09 Februari 2012

Membaca Gunung Geulis (Sebuah Catatan Perjalanan)

Share it Please



Halaman Masjid Agung Cicalengka

Pagi itu kami, Asep K, Asep F, Ibam, Dian, Agus, Aria. Esti, Dede, Puri, Resti, dan saya, berkumpul di Masjid Agung Cicalengka pukul 07.00 WIB. Kami hendak mendaki Gunung Geulis dan menikmati pemandangan Bandung-Sumedang di ana. Di luar perkiraan, sembilan dari sebelas anggota pendakian lengkap terkumpul pada pukul 07.30 WIB. Karena hari makin siang, kami pun segera berangkat menggunakan angkot Cicalengka-Cileunyi. Dua orang anggota lagi yng masih tertinggal, Esti dan Dede akan menyusul kemudian.  Setelah 15 menit perjalanan di angkot, kami pun turun di Cipasir. Cipasir merupakan jalur masuk menuju Gunung Geulis dari arah Cicalengka selain Desa Cikuda dari arah Jatinangor, Sumedang . Di Cipasir,  kami sempat kebingunng karena dua rekan kami belum juga datang menyusul rombongan. Sempat menunggu beberapa lama, akhirnya rombongan ikhwan meneruskan perjalann sedangkan rombongan akhwat menunggu Dede dan Esti. Alhamdulillah, anggota pun lengkap berkumpul setelah penantian yang cukup melelahkan.

Sepanjang Cipasir

Sepanjang Cipasir  mata kami dimanjakan dengan  pemandangan sawah yang menghampar hijau dan memesona. Dari sana, kami berbelok ke Desa Citanggulun lalu berjalan terus hingga Desa Jatiroke. Sampai di perbatasan Jatiroke-Cikuda, kami berjalan menuju kaki Gunung Geulis. Di sini, terdapat hamparan ladang perkebunan penduduk setempat. Beragam tanamann yang  ranum dan segar membentang sepanjang mata memandang.

Perkebunan Warga

Tak lama kemudian, kami memasuki kawasan hutan yang dipenuhi semak dan pepohonan. Ini adalah pintu Gunung Geulis yang sebenarrnya. Dian  berada di barisan depan sebagi pemandu pendakian kami.

Mulai Menanjak

Pendakian dimulai. Beragam jalur kami lewati. Jalan di tempat ini cukup menanjak dan di beberapa titik jalan pun menyempit. Tanah agak licin saat itu, kami pun mesti berhati-hati sebab bila sedikit lengah  kami bisa terjatuh. Baru saja mewanti-wanti beegitu, kami dikagetkan dengan teriakan teman kami, Resti. Dia terjerembab di sebuah jalan yang memang agak menyempit. Segera kami menarik  Resti dari bibir jurang. Kami berhasil membawanya ke atas dan segera menenangkannya. Perjalanan kami terhenti sejenak karena hal itu baru beberapa lama kemudian perjalanan dilanjutkan.

Memandang Jatinangor dari ketinggian

Setelah melewati beragam jalur, akhirnya kami sampai di bahu gunung. Dari sini, terlihat jelas pemandangan Jatinangor, Sumedang begitu indah. Dari bahu gunung, perjalanan dilanjutkan menuju puncak gunung. Semakin ke atas, semakin terlihat punck Gunung Geulis yang  menyuguhkan pemandangan mengagumkan. Akhirnya, setelah lama berjalan, kami pun sampai di puncak Gunung Geulis. Ada semcam makam di sini, tepatnya di bawah sebuah pohon besar di salah satu sisi puncak gunung. Banyak mitos mengenai makam ini, namun Dian sendiri  menyangsikan kebenaran mitos bahkan makam itu sendiri. Dian hapal betul area ayang sedang kami lewati, maka kami percaya saja.

di puncak gunung

Di puncak gunung Geulis, kami menikmati pemandangan Bandung-Sumedang yang luas. Gunung Geulis sebenarnya merupakan puncak dari perbukitan yang terdapat di sekitar puncak Gunung Geulis. Dari puncak ini juga, kami dapat melihat gunung-gunung yang bertetangga dengan  Gunung Geulis seperti Gunung Jarian, Gununng Iwir-iwir, dan Gunung Aseupan
"Ada kereta! Nah, itu berarti itu Rancaekek!" terka salah seorng sahabat kami dengan sumringah. Ia menunjuk ke arah selatan. Tampak sebuah kereta sedang melaju. Kereta tersebut terlihat kecil dan lambat dari puncak ini.  Ya, semua seakan seperti diorama yang mengagumkan.
"Cik, mana bumi abi?" [1] celoteh teman kami yang lain dengan penuh canda. Kami pun melepas lelah dengan menikmati pemandangan yang  menakjubkan dan keceriaan. Di puncak tersebut, kami pun membuka bekal makan  kami dan segera menyantapnya dengan lahap. Semua lelah seakan terbayar dengan kebersamaan kami.
Setelah selesai menyantap makan siang, kami segera berbenah sebab tiba-tiba langit mendung dan angin berembus kencang. Kabut turun siang itu lalu sesaat kemudian hujan deras turut turun. Kami berlari mencari tempat berteduh. Jadilah kami berteduh di bawah atap yang meneduhi makam. Setelah hujan cukup reda, kami memutuskn pulang. Kami sempat berdebat memutuskan jalan pulang. Dian menyarankan pulang ke jalan semula, sedang Agus mengajak menempuh jalan lain yang menurutnya lebih singkat. Personil menjadi berkurang sebab Dian memutuskan untuk pulang sendiri menempuh jalur semula. Sisanya, kami, mengikuti petunjuk dari sang pemandu baru, Agus. Kami turun dari sisi lain gunung, yaitu jalur sebelah kiri.

