21 Februari 2012

ROMANTISME KOMUNITAS

Share it Please

 [Essai "Aku dan FLP]

Oleh : Nurul M. Sisilia (FLP Bandung)


Komunitas bukan segalanya, namun segalanya butuh komunitas. Tampaknya itu yang bisa disimpulkan dari beragam efektivitas berkomunitas. Seseorang, pada hakikatnya, tidak bisa lepas dari berhubungan dengan orang lain. Ia adalah makhluk sosial yang memerlukan keberadaan orang lain. Itulah alasan seseorang butuh berkelompok, berkomunitas misalnya.
Seseorang yang memiliki ketertarikan dengan dunia literasi atau sastra perlu suntikan energi yang memadai agar mampu mengoptimalkan potensinya. Dalam hal ini, komunitas kepenulisan merupakan wadah yang dirasa tepat. Saya ingat ucapan Irfan Hidayatullah dalam sebuah pertemuan. Menurutnya, komunitas adalah tempat untuk saling transfer energi: ilmu dan semangat. Saya setuju, sebab di komunitas seperti inilah motivasi biasanya bermunculan dengan liar. Kita akan merasa termotivasi untuk membaca dan menulis saat bertemu dengan orang-orang yang sedang begitu akrab dengan membaca dan menulis. Kita pun akan begitu bersemangat untuk menerbitkan sebuah karya ke media massa saat bertemu dengan orang yang telah mencicipi manisnya menerbitkan karya. Menurut saya, inilah yang disebut atmosfer kompetisi yang positif. FLP pun hadir sebagai komunitas literasi yang menjanjikan segenap fungsi berkomunitas.
Bandung dan laju waktu di dalamnya kemudian mempertemukan saya dengan  FLP Bandung. Di sana, saya makin akrab mencicipi indahnya belajar bersama. Kurun waktu tiga tahun di sana rasanya masih terlampau muda untuk menerjemahkan forum ini. Saya masih melangkah, masih menapak. Belum menjejak. Tapi tak mengapa, bukan? Dalam kurun wakttu tersebut saya berani mengartikan FLP ternyata lebih dari sekadar komunitas: bagi saya, pun hidup saya.  Menurut saya, FLP menjanjikan segenap fungsi berkomunitas dalam bingkai romantisme.

Romantisme FLP adalah "Lingkaran" yang Ideal
Bercita-cita mengakrabi sastra sempat membuat saya kelimpunngn mencari komunitas. Paradigma bahwa sastra dibangun dari kumpulan orang-orang Bohemian membuat saya ciut dan kalut. Ah, ternyata tidak! Setelah pencarian yang syahdu, saya seakan menemukan oase. Dosen sastra saya, Nenden Lilis, memberikan nomor kontak FLP Bandung  (nomor Sri Al  Hidayati  dan Wildan Nugraha) di akhir sebuah perkuliahan. Dari sanalah, semua kisah bermula dan bergulir bagai jalan keluar yang melegakan. Akhirnya saya bertemu dengan lingkaran itu di selasar timur masjid Salman ITB.
Beriringan dengan lingkaran ini, saya melihat FLP Bandung  tumbuh bukan sekadar dengan membaca dan mennulis melainkan juga sastra. Hal itu  membuat saya  menemukan sebuah Aha! Moment, “Inilah diri saya!”. Saya menemukan hubungan yang harmonis antara saya dan sastra dari “Teater Embun" rintisan Topik Mulyana, musikalisasi puisi “Kapak Ibrahim” rintisan Adew Habtsa dkk, dan pesona filmografi dari Hendra Veejay. Semua ranting sastra melengkapi kerimbunan FLP.  jadilah FLP ibarat pohon yang rindang dan meneduhkan. Kerimbunan  inilah yang  kemudiaan saya istilahkan sebagai sesuatu yang ideal. Ditambah lagi, nilai humanis dan relijius menjadi akar yang menutrisi semua organ. Inilah yang kemudian membuatnya kokoh dan teguh.
FLP seakan begitu ideal dengan sastra dan literasinya. Oleh sebab itulah, saya merasa mantap dengan lingkaran ini. Mantap pula mengukuhkan cita-cita sebagai  muslim sastrawan. Kemudian FLP, bagi saya, menjadi sempurna dan menyempurnakan saya.

Romantisme FLP  adalah Rona
Seni rupa mengartikan romantisme sebagai sebuah aliran yang ditandai adanya  kontras cahaya yang tegas, kaya dengan warna dan komposisi yang hidup. Agaknya, FLP pun memberikan hal yang serupa. Orang-orang dalam komunitas ini terdiri atas individu yang beragam profesi, latar belakang, dan keilmuan. Keberagaman ini adalah warna yang memesona. Di sini tidak ada dominasi warna, semua berbaur dan menjadi pelangi. Artinya, semua orang di lingkaran ini adalah istimewa dengan segala potensi dan kesederhanaannya.  
Dari keberagaman ini pulalah timbul budaya berbagi ilmu. Masing-masing individu di sini memiliki “guru yang banyak”. Maksudnya, sering melakukan diskusi sederhana yang di dalamnya terdapat proses saling serap ilmu, motivasi dan inspirasi. Belajar dan mengajar, dilatih dan melatih, dibina dan membina. Hal ini yang membuat seseorang bisa bertahan dalam kelompok. Pun saya.

