31 Maret 2019

GIRL TALK (4): LARAS

"Aku udah lama gak lihat kamu jalan bareng Karina lagi, Sil"
Siang itu cuaca sedang panas-panasnya dan kita sedang duduk santai di teras kantor. Teras belakang memang tempat yang paling pas melepas semua kejumudan seharian itu. Jauh dari ribut-ribut guru dan murid serta diberi udara segar. Namun, pernyataanmu tadi tiba-tiba memecah kesunyian.
"Jalan, kok. Sesekali aja sih." Jawabku singkat. Sekenanya. 
"Wah, tumben. Biasanya bareng terus." timpalmu. 
"Hmm. Kami sempat bersitegang, sih, Ras. Kupikir dia bisa bantu aku menyelesaikan keruwetanku. Eh, ternyata enggak. Yah, begitulah." aku mencoba menyederhanakan kejadian yang menimpaku dan Karina beberapa waktu lalu. Setelah perseteruan kami itu, aku dan Karina memang masih sering jumpa dan jalan-jalan sepulang kerja. Tapi memang hanya itu. Sekadar teman bukan sahabat yang bisa aku mintai bantuan.

"Eh, kamu masih sering main sama Isti, teman SMA kita itu?" Aku tiba-tiba ingat Isti kawan lama kita. Dia begitu dekat denganmu di luar kantor tapi beberapa tahun ini aku tidak melihatnya bersamamu.
"Isti sempat main ke rumah, sih, beberapa waktu lalu. Dia bawa anaknya juga." Jelasmu.
"Oh iya. Dia udah nikah, ya. Akan beda situasinya. Akan beda sibuknya." Aku menerka.
"Biasanya yang sudah nikah nyinyir ke kita yang masih lajang ini." ujarmu tiba-tiba. Aku menatapmu lekat. Mencoba memahami maksud ujaranmu itu.
"Isti nyinyirin aku gara-gara aku lanjut S2 dan berkarier seperti sekarang ini, Sil. Dia bilang aku gak mikirin pernikahan. Dia bilang aku terlalu pemilih. Dia bilang gak akan ada laki-laki yang berani deketin aku karena gelar dan karierku. Dia bilang aku gak jelas maunya apa. Ah, pokoknya aku tersinggung banget, Sil!  Aku pikir dia akan dukung aku seperti biasanya dia lakukan pas SMA." lanjutmu panjang lebar. Aku benar-benar menangkap kekecewaan dari nada bicaramu itu. Sampai di detik penjelasanmu yang terakhir itu, aku sungguh bisa paham. Tak semua orang ternyata bisa mengerti hal-hal yang telah lelah kita lewati dan mengubah kita. Mungkin juga tak mau tahu kesulitan macam apa yang sedang dihadapi sampai ada di detik ini. Tidak semua orang mau tahu.
"Duh, gimana ya. Kupikir setiap orang memang punya kasusnya sendiri, ya kan, Ras? Gak bisa disamakan begitu saja." Aku pun mencoba memahami posisimu itu meskipun kau dan Isti adalah juga temanku. 
"Eh, Eh! Tapi… Kulihat Isti dan suaminya lagi ada konflik gitu deh." Kamu tiba-tiba tampak antusias.
"Hushh... Kok malah ngomongin rumah tangga orang!" Cegahku.
"Bukan gitu, Sil. Aku jadi mikir. Apa sebenarnya dia nyinyirin aku karena dia sendiri sedang tidak baik-baik saja ya?" Mendengar dugaanmu, aku jadi berpikir juga.
"Bisa jadi, Ras. Ibaratnya, dia sedang mencari pelampiasan agar merasa lebih baik. Sialnya, salah satu cara agar dia merasa lebih baik adalah nyinyirin kita." 
Kita berdua tiba-tiba terdian dan  menghela napas panjang.

Aku mulai paham posisi seperti itu, Ras. Seseorang dengan mudahnya membuat kita tersinggung dan sakit hati karena sebenarnya merekalah yang mengalami hal buruk bahkan lebih buruk dari kita. Mereka sedang merasa tidak aman alias insecure dengan kehidupannya sendiri lantas mencari kawan atas permasalahannya. Ah, di titik seperti itu sesungguhnya aku iba pada mereka. Tapi, cara mereka membuat orang lain terluka pun sulit aku terima. 

Satu hal lagi yang akhirnya aku sadari terlintas dari obrolanku denganmu siang itu. Nyatanya, semakin beranjak dewasa semakin kita sadar bahwa kita sudah tidak bisa berteman dengan semua orang, Ras. Hanya beberapa saja. Lalu, lingkaran persahabatan kita jadi sangat mengecil.  Banyak hal yang terjadi dan mengubah segalanya. 
Aku pun mulai mengingat kawan-kawanku yang ternyata hanya datang dan pergi. Hanya beberapa yang bisa kuharapkan ada saat aku butuh dukungan dan saat aku benar-benar sendiri. Awalnya aku sangat merasa kecewa tapi lama kelamaan, semua kumaknai sebagai bagian dari pembelajaran. 

"Beli es krim yuk, Ras! Panas banget hati ini, eh hari ini!"
"Haha. D'accord, Mademoiselle! Es krim rasa silverqueen enak, lho!" usulmu girang.
"Tapi males ketang. Belinya harus  di Alfamart Stasiun Bandung. Di sini mah gak ada" lanjutmu usil.
"Ya, jangan bilang dong, Markonah!" 

Kita tertawa puas.

2 komentar:

Sukma mengatakan...

Intinya jangan julid yaa ><

Unknown mengatakan...

Assalamualaikum. Bila dlm tandakutif~Miss X, konflik.Sebaiknya tdk dilucurkan dlm cerita. Terlepas dr, apkh ini pglmn prbd. Jdlh penulis yg setlh dibaca; INGIN DIBACA LAGI, LAGI DANLAGI. 📠📚 GoodLuck

Mengenai Saya

Foto saya
Perkenalkan! Saya Nurul Maria Sisilia. Seorang pengajar, penulis, dan pekerja sosial. Saya senang menulis hal menarik yang terjadi di kehidupan sehari-hari. Mari berbincang!

Terjemahkan (Translate)

Rekan

Diberdayakan oleh Blogger.