Tampilkan postingan dengan label girl talk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label girl talk. Tampilkan semua postingan

24 April 2019

CATATAN SEDERHANA BUAT SARA FIZA


Duka dan masa silam adalah juga luka. Dan mengingatnya adalah perihal menabur garam.
Namun waktu meminta kita terus berjalan sambil berupaya menyembuhkan luka. 
Sendirian.

Maka, tak apa berjalan pelan asal itu menyembuhkan. Tak apa menangis kencang asal itu buatmu tenang. Tak perlu lekas-lekas berlari sebelum sepenuhnya pulihkan diri. Mari perlahan tetap berjalan.

Biar aku temani.

sumber: pixabay.com

#GirlTalk
Read More

16 April 2019

GIRL TALK (7) : PASCAL

Setelah sekian lama tidak berkunjung ke perpustakaan di bilangan Jatinangor, siang itu aku putuskan untuk ke sana. Kupikir, sudah waktunya otakku mendapat nutrisi dari buku-buku bagus di sana. Awalnya, aku sangat ingin mengajak Dira ikut ke sana. Ia sudah lama penasaran dengan perpustakaan dekat mal di Jatinangor itu. Tapi sepertinya ia memilih untuk pulang. Malam tadi ia menginap di rumahku untuk menenangkan hati. Semalaman ia menceritakan kegelisahannya tentang Rintan dan lagi-lagi tentang Pascal.

Memasuki gerbang perpustakaan, hiruk-pikuk pengunjung mulai terlihat. Kursi-kursi yang terletak di teras sudah dipenuhi pengunjung yang sedang diskusi. Memasuki ruangan, beberapa orang tampak duduk lesehan dan membuat lingkaran kecil. Di sudut ruangan terdapat pojok berisi kliping-kliping di dekatnya terdapat level kecil dari kayu untuk duduk lesehan. Di sana, ada sesuatu yang mengejutkanku.

"Pascal?" sapaku pada lelaki di sudut itu. Aku sempat ragu bahwa sosok itu adalah laki-laki yang sudah lama jadi "buronan" Dira. Lelaki itu kemudian menoleh dan tersenyum canggung. Tepat! Itu Pascal.  Aku lantas menghampirinya.
 "Hai, Pascal! Dari mana aja ih?" tanyaku ramah untuk membuka percakapan.
Aku menangkap raut kaget di wajahnya. Tapi ia segera mengatasinya. Ia merapikan dulu kliping yang sedang ia baca itu. Aku bersyukur Dira tak jadi ikut ke perpustakaan ini. Aku tak bisa bayangkan bagaimana perasaannya bertemu Pascal secepat ini.
"Semedi, Sil!" jawabnya singkat sambil tersenyum kecil. "Skripsi saya kan belum beres. Ah, tahu lah. Banyak ngulang. Sempat cuti juga. Kuncen kampus nih," lanjutnya. 
"Semedi di gunung Hua Kong? Sakti dong nanti," candaku. Dia membalas tertawa.
"Sakti banget, Sil. Sampai gak ada yang tahu kan saya di mana," ujarnya. Pernyataannya itu sesungguhnya membuatku mulai ingin bicara banyak.
"Iya, Cal. Kamu kayak ninja. Menghilang gak ada yang tahu," timpalku. 
"Kamu juga menghilang dari Dira, Cal," lanjutku dengan wajah serius. Pascal tampak diam dan bingung mencari jawaban. Sesaat kemudian ia mulai bersuara.
"Kayaknya saya berpkir ulang buat terus bareng Dira, Sil. Dira butuh orang yang lebih baik dari saya,” jelasnya. Sungguh, dalam hati aku mengumpat "Euh, ieu jelema!".

"Tolong jawab jujur ya, Cal. Kamu mundur karena Dira hampir selesai studi magister kan? Terus, dia juga sekarang sering bantu proyek dosennya gitu. Itu semua 'mengancam' kamu kan?" tanyaku membludak seperti menginterogasi tahanan.
"Enggak sih," jawabnya singkat.
"Enggak salah maksudnya?" aku bersikeras.
"Senang kok dia berprestasi. Dia memang cerdas. Pantas kok dapet kesempatan kayak gitu," Pascal sangat diplomatis memberi jawaban tapi aku tak mau terpengaruh.
"Tapi?" desakku pelan.
"Ya, sejujurnya saya takut, Sil. Saya takut kalau di masa depan dia malu partner-nya kayak saya." 
Duh, lagi-lagi batinku teriak "Makan tuh gengsi. Sanguan!". 
"Aku kok kasian sama kamu, Cal. Apa kamu gak tersiksa dengan semua pemikiran itu? Dira nerima kamu lho. Mulai dari kekurangan sampai kelebihan kamu. Tapi kok kamu enggak?" jelasku dengan sangat hati-hati. Aku ingin sedikitnya Pascal paham perasaan Dira.
"Dia sama sekali gak masalah dengan status studimu. lho, Cal. Dia malah mau bantu kamu kan? Dia gak pernah mempermasalahkan hal-hal yang justru orang lain nyinyirin ke kamu," lanjutku.
"Semakin dia berlaku begitu saya semakin merasa harus menjauh, Sil," timpalnya singkat.
Aku mulai kehilangan kata-kata. Rasanya memang tak bisa memaksa Pascal untuk tetap bertahan dengan kondisinya yang serba bimbang begini.
"Setidaknya saya mau selesaikan dulu urusan saya, Sil. Kuliah dan pekerjaan saya. Biar saya lebih mapan dan kuat," tambahnya
Akhirnya, aku sungguh tak bisa berkata banyak. Segera saja aku menyudahi percakapan dan melanjutkan tujuan awalku ke perpustakaan yaitu membaca. Setelah pamit dari Pascal, aku segera menuju sudut ruangan lain. 

