12 Februari 2019

Menghardik Manusia (bagian 1)

Setiap melihat postingan Garda Satwa Indonesia tentang kekerasan terhadap binatang, saya merasa terluka. Cepat-cepat saya mencari kucing-kucing saya dan memeluk mereka. Saya gumamkan doa pada mereka, semoga mereka selalu Tuhan lindungi dari segala macam kejahatan. Semoga Tuhan pun masih memberikan saya kesehatan sehingga bisa terus melindungi mereka. Postingan di akun instagram Garda Satwa Indonesia itu selalu membuka kesadaran saya bahwa masih banyak jenis manusia yang berhati batu di muka bumi ini. GSI, demikian akun itu biasa disingkat, mengajarkan pengikutnya untuk mengasah setajam mungkin  kepedulian terhadap makhluk Tuhan itu dan melakukan hal baik bagi mereka sesederhana apapun. 

Baru-baru ini, hati saya kembali terkoyak dengan beberapa berita di media sosial yang dibahas pula di akun GSI. Kasus tersebut adalah kasus yang dilakukan dua orang pria terhadap seekor kucing. Mereka dengan sengaja mengikat kucing tersebut pada sepeda motor lalu menyeretnya di sepanjang jalan hingga tewas. Hal ini mengingatkan saya pada postingan serupa beberapa waktu lalu. Sekelompok pemuda yang sedang menyalakan api tiba-tiba menyeret seekor anjing lalu dengan sengaja membakar bagian tubuh anjing itu di api yang berkobar. Tak jelas memang suara di video itu, tapi saya yakin anjing itu sangat kesakitan dan kepanasan. Sementara, para pemuda itu tertawa sangat girang seolah menyaksikan sebuah lelucon. 


Sinting!


Kekerasan bukanlah suatu hal lucu yang bisa ditertawakan dengan begitu ringan! Tindakan penganiayaan macam apapun terhadap semua makhluk Tuhan tak membuatmu patut dihargai alam semesta. Kamu sedang menantang Tuhan. Dan Tuhan Mahakuasa atas seluas-luasnya jagat raya beserta isinya.


Menghardik manusia

Ya, saya manusia dan sedang menghardik jenis saya sendiri. Hal itu saya lakukan sebab merasa marah pada sesama saya. Di titik tertentu, saya merasa malu menjadi manusia yang bisa begitu mudah merasa sombong, merasa melebihi Tuhan, dan begitu biadab. Lalu di tempat saya berada, saya merasa tak bisa melakukan hal besar yang mengubah banyak ketimpangan itu. Namun saya masih punya kepercayaan bahwa kesadaran itu muncul dari celah-celah sekecil apapun. Mungkin kamu yang membaca tulisan saya ini merasa sedikit tergerak dan tercerahkan tentang menjadi manusia yang menghargai ciptaan Tuhan. Mungkin satu-dua orang dari sekian miliar manusia di muka bumi ini ada yang tergerak sehingga kita bisa bersama-sama bertindak dan memberi dampak. 

Sudah, sudah. Saya ingin keluar sebentar mencari kucing-kucing saya dan sekali lagi membisikkan bahwa mereka aman bersama saya. :')


0 komentar:

Mengenai Saya

Foto saya
Perkenalkan! Saya Nurul Maria Sisilia. Seorang pengajar, penulis, dan pekerja sosial. Saya senang menulis hal menarik yang terjadi di kehidupan sehari-hari. Mari berbincang!

Terjemahkan (Translate)

Rekan

Diberdayakan oleh Blogger.