29 April 2013

Pagi

Share it Please

Tetiba segala rusuh seakan menjauh
 ibarat televisi yang diputar tanpa suara. Ibarat dunia yang dilewati si tuli.
Suaramu jadi satu-satunya yang  gaung kala itu.

 Ia tak menghentak gendang telingaku, memang.
kenyataan yang kau seret di baliknya buatku purna
tetaskan air mata,
begitu.

Baiklah, aku tak akan hirau pada segala rupa cerita
 yang sering  kau ujar di beranda. Lagi-lagi nyeri dan ia menyesak diam-diam.
Lalu jika sekali saja tak coba kupedulikan,
akankah tetiba kau jadi sesjuatu yang  terlupakan?
Rasanya tak.
Setidaknya kuingat sebagai hal yang menyakitkan.
Lebih pahit dari kopi yang pagi ini kau tawarkan. 

Tidak ada komentar:

Unordered List