Ah, sebenarnya aku sunguh paham bahwa orang-orang di sekitarnya melulu membebani Pascal. Tapi, kenapa lagi-lagi harus mengesampingkan diri sendiri demi memuaskan standar orang lain? Bukankah kita memang  tak pernah bisa memenuhi keinginan semua orang di muka  bumi ini? Kita adalah manusia yang lemah dan terbatas. Setelah percakapan tadi, aku benar-benar sedih mengetahui Pascal memilih menyerah atas dirinya sendiri dan mengorbankan Dira. 

Sekarang aku pun diserang kebingungan yang amat sangat. Aku tak tahu  bagaimana menyampaikan ini semua ke Dira. Bingung memberitahu bahwa mungkin lebih baik dia meninggalkan Pascal. 



Read More

09 April 2019

GIRL TALK (6): DITA

"Dita, stok alat tulis kantor ini kamu yang sediakan ya? Padahal ‘kan rencananya kita baru belanja akhir pekan ini," tanyaku memastikan. Ruangan kantor kami saat itu memang sangat rapi dan bersih. Beberapa alat tulis kantor sudah penuh terisi.
"Aku yang belanja kemarin soalnya gemes banget serba habis," Dita sang peri bersih-bersihku ini juga punya jiwa pengadaan barang rupanya. 
"Gak mungkin kamu sendiran yang belanja kan? Banyak banget soalnya," tanyaku
"Dibantuin Petra kok. Sendirian mah aku tak sanggup. Haha," jawab Dita ringan.
"Wait! Petra?" aku mengerlingakan mata ke arah Dita mencoba menggodanya. Aku tahu persis bahwa mereka berdua sedang dekat akhir-akhir ini. Dita dan Petra sudah lama saling kenal tapi Petra sempat dipindahtugaskan ke tempat kursus pusat di Jakarta. Baru tahun ini Petra kembali ke rumah belajar kami di Bandung. Rupanya, pertemuan kedua mereka ini berhasil menumbuhkan benih asmara di hati Dita. 

 "Petra akhir-akhir ini sering antar kamu kalau ada perlu, Dit. Perasaanmu disambut nih?" tanyaku usil. 
"Apa sih. Biasa aja," jawab Dita sambil meraih kursi di dekatnya lalu duduk dan perlahan meminum kopinya.
"Bagus atuh. Aku siap jadi kurir antar undangan, lho!" aku kembali menggoda Dita.
"Gak tau, Sil. Aku kok rasanya ingin menghindari Petra," suara Dita tiba-tiba melemah. Sepertinya berat sekali sesuatu yang sedang gemuruh di hatinya.

"Kok malah mundur, Dit? Bukannya dari awal kamu memang  suka sama Petra? Sekarang dia mulai nunjukin perasaannya juga ke kamu, lho," ujarku lirih.
Dita tak menjawabku. Ia sibuk mengaduk lagi kopinya sambil membuang pandang. Aku mencoba mendekatkan kursiku ke arahnya dan bertanya pelan-pelan.
"Petra udah ke rumah kamu?"
"Belum, Sil. Padahal dia menawarkan. Tapi rumahku kan lagi renovasi," jawabnya ringkas.
Aku tahu, renovasi rumahnya sebenarnya sudah hampir selesai. Jadi, rasanya tak masalah kalau Petra bertandang. Aku ingat bahwa ia juga pernah menolak tawaran Danis yang hendak ke rumahnya. Alasannya, halaman rumahnya sedang dirombak. Ah, entahlah, Dita selalu punya alasan fantastis untuk menolak lelaki yang akan datang ke rumahnya. 

"Maaf, Dit. Apa kamu takut mempertemukan Petra dengan keluargamu?" aku menerka. Erat aku menggenggam tangan Dita. Dia melirikku dan menarik napas panjang yang berat. Seketika ruangan ini dingin dan hening.  

"Aku kesal dengan diriku sendiri, Sil!" pekiknya tiba-tiba.
"Usiaku sudah kepala tiga. Tapi kok rasanya aku tak bisa beranjak dari hal lain selain masalah di rumahku, ya, Sil? Bapak dan Ibuku bertengkar terus. Abangku tak bisa kuandalkan tapi orang tuaku masih saja membelanya." Masih segar dalam ingatanku, Dita bertengkar hebat dengan kakaknya itu karena salah paham tapi orang tuanya justru mati-matian membela sang kakak lelaki. Hal itu membuat Dita sangat terpukul dan tak pernah betah ada di rumah. 

