25 Juni 2014

Hal-Hal Membahagiakan #1: Barang-Barang dan Peliharaan

Share it Please
Postingan berikut kurang lebihnya terasa begitu "aku-diriku" oriented. Namun, begitulah. Hal serupa ini saya kira perlu untuk mengembalikan energi menulis di blog. Tentunya, jika memiliki habit menulis angin-anginan seperti saya. Semoga setelah "pancingan" semacam ini, saya bisa lebih teratur memposting tulisan di sini. 

Baiklah, mengenai postingan ini. Postingan ini dibuat setelah memperhatikan beberapa hal yang membuat saya merasa lebih baik. Merasa berada di zona good mood. Tentu, pembaca memiliki versi berbeda.  :)

===================================================================================
Vive! Quel beau Dimanche
Yeay! What a beautiful Sunday
Berikut adalah hal-hal membahagiakan yang saya kira cocok dibagikan di hari secerah ini. Inilah dia!




 Matsuo

Dulu, benda jenis ini saya namai Lenov (mendekati merk-nya dan terdengar seperti nama Rusia). Namun, sebuah tragedi kemalingan mengharuskan Lenov ikut  digondol maling. Berselang beberapa waktu, seorang teman menawarkan sebuah laptop second hand yang masih bagus. Katanya, dia baru dipakai beberapa bulan saja. Dan di pertemuan pertama dengan si laptop mungil berwarna putih, saya tahu namanya adalah “Asus” (merk sebenarnya). Sekian lama Asus membersamai saya mengetik tugas, tulisan, dan segala-hal-tentang-FLP, saya putuskan untuk memberi dia nama yang baru. Saya merencanakan nama “Asusa” untuknya kupikir, sedikit mendekati “Asakusa” yang berarti nama sebuah tempat di Jepang. Tapi, agak ganjil kedengarannya. Terlebih, jika nama itu diplesetkan jadi “Ah..Sussah!”. Tidak enak juga. Saya mengubah namanya menjadi “Asuo” atau “Asuko”. -ko dalam bahasa Jepang artinya anak. Tadinya, biar kuperlakkan dia sebagaimana memperlakukan seorang “anak”. Tapi, nama itu masih dalam pertimbangan. Bayangkan, seorang teman meledeknya. Ia memanggil nama pendek “Asuo” tanpa akhiran -o dan  -ko.  Ia mengatakan arti karta “Asu” dalam bahasa Jawa. Artinya tentu jelek. Oke, namanya diganti lagi. Kali ini, saya pikir “atsu” edikit cocok. Setidaknya, tidak menghilangkan bunyi a dan u serta desis “s”. Tapi, “atsu” sendiri artinya “panas” (berasal dari kata “atsui”). Baiklah, “atsuo” saja. Semoga kali ini, nama itu memang lazim.

Sampai berkali-kali ganti nama, si laptop mungil berwarna putih ini belum punya nama resmi. Baru setelah melewati mata kuliah Pokok dan Tokoh Sastra Dunia, saya dapat inspirasi. Kala itu, saya belajar kesusastraan Jepang, tepatnya seorang sastrawan Haiku paling berpengaruh di dunia. Namanya siapa? Matsuo Basho. Aha! Tinggal menambah “M” di depan nama “atsuo”, dan jadilah nama resmi yang punya arti bagus.

Dan, inilah dia!

Je te presente! Mon ordinateur portable, Matsuo!



 Diary Personal Journal

Ingat “Diary of Wimpy Kid”? Film dan kisah fiksi berseri ini menceritakan keseharian anak lelaki bernama Greg lewat buku hariannya. Di sana, Greg tidak mau menyebut buku catatan untuk menuliskan kegiatan  pribadi sehari-hari itu dengan “Diary” tapi “jurnal”. Alasannya, biar terdengar lebih keren. Agaknya, saya pun demikian. Saya menamai buku catatan untuk menuliskan hal-hal pribadi itu dengan “Sjurnal”. Sisilia’s journal. Biar terdengar lebih keren.

Sjurnal sudah mencapai dua buku. Sebelumnya, sudah ada 7 diary sebelum ia dinamai Sjurnal. Jadi, keseluruhan buku harian saya ada 9. sepertinya lebih jika buku harian saya saat masih SD dihitung. Saat SD, buku harian saya ada tiga. Wow, selusin ya? Heu. Seperti halnya sekuel sebuah cerita, tentu ada bagian yang paling disukai. Menurut saya, dari semua buku harian itu, buku harian saat SMA, tingkat tiga kuliah dan tahun 2013 adalah yang menarik. Penuh semangat, impian, cita-cita, dan persahabatan.

