05 September 2012

Lokalitas & Tradisionalitas*

Share it Please


:Benny Arnas

SUNGGUH menyedihkan, ketika membincangkan lokalitas dalam sastra, maka yang serta-merta terbersit dalam pikiran adalah karya yang bermuatan unsur kedaerahan; nama tempat, dialek, tradisi, mitos, hikayat, sejarah, dan kearifan lokal. Lho?Bukankah hal-hal tersebut menjadi bahan utama sebuah karya yang mengusung lokalitas? Pun kalau salah, memangnya lokalitas dalam sastra itu apa?


Sejatinya, muatan kedaerahan sangatlah tidak salah untuk dikaitkan atau bahkan dimasukkan ke dalam kotak ‘lokalitas’. Hanya saja, semua itu tak dapat langsung dijadikan sebagai penanda tunggal untuk definisi lokalitas. Muatan kedaerahan cenderung mengerucut pada sebuah lingkup yang bernama tradisionalitas. Tradisionalitas inilah yang kerap salah dipersepsikan. Tradisionalitas kerap dianggap sama dengan lokalitas. Padahal tradisionalitas hanya bagian atau varian dari lokalitas.


Melanie Budianta memberi batasan ‘lokalitas’ sebagai sesuatu yang partikular (yang tertentu). Agus R. Sarjono melihat ‘lokalitas’ sebagai penajaman perspektif. Lebih jauh ia menyatakan bahwa menjadi lokal, tak lain dan tak bukan, menjadi pribumi untuk tema-tema yang diangkat. Raudal Tanjung Banua menyatakan bahwa ‘lokalitas’ adalah ‘iman’ estetik dan tematik yang dikukuhi. Raudal lebih menyoroti bagaimana kemampuan para pengarang mengeksplorasi tema dengan baik, dalam, kuat, dan memberikan ‘taste’ tersendiri terhadap karyanya.


Ya, menjadi lokal adalah menyelami tema-tema sastra dengan sepenuh hati. Mencintai apa-apa yang ia karang dengan mesra. Hingga akhirnya, selain meng-upgrade kemampuan pembaca dalam memaknai cerita, juga melahirkan keintiman psikologis dengan pembaca. Maka, lokalitas dalam sastra adalah bagai menyaksikan taman bunga yang harum. Harum yang partikular. Ada aroma mawar, melati, anyelir, atau wangi bunga yang lain. Maka, adalah sangat menarik, berkenaan dengan buku “Orang-orang Bloomington”-nya, Budi Darma mencuatkan istilah “lokalitas Orang-orang Bloomington”. Maka, dengan semua keberhasilannya, Ahmad Tohari dapatlah dikatakan menyerusi lokalitas-desa; pada beberapa karyanya Habiburahman cenderung pada lokalitas-Mesir atau lokalitas-pesantren, Helvy Tiana Rosa dengan lokalitas-profetik, Rag Di F. Daye dengan lokalitas-Minangkabau, Hamsad Rangkuti dengan loklaitas-urban, dalam kumpulan cerpen Kali Mati, Joni Ariadinata tampak setia pada lokalitas-gelandangan, dll.


DALAM perkembangannya, ‘lokalitas dengan variannya’ tak dapat secara otomatis disematkan pada pengarang. Ini bukan perkara inkonsistensi, namun lebih pada keinginan untuk melakukan ekplorasi. Baik itu ekplorasi tema, maupun gaya garapan. Namun begitu, pada pengarang-pengarang yang sudah kuat dan mapan kemampuan kesusastraannya, tema apa pun yang mereka garap, dapat kita kenali jejaknya. Hal inilah, menurut saya, yang dikatakan Raudal Tanjung Banua sebagai ‘iman estetik’. Pengarang yang sudah ber-‘iman’ niscaya akan melahirkan karya-karya yang memiliki kekuatan estetik, atau bahasa popularnya ciri khas. Pengarang yang sudah memiliki ciri khas dalam teknik garapan akan jauh lebih muda menghasilkan karya-karya yang memiliki kecenderungan lokalitas. Karya-karyanya mampu menghadirkan kedekatan psikologis dengan pembaca. Hasan al Banna, Joni Ariadinata, dan Habiburrahman el Shirazy—sekadar menyebut beberapa contoh—adalah pengarang-pengarang yang telah berada dalam taraf itu.


Ada beberapa persepsi tentang lokalitas yang rasanya perlu untuk ditinjau kembali.

Pertama, selama ini lokalitas ‘kadung’ melekat pada simbol-simbol kedaerahan. Ketika ada cerita-cerita yang mampu menggunakan dan atau menggali nama tempat, dialek, tradisi, mitos, hikayat, sejarah, dan kearifan lokal, maka ia akan terkodifikasi ke dalam ranah lokalitas. Padahal, belum tentu karya-karya yang memakai simbol/unsur kedaerahan tadi mampu mengeksplorasi unsur-unsur cerita dengan optimal. Inilah yang menyebabkan ‘lokalitas’ yang dipersepsikan pada karya tersebut tak lebih sebagai tempelan semata. Artinya, menggarap tema-tema daerah, tidaklah otomatis membuat karya tersebut disebuat sebagai karya—yang mengandung unsur—lokalitas.