"Saat semua orang sudah bersikeras mengupayakan pernikahan, aku malah belum. Aku masih tercekal di rumahku sendiri. Gimana aku bisa melangkah memikirkan hal sakral itu jika aku belum selesai dengan diriku sendiri, dengan rumah dan orang-orang di dalamnya, Sil? Gimana?" tangis Dita seketika pecah. Aku mendekati Dita dan menawarkan pelukan. Aku paham, kondisi itulah yang membuatnya ragu menjalin hubungan dengan Petra. 
Ah, Dita, itu sungguh bukan salahmu. 

"Di saat seperti ini aku sempat ingin kehilangan Bapak dan Abangku saja, Sil. Rasanya lebih baik kalau aku tak pernah punya mereka," ujar Dita tiba-tiba.
"Dita! Jangan gitu! Kehilangan tak selamanya baik untukmu. Apalagi kehilangan figur orang tua atau salah satunya. Kamu mungkin justru makin merasa pincang dan tak sempurna. Tetap saja jiwa kamu akan berlubang besar!" aku naik pitam. 
"Aku menyinggungmu, ya, Sil?" tanyanya. Aku kira dia memang terluka sampai dia lupa bahwa aku, anak dari seorang ibu tunggal, juga terluka. 
"Sil, aku minta maaf. Aku gak bermaksud begitu," Dita balik memelukku.
Pertahananku kini rapuh juga. Aku ikut menangis bersama Dita. Sekian waktu kami sama-sama menyelami kesedihan hingga akhirnya aku berani angkat bicara. 
"Ada kenyataan yang memang bisa kita ubah dengan mengupayakannya dan ada pula yang benar-benar hanya bisa kita terima dengan penuh ikhlas dan lapang dada walaupun menyakitkan. Di poin kedua itu contohnya adalah orang tuamu, keluargamu; sesuatu yang membentuk ingatan masa kecilmu. Kamu boleh kecewa dengan itu. Kamu juga boleh sedih. Tapi kamu tak boleh merasa sendiri berjalan di memori yang kelam itu, Dit. Ada aku."
Dita masih memelukku saat aku kembali berujar.
“Kalau Petra adalah pilihan terbaik Tuhan buatmu, dia akan sepenuhnya menerima kamu. Tapi kalau tidak, aku yakin Tuhan sedang menyiapkan hal yang lebih indah buatmu. Sampai hal itu terjawab, baiknya kamu melapangkan dirimu dulu. Kamu berhak menerima kebaikan dari semesta selama kamu mau membuka hatimu atas beragam kemungkinan, Dit.”

"Kamu harus bahagia ya, Sil. Kamu pantas untuk itu," ujarnya.
"Kamu juga, Dit." Aku menambahkan.

Siang kami kali ini sungguh sendu. 


*Rada mewek sih ini nulisnya :'(
Terima kasih buat kawanku Miss N dan R. We are very strong, girls! Sini, peluk dulu! :)

Read More

02 April 2019

GIRL TALK (5): DIRA

"Teleponan sama siapa sih, Ra? Seru banget."
Tanyaku penasaran sesaat setelah Dira menutup obrolannya. Hampir satu jam Dira berbincang dengan kawannya di seberang telepon itu. Suara tawanya yang keras memecah kesunyian di kantor. Situasi kantor saat itu memang sedang cukup sepi. Tak tampak ada aktivitas yang ramai di setiap kelas. Biasanya, semua ruangan kursus ini terisi penuh. 

"Itu, lho, Sil. Rintan" jawabnya. 
"Rintan? Kok tumben Rintan telepon kamu. Perasaan udah lama banget dia menghilang dari muka bumi. Hehe" komentarku usil. 
Aku tahu, Rintan sudah jarang sekali menghubungi Dira. Dahulu memang Rintan tak pernah bisa jauh darinya. Bahkan katanya, Rintan selalu menghubungi Dira setiap malam karena butuh teman curhat tentang kekasihnya Dion.  Tapi, rasanya sekarang hal itu mulai berubah. 
"Sibuk di tempat kerjanya yang baru katanya. Tadi dia bilang kangen banget pengin ketemu, terus ngajak ketemuan deh Sabtu ini." balas Dira tampak membela Rintan.
Aku tiba-tiba ingat bahwa dulu Rintan juga selalu meminta bertemu dengan Dira, tepatnya saat hubungannya dengan Dion sudah berada di ujung tanduk. Lalu, setelah hubungan mereka benar-benar berakhir, Rintan yang rapuh makin lekat pada Dira. 
"Kabar dia dan suaminya gimana?" tanyaku. Entahlah aku ingin sekali mengetahui kabar terbaru Rintan dengan suaminya saat ini.
"Dia gak cerita banyak sih. Tapi kayaknya sedang ada masalah gitu, Sil" jelas Dira.
Aku ingat betul. Beberapa lama setelah putus dari Dion, Rintan sudah dapat kekasih baru, Andra. Dia tampak sangat bahagia dengan dunianya yang baru itu. Terlebih saat ia pindah dari tempat kerja kami ke tempat kerja Andra tanpa ada pamitan yang berarti dengan Dira. Sejak itu, ia tampak jarang menghubungi Dira lagi, jarang mengajak Dira bertemu atau makan siang bersama di luar. Begitu seterusnya hingga Rintan dan kekasihnya itu menikah.
"Lalu, sekarang dia datang lagi padamu karena ada masalah dengan suaminya ya, Ra?" terkaku.
Dira tampak terdiam. Mungkin ia sedang benar-benar merenungkan perlakuan Rintan padanya. 
"Ra, aku mau tanya deh." aku memecah lamunan Dira.
"Dia tahu masalah kamu dengan Pascal?" lanjutku dengan nada bicara yang berat mencoba menekankan bahwa ia pun saat ini sedang punya masalah. 
Pascal menghilang setelah cuti kuliahnya habis. Awalnya Dira pikir Pascal ingin fokus menyelesaikan studi yang sudah molor bertahun-tahun. Tapi, Dira malah jadi tak bisa menghubunginya sama sekali.
Pertanyaanku tadi sesungguhnya hanya memastikan bahwa Rintan juga tahu apa yang sedang Dira  hadapi dan tidak  melulu Rintan yang harus didengar. 