Turun gunung

Semula, perjalanan berjalan biasa saja, tapi makin menurun, jalan ternyata makin terjal. Kami harus jalan mundur dengan berpegangan pada ranting-ranting dan batang rumput yang kuat menjulur ke bawah. Kami melakukan aksi rappeling alias menuruni tebing demi turun dari gunung ini dengan cepat dan selamat. Namun, ternyata jalur yang  kami ambil tidak mudah. Jalan yang  sangat licin menjadikn jalan ini berbahaya, terlebih setelah Agus yang menjadi pendahulu menbewarakan bahwa jalan di depan tidak bisa dilewati karena terlalu curam. Alhasil, kami memutar badan dan kembali ke jalur semula, jalur yang dilewati ketika naik ke gunung. Kami pun naik lagi ke puncak dengan baju yang  sudah tidak bisa disebut bersih. Sungguh, pakaian kami seperti habis terjerembab ke lumpur.
Kami menuruni jalan semula dengan lebih berhati-hati, sebab jalanan menjadi sangnt licin selepas hujan deras tadi. Kami harus berpegangan pada dahan dan ranting yang kuat agar tidak terjatuh. Meski demikian, tetap saja ada yang tergelincir dan beberapa kali terpeleset. Puri dan Aria termasuk yang paling sering terpeleset. Aria terpeleset dan terjatuh duduk lalu tergelincir ke bawah, mirip seperti anak kecil main perosotan. Teman-teman yang berada di bawah Aria harus menghindar sebab jika tidak, mereka akan ikut jatuh. Efek domino! Seram memang, tapi kami pun menertawakannya juga. Akhirnya, kami sampai di perbatasan Jatiroke-Cikuda. Tempat pertama memasuki Gunung  Geulis. Tenaga yang sudah mulai terkuras tampak dari wajah kami yang lelah. Kami memutuskan tidak berjalan ke jalur Jatiroke menuju Cipasir tapi berjalan menelusuri Cikuda menuju Jatinangor.

pulang...... 

Kami melewati perumahan penduduk yang sore itu sedang ramai.
"Ini baru ujian mental, melewati perumahan dengan penampilan  yang  enggga banget!" seloroh seorang teman sambil tertawa. Kami pun ikut tertawa.
Kami pun sampai di jalan raya Jatinangor. Di sana kami naik angkot Cileunyi-Sumedang. Tampak ada dua orang ibu saja di dalam angkot itu. Salah seorang ibu menatap kami yang mengenaskan. "Punten nya, Bu, barau, " [2] ujar Esti sambil tersenyum. Sang ibu tersenyum geli. Sampai di terminal cileunyi kami meneruskan perjalanan pulang dengan angkot Cileunyi-Cicalengka. Pukul 16.00 WIB kami memasuki Cicalengka, kami pun berpisah dan segera melepas lelah di rumah masing-masing.
Alhamdulillah, perjalanan kali ini sangat berkesan. Kami membaca Gunung Geulis dengan semua tanda kekuasaan Sang Pencipta. Gunung-gunung yang melingkupi Bandung membuat kota tersebut diabadikan dalam sebuh lirik lagu, “Bandung, kota diriung ku gunung.” [3]. ya, kami menyaksikannya sendiri. Kami pun membaca makna kebersamaan selama perjalanan. Makna solidaritas dan ukhuwah begitu kentara selama perjalanan.

Subhanallah walhamdulillah.

The Mountaineer...  ^o^/


[1] “Coba, mana rumah saya?”, Sunda
[2] “Maaf ya, bu, pada bau”, Sunda
[3] “Bandung, kota yang dikelilingi gunung”, Sunda

5 komentar:

Dede_jubaedah. dampit cicalengka mengatakan...

subhannah bagus nur karangannya, kalau kata dosen dede mah biar pembaca lebih merasakan yang iya baca, paragraf deskripsi dan alurnya harus lebih diperluas..

dadi giansyah mengatakan...

ass wr wb, salam knal ...?, kpn2 klo naik gnung geulis lg ajak2 d0nk, klo bs jgn lwt situ, tp lewat Cimanggung, lebih dkt gk berliku liku ?

aep saepudin mengatakan...

cerita yang bagus.
kelihatannya rombongan kalian tidak patuh pada pemandunya sendiri hanya karena ingin melewati jalur yang lain. padahal pemandu kalian (Dian) lebih mengetahui apa yang terbaik buat keselamatan rombongannya. Acung jempol buat pemandu pertama kalian.

nurul sisilia mengatakan...

@Aep Saepudin. haha, iya... ceritanya nyari tantangan, tapi tanpa pertimbangan. nekat eta mah nya?

satubumikita mengatakan...

keren, salam kenal dari komunitas kami.

Unordered List