Sjurnal dibuat sendiri dari bahan-bahan yang ada. Kertas HVS warna-warni, bunga-bungaan kering, pita, dan aksesoris lainnya. Hal ini karena saya merasa bosan dengan banyak buku  yang diperuntukkan sebagai buku harian tidak memuaskan. Desainnya kurang menarik, kurang tebal, atau kurang sesuai ukuran kertasnya. Saya pikir, dengan membuat Sjurnal sendiri, saya bisa mendapatkan buku harian yang sesuai dengan keinginan. Kertas HVS saya gunakan karena jenis kertas yang tidak banyak garis ini membebaskan saya menulis dengan beragam ukuran huruf, menambahkan gambar satu halaman, atau foto, (atau kuitansi honor dari tulisan yang dimuat di koran! Yeay. Haha). Entah kenapa, dua Sjurnal yang dibuat selalu bertepatan dengan pemilihan pemimpin. Sjurnal pertama, bertepatan dengan pemilihan gubernur Jawa Barat. Sjurnal kedua bertepatan dengan pemilihan wali kota Bandung. Karena event itu, saya sering mendapatkan aneka rupa pernak-pernik kampanye dari teman-teman yang jadi timses. Karena terlalu banyak benda semacam itu, saya jadi bingung harus dibuat apa, Maka saya jadikan saja sebagai aksesoris di Sjurnal. Sjurnal  pertama banyak memasang logo “Kancing beureum” yang saya dapat dari pamflet, leaflet, dan brosur pemenangan Aher-Dedy Mizwar. Sjurnal kedua dibubuhi banyak logo “Bandung juara” dari tim sukses Ridwan Kamil Oded M. Danial. Menurut saya, bentuk dari logo itu (“kancing beureum” dan “Bandung juara”) unik, menarik, mudah diingat, dan eye catching. Yaa, intinya, Sjurnal bisa dibuat dari barang-barang yang tak terpakai, atau terlalu banyak menumpuk di rumah karena cuma dibagikan dan kurang bernilai pakai. Lumayan untuk mengurangi sampah “amunisi” kampanye, bukan? hehe.

Begituah. Saya mengamini fungsi buku harian sebagai sarana pengendali emosi. Dengan menulis, menurut saya, apapun yang dirasakan dan dipikirkan bisa tercurahkan dengan lebih baik. Benda ini juga jadi sahabat paling baik, ketika sahabat (sebenarnya) belum tentu jadi seseorang yang dipercaya untuk diberi cerita.

Rouge

Benda kecil satu ini adalah semacam MP3 player. Saya suka benda ini karena berwarna merah dan bergaya retro. Bentuknya yang kecil membuat benda ini bisa dibawa ke mana pun. Bisa juga dipakai sebgaia penyimpan data saat saya lupa membawa Flashdisk. Saya menamai benda ini “Rouge”, dalam bahasa Perancis artinya “merah”. Istimewanya, Rouge adalah hadiah ulang tahun saya! Saat itu, Rouge tidak sera merta kosong. Di dalamnya sudah ada beberapa lagu. Sebut saja lagu “Akhirnya indah” (The Changcuters) dan “Something about us” (Daft Punk). Merci Beaucoup, toi! :3

Rouge selalu ada di tas sya. Sepanjang perjalanan menuju tempat kegiatan, Rouge jadi teman paling kece. Ketika di kereta ekonomi dari Cicalengka ke Bandung misalnya, suasana ribut dan berdesakan jadi sedikit lebih ritmis ketika saya memasang earphone dan mendengarkan lagu di Rouge. Hal serupa terjadi ketika saya berada dalam perjalanan dari Dipati Ukur ke Jatinangor, dan dari Jatinangor ke Cicalengka. Lagu yang saya pasang? Beberapa lagu band indie seperti Banda Neira, Teman Sebangku, Payung Teduh, The Float, dan Mr. Sonjaya. Nama terakhir adalah favorit saya. Selain itu, terdapat lagu berbahasa asing (Inggris, Perancis, dan Jepang). Yaah, itung-itung latihan listening gitu.

Les Livres (the books)

Buku adalah teman duduk paling setia, kata sebuah ungkapan. Ya, ya.. Tentu. Dan hal itulah yang membuat saya bahagia. Saya senang membaca buku fiksi berupa kumpulan cerpen, novel, dan buku kumpulan puisi. Saat saya membaca kumpulan puisi, saya kadang menggugat: “kok mereka bisa mengeksplorasi diksi sampai seperti ini?”. “Kok terpikir, ya, membuat metafora seperti ini?” dan sebagainya. Dampak membaca sajak, menurut saya adalah mengahargai bahasa. Kata-kata tidak diucapkan begitu saja. Ia memiliki rima, bunyi, dan suasana sendiri. Saya juga menyukai buku nonfiksi bergenre sejarah, filsafat atau psikologi, dan motivasi. Baca komik? Suka juga. Atau, seperti Mang Adew, buku TTS. hehe

Mon chat (my cat)

Jreng! Inilah yang paling membuat saya bahagia. Makhluk lucu berbulu dan merupakan kesayangan Rasul: kucing!. Salah satu kucing kesayangan saya bernama Chiko. Bulunya berwarna oranye, matanya bulat, dan ekornya buntet (pendek dan bulat). Chiko adalah kucing paling cerewet di rumah. Padahal, ia jantan. Biasanya, kucing betina lebih cerewet dari kucing jantan. Chiko adalah nama yang segera saya panggil ketika pulang ke rumah setelah mengucap salam. :D. Selain Chiko, masih ada empat kucing di rumah saya. Tiga jantan dan dua  betina. Makhluk ini adalah makhluk menggemaskan dan , tentu saja, membahagiakan bagi saya.

Itulah hal-hal yang membuat saya merasa lebih baik, merasa gembira, dan bahagia. Saya kira, alasan benda-benda (dan peliharaan) tersebut menjadi sangat membahagiakan adalah karena nilai maknanya. Bisa jadi, hal-hal seperti yang saya sebut di atas menyimpan banyak kenangan, menyimpan nilai, dan tentu saja menjadikan kita sangat menyayangi mereka. Bahagia pun, menurut saya, adalah ketika kita mampu menyayangi hal lain di sekitar kita. :)

Tidak ada komentar:

Unordered List