"Sejujurnya enggak, Sil. Aku gak cerita banyak tentang Pascal ke Rintan. Setiap kali mau cerita, Rintan sibuk." jelasnya. 
Mungkin memang kesibukan Rintan di tempat kerja baru itu sangatlah padat. Tapi, aku belum paham sepadat apa kesibukannya hingga tak bisa sebentar saja bertukar peran, Rintan yang kini jadi pendengar buat Dira. Lebih jauh, aku bertanya dalam hati, kenapa seseorang harus datang kepada kawannya hanya saat merasa butuh. Sang kawan bukanlah stasiun tempatnya sejenak singgah sebelum pergi begitu jauh. Jika semata berteman karena ingin mencari keuntungan sesungguhnya itu sangatlah rugi. Kita tidak pernah tahu dari mana datangnya pertolongan saat kita benar-benar membutuhkannya kelak. 
"Tetap berlaku baik aja, ya, Ra. Tapi maaf jangan memaksakan dirimu menganggap Rintan sebagai  kawan dekatmu lagi." ujarku lirih. 
"Pertemuanmu dengan Rintan nanti benar-benar buat temu kangen aja. Aku khawatir dia kembali meninggalkanmu saat ia merasa masalahnya dengan Andra sudah reda. Lalu, semua kembali seperti semula, kamu jadi teman yang dilupakan. Sesekali, cobalah juga untuk menolak Rintan." jelasku.  
"Iya, Sil. Ternyata, aku memang gak bisa mengharapkan semua orang akan tetap jadi temanku. Termasuk Rintan." jawabnya.

Ruangan menjadi hening. Kami sama-sama menerka perasaan masing-masing. Dari luar, tiba-tiba  seorang lelaki berhelm dan berseragam hijau mengucap salam. 
"Kamu pesan ojek online, Sil? Mau ke mana?" Dira penasaran.
"Ah iya. Aku antar titipan makanan dulu nih ke Tamansari." jawabku sambil menunjukkan goodie bag berisi paket lengkap makan siang, buah-buahan, dan yogurt. 
"Eh,boleh nitip beliin bakso Solo gak di sana?" Curhatan kami tadi sepertinya berhasil membuat Dira lapar.
"Hmm… Karena kamu sedang ada masalah dengan Rintan, kayaknya saat ini kamu gak cocok makan bakso, deh" jelasku dengan lagak serius.
"Lho? Makan apa dong?" Dira menimpali dengan penasaran.
"Makan ati!" selorohku puas.
"Ih, awas, ya, Sil! Aku kutuk kamu jadi bakso aci!" Dira mengancam. 

Bakso aci? Haha. 

Read More

31 Maret 2019

GIRL TALK (4): LARAS

"Aku udah lama gak lihat kamu jalan bareng Karina lagi, Sil"
Siang itu cuaca sedang panas-panasnya dan kita sedang duduk santai di teras kantor. Teras belakang memang tempat yang paling pas melepas semua kejumudan seharian itu. Jauh dari ribut-ribut guru dan murid serta diberi udara segar. Namun, pernyataanmu tadi tiba-tiba memecah kesunyian.
"Jalan, kok. Sesekali aja sih." Jawabku singkat. Sekenanya. 
"Wah, tumben. Biasanya bareng terus." timpalmu. 
"Hmm. Kami sempat bersitegang, sih, Ras. Kupikir dia bisa bantu aku menyelesaikan keruwetanku. Eh, ternyata enggak. Yah, begitulah." aku mencoba menyederhanakan kejadian yang menimpaku dan Karina beberapa waktu lalu. Setelah perseteruan kami itu, aku dan Karina memang masih sering jumpa dan jalan-jalan sepulang kerja. Tapi memang hanya itu. Sekadar teman bukan sahabat yang bisa aku mintai bantuan.

