengabadikan (dan membuktikan) perjalanan saya ke pameran sebelum ponsel saya mati *yeah

2 komentar:

Pia Zakiyah mengatakan...

24 tahun tinggal di Bandung belum sekalipun aku datang ke pameran kayak gini ahhh :(
jadi pengen pulang deh hehehe

salam kenal mbak
www.piazakiyah.com

nurul maria sisilia mengatakan...

Pulang...pulang...pulang! Hehe. Pameran ini rencananya digelar beberapa seri. Semoga pas pulang, pas bisa ikut ke pameran ya :)

Unordered List