18 Juni 2015

"Mendengarkan" Buku

Share it Please
Terkait audio pembacaan teks, sudah lama saya ketahui. Media-media penyedia seperi Librivox menyuguhkan buku-buku bacaan yang bagus dalam bentuk audio. Kita bisa membaca buku tersebut dengan cara mendengarkannya. Hal ini sangat memudahkan pembaca sebab para pembaca dapat menikmati buku bacaannya kapan dan di mana  saja tanpa harus memegang bukunya (cetak maupun elektronik)  di tangan tetapi dengan memasang headset di telinga. Istilah untuk buku itu pun lalu berkembang dari "book" ke "e-book" dan menjadi "audiobook".

sumber gambar: http://audiobuku.com/ 
Menikmati audiobooks, buku audio, memang menyenangkan. Kita seakan mampu "membaca" buku sambil berlari, sambil berjalan kaki, sambil berhimpitan di kereta atau bus dan sambil mengendarai kendaraan bermotor. Bagi seorang auditori, mereka yang mampu berkonsentrasi dengan suara-suara, buku audio tentu bisa menjadi pilihan menikmati sebuah buku. Pembacaan seorang narator dapat membantunya berkonsentrasi. Bagi seseorang yang lebih visual, tentu buku audio juga bisa jadi pilihan namun perlu sedikit penyesuaian saja. Sejauh ini, saya yang visual, cukup menikmati kehadiran buku audio sebagai salah satu cara melahap bacaan. Ya. Pelisanan buku, aktivitas mendengarkan buku dan kehadiran buku audio kemudian menjadi pilihan untuk para pembaca.

Sumber gambar: http://www.adweek.com/

Jumlah buku audio Indonesia rupanya belum sebanyak buku audio dari luar negeri. Setidaknya ini yang saya temukan. Saya tidak mau menebak-nebak alasan seperti minimnya daya serta minat baca atau kandasnya budaya mendongeng. Saya hanya menerka bahwa kita sedang dalam proses dan menunggu waktu menuju masyarakat literat. Kesadaran ini, secara pribadi, saya rasakan saat saya ingin "mendengarkan" buku karya penulis Indonesia. Saya ketik nama atau judul bukunya di mesin pencari. Yang saya dapatkan? Hasil tidak ditemukan. Barangkali, saya harus membuatnya sendiri. Setidaknya, saya bisa membantu kawan-kawan yang senasib sepenganggungan dengan saya --gandrung membaca dan ingin memiliki kemampuan "membaca" buku sambil berlari, sambil berjalan kaki, sambil berhimpitan di kereta atau bus dan sambil mengendarai kendaraan bermotor. Lantas, saya membuat akun di Soundcloud dan merekam pembacaan cerpen, puisi, serta esai dari penulis-penulis Indonesia.

Ini akun saya di Soundcloud. :)

Tentu jauh rasanya menyandingkan upaya kecil yang saya lakukan itu dengan pelisanan cerita di Librivox, Audible, atau Project Gutenberg. Saya hanya senang membaca karya-karya penulis tanah air dan saat ini merasa perlu menyebarluaskan kesenangan saya itu pada banyak orang. Karya-karya para penulis itu mesti dikenal sebanyak mungkin orang, terutama kaum muda. Cara yang saya tempuh adalah cara yang terhitung populer. Saya unggah audio pembacaan cerpen saya itu di kanal Soundcloud, sebuah media yang kekinian, dengan harapan dapat dinikmati para pengguna media daring, netizen. Lebih jauh, saya berharap hal yang saya lakukan ini dapat menjadi cara mengapresiasi yang baik atas karya para penulis Indonesia. Dapat pula menjadi cara teramat sederhana untuk ambil bagian dalam kemajuan literasi Indonesia.

Sumber gambar: http://www.openculture.com/freeaudiobooks

2 komentar:

Dian Handiana mengatakan...

Hai Nurul.. Tulisannya bagus sekali. Saya awalnya berpikir sayalah yang paling awal menggunakan istilah "mendengarkan buku" soalnya saya malas sekali membaca. Saya lebih suka mendengar orang yang udah banyak baca buku ngomong. Jadi saya ga perlu repot baca lagi hehe^^
Tapi membaca apa yang ditulis, ternyata pesannya hal lain.. So Good Luck saja untuk terus maju dan maju

nurul maria sisilia mengatakan...

Hehe, nuhun Om. di luar nagreg, eh, maksudnya luar Indonesia udah ada Librivox, audible sama project gutenberg sbg penyedia audiobook (pastinya masih banyak lagi). Coba deh mampir ke sana. Pesannya lain? pesan bernada iklan nya? haha

Unordered List