25 Juni 2014

Hal-Hal Membahagiakan #2: Orang-Orang...

Share it Please
Sastra Kontemporer 2013

Jurusan Sastra Kontemporer memang terbilang "ajaib". Bayangkan, dari sekian pendaftar, ternyata yang dengan sadar menuliskan namanya di kolom pilihan jurusan ini cuma empat orang. Jumlah ini sama dengan angkatan di atas kami. Bahkan lucunya, di penerimaan mahasiswa baru semester lalu, pendaftar ke jurusan ini adalah 0. alias, tidak ada. Hehe.
Di jurusan ini saya mengenal tiga rekan lainnya yang sangat inspiratif.
Kebersamaan kami memang terbilang muda. Baru dipertemukan di tahun 2013, sekira bulan Agustus. Genap satu tahun jika menginjak bulan yang sama di tahun ini. Namun demikian, saya merasa seperti sudah lama mengenal mereka. Ada Teh Sri Maryanti, Mba Andarini, dan Arief San. Teh Sri dan Mba Andari adalah sosok yang penuh kasih sayang. Sosok kakak yang pengertian dan penuh perhatian. Berdiskusi dengan mereka juga menyenangkan. Banyak hal baru yang didapat. Kami sering begadang bareng demi sebuah tugas yang mendekati deadline. Prinsip kami: "Pokoknya, tidurnya giliran. Siapa yang bangun duluan, bilang!"hehe. Lain lagi jika diskusi dengan  Arief San. Teori kesusastraan sepertinya sudah molotok di kepala Bung yang satu ini. Arief san terbuka dengan banyak pendapat. Namun kadang tertutup dengan pendapatnya sendiri. Yang ngerti dia doang (gomen, ne! :D). Hal-hal menarik yang saya ingat adalah kesukaan Teh Sri pada film India. Hal itu yang membuatnya memilih sastrawan India sebagai topik yang dianalisis di kuliah Pokok dan Tokoh Sastra Dunia. Pokoknya, indihe pisan. Lain dengan Teh Sri, Arief san suka Jepang. Dia ternyata seorang otaku (fans berat budaya populer Jepang) dan ternyata juga seorang…wota (fans JKT48). Mba Andari yang sangat ingin saya acungi jempol. Beliau bukan berasal dari sastra (baca: informatika) tapi semangat belajarnya di Sastra Kontemporer luar biasa menurut saya. Salut. :)




Alhamdulillah, walaupun hanya berempat saya merasa ada di tempat yang tepat bersama orang-orang yang tepat pula. Mereka berpikiran terbuka dan, tentu saja, berhati emas. Hal tersebut adalah hal-hal yang membuat saya bahagia berada di Sastra Kontemporer. Semoga kebersamaan kami penuh berkah sampai sidang, sampai wisuda. Sampai kapan pun.

Penulis dan pejalan





Senang rasanya berada bersama teman yang punya hobi dan minat sama. Mereka yang suka menulis, yang suka membaca atau yang suka jalan-jalan. Atau gabungan dari ketiganya. Mereka yang suka menulis, membaca, dan jalan-jalan. FLP Bandung memang kumpulan para peminat baca-tulis,tapi ternyata bukan hanya itu. Mereka juga suka jalan-jalan. Kang Adew adalah salah satu contoh yang paling kece. Mentor puisiku ini suka jalan-jalan. Rasanya, setiap kali keliling kota Bandung, ada saja yang menyapa Kang Adew. Ada saja yang mengenali beliau. Ketika jalan-jalan menyusuri Cikapundung, misalnya. Saya, Kang Adew, Teh Mirani, dan Teh Santi menyusuri tepian Cikapundung di dekat Unisba. Konon, tempat tersebut dulu adalah Kerkop (pemakaman Belanda). Belum berapa jauh, seorang Bapak yang berpapasan dengan kami menyapa Kang Adew. Hal serupa terjadi saat kami ke IFI, dan ke Banceuy.  Mungkin seperti yang pernah dikatakan beliau, Kang Adew adalah artis yang "anti-popularitas". Disebut artis, ya, beliau musisi dan pegiat budaya. Disebut anti-popularitas? Da tos populer (di kalangannya) atuh. Hehe





