08 Maret 2015

Ketulusan yang Dicederai

Share it Please
Saya tak berani menghitung jumlah teman-teman guru honorer yang belum menerima gaji selama berbulan-bulan. Alasannya, jumlah mereka tentulah banyak. Menurut data pokok pendidikan (Dapodik) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2013 yang dilansir JPNN, jumlah guru honorer di seluruh Indonesia telah mencapai 489.459 orang, dari total 1.441.171 orang guru. Jumlah ini masih merupakan jumlah guru honorer SD, belum ditambah guru honorer SMP dan SMA. Jumlah tadi tersebar di 33 propinsi termasuk wilayah pelosok, perbatasan, dan kepulauan terdepan. Artinya, demikian besar jumlah mereka di Indonesia. Saya membayangkan jika gaji yang semestinya diperuntukkan bagi mereka tersendat entah oleh apa, maka hampir sejumlah itulah hak teman-teman guru honorer yang abai tersampaikan.

Saya kemudian membayangkan betapa teman-teman itu adalah guru yang benar-benar berkenan mengabdikan diri untuk masa depan penerus negeri. Mereka penuh tulus membimbing para siswa. Jika ada rekan guru yang mesti menempuh jarak dan waktu yang tak biasa menuju sekolah, hal tersebu dilalui dengan kerelaan. Ilmu yang mereka punya lantas mereka bagikan dengan sukarela. Tak jarang mereka berupaya menempa diri, mengembangkan keilmuan dengan cara mereka demi pembelajaran yang lebih baik. Di satu sisi, mereka pulalah yang dimintai tanggung jawab atas perkembangan karakter, sikap, dan perilaku siswa secara menyeluruh. Di saat seperti itu, saya merasa tugas pendidik adalah tugas yang tak kenal henti. Namun kebanyakan dari mereka melakukannya dengan penuh kesadaran dan sukacita.

Lantas, saya kembali pada ingatan bahwa hak mereka tak terpenuhi dengan baik. Jujur, saya merasa terluka. Ibarat mengikhlaskan diri menjadi bumi bagi tanaman-tanaman yang kelak akan rimbun berbunga, mereka rela menyediakan kesuburan bagi tumbuhnya tanaman-tanaman tersebut, rela menjadi wadah bagi kehidupan yang kelak akan berjalan. Teman-teman pengajar tadi adalah wadah yang bersedia menyediakan dirinya untuk menumbuhkan potensi para siswanya di masa depan. Di tengah luasnya kerelaan tersebut, saya masih mendengar cerita mereka yang belum memperoleh gaji. Mungkin tidak semua teman guru menyikapinya sebagai sebuah kendala besar. Mereka masih tulus ikhlas mengajar sembari berharap hak mereka tiba suatu hari. Namun, harus seberapa lama mereka berada dalam kondisi seperti itu? Apa harus seperti itu penghargaan atas mereka? Tidakkah ada yang merasa bahwa ketulusan mereka telah dicederai?

Ketulusan mereka dicederai oleh rasa abai. Atas nama kepentingan, hak mereka mengambang di udara. Di entah di mana. Saya tak hanya sedang menyoal hak berupa materi sebagai satu-satunya bentuk penghargaan. Namun, jika hal yang seperti itu tak bisa dipenuhi saya sangsi hal besar yang mestinya diberikan kepada mereka juga mampu disanggupi. Saya hanya ingin menyoal perasaan terdalam manusia  jika menemukan sosok-sosok yang berjuang tanpa pamrih dan begitu sungguh-sungguh untuk orang lain, sebuah kesatuan di luar dirinya sendiri, di tengah kondisi mereka sendiri yang terbatas. Semestinya rasa haru dan terenyuh yang muncul sebagai satu bentuk sederhana dari menghargai usaha besar itu. Yang muncul ternyata beragam perlakuan tak hirau dari negeri sendiri.

Seperti yang saya utarakan di atas, tidak semua teman-teman pengajar menjadikan materi sebagai satu-satunya tujuan mengajar. Banyak pula yang megajar karena panggilan jiwa. Mereka benar-benar ingin membangun generasi yang lebih baik. Maka saat nominal yang turun tak lengkap atau sama sekali tak datang, mereka masih berbesar hati. Namun, bukan berarti saya harus memandang dari sudut itu. Bukankah semestinya saya makin terluka sebab mereka bahkan begitu  berlapang hati menerima kenyataan bahwa ketulusan mereka tengah dicederai.

Tulisan saya ini begitu emosional, tampaknya. Saya lantas tak fasih berujar mengenai hal ini. Tentu banyak tulisan serupa yang telah dibuat. Isu serupa, suara serupa. Maka saya hanya sebagian kecil dari penyuaraan tersebut. Saya hanya merasa khawatir, kemudian, terhadap negeri yang konon tengah berbenah ini. Saya mencoba bercermin pada keadaan Indonesia yang masih karut marut. Saya khawatir hal tersebut terjadi, salah satunya, karena masih begitu banyak ketulusan yang sedemikian dicederai.

Mari berbenah, mari peduli.


Tidak ada komentar:

Unordered List