"Eh, kamu masih sering main sama Isti, teman SMA kita itu?" Aku tiba-tiba ingat Isti kawan lama kita. Dia begitu dekat denganmu di luar kantor tapi beberapa tahun ini aku tidak melihatnya bersamamu.
"Isti sempat main ke rumah, sih, beberapa waktu lalu. Dia bawa anaknya juga." Jelasmu.
"Oh iya. Dia udah nikah, ya. Akan beda situasinya. Akan beda sibuknya." Aku menerka.
"Biasanya yang sudah nikah nyinyir ke kita yang masih lajang ini." ujarmu tiba-tiba. Aku menatapmu lekat. Mencoba memahami maksud ujaranmu itu.
"Isti nyinyirin aku gara-gara aku lanjut S2 dan berkarier seperti sekarang ini, Sil. Dia bilang aku gak mikirin pernikahan. Dia bilang aku terlalu pemilih. Dia bilang gak akan ada laki-laki yang berani deketin aku karena gelar dan karierku. Dia bilang aku gak jelas maunya apa. Ah, pokoknya aku tersinggung banget, Sil!  Aku pikir dia akan dukung aku seperti biasanya dia lakukan pas SMA." lanjutmu panjang lebar. Aku benar-benar menangkap kekecewaan dari nada bicaramu itu. Sampai di detik penjelasanmu yang terakhir itu, aku sungguh bisa paham. Tak semua orang ternyata bisa mengerti hal-hal yang telah lelah kita lewati dan mengubah kita. Mungkin juga tak mau tahu kesulitan macam apa yang sedang dihadapi sampai ada di detik ini. Tidak semua orang mau tahu.
"Duh, gimana ya. Kupikir setiap orang memang punya kasusnya sendiri, ya kan, Ras? Gak bisa disamakan begitu saja." Aku pun mencoba memahami posisimu itu meskipun kau dan Isti adalah juga temanku. 
"Eh, Eh! Tapi… Kulihat Isti dan suaminya lagi ada konflik gitu deh." Kamu tiba-tiba tampak antusias.
"Hushh... Kok malah ngomongin rumah tangga orang!" Cegahku.
"Bukan gitu, Sil. Aku jadi mikir. Apa sebenarnya dia nyinyirin aku karena dia sendiri sedang tidak baik-baik saja ya?" Mendengar dugaanmu, aku jadi berpikir juga.
"Bisa jadi, Ras. Ibaratnya, dia sedang mencari pelampiasan agar merasa lebih baik. Sialnya, salah satu cara agar dia merasa lebih baik adalah nyinyirin kita." 
Kita berdua tiba-tiba terdian dan  menghela napas panjang.

Aku mulai paham posisi seperti itu, Ras. Seseorang dengan mudahnya membuat kita tersinggung dan sakit hati karena sebenarnya merekalah yang mengalami hal buruk bahkan lebih buruk dari kita. Mereka sedang merasa tidak aman alias insecure dengan kehidupannya sendiri lantas mencari kawan atas permasalahannya. Ah, di titik seperti itu sesungguhnya aku iba pada mereka. Tapi, cara mereka membuat orang lain terluka pun sulit aku terima. 

Satu hal lagi yang akhirnya aku sadari terlintas dari obrolanku denganmu siang itu. Nyatanya, semakin beranjak dewasa semakin kita sadar bahwa kita sudah tidak bisa berteman dengan semua orang, Ras. Hanya beberapa saja. Lalu, lingkaran persahabatan kita jadi sangat mengecil.  Banyak hal yang terjadi dan mengubah segalanya. 
Aku pun mulai mengingat kawan-kawanku yang ternyata hanya datang dan pergi. Hanya beberapa yang bisa kuharapkan ada saat aku butuh dukungan dan saat aku benar-benar sendiri. Awalnya aku sangat merasa kecewa tapi lama kelamaan, semua kumaknai sebagai bagian dari pembelajaran. 

"Beli es krim yuk, Ras! Panas banget hati ini, eh hari ini!"
"Haha. D'accord, Mademoiselle! Es krim rasa silverqueen enak, lho!" usulmu girang.
"Tapi males ketang. Belinya harus  di Alfamart Stasiun Bandung. Di sini mah gak ada" lanjutmu usil.
"Ya, jangan bilang dong, Markonah!" 

Kita tertawa puas.

Read More

19 Maret 2019

GIRL TALK (2): KARINA

"Sil, aku benar-benar menyerah denganmu!"
Kamu mengakhiri perbincangan panjang kita sore itu padahal aku masih ingin menumpahkan semua beban di benakku. Aku merasa tak sanggup menanggungnya sendirian. Kupikir, kamu akan cukup menerima semua ceritaku sore itu.

"Kamu sungguh rumit. Aku bingung harus menghadapi kamu seperti apa, Sil. Aku sama sekali gak paham. Aku gak bisa beri kamu solusi" Lanjutmu. 
Buku di sekelilingmu masih kau biarkan berantakan. Biasanya, kau selalu merasa terganggu dengan hal itu. Di semua sudut perpustakaan ini, rasanya kau adalah satu-satunya pengunjung paling bingung mencari buku referensi atas masalah di pikiranmu. Sialnya, masalahmu itu kini adalah aku.
"Aku hanya ingin cerita ke kamu, Rin. Kamu cukup ada buatku aja" terangku.
"Gak bisa, Sil" kamu menggelengkan kepala lalu perlahan membereskan meja. Kali ini mungkin kamu merasa makin terganggu dengan kekacauan yang sedang kau hadapi: buku-buku di sekitarmu juga aku dengan raut wajah dan pikiran yang semrawut. "Sederhananya kan begini, kamu datang dengan masalahmu kepadaku lalu kita sama-sama cari inti permasalahannya. Kemudian, kita pecahkan bersama-sama. Lalu, masalahmu selesai" 
Ah, Karina, aku tahu itu. Tapi kenyataannya sungguh tak semudah itu. Aku pun bukan tak mencoba memahami hal ini sebelumnya. 
"Aku pun kadang gak tahu kenapa bisa begitu, Rin" ujarku.
"Nah! Aku gak bisa kalau kamu seperti itu, Sil. Kamu harus tahu muasalnya lalu kita cari bersama-sama jalan keluarnya" terangmu.
Aku menyenderkan punggungku ke kursi sambil menarik napas panjang. Aku terdiam lama. Aku sungguh ingin sekali kamu jadi teman yang bisa aku temui saat aku terluka dan begini hilang arah. Di kota yang garang ini, agak sulit untuk hidup waras dan wajar seorang diri. Aku butuh kawan yang bersedia ditemui untuk berbagi cerita. Namun sayang, kamu menolak hal itu. 
Aku sungguh paham kini. Tak semua orang bersedia mendengar ceritamu. Tak semua orang mau tahu bagaimana rumitnya menjalani hari-hari yang berat seorang diri. Aku tak bisa mengubah cara orang seperti itu melihatku dan hal-hal yang kurasa berat itu. Aku sungguh tak bisa memaksa orang seperti itu memahami aku. Sebagian orang hanya akan memilih berkawan dengan yang memberi banyak kebaikan dan keuntungan baginya. Tidak dengan orang yang berlimpah keruwetan sepertiku. Tidak pula dengan orang yang selalu ingin punya kawan bercerita sepertiku. Aku sungguh harus mulai mampu menerima itu walaupun semuanya terasa begitu berat. Agaknya, memang lebih baik jika kita hanya berkawan saja. Seseorang yang ku kenal baik untuk berdiskusi panjang lebar tentang ribuan judul buku. 

"Rasanya, aku tak bisa lagi berbicara banyak denganmu apalagi tentang kesedihanku padamu, Rin. Sepertinya kita hanya akan cocok berbincang di forum diskusi" ujarku lirih.
"Ya sudah. Ide bagus sepertinya. Maaf jika ternyata aku tak bisa kau percaya lagi. Aku sungguh merasa lebih baik saat kau tidak lagi mencariku dan menceritakan kesedihanmu jika sebenarnya kau tak betul-betul paham harus bagaimana." jawabmu lugas.
Aku membereskan buku-bukuku dan bersiap beranjak dari tempatku. Berat sekali rasanya. Agaknya, air mata yang di awal aku tetaskan di hadapan Karin kini mulai berjatuhan lagi. Aku sapu pelan-pelan tangisku dan kusembunyikan dengan sapu tanganku. Sebelum aku benar-benar meninggalkan Karin, aku menoleh dan berkata padanya. 

"Belajarlah melembutkan hatimu, Karin. Sesekali, cobalah untuk sedikit berempati atas kedalaman hati orang lain. Hidupmu tak melulu perkara teori sebab-akibat"


My dearest friend... I don't want you to totally fix my broken heart. I just want you to hold my hand warmly while I fix my heart by myself.





 *) Terima kasih untuk Adikku Sara Fiza ats obrolan yang mendasari cerita ini. Stay strong!
Read More

GIRL TALK (3): NANDEA

"Panggil Sisil aja." Jelasku saat berjumpa denganmu di kantin dekat kantor siang itu. Aku bertemu denganmu saat sama-sama mengikuti pelatihan bagi pengajar baru di sebuah tempat kursus bahasa di Bandung. Kamu satu-satunya yang senasib denganku, kurasa. Sama-sama baru bergabung dan sama-sama berusia nyaris 30 --di antara rekan kerja lain yang sudah senior. Poin kedua sungguhlah penting. 
"Aku Dea. Semoga betah, ya, di tempat kerja baru ini. Aku juga baru kok" Jawabmu.
Tentu aku akan merasa punya kawan bercerita di tempat baru ini. Terlebih, kita satu angkatan. Terlebih lagi, tampaknya kamu punya minat yang sama denganku.  

"Kamu suka nonton film di festival film indie gitu, gak, Dea?" tanyaku
"Enggak, sih. Aku suka nonton film yang sudah tayang di bioskop aja."
"Wah, apa film yang baru ditonton?"
"A Star is Born! Bagus itu. Lagunya juga enak. Eh, eh, kamu suka jenis lagu apa, Sil?"
"Variatif, sih. Kebanyakan yang kalem-kalem. Aku juga suka lagu jadul. Ya, beragam lah. Asal bukan dengerin mars Perindo aja" kelakarku. Aku mencoba memecah suasana yang mulai kaku kala itu. 
Kamu ternyata membalasnya dengan tersenyum simpul sambil rada ngahuleng.
Oh, baiklah. Sepertinya candaanku tak cocok buatmu. 

Perbincangan kita pun mengalir begitu saja sepanjang jam makan siang. Tepatnya, sampai makanan kita sama-sama habis. Kita membicarakan hal-hal yang ternyata begitu umum. Tentang almamater masing-masing, pengalaman-pengalaman pekerjaan sebelumnya, dan cuaca yang mulai panas di luar sana. Aku menangkap bahwa kamu tampak sangat berhati-hati berbincang denganku. Entahlah, mungkin karena kita benar-benar baru saling kenal. Sebenarnya, kamu tampak menganalisis aku. 

"Kamu pulang naik apa, Sil?" tanyamu di akhir perbincangan kita. Sepertinya kamu sudah ingin bergegas dengan urusan lainmu. Padahal aku masih ingin berbincang denganmu tentang Lady Gaga dan Bradley Cooper di film yang kamu tonton. Tapi baiklah, nanti saja. 
"Kayaknya... Aku naik elang. Hehe" jawabku usil. 
"Oh damri Elang-Jatinangor? Emang lewat, ya?" jawabmu datar.
Detik itu aku sungguh ingin tertawa tapi takut dosa. Elang yang kumaksud adalah benar-benar elang. Elang yang secara denotatif merupakan makhluk hidup yang bisa terbang. Sebenarnya, maksud lebih jauh lagi adalah elang di serial Tutur Tinular. Aku sedang bercanda, wahai, Dea. Sepertinya kamu tidak paham.
Ya sudahlah. Kututup saja dengan  "Eh, pakai ojek onlinedeh."
Cukup sekian dan terima gaji. 

Maafkan jika ternyata aku banyak bicara dan bercanda. Atau, aku sebenarnya terlalu pendiam dan canggung? Aku sungguh tak bermaksud buruk. Aku hanya sedang sangat berupaya menjaga perbincangan kita agar tetap baik dan aku jadi orang yang cukup ramah buatmu. Kamu mungkin tak menyangka bahwa usaha untuk terlihat begitu ramah dan ceria di depan orang lain yang baru kutemui adalah sebuah hal yang tak pernah mudah. Aku selalu punya banyak hal berjejalan di kepala. Tentang apapun. Overthinking katanya. Oleh sebab itu, selepas pertemuan demi pertemuan dengan rekan baru, aku seperti menjadi seorang pemikir ulung yang begitu keras  memikirkan segala detail tentang pertemuan yang telah terjadi. Termasuk pertemuan kita.  

Selepas obrolan kita di jam makan siang itu, aku terus berpikir:
"Apakah caraku menyapamu aneh?"
"Apakah caraku mempersilakanmu duduk terlihat buruk?"
"Apakah tali sepatuku cocok?"
"Apakah caraku membetulkan kacamata terlihat mengganggu?"
"Apakah candaanku berlebihan atau bahkan terlalu garing?"
"Adakah hal yang salah kuucapkan?"
"Apakah tadi seharusnya aku membicarakan masa poskolonial dan pengaruhnya terhadap perkembangan sebuah masyarakat kota? Atau membicarakan evaluasi perkembangan indeks harga saham gabungan?" Haha.
"Apakah caraku mengakhiri obrolan terlalu kaku?"
Dan...Begitu seterusnya.

Anehnya, aku selalu merasa  bahwa aku senang bertemu kawan baru. Mungkin hal ini serupa hate-love relationship. Aku malah berulang mengikuti sebuah kegiatan baru yang sebelumnya tak aku ikuti dengan harapan bertemu orang-orang yang tak pernah kutemui dan mereka pun tak mengenaliku. Aku selalu ingin tahu sejauh mana aku mampu beradaptasi dengan lingkungan baru kendati hal itu begitu menguras tenaga dan pikiran. 

Ah, apapun yang telah terjadi atau bagaimana pun jadinya pertemuan kita itu, kuharap kita bisa terus berkawan. Selamanya.
Semoga perbincangan kita bisa berlangsung baik seterusnya. Semoga tidak kapok bertemu aku.
Jika kau luang, sepertinya kita bisa ngobrol dan ngopi lagi.
yuk?

Oh, iya! Aku tidak akan menyinggung mars Perindo dan elang Tutur Tinular lagi. 




xxx
Read More

GIRL TALK (1): ALINA

"Kamu gak ngerti kan perasaanku?"
Katamu secara tiba-tiba setelah panjang lebar menceritakan kepiluan yang kau alami itu. Kau mengusap air mata yang sedari tadi tak bisa kau tahan mengalir di pipimu. Makan siang di waktu rehat kantor itu seketika menjadi sendu.

Aku menawarkan tisu ke arahmu sambil lekat-lekat menatap matamu.  Kutarik napas panjang mencoba menenangkan segenap perasaan yang tak karuan di antara kita. Sebagai sahabatmu, aku pun sungguh-sungguh ikut luka saat kau begini duka. Tapi rasanya aku pun telah berhasil kau buat bersalah saat kau bilang aku tak paham yang kau rasakan. Hal itu juga sesungguhnya membuat aku tak nyaman.

"Hidup kamu tuh enak, Sil. Kamu gak akan merasakan susahnya bersepakat dengan saudaramu sendiri, susahnya memenuhi fasilitas, bahkan susahnya cari makan setiap hari kayak aku.". Lagi-lagi kamu katakan itu seperti setiap kali kau mengisahkan kisah pilu. Kali ini tentang pertengkaran hebat antara kamu dan adikmu.  Aku sudah berulang menyimak cerita tentang kerapuhan keluargamu. Atau, tentang perlakuan rekan kerja yang suka sikut-sikutan itu. Namun kurasa kali ini berbeda. Mendengar ujaran dalam tangismu kala itu membuatku tak mampu berkata banyak lagi. 
"Sil, kamu dengerin aku kan?" Tegasmu. Kali ini entah mengapa aku tak bisa menerima pernuataanmu. 
"Iya, Alina. Ehm, aku mau ninta maaf, nih." aku memberanikan diri membuka obrolan lagi setelah sekian waktu kau biarkan aku seperti tergantung di udara bersama semua tuduhanmu.

"Begini, Lin. Aku memang tak sepenuhnya ada di posisimu dan tak sepenuhnya pula mengalami apa yang kamu rasakan. Meski mungkin ada kesamaan antara hal yang kau alami itu, aku tak persis mengalami detail episode kehidupanmu itu. Jadi, maaf kalau aku tak seluruhnya paham apa yang kamu rasakan. Maaf jika aku tak benar-benar mengerti setiap jengkal langkah yang kau tapaki itu. Atau, aku tak benar-benar menghayati tiap detik waktu yang kau lewati itu. Tapi, mungkin kamu pun gak tahu kan hal-hal berat yang sudah aku alami kan?"
 Kau menatapku lekat. Aku tahu, ada banyak hal dalam benakmu yang ingin kau katakan terkait ucapanku ini. Namun kali ini, kau biarkan aku selesaikan perkataanku.

"Kenapa kamu malah jadi bikin aku makin sedih sih, Sil?" 
"Tolong terima dulu bahwa aku punya banyak hal yang berbeda denganmu dan hal itu sendiri tak bisa aku ubah apalagi aku kendalikan. Bisa, kan, Lin?" aku memohon. 

Kau membenarkan posisi dudukmu yang rasanya mulai tak nyaman. Aku tak persis tahu, mungkin sebenarnya hatimu yang kini mulai makin tak nyaman. "Kamu marah ya, Sil? Aku tak pernah ingin mencari masalah denganmu. Kamu  selalu ada buat aku terutama di saat aku sedih dan bingung harus berbuat apa. Aku senang kamu membantuku seperti itu."katamu.
"Tapi, Lin,  bagaimana aku bisa sepenuhnya membantumu jika kamu sendiri menolak membuka diri atas keberadaanku?"
"Aku terbuka dengan solusimu kok, Sil"
"Nyatanya enggak sih, Lin. Sekali lagi. Kumohon, pertama-tama,  berhentilah melulu mempermasalahkan keadaan temanmu yang memang berbeda. Hal itu sama sekali tak membantu, Lin." Kamu terhenyak.
"Aku senang membantu teman. Tapi kumohon jangan sudutkan aku hanya karena keaadanku tak persis sama denganmu. Mungkin setelah kamu melakukan itu kamu merasa lebih baik. Tapi tidak denganku. Kamu mungkin hanya tidak tahu sepahit apa hari-hari yang aku lewati"

Matamu kini mulai berkaca-kaca. Sesungguhnya aku tak tega mengatakan hal itu kepadamu. Tapi, akan lebih menyedihkan jika ternyata kita saling menyakiti diam-diam begini. 
"Aku gak bermaksud begitu kok, Sil. Aku cuma kelewat sedih dengan keadaanku. Aku merasa terpuruk, Sil." tangismu pecah lagi. Kali ini karena aku. Lekas aku mendekatimu dan erat memelukmu. 
"Maaf ya, Lin. Aku pun tak bermaksud buruk. Bagaimana pun, aku tetap tak bisa membiarkan kamu sendirian saat sedih. Tapi banyak hal di luar dirimu yang perlu pula kau tengok dan hayati selain hanya kamu. Kamu benar-benar gak sendirian memikul beban itu"
"Aku minta maaf, ya, Sil." balasan singkat sambil terus terisak. 

Siang itu, mata kita basah oleh air mata. Aku sungguh dimakan rasa bersalah. Ah, hari esok harus tetap kita lalui, Lin. Semoga kita bisa terus tumbuh jadi manusia yang lebih kuat hari demi hari. 


.
Read More

Mengenai Saya

Foto saya
Perkenalkan! Saya Nurul Maria Sisilia. Seorang pengajar, penulis, dan pekerja sosial. Saya senang menulis hal menarik yang terjadi di kehidupan sehari-hari. Mari berbincang!

Terjemahkan (Translate)

Rekan

Diberdayakan oleh Blogger.