Dari Kang Adew, semangat menulis, membaca, sambil jalan-jalan itu dikobarkan. Kami tidak sekadar jalan-jalan tapi juga membaca lingkungan. Membaca beyond the line, kalau kata sebuah teori. Selain, tentu saja, membaca teks. Jadi, kami pasti membawa bacaan ke mana pun kami pergi. Setelah menemukan tempat yang nyaman untuk istirahat sehabis berjalan jauh, buku bacaan  itu akan kami bincangkan. Setelah selesai berjalan-jalan, membaca buku dan lingkungna, juga mendiskusikannya, kami tak lantas pulang dengan tangan kosong. Kami punya catatan kecil masing-masing yang akan jadi bahan bakar tulisan kami. Entah jadi esai, cerpen, sajak, atau postingan di blog seperti ini. :)

Saya pikir, begitulah sejatinya penulis. Dia tidak hanya hidup dalam dirinya sendiri, tapi juga dalam lingkungan sekitar. Bahan bacaannya tidak hanya teks tapi juga alam semesta. Sedikitnya, itulah yang selalu saya dapatkan setiap kali berjalan bersama orang-orang ini. Membaca, menulis, dan berjalan bersama mereka adalah sebuah kebahagiaan.

Pembaca, Pelukis, Teman curhat

Ya, begitulah, beberapa teman dekat saya memang gemar baca, tulis, dan gambar (ilustrasi). Coba tanya apa yang sudah Dyah Anggrahita baca? Banyak. Tak hanya itu, dia juga suka menggambar. Satu hal yang membuat saya terkesan adalah totalitasnya di bidang literasi. Pernah suatu ketika saya bertanya alasannya masuk jurusan Kehutanan di UGM. Maksudnya, kenapa tidak di jurusan lain atau jika pun keukeuh dengan jurusan itu, kenapa tidak di IPB. Ternyata, Dyah yang senang berpetualang ini memilih UGM karena wilayah tengah pulau Jawa ini belum terjelajah. Selain itu, ia berharap, di Kehutananlah ia bisa belajar menulis secara otodidak dan lebih serius.  WOW!. Karena hal itulah, ia kemudian  bergiat di pers mahasiswa dan gabung di FLP Jojga saat kuliah. Inspiratif! :)
Nita adalah teman saya saat sekolah menengah. Pertemuan kami yang pertama adalah ketika persiapan Porseni tingkat Kabupaten. Saat itu, Nita diikutkan sebagai salah satu peserta lomba melukis dan saya sebagai peserta lomba baca puisi. Selama beberapa pertemuan, kami mulai akrab. Kami jadi dekat saat menyaksikan  tim basket SMP kami bertanding. Di sana, percakapan kami bukan tentang tim tersebut, melainkan tentang Shohoku (tim basket di anime SlamDunk). Ternyata, kami punya kesamaan yaitu menyukai anime Jepang. Di SMA, kami bertemu lagi di eskul Redaksi KATA (pers sekolah) dan di kelas Bahasa (kami sekelas selama dua tahun.ehehe). Di kuliah, kami juga bertemu karena kami satu fakultas. Alhamdulillah, kami masih berkawan sampai sekarang. Nita menyukai hal-hal oldish. Dia penyuka musik lawas, pengagum Antonio Vivaldi, gemar main biola, senang lukis, dan takut kucing. Satu hal lagi yang unik dari Nita adalah keceriaannya. Sepertinya, hal apapun yang seharusnya menyeramkan atau naas akan disulap jadi menggelikan dan bodor saat diceritakan Nita. Orang seperti ini, menurut saya, ibarat seseorang yang selalu mampu melihat titik kebahagiaan di setiap alur kehidupan.




Nah, lain halnya dengan Resti. Resti bukan seseorang yang suka menulis (apalagi baca :p), menggambar, dan suka hal-hal "antik". Namun demikian, Resti adalah seseorang yang selalu bisa memberi motivasi. Kami sering berkegiatan bersama. Hal-hal sederhana memang, misalnya mampir ke rumah sehabis kuliah, jajan es kelapa bareng, jalan-jalan keliling Unpad (literally, muterin kampus Unpad Jatinangor :p), atau menginap. Tapi semua itu sungguh berarti. Kami banyak bercerita dan berbagi. Kami pun saling menguatkan dan, tentu saja, saling mengingatkan dalam kebaikan.

Dibersamai oleh teman-teman yang inspiratif adalah sebuah kebahagiaan tersendiri untuk saya. Saya jadi banyak belajar tentang beragam hal dari mereka. Selalu ada hal baru yang saya dapat setiap kali bertemu mereka. Semangat baru dan jiwa baru juga. Alhamdulillah :)

1 komentar:

yudi yudiansyah mengatakan...

Sy ingin jd tmnmu (lagi)

Unordered List