Romantisme FLP adalah Ekspresi Cinta dan Kasih Sayang
FLP kemudian menjadi semacam ungkapan yang begitu ekspresif, bahkan impresif tentang makna kebersamaan. Saya menemukan sahabat-sahabat yang begitu tulus. Ikatan antar individunya pun kini menjadi lebih dekat dari sekadar sahabat: keluarga. Keluarga literasi.
Kamisan adalah ruang ekspresi cinta dalam bentuk bebeda, menurut saya. Kamisan yang digelar sebagai kegiatan rutin seminggu sekali di kala senja ini seakan menjadi tempat rehat paling bersahabat dan paling hangat setelah beragam kepenatan mendesak-memabukkan. Di inilah, keluarga literasi ini bertemu dan bertukar kebahagiaan. Dalam kamisan, saya bertemu dengan orang-orang yang membaca. Mereka yang membaca ini selalu mampu menularkan energi bacanya. Tak usah rumit berteori, mereka yang membaca ternyata telah lebih paham bagaimana seharusnya teori itu hidup dalam kehidupan! Begitulah kesannya.
Kamisan pun mempertemukan saya dengan orang-orang yang begitu dermawan dan tak segan membagi ilmu. Atmosfer ini tentu berbeda dengan bangku kuliah yang begitu teoretis bagi saya –walau samaa-sama menyoal litersi dan sastra. Inilah ekspresi cinta yang melankolis.
Selasar Salman ITB sore hari mendadak dipenuhi sastra setiap kali kamis menjejak. Bahkan selepas kamisan, selasar  Salman masih dihangatkan perbincangan akrab tentang banyak hal. Keluarga literasi ini menghangatkan petang dengan perbincangan seputar sastra, literasi, dan petuah kehidupan.  Kamisan pun menjadi jeda yang produkif.
Entahlah, saya merasa selalu berjodoh dengan kamisan. Tidak ada halangan berarti yang merintangi saya hadir di kamisan misalnya jadwal kuliah atau jadwal mengajar. Sejak menyandingkan diri dengan FLP hingga saat ini, waktu seakan selalu mempertemukan saya dengan kamisan. Ini bukan kebetulan, saya yakin.

Saling Bertemu
Menyetiai FLP kemudian menjadi kebutuhan, bukan tuntutan atau keharusan.  Ya, lepas dari jabatan sebagai 'pupuhu’ Pengaderan Pengembangan Sumber Daya Manusia (PPSDM) atau apapun namanya, saya merasa bahwa menyeriusi FLP adalah sebuah keseharian atau kewajaraan. Ibarat napas yang aktivitasnya tak mesti ditentukan, ia berjalan wajar dan lancar tanpa sadar.
Entahlah, saya lalu  merasa bahwa bukan saya yang menemukan FLP, melainkan FLP yang berhasil menemukan saya. Atau lebih dari itu! Mungkin kami saling bertemu. Saya menemukan FLP dan FLP mempertemukan saya dengan diri saya.
Pada sebuah kesadaran tertentu, saya mengibaratkan relasi antara saya-FLP bukan lagi tersekat "dan", sebuah makna sertaan yang setara, melainkan "adalah", makna representif dan definitif. Artinya, FLP telah dengan syahdu menjadi bagian dari diri saya. Ya, hal itu terjadi mungkin karena di lingkaran inilah Rabithah  menjadi begitu gema, begitu mengikat, dan begitu dekat.
Syukur tiada henti terujar begitu khidmat sebab Sang Mahacinta memperkenankan saya menjadi bagian dari salah satu sisi lingkaran ini -meminjam istilah Thareq Barasabha.
“Aku bersyukur dan berterima kasih sebab Engkau telah mempertemukanku dengan lingkaran ini.” Pada akhirnya, pernyataan itulah yang mampu saya ujarkan.
Alhamdulillah wa syukurillah.


(Bandung, Februari 2012)

2 komentar:

Silmya mengatakan...

tulisan Nurul, selalu membuat siapapun ingin meneruskan membaca sampai habis
tidak berat di mata untuk membacanya,justru berat pada makna dan isinya
semangat calon sastrawan muslimah :)

Nurul Maria Sisilia mengatakan...

@silmya:
trims, mia sang penulis masa depan! ;D

sastrwan muslimh? aamiin...amiin.. :)

Unordered List