30 Juni 2014

Suatu Ketika di Museum Sri Baduga

Share it Please
Minggu menjelang  Ramadhan biasanya dihabiskan dengan kegiatan makan bersama. "Munggahan" menurut istilah orang Sunda. Hal tersebut juga yang melandasi saya dan Dyah melakukan aktivitas serupa menjelang Ramadhan. Berbeda dengan munggahan biasanya, kami berencana berpetualang dahulu baru makan bekal masing-masing. Hari ini (25/6), kami memutuskan berpetualang ke daerah Tegallega. Ada dua tempat menarik di sana. Museum Sri Baduga dan Lapangan Tegallega. Setelah janjian pukul satu siang di depan museum, kami memulai penelusuran ke Museum Sri Baduga.

Museum Sri Baduga, tampak depan

Berlokasi di jalan BKR no. 185 Bandung, museum ini menyuguhkan sejarah kebudayaan Jawa Barat. Perjalanan kebudayaan Jawa Barat dari masa prasejarah hingga kontemporer ditampilkan lewat koleksi-koleksinya. Hal itu tampak dari tata penempatan benda-benda koleksi dari lantai satu sampai lantai tiga. Di lantai satu, kami disuguhi sejarah kebudayaan Jawa Barat pada masa prasejarah. Tampak gambaran mengenai keadaan alam Jawa Barat saat masih berupa danau disajikan dalam bentuk peta. Terdapat pula maket cekungan Bandung yang cukup interaktif di sana. Kami bisa mengetahui ragam gunung aktif yang mengelilingi Jawa Barat khususnya Bandung, aliran sungai Citarum dan Cikapundung serta letak sumber mata air Situ Aksan.  Tetiba saya ingat sebuah lirik "Bandung diriung ku gunung…" (Bandung dikelilingi gunung…). Di lantai ini pula disuguhkan aneka bebatuan yang ditemukan di sekitar Jawa Barat dan aneka fosil hewan serta tanaman purba. Memasuki ruangan tengah lantai satu, kami disambut dengan replika gua pawon. Di dalamnya terdapat replika belulang purba yang dikubur tepat di tengahnya. Di area ini, kami melihat perkembangan kepercayaan masyarakat Sunda zaman dahulu. Hal ini tampak dari aneka batu yang dipamerkan. Terdapat beberapa batu yang dibentuk patung dan digunakan sebagai sarana pemujaan roh leluhur. Patung-patung tersebut menunjukkan sistem kepercayaan animisme-dinamisme masyarakat pada saat itu. Pada bagian lain, kami melihat perkembangan kepercayaan tersebut telah terpengaruh Hindu-Budha. Hal tersebut tampak dari beberapa patung  dewa dalam kepercayaan Hindu-Budha.

Dyah sedang mengamati cekungan Bandung

Di lantai dua, kami seperti menelusuri linimasa sebuah zaman di kehidupan masyarakat Sunda saat didatangi pengaruh Islam dan  kolonial. Di pojok ruangan dekat pintu masuk terdapat penjelasan mengenai Momolo. Momolo biasanya diletakkan di atas atap tempat yang dianggap suci. Bentuknya berupa ukiran dengan empat segi dan di setiap segi dibuat meruncing. Pada perkembangannya, benda ini digantikan dengan kubah di atas masjid. Di bagian selanjutnya kami melihat sebuah replika bale yang biasa digunakan untuk belajar mengaji. Saat memasuki ruangan ini, saya dikagetkan dengan patung perempuan yang sedang mengaji di bale tersebut. Karena kurang fokus, saya mengira benar-benar ada sosok perempuan duduk di bale. Haha
Di lantai ini pula, kami menemukan beragam tulisan yang ditulis di atas lontar hingga berbentuk kitab. Tulisannya pun berkembang dari huruf Pallawa, Arab-Melayu hingga latin. 
Di tengah ruangan lantai dua, terdapat miniatur rumah tradisional Sunda seperti Julang Ngapak, Limasan, dan Badak Heuay. Saya rasa ada beberapa kesamaan dalam bentuk ruah tradisional tersebut yakni pintu belakang. Di setiap jenis rumah, terdapat pintu yang berada di belakang rumah dan golodog. Saya kira, pintu itu adalah pintu yang berasal dari pawon (dapur). Menurut saya, jenis rumah semacam ini menawarkan suasana yang hangat bagi penghuninya. Saya jadi kangen rumah saya dahulu. Rumah panggung dengan golodog dan pintu belakang dari pawon. :)

Salah satu jenis rumah adat Sunda. Yang ini apa, ya, namanya?

Suasana kekinian tampak di lantai tiga. Kami menyusuri kehidupan masyarakat Sunda pada era kolonial menuju kontemporer. Di lantai tiga dipamerkan beberapa jenis mata uang yang berlaku di Priangan sejak awal abad ke-XIX, masa kolonial, hingga masa kemerdekaan. Terdapat pula penjelasan mengenai kesenian yang berkembang seperi calung, angklung, wayang golek, hingga sinden. Yang menarik di lantai tiga ini adalah jajaran gerobak pedagang (lebih tepatnya tanggungan). Ada tanggungan pedagang rujak beubek, pedagang aromanis, pedagang kerupuk, pedagang bajigur, pedagang putu, dan pedagang . Heran, kenapa tanggungan tukang siomay disimpan di sini? Padahal, pedagang siomay yang membawa dagangannya dengan cara ditanggung di pundak masih bisa ditemui. Apa maksudnya, keberadaan pedagang tersebut akan lekas hilang ditelan zaman? Entahlah, kami masih bertanya-tanya. Dan pertanyaan kami makin menggunung saat menemukan sebuah etalase di ujung ruangan lantai tiga. Di sana terdapat berbagai kaulinan (permainan) tradisional. Gatrik, ngadu muncang, alat-alat papasakan, ketepel, mamanukan, dam-daman, dan kaleci. Coba tanyakan kaulinan tadi pada anak-anak masa kini, berapa banyak yang mereka kenal? Miris ketika saya ingat seorang teman yang mempunyai adik kecil bercerita bahwa di rumahnya sama sekali tidak ada mainan. Semuanya sudah tergantikan oleh tablet, ipad, smartphone. Apa hal ini yang menyebabkan kaulinan tersebut mesti dimuseumkan? Hmm…

Kaulinan zaman dulu. Miris adalah ketika semua ini sudah harus dimuseumkan. hmm...

Setelah keluar museum saya mendapat sebuah pemikiran bahwa...
Bermain ke museum, mana pun, menurut saya akan selalu menawarkan perasaan berjiwa besar. Sebagai seorang individu, seseorang sedang berada di dalam alur waktu. Ia bisa menengok  sejarah masa lalu sambil berharap-harap cemas akan jadi sejarah pula di kemudian hari. Atau, mengutip kata Pijar, individu itu menyadari bahwa ia adalah bagian dari sebuah sejarah yang panjang. 

:)


1 komentar:

Muhamad Sidik mengatakan...

tempat wisata bandung salah satunya museum sri baduga. cocok nih buat liburan

Unordered List