Kedua, lokalitas kerap disamakan dengan tradisionalitas. Ketika karya sastra mengangkat budaya lokal, perihal kearifan lokal, hikayat, mitos, dan sejenisnya, maka dengan ‘semena-mena’ karya tersebut dilabeli lokalitas. Karya-karya yang mampu mengeksplorasi aspek tradisi(onal?) dengan baik tentulah dapat dikatakan sebagai karya lokalitas, lokalitas-daerah. Namun, yang perlu dicermati adalah, karya-karya yang mengangkat tradisi(onal?) belum tentu mampu tampil dengan baik, belum tentu menampilkan ke-daerah-annya dengan baik, belum tentu mampu menampilkan lokalitas, belum tentu adalah karya lokalitas! Artinya, tradisionalitas adalah lokalitas, namun lokalitas tidak melulu tentang tradisionalitas. Lokalitas tidak sama dengan tradisionalitas karena tradisionalitas hanya salah satu bidang eksplorasinya saja.

Ketiga, tradisionalitas (yang kerapkali disebut lokalitas) dalam sastra kerapkali dikatakan sebagai karya yang mengangkat kearifan lokal. Padahal, faktanya, karya-karya tradisionalitas justru menampilkan betapa TIDAK ARIF-nya tradisionalitas/lokalitas yang ada di daerah mereka. Beberapa contoh adalah; Novia Syahidah memaparkan kejawen sebagai tradisi yang bertentangan dengan ajaran agama (Islam) dalam Putri Kejawen, Raudal Tanjung Banua memaparkan bahwa perempuan yang meninggal dunia karena jatuh dari pohon adalah sebuah ketidakarifan dalam Perempuan yang Jatuh dari Pohon, atau Khrisna Pabicahara yang membeberkan kepada publik bahwa orang tua-orang tua di Makasar yang menerima pinangan terhadap anak gadisnya atas dasar besar/kecilnya jumlah mas kawin yang ditawarkan pihak pelamar (lelaki) adalah sebuah penghinaaan atas perempuan sendiri dalam Silariang….


HAL lain yang perlu ditelisik adalah, tradisionalitas (atau lokalitas) seolah selalu tak habis-habisnya untuk dijadikan bahan cerita dalam kesusastraan Tanah Air. Hal ini tak dapat dilepaskan oleh faktor geografi dan budaya Indonesia. Dengan ribuan pulau, ratusan suku bangsa, bahasa, dan perbedaan budaya, sangatlah wajar bila tradisionalitas selalu up date, selalu menarik untuk diketengahkan dalam karangan.

Dalam sebuah perbincangan tentang lokalitas oleh Komunitas Meja Budaya di Pusat Pendokumentasian Sastra (PDS) HB Jassin, November 2010, Zen Hae menyatakan bahwa unsur-unsur kedaerahan yang menyusup (bahkan mewarnai) sebagian karya-karya lokal, membuat bingung; menimbulkan pertanyaan: ini sastra Indonesia atau sastra daerah? Lalu, untuk apa lokalitas (tradisionalitas) ditulis/dijadikan unsur cerita apabila citarasa lokalnya akan serta-merta hilang bila diterjemahkan ke dalam bahasa asing (Inggris).

Sekilas, pernyataan Zen Hae terdengar sangat masuk akal. Namun begitu, harus dikembalikan lagi pada geo-kultur Indonesia sendiri. Dengan ke-bhineka-annya, maka sastra-daerah adalah refleksi adalah sastra Indonesia itu sendiri. Beragamnya nuansa kedaerahan yang muncul dalam karya sastra menunjukkan betapa bergeliatnya sastra Tanah Air. Betapa penggiat sastra negeri ini memiliki milintasi untuk menampilkan otentitasnya, menampilkan identitasnya yang murni, paling tidak dari tema-tema genuine (asli daerah) yang mungkin saja hanya terdapat di daerah mereka. Misalnya, uang jumputan di Minangkabau, warahan di Lampung, senjang di Sumatera Selatan, atau pemakaian koteka bagi lelaki di Papua.


Bagaimana dengan alih-bahasa yang memungkinkan hilangnya rasa lokal pada karya lokalitas-tradisionalitas. Tentang ini, tak sepenuhnya dapat diiyakan. Beberapa karya Garcia-Marquez yang dialihbahasakan ke bahasa Indonesia, masih terasa America Latinnya, atau masih terasa realisme-magisnya; atau karya-karya Akutagawa Ryunosuke ketika dialihabahasakan ke bahasa Indonesia, masih terasa Jepang-nya. Artinya, sangat tergantung pada—kemampuan dan sensitivitas—penerjemahnya. Sejauh mana ia mampu mencari padanan kata yang mewakili rasa cerita yang diterjemahkan. Namun begitu, hal yang paling penting untuk disadari dengan saksama adalah, ke-Indonesia-an kita telah melahirkan keberagaman yang kaya, termasuk tardisionalitas di dalamnya. Belum lagi, kecenderungan pembaca yang menyukai hal-hal yang belum mereka ketahui (termasuk apa-apa yang terjadi di daerah lain), telah membuat tema tradisionalitas sejatinya masih begitu menarik untuk diangkat dan digali. Hal lain yang perlu ditambahkan adalah bila sebelum mengangkat tradisionalitas dalam karangan kita harus memikirkan “apakah rasa lokalnya masih akan ada atau hilang”, alangkah repotnya mengarang tradisionalitas itu!


KHATIMAH, mari kita menghasilkan karya yang berhasil menampilkan lokalitas. Jangan pernah ragu untuk mengangkat tradisionalitas sebagai bahan baku lokalitas cerita. Sejatinya masih begitu banyak unsur tradisionalitas yang belum digali dan ditunggu-tunggu pembaca. Untuk memberikan beragam warna pada sastra, agar mampu mencerahkan, cerah yang berwarna, warna yang indah…. ***



*) sebuah makalah menarik yang bersumber dari sini

1 komentar:

Fatih Zam mengatakan...

Dalam dan berwarna. "pil kina" yang bisa ngobatin penyakit malas eksplorasi tema. sumantapjaya